IHSG Perlahan Pulih, "Capital Inflow" Mulai Mengintip
Di tengah volatilitas pasar keuangan global, indikasi capital inflow mulai mengintip pasar saham domestik, meski secara neto arus modal asing masih mencatat outflow.
Di tengah volatilitas pasar keuangan global, indikasi capital inflow mulai mengintip pasar saham domestik, meski secara neto arus modal asing masih mencatat outflow.
Pasar saham Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah Jakarta Composite Index (JCI) atau Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencapai titik terendah pada Juni 2026. Di tengah volatilitas pasar keuangan global, indikasi capital inflow mulai mengintip pasar saham domestik, meski secara neto arus modal asing masih mencatat outflow.
Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan pemulihan IHSG menjadi salah satu perkembangan yang perlu diperhatikan dalam melihat kondisi pasar finansial Indonesia. Dalam paparannya, ia membandingkan pergerakan IHSG dengan S&P 500 Index sebagai gambaran dinamika pasar keuangan global.
“Di mana kalau kita lihat sebenarnya JCI Index itu sudah cukup recover dari titik terendah di bulan Juni yang lalu 2026. Terdapat juga indikasi adanya mulai capital inflows ya di pasar modal, walaupun secara net capital flows, masih terjadi net outflows,” ujar Asmo, sapaannya dalam Mandiri Macro & Market Brief Q2 2026, Kamis (3/9/2026).
Pemulihan tersebut berlangsung ketika pasar keuangan global masih menghadapi tekanan dari sejumlah faktor eksternal. Asmo menyoroti kenaikan harga minyak dunia yang telah berada di atas USD90 per barel, inflasi Amerika Serikat, serta peningkatan yield obligasi negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, dan sejumlah negara Eropa.
Menurut dia, kombinasi inflasi, ketegangan geopolitik, dan prospek harga minyak dunia berpotensi kembali menekan pasar finansial negara berkembang. Kondisi tersebut membuat arah kebijakan The Federal Reserve menjadi salah satu faktor penting yang akan menentukan pergerakan pasar.
Ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed juga kembali berubah. Asmo menyebut probabilitas kenaikan Fed Funds Rate pada September 2026 meningkat menjadi 62,3%, dari sekitar 24% tiga minggu sebelumnya.
Perubahan ekspektasi tersebut, lanjut dia, sangat bergantung pada perkembangan inflasi Amerika Serikat dari bulan ke bulan. Jika inflasi turun signifikan, ekspektasi kenaikan suku bunga dapat kembali menurun. Sebaliknya, inflasi yang tetap tinggi berpotensi meningkatkan kembali ekspektasi kenaikan suku bunga pada November dan Desember 2026.
Tekanan global tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi arah arus modal ke Indonesia. Salah satu indikator yang perlu diperhatikan adalah pergerakan yield US Treasury dibandingkan dengan obligasi pemerintah Indonesia.
“Di saat yield meningkat tentu saja spread antara 10-year US Treasury ya dan juga kemudian 10-year Indo Government Bond itu akan semakin menipis. Dan ini tentu saja akan berdampak kepada arah dari capital flows ya dari yang ke Indonesia atau bahkan sebaliknya,” kata Asmo.
Dari sisi domestik, arus modal juga menjadi faktor penting dalam menopang stabilitas rupiah. Asmo menjelaskan pelebaran defisit transaksi berjalan perlu diimbangi dengan surplus pada neraca finansial atau financial account.
Defisit transaksi berjalan Indonesia pada kuartal II 2026 disebut telah mencapai 3,3%. Kondisi tersebut membuat aliran modal masuk menjadi penting untuk menutup kebutuhan pembiayaan eksternal.
“Ketahanan dari sisi atau stabilitas rupiah tentu saja akan juga ditopang dari seberapa besar neraca aliran modal itu masuk ke Indonesia,” ujar Asmo.
