Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan kedua 2026 mencapai 5,29% secara tahunan (year on year/YoY). Angka ini lebih lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan pertama 2026 yang sebesar 5,61% YoY. Kendati demikian, capaian pertumbuhan ekonomi triwulan kedua 2026 ini lebih tinggi dibandingkan perkiraan sejumlah ekonom yang sebelumnya memperkirakan pertumbuhan ekonomi tidak akan mencapai 5%.
Besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku pada periode ini mencapai Rp6.552,1 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp3.576,2 triliun.

Konsumsi masyarakat
Dilihat dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi triwulan kedua ini ditopang secara dominan oleh konsumsi masyarakat. Ini tercermin dari masifnya konsumsi masyarakat yang berkontribusi terhadap 53,32% dari total PDB.
Pertumbuhan belanja masyarakat pada triwulan kedua 2026 ditopang oleh periode libur sekolah dan awal tahun ajaran baru sekolah. Periode ini mendorong belanja dari pariwisata dan belanja sektor pendidikan. Selain itu, pada triwulan kedua ada sejumlah periode libur akhir pekan panjang di bulan Mei dan Juni. Hal ini menopang belanja masyarakat.

Konsumsi masyarakat pada triwulan kedua 2026 bertumbuh 5,06%, melambat dibandingkan pertumbuhan konsumsi masyarakat triwulan pertama yang sebesar 5,52%.
Penurunan ini tercermin juga di Indeks Penjualan Riil (IPR) yang tercantum di Survei Penjualan Eceran yang dirilis Bank Indonesia (BI). IPR pada April, Mei, Juni pada level 226,9; 223,4; 221,6. Angka ini lebih rendah ketimbang IPR triwulan pertama yakni Januari, Februari, Maret pada level 223,6; 232,7; 256,7.
IPR mengindikasikan bagaimana penjualan di sektor riil. Rendahnya level indeks mengindikasikan penjualan yang melemah, sedangkan indeks yang meningkat mengindikasikan sebaliknya.
Belanja pemerintah
Selain konsumsi masyarakat, seperti halnya pada triwulan pertama, pertumbuhan ekonomi triwulan kedua juga masih ditopang oleh pesatnya pertumbuhan belanja pemerintah.
Komponen belanja pemerintah jadi aspek pengeluaran yang tumbuh terbesar pada pertumbuhan ekonomi triwulan kedua. Belanja pemerintah pada triwulan kedua 2026 bertumbuh 15,97%, ini meneruskan tingginya pertumbuhan belanja pemerintah di triwulan pertama 2026 yang bertumbuh 21,81%.
Ini berbeda ketimbang tahun-tahun sebelumnya dimana belanja pemerintah biasanya baru bertumbuh cukup cepat di triwulan ketiga dan keempat.
Pesatnya belanja pemerintah ini juga tercermin dari realisasi belanja dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang hingga 30 Juni 2026 telah mencapai Rp 1.656 triliun atau 43,10% target belanja negara dalam APBN 2026. Realisasi belanja negara pada 30 Juni 2026 bertumbuh 17,8% YoY.
Investasi/Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB)
Adapun aspek pengeluaran lainnya seperti Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi tetap bertumbuh yakni 6,87% dengan kontribusi terhadap PDB sebesar 29,36% pada triwulan kedua 2026.
Pertumbuhan aspek PMTB ini sejalan juga dengan data investasi yang masuk ke Indonesia. Mengutip data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, pada realisasi investasi Indonesia pada semester 1-2026 mencapai Rp1.010,6 triliun bertumbuh 7,2% YoY. Investasi ini menyerap 1.448.862 tenaga kerja atau meningkat 15% YoY.
Realisasi investasi dibagi hampir rata antara Penanaman Modal Asing (PMA) maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Realisasi nilai PMA mencapai Rp 507,6 triliun atau 50,2% dari total investasi, sedangkan realisasi PMDN mencapai Rp502,9 triliun atau 49,8% dari total investasi.
Dilihat dari persebaran wilayah, investasi di luar Pulau Jawa sedikit melebihi investasi di Jawa. Investasi luar Jawa mencapai Rp507,8 triliun (50,2%), lebih tinggi dibandingkan investasi di Pulau Jawa sebesar Rp502,8 triliun (49,8%).
Ekspor-Impor
Kontribusi perdagangan internasional (ekspor-impor) terhadap PDB menurun lantaran angka ekspor yang melesu namun impor meningkat. Ini tercermin dari neraca perdagangan Indonesia yang defisit mulai Mei 2026 sebesar USD1,61 miliar dan berlanjut pada Juni 2026 yang sebesar USD451 juta. Padahal sebelumnya neraca perdagangan surplus 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Lesunya ekspor dipicu oleh beragam ketegangan geopolitik dunia yang terjadi pada triwulan kedua 2026. Hal ini memicu perlambatan pertumbuhan ekonomi negara utama mitra dagang dan ekonomi global secara keseluruhan.
Ekonomi China pada triwulan kedua 2026 bertumbuh 4,3% lebih lambat ketimbang triwulan pertama 2026 yang sebesar 5,0%. Begitupula dengan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang pada triwulan kedua tumbuh 2,1% lebih lambat ketimbang triwulan pertama yang tumbuh 2,7%. Padahal kedua negara ini adalah bagian dari negara mitra dagang utama Indonesia.
Di sisi lain, meningkatnya impor didorong oleh depresiasi nilai tukar rupiah. Mengutip data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), sejak awal tahun hingga 30 Juni 2026, nilai tukar rupiah telah terdepresiasi sebesar 7,02%. Harga barang impor jadi lebih mahal karena valuasi nilai tukar rupiah melemah.
Industri Pengolahan
Sementara itu, dari agregat pasokan, lapangan usaha yang menyumbang pertumbuhan ekonomi terbesar adalah industri pengolahan atau manufaktur dengan kontribusi sebesar 18,5% terhadap total PDB.
Namun, pertumbuhan industri pengolahan atau manufaktur pada triwulan kedua 2026 hanya mencapai 4,52% melambat ketimbang triwulan pertama 2026 yang sebesar 5,04%. Pertumbuhan industri pengolahan itu juga lebih kecil dari pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,29%. Padahal, idealnya industri pengolahan bisa bertumbuh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional.

