Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,3% secara tahunan (year on year/YoY) pada kuartal II-2026 belum cukup kuat untuk mengembalikan kepercayaan investor asing ke pasar saham domestik. Meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan penguatan, arus dana asing masih keluar dari saham-saham berkapitalisasi besar sehingga prospek pasar pada semester II-2026 dinilai masih menghadapi tantangan.
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto, mengatakan reli IHSG sejauh ini belum ditopang oleh perbaikan kualitas pasar.
Menurutnya, kenaikan indeks lebih banyak didorong saham-saham spekulatif, sementara investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih pada sejumlah emiten berkapitalisasi besar seperti TLKM, BBRI, dan ASII.
"IHSG memang melanjutkan penguatan, tetapi kualitas reli masih terbatas," kata Rully dalam keterangannya yang dikutip, Jumat (7/8/2026).

Ia menilai pelaku pasar belum menjadikan pertumbuhan ekonomi sebagai katalis utama investasi. Hal itu tercermin dari masih tertekannya saham-saham berfundamental kuat seperti TLKM, BBRI, BBCA, ASII, dan BMRI, meskipun realisasi produk domestik bruto (PDB) kuartal II-2026 melampaui ekspektasi pasar.
Menurut Rully, investor kini tidak hanya melihat besarnya angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mencermati kualitas dan keberlanjutan sumber pertumbuhan tersebut. Selama arus dana asing belum kembali dan penguatan saham-saham berkapitalisasi besar belum merata, investor diperkirakan tetap bersikap selektif.
Ia juga menilai penguatan rupiah dalam beberapa hari terakhir lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal, yakni pelemahan dolar Amerika Serikat setelah intervensi terkoordinasi Jepang dan Amerika Serikat terhadap yen. Karena itu, penguatan nilai tukar dinilai belum mencerminkan perbaikan fundamental ekonomi domestik.
Pandangan serupa disampaikan Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Novani Karina Saputri. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 memang masih solid. Namun, pertumbuhan ini lebih banyak ditopang faktor-faktor yang bersifat sementara, seperti lonjakan belanja pemerintah, pembayaran gaji ke-13, serta basis belanja yang rendah pada tahun sebelumnya.
Di sisi lain, konsumsi rumah tangga melambat menjadi 5,1%, sementara ekspor neto justru memberikan kontribusi negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Novani memperkirakan normalisasi belanja pemerintah pada semester II serta masih lemahnya kontribusi ekspor berpotensi menekan momentum ekonomi pada kuartal III-2026.
Dalam skenario tersebut, pertumbuhan ekonomi diperkirakan berpotensi melambat ke bawah 5% apabila tidak diimbangi peningkatan investasi dan aktivitas manufaktur yang lebih kuat. Kondisi itu sekaligus menjadi ujian bagi IHSG pada paruh kedua tahun ini karena penguatan indeks dinilai masih rentan selama dana asing belum kembali ke pasar.
Daya Beli Lemah Bayangi IHSG Semester II
Senada, Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto menilai pertumbuhan ekonomi sebesar 5,29% pada triwulan II-2026 belum cukup kuat untuk memulihkan sentimen pasar keuangan.
Menurutnya, di balik pertumbuhan yang melampaui 5%, masih terdapat sejumlah persoalan mendasar, mulai dari lemahnya daya beli masyarakat, melemahnya sektor eksternal, hingga tekanan di pasar keuangan.
Eko bahkan menilai kualitas pertumbuhan ekonomi saat ini lebih buruk dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Namun saya melihat dari sisi kualitas itu sebetulnya bisa saya katakan justru lebih buruk dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu," ungkap Eko.
Baca juga:

Ia menjelaskan konsumsi rumah tangga yang masih menjadi motor utama pertumbuhan belum sepenuhnya ditopang peningkatan daya beli masyarakat secara alami. Pertumbuhan konsumsi, menurutnya, masih sangat bergantung pada stimulus fiskal pemerintah.
"Pertumbuhan konsumsi baik itu pemerintah ataupun rumah tangga memang ini sebetulnya sangat bergantung dari stimulus fiskal pemerintah," kata dia.
Eko mengatakan konsumsi pemerintah yang tumbuh 15,97% secara tahunan menjadi faktor utama yang menopang pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2026. Tanpa dorongan tersebut, konsumsi rumah tangga diperkirakan akan tumbuh di bawah 5%.
Selain itu, ia menyoroti melemahnya sektor eksternal. Pertumbuhan ekspor hanya sekitar 4%, sedangkan impor meningkat 8,82%, sehingga kontribusi ekspor neto terhadap pertumbuhan ekonomi menjadi negatif.
"Ini menggambarkan bahwa pertumbuhan ekspor yang anjlok, tetapi impornya masih tumbuh tinggi," jelas Eko.
Menurut Eko, kondisi tersebut menunjukkan Indonesia mulai kehilangan daya saing di pasar global. Surplus neraca perdagangan yang selama ini menjadi penopang ekonomi juga mulai memudar setelah dalam dua bulan terakhir berbalik mengalami defisit.
Tantangan tersebut, lanjutnya, diperparah oleh kondisi pasar keuangan domestik yang masih berada dalam tekanan. Pelemahan rupiah hingga kisaran Rp18.000 per dolar AS serta penurunan IHSG ke level 6.000-an dinilai menjadi hambatan tambahan bagi pemulihan ekonomi pada semester II-2026.
"Kita tahu tahun ini rupiah kita sudah ke 18.000, terus kemudian IHSG-nya juga jatuh sekarang ke 6.000-an. Ini satu hal yang tidak mudah untuk dibalikkan," cetusnya.
