‎September Effect Datang, Akankah "Rally" IHSG Berlanjut?

‎September Effect Datang, Akankah "Rally" IHSG Berlanjut?

September Effect merupakan pola musiman (seasonality) berupa kecenderungan imbal hasil pasar saham yang lebih rendah pada September.

‎September Effect Datang, Akankah "Rally" IHSG Berlanjut?
Dalam Artikel Ini

Memasuki September 2026, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali dibayangi fenomena September Effect, yakni kecenderungan pasar saham mencatat kinerja lebih lemah pada dibandingkan bulan lainnya. Meski demikian, data historis menunjukkan fenomena musiman tersebut tidak selalu membuat IHSG berakhir di zona merah.

Berdasarkan data pasar tahunan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG justru menguat 2,94% secara bulanan (month-to-month/MoM) menjadi 8.061,06 pada September 2025 dibandingkan dengan posisi pada Agustus 2025.

Sebaliknya, IHSG pada September 2024 melemah 1,86% secara bulanan menjadi 7.527,92. Pada September 2023, IHSG terkoreksi 0,19% menjadi 6.939,89 dibandingkan dengan posisi pada bulan sebelumnya.

‎September Effect merupakan pola musiman (seasonality) berupa kecenderungan imbal hasil pasar saham yang lebih rendah pada September. Fenomena ini lebih dikenal di pasar saham Amerika Serikat dan menjadi salah satu anomali yang banyak diperhatikan investor.

Penelitian INSEAD mencatat September sebagai satu-satunya bulan yang membukukan rata-rata imbal hasil negatif di pasar saham Amerika Serikat selama periode satu abad terakhir.

Kendati demikian, September Effect tidak dapat diperlakukan sebagai kepastian arah pasar karena hubungan sebab-akibat yang menjelaskan kecenderungan pelemahan tersebut belum dapat ditentukan.

‎IHSG berpotensi konsolidasi

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, memperkirakan IHSG menghadapi tekanan lebih besar sepanjang September 2026. Risiko tersebut berasal dari kombinasi September Effect, sentimen global, potensi sikap hawkish bank sentral utama, serta rebalancing indeks FTSE Russell.

Menurut Nafan, kondisi tersebut berpotensi membuat IHSG bergerak dalam fase konsolidasi dengan volatilitas yang meningkat. Namun, tekanan tersebut belum serta-merta mengindikasikan IHSG memasuki tren bearish berkepanjangan karena fundamental ekonomi domestik, valuasi saham yang relatif atraktif, serta ruang kebijakan moneter domestik masih dapat menjadi penyangga pasar.

‎“Kombinasi faktor global memang berpotensi meningkatkan tekanan terhadap IHSG sepanjang September 2026, terutama karena secara historis September merupakan salah satu bulan yang relatif kurang bersahabat bagi pasar saham,” kata Nafan kepada SUAR, Rabu (2/9/2026).

‎Menurut dia, risiko pasar domestik akan semakin besar apabila bank-bank sentral utama mengambil sikap lebih hawkish. Pasar kembali mencermati peluang pengetatan kebijakan The Federal Reserve (The Fed) setelah sejumlah pejabat bank sentral Amerika Serikat memberikan sinyal bahwa kenaikan suku bunga masih terbuka apabila inflasi belum cukup moderat.

‎Probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September juga disebut meningkat dalam beberapa hari terakhir. Selain The Fed, pasar turut mencermati ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ) serta potensi sikap hawkish Bank Sentral Eropa (ECB).

Kondisi tersebut berpotensi mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi global yang kemudian memicu rebalancing portofolio dari aset berisiko, termasuk saham di pasar negara berkembang seperti Indonesia.

Di tengah risiko tersebut, Nafan mencatat IHSG telah menguat 5,67% dalam sebulan terakhir, meskipun secara year to date (YTD) indeks masih terkoreksi cukup dalam.

Dari sisi aliran dana, tekanan juga tercermin dari posisi net sell investor asing yang telah berada di sekitar Rp97 triliun secara YTD. Menurut Nafan, reli IHSG sepanjang Agustus masih berpeluang berlanjut, tetapi ruang kenaikan pada September kemungkinan lebih selektif dan volatil.

‎“Penguatan Agustus perlu dilihat sebagai relief rally setelah tekanan yang cukup besar sebelumnya, sehingga pada September investor berpotensi melakukan profit taking, khususnya apabila muncul kombinasi penguatan dolar AS, kenaikan yield US Treasury, pelemahan rupiah, serta meningkatnya kembali foreign outflow,” ujarnya.

Nafan melihat skenario yang lebih realistis adalah IHSG bergerak dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan volatil. Berdasarkan data historis 10 tahun terakhir, rata-rata return IHSG pada September berada di sekitar minus 0,94%, dengan probabilitas indeks mencatat kinerja positif hanya sekitar 33%.