Menurut dia, dukungan terhadap neraca aliran modal tersebut antara lain berasal dari direct investment dan portfolio investment. Untuk investasi portofolio, pasar saham dan pasar obligasi menjadi kanal utama.
Selain itu, Asmo menyebut sejumlah langkah Bank Indonesia dalam memperkuat kerja sama dengan bank sentral negara lain melalui kebijakan local currency atau LCS/LCT turut mendukung ketahanan nilai tukar dan berpotensi mendorong capital inflows ke Indonesia.
Indikasi meredanya tekanan jual investor asing juga terlihat dalam catatan Mandiri Sekuritas. Head of Equity Research & Strategy Mandiri Sekuritas, Kresna Hutabarat, mencatat net foreign flows pada Juli dan Agustus 2026 masing-masing berada di minus Rp8 triliun dan minus Rp3 triliun. Namun, secara year-to-date, net foreign outflow masih mencapai Rp94 triliun.
Kresna mengatakan kondisi tersebut belum menghilangkan tekanan terhadap pasar saham Indonesia, tetapi menunjukkan adanya ruang bagi pemulihan apabila faktor eksternal dan fundamental domestik semakin mendukung.
Mandiri Sekuritas sendiri memproyeksikan IHSG berada di level 6.800 pada akhir 2026. Dalam skenario bull case, IHSG bahkan berpotensi mencapai 7.500 apabila risk-free equity risk premium membaik, salah satunya melalui penurunan risk-free rate.
“Mungkin saya mau langsung kepada kesimpulan kami bahwa memang performa indeks- performa laba emiten-emiten kita ini menjadikan dasar untuk kami memiliki moderate bullishness-lah ya di pasar saham kita menuju semester dua,” ujar Kresna dalam paparannya.
Menurut Kresna, optimisme tersebut ditopang oleh kinerja laba emiten yang masih tumbuh serta peluang membaiknya kondisi pasar saham pada semester II 2026.
Proyeksi pemulihan pasar saham juga berkaitan dengan perkembangan bond yield. Kresna menjelaskan kenaikan US Treasury yield sepanjang tahun berjalan sebelumnya telah mendorong ekspektasi kenaikan IDR risk-free rate dan menekan valuasi JCI.
“Jadi ketika memang nanti kita lihat arah 10-year bond yield kita bisa stabil akan menuju ke 6,8 dan 7,6% itu menjadi dasar untuk peningkatan valuasi JCI dan peningkatan valuasi IHSG serta indeks-indeks nasional kita lainnya. Jadi ini salah satu menjadi alasan untuk kenapa kita bisa yakin akan ada moderat recovery di pasar saham kita ke depannya,” kata Kresna.
Dari sisi kinerja emiten, Kresna mencatat pertumbuhan laba pada semester I 2026 mencapai 12% dan mulai tersebar di berbagai sektor. Pertumbuhan tidak hanya berasal dari perbankan, tetapi juga sumber daya alam, telekomunikasi, otomotif, rumah sakit, serta minyak dan gas.
Sementara itu, sejumlah sektor masih mampu mencatat kinerja positif sepanjang tahun, antara lain tembakau, minyak dan gas, pertambangan batu bara, serta ritel. Kresna menilai tekanan jual saham Indonesia oleh investor asing juga tidak separah sejumlah pasar seperti Taiwan, Korea Selatan, dan India.
Dukungan investor domestik, terutama dari segmen ritel, menjadi salah satu faktor yang turut menopang pasar saham Indonesia ketika investor asing masih melakukan aksi jual.
Untuk semester II 2026, Kresna melihat prospek pertumbuhan laba emiten tetap menjadi salah satu faktor utama yang dapat mendukung pasar saham. Pertumbuhan laba tersebut diperkirakan berada di sekitar 12% pada 2026 dan 10%-12% pada 2027.