Tekanan di pasar keuangan juga berpotensi meningkatkan biaya pendanaan. Kenaikan suku bunga kredit dinilai akan menyulitkan pelaku usaha, terutama kelompok menengah, untuk melakukan ekspansi di tengah ketidakpastian global.
Menurut Eko, pelemahan daya beli kelas menengah masih menjadi risiko utama terhadap pertumbuhan ekonomi pada paruh kedua tahun ini. Risiko tersebut diperbesar oleh potensi kenaikan harga pangan akibat El Nino yang dapat memicu inflasi.
Ia juga mengingatkan ketergantungan pertumbuhan terhadap belanja pemerintah menjadi kerentanan tersendiri. Ketika ruang fiskal menyempit atau belanja pemerintah melambat, konsumsi masyarakat berpotensi ikut melemah sehingga pertumbuhan ekonomi ikut tertekan.
"Begitu fiskalnya ngerem sedikit saja itu akan bermasalah terhadap pertumbuhan. Itu yang terjadi," ujarnya.
Karena itu, Eko menilai penguatan ekonomi ke depan perlu ditopang sumber pertumbuhan yang lebih berkelanjutan melalui penciptaan lapangan kerja formal, peningkatan produktivitas, dan penguatan daya beli masyarakat secara organik.
Bank Besar Berpotensi Jadi Motor Penguatan IHSG
Di tengah berbagai tantangan tersebut, rumah riset Meridian melihat peluang pemulihan pasar saham apabila IHSG benar-benar telah membentuk titik terendah (bottom). Menurut Meridian, saham-saham perbankan berkapitalisasi besar berpotensi menjadi motor utama penguatan indeks.
Dalam risetnya, Meridian menyebut karakter pergerakan IHSG mulai berubah setelah rebound sekitar 16% dari level terendahnya. Perbaikan itu ditopang mulai kembalinya aliran dana asing ke pasar domestik, terutama ke saham-saham perbankan.
"Jika IHSG telah resmi membentuk bottom, kami percaya bank-bank besar ditambah beberapa saham berkapitalisasi besar akan menjadi penggerak utama pasar ke depan," tulis Meridian, dikutip Jumat (7/8/2026).
Meridian mencatat investor asing membukukan pembelian bersih sekitar Rp850 miliar dalam dua hari perdagangan terakhir saat riset diterbitkan. Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menjadi tujuan utama dengan nilai beli bersih sekitar Rp698 miliar dalam satu hari perdagangan.
Meski demikian, Meridian mengingatkan arus modal asing secara kumulatif masih menunjukkan tekanan. Sepanjang tahun berjalan, investor asing masih membukukan jual bersih sekitar Rp91 triliun sehingga pemulihan sentimen dinilai belum sepenuhnya solid.
Dari sisi teknikal, Meridian memetakan dua skenario berdasarkan analisis Elliott Wave. Skenario pertama memperkirakan IHSG masih berpotensi melemah ke kisaran 4.500-5.000. Sementara skenario kedua membuka peluang indeks melanjutkan penguatan menuju level tertinggi sebelumnya.
Meridian juga menilai karakter pasar saham Indonesia berbeda dengan pasar Amerika Serikat. Struktur IHSG yang didominasi sektor keuangan dan komoditas membuat pergerakan indeks lebih bergantung pada siklus ekonomi, harga komoditas, serta arus modal asing.
Berbeda dengan S&P 500 yang ditopang perusahaan-perusahaan teknologi, pertumbuhan laba emiten di Indonesia cenderung lebih fluktuatif sehingga strategi investasi di pasar Amerika tidak selalu dapat diterapkan di pasar domestik.
Karena itu, Meridian menegaskan seluruh proyeksi tersebut didasarkan pada pola historis dan kondisi pasar saat ini. Investor tetap diimbau mengedepankan manajemen risiko apabila perkembangan data dan kondisi pasar tidak lagi sejalan dengan tesis investasi yang digunakan.
IHSG sendiri berhasil mengakhiri perdagangan di zona hijau dengan kenaikan 61,82 poin atau 0,97% ke level 6.405,53, Jumat (7/8/2026). Penguatan indeks terjadi di tengah aksi jual bersih (net sell) investor asing sekitar Rp274 miliar, yang mampu diimbangi oleh akumulasi investor domestik.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG dibuka pada level 6.352,38, sempat menyentuh posisi tertinggi 6.408,09, dan bergerak di level terendah 6.347,43 sebelum ditutup menguat di atas level psikologis 6.400.
Aktivitas perdagangan juga tergolong ramai dengan nilai transaksi mencapai Rp15,50 triliun, volume 35,54 miliar saham, dan frekuensi transaksi 2,149 juta kali.
Penguatan indeks berlangsung cukup merata. Sebanyak 363 saham ditutup menguat, 252 saham melemah, sedangkan 348 saham lainnya stagnan.
Meski IHSG menguat, investor asing masih mencatatkan penjualan bersih. Nilai pembelian asing tercatat sekitar Rp4,88 triliun, sementara nilai penjualan mencapai Rp5,15 triliun, sehingga menghasilkan net sell sekitar Rp274 miliar. Sebaliknya, investor domestik membukukan pembelian bersih dengan nilai yang relatif seimbang terhadap aksi jual asing.
Di jajaran saham berkapitalisasi besar, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) menguat 2,96% ke level 3.130, sementara PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) naik 2,03% menjadi 3.510. Adapun PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) terkoreksi tipis 0,21% ke posisi 12.100.
Secara intraday, IHSG sempat menguat lebih dari 0,7% pada sesi pertama, didorong kenaikan sejumlah saham berkapitalisasi besar, termasuk sektor perbankan dan telekomunikasi.