Dampaknya dari kontribusi industri pengolahan terhadap PDB pada triwulan kedua 2026 mencapai 18,5%, menyusut dibandingkan triwulan pertama 2026 yang sebesar 19,07%.
Tertekannya industri pengolahan selama triwulan kedua 2026 tercermin dalam Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang tidak bisa mempertahankan posisi ekspansi dan sempat jatuh pada posisi kontraksi.
Mengawali triwulan kedua, PMI April berada dalam posisi kontraksi pada level 49,1. Sempat balik ke posisi ekspansi pada Mei pada level 50,0. Namun, manufaktur kembali ke posisi kontraksi pada level 46,9 pada Juni.
Indeks di atas 50 menandakan aktivitas manufaktur pada posisi ekspansi, sedangkan di bawah 50 menandakan kontraksi. Adapun indeks ini menggambarkan seberapa besar bahan baku yang dibeli oleh manajer pabrik. Ketika pabrik membeli banyak bahan baku maka mengindikasikan produksi meningkat atau manufaktur dalam posisi ekspansi. Maka indeks PMI dihitung dengan melihat komponen permintaan atau pesanan baru meningkat juga persediaan dan pembelian bahan baku.
Tertekannya dan menyusutnya kontribusi industri pengolahan terhadap PDB biasa juga disebut deindustrialisasi. Indonesia butuh terus mendorong industrialisasi karena bisa memberikan nilai tambah yang luas bagi perekonomian antara lain mengubah bahan mentah jadi bahan jadi, menyerap tenaga kerja di sektor formal, dan mendorong ekspor barang jadi.
Pengadaan listrik dan gas
Pertumbuhan tertinggi lapangan usaha pada triwulan kedua 2026 dicatat oleh pengadaan listrik dan gas. Lapangan usaha ini mencatat pertumbuhan 10,81% paling tinggi dibandingkan pertumbuhan lapangan usaha lainnya. Angka ini tumbuh pesat dibandingkan triwulan pertama 2026 dimana terkontraksi 0,99%.
Menurut Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh. Edy Mahmud dalam jumpa pers Rabu (5/8/2026) menjelaskan, pertumbuhan tersebut ditopang oleh meningkatnya penjualan listrik di hampir seluruh kelompok pelanggan, terutama rumah tangga, bisnis, dan industri.
"Kalau kita melihat dari kondisi sekarang, sepertinya permintaan listrik dan gas akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya aktivitas usaha seperti industri pengolahan maupun rumah tangga," ujar Edy.
Pertumbuhan lapangan usaha pengadaan listrik dan gas ini juga meningkat diperkirakan karena rencana pemerintah mengembangkan CNG (Compressed Natural Gas atau Gas Alam Terkompresi).
Selain itu, pada 1 April 2026, pemerintah membentuk PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera), cucu usaha Danantara. Perusahaan ini berfungsi sebagai holding dan pengelola terintegrasi untuk proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) atau Waste-to-Energy di Indonesia.
Namun, walau menjadi lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi, tetapi lapangan usaha ini tidak banyak berkontribusi terhadap PDB. Sebab, lapangan usaha pengadaan listrik dan gas hanya berkontribusi 0,99% terhadap PDB.
Kesimpulan: Terlalu Bergantung Pada Belanja Pemerintah, Lapangan Usaha Stagnan
Berangkat dari data-data di atas, dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia kian bergantung pada belanja pemerintah. Sementara mesin ekonomi lainnya seperti konsumsi masyarakat stagnan cenderung melambat, sehingga lapangan usaha pun alami hal yang serupa.
Komponen belanja pemerintah jadi aspek pengeluaran yang tumbuh terbesar pada pertumbuhan ekonomi triwulan kedua. Belanja pemerintah pada triwulan kedua 2026 bertumbuh 15,97%, ini meneruskan tingginya pertumbuhan belanja pemerintah di triwulan pertama 2026 yang bertumbuh 21,81%. Padahal kontribusi belanja pemerintah hanya 7,57% dari total PDB.
Pada saat yang sama konsumsi masyarakat yang berkontribusi 53,32% terhadap PDB, pertumbuhannya malah melambat. Pertumbuhan konsumsi masyarakat pada triwulan kedua pada level 5,06% lebih lambat ketimbang triwulan pertama yakni sebesar 5,52%.
Sementara itu lapangan usaha juga tidak cukup menggeliat. Seperti dijelaskan di atas, industri pengolahan yang jadi motor penggerak ekonomi bertumbuh lebih rendah daripada pertumbuhan ekonomi. Kontribusinya terhadap PDB pun menurun.
Padahal, Indonesia butuh terus mendorong industrialisasi karena bisa memberikan nilai tambah yang luas bagi perekonomian antara lain mengubah bahan mentah jadi bahan jadi, menyerap tenaga kerja di sektor formal, dan mendorong ekspor barang jadi.