Meski tekanan jual mulai mereda, arus modal asing secara kumulatif masih menjadi tantangan bagi pasar saham Indonesia. J.P. Morgan mencatat akumulasi penjualan bersih atau net sell investor asing di pasar saham domestik mencapai sekitar USD4,2 miliar atau setara Rp74,3 triliun sejak awal tahun.
Head of Equity Research J.P. Morgan Indonesia Benny Kurniawan mengatakan tekanan arus modal keluar tersebut dipengaruhi tingginya imbal hasil obligasi global yang menahan laju pertumbuhan laba emiten sekaligus memoderasi pemulihan valuasi pasar saham.
“Eksposur investor asing saat ini sudah berada di level yang relatif rendah menyusul outflow sekitar USD 4,2 miliar sejak awal tahun,” ujar Benny dalam keterangannya.
Meski dibayangi tekanan eksternal, J.P. Morgan menilai potensi penurunan harga saham atau downside risk di Bursa Efek Indonesia (BEI) relatif terbatas. Kondisi tersebut ditopang oleh kuatnya likuiditas domestik serta valuasi saham Indonesia yang tergolong murah.
Saat ini, valuasi pasar saham Indonesia diperkirakan berada di kisaran 10 kali proyeksi laba 12 bulan ke depan. Level tersebut mengindikasikan pasar telah mengantisipasi risiko secara relatif hati-hati.
Dari sisi fundamental, kinerja laba emiten Indonesia tercatat relatif tangguh sepanjang semester I 2026 dengan pertumbuhan mencapai 6% secara tahunan (year-on-year/YoY). Namun, J.P. Morgan memproyeksikan momentum pertumbuhan tersebut melambat pada semester II 2026 akibat tingkat suku bunga yang masih tinggi dan perubahan tren investasi. Secara keseluruhan, laba emiten dalam indeks MSCI Indonesia diperkirakan terkoreksi tipis 0,9% pada akhir 2026.
Kendati demikian, prospek pemulihan diperkirakan menguat pada tahun berikutnya. Konsensus pasar memproyeksikan laba emiten MSCI Indonesia berpotensi tumbuh 8,7% pada 2027.
Selain prospek laba, stabilitas kebijakan fiskal juga dinilai menjadi faktor penting bagi daya tarik pasar saham Indonesia. J.P. Morgan menilai sikap pemerintah menjaga disiplin fiskal melalui Kerangka APBN 2027 dapat menjadi salah satu penopang stabilitas pasar finansial.
Rencana penurunan target defisit anggaran menjadi 2,4% dari PDB pada 2027, dari target 2,85% pada 2026, dinilai memberikan sinyal positif bagi investor.
Chief Executive Officer J.P. Morgan Indonesia Gioshia Ralie menegaskan kepastian fiskal dan ketahanan ekonomi domestik menjadi fondasi penting bagi daya tarik investasi jangka panjang.
“Sikap fiskal yang lebih konservatif dinilai dapat membantu menurunkan gejolak di pasar saham Indonesia dan menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah,” jelas Gioshia.
Selain faktor makroekonomi, pasar saham Indonesia juga berpotensi memperoleh katalis baru dari pertumbuhan investasi infrastruktur digital, khususnya pembangunan data center yang dipicu siklus AI global.
J.P. Morgan memproyeksikan kapasitas data center nasional dapat meningkat lebih dari tiga kali lipat, dari sekitar 500 MW menjadi 1,8 GW pada akhir 2027.
Dengan kata lain, meski arus modal asing secara kumulatif masih berada di zona negatif, sejumlah indikator mulai menunjukkan ruang bagi pemulihan pasar saham Indonesia. Meredanya tekanan jual asing, pertumbuhan laba emiten, valuasi yang relatif murah, stabilitas fiskal, serta potensi investasi baru menjadi sejumlah faktor yang dapat menentukan apakah indikasi capital inflow tersebut berlanjut menjadi arus modal masuk yang lebih berkelanjutan.