‎Namun, valuasi IHSG yang relatif murah dapat membatasi tekanan penurunan. Nafan mencatat forward price to earnings ratio (P/E) IHSG berada di sekitar 9,8 kali. Level tersebut dapat membatasi downside ketika koreksi terjadi sekaligus membuka peluang akumulasi bagi investor dengan horizon menengah hingga panjang.

FTSE Russell Jadi Perhatian

Selain sentimen global, Nafan menilai pelaku pasar perlu mencermati rebalancing FTSE Russell pada September. Aksi tersebut berpotensi memberikan tekanan teknikal, terutama terhadap saham yang mengalami penurunan klasifikasi atau keluar dari indeks.

Tekanan muncul karena dana pasif yang mengikuti indeks perlu menyesuaikan portofolio ketika terjadi perubahan komposisi. FTSE Russell sebelumnya telah menunda full index re-ranking, kenaikan free float, dan penambahan saham Indonesia hingga setidaknya review September 2026.

‎Rebalancing September mencakup 39 saham Indonesia. Perubahan tersebut dijadwalkan berdasarkan penutupan perdagangan pada 18 September dan berlaku efektif mulai 21 September 2026.

Nafan mengingatkan investor mencermati saham yang mengalami penurunan klasifikasi, pengurangan bobot, maupun penghapusan dari indeks. Risiko price impact dinilai lebih besar pada saham dengan free float dan likuiditas relatif rendah karena tekanan passive selling dapat lebih terasa.

Meski demikian, Nafan menilai dampak rebalancing FTSE Russell terhadap IHSG lebih bersifat teknikal dan temporer. Besarnya pengaruh terhadap indeks secara keseluruhan akan bergantung pada nilai passive outflow dibandingkan kemampuan investor domestik dan investor aktif dalam menyerap tekanan jual.

‎Ia menambahkan, investor tidak hanya perlu melihat rebalancing sebagai sinyal fundamental negatif, tetapi juga mencermati potensi koreksi pada saham yang masih memiliki fundamental dan prospek earnings yang kuat.

‎Proyeksi IHSG 6.300–6.650

Sejalan dengan potensi tekanan tersebut, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, memproyeksikan IHSG bergerak dalam rentang 6.300–6.650 sepanjang September 2026. Peluang IHSG ditutup positif diperkirakan sekitar 40%–45%.

Proyeksi tersebut masih lebih baik dibandingkan pola historis. Dalam 10 tahun terakhir, rata-rata return IHSG pada September tercatat minus 0,94%, sedangkan probabilitas indeks ditutup menguat hanya sekitar 33%.

“Sejarah September berat, tapi bukan alasan bagi pasar untuk panik,” kata Liza.

‎Menurut Liza, tekanan IHSG pada September terutama berasal dari arah kebijakan moneter global. The Fed, ECB, dan BOJ dijadwalkan mengambil keputusan suku bunga pada bulan ini.

‎“CME FedWatch memberikan probabilitas 34% terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada September dan 74% pada Desember. Di saat yang sama, yield US Treasury 10 tahun berada di kisaran 4,6–4,7%, sedangkan yield tenor dua tahun sekitar 4,2–4,3%,” ungkapnya.

‎ECB dijadwalkan mengambil keputusan pada 10 September, The Fed pada 15–16 September, dan BOJ pada 17–18 September. Setelah itu, Bank Indonesia dijadwalkan menggelar Rapat Dewan Gubernur pada 22–23 September dengan BI-Rate saat ini sebesar 5,75%.

‎Liza juga menyoroti rebalancing FTSE Russell. Sebanyak 29 saham Indonesia dikeluarkan dari indeks FTSE Global Equity, sedangkan 10 saham lainnya mengalami penurunan klasifikasi. Perubahan tersebut dijadwalkan efektif setelah penutupan perdagangan 18 September atau mulai perdagangan 21 September 2026.

Tekanan pasar juga berasal dari aliran dana asing. Pihaknya mencatat net sell investor asing mencapai sekitar Rp97,72 triliun secara kumulatif hingga 28 Agustus 2026.

Di sisi lain, sejumlah indikator domestik dan pasar komoditas menjadi perhatian investor. Ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% secara tahunan pada kuartal II 2026. Namun, penjualan ritel Juni terkontraksi 3%, sementara impor melonjak 34,27% dan ekspor tumbuh 8,84%. Kondisi tersebut membuat neraca perdagangan Juni mencatat defisit USD450 juta.

Empat Sektor

‎Sementara itu, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus melihat sektor energi, properti, basic industry, dan transportasi masih menarik untuk dicermati investor pada pekan ini di tengah potensi volatilitas pasar.

‎“Untuk pekan ini yang menarik adalah Sektor Energi, Property, Basic Industry, dan Transportasi terlihat menarik,” kata Nico.

‎Secara teknikal, Nico masih melihat peluang penguatan IHSG pada September 2026. Proyeksi tersebut didukung tren kenaikan IHSG sebelumnya yang berlangsung konsisten, sementara koreksi belum menembus level support.

‎“Secara teknikal analisa, kami melihat IHSG berpotensi mengalami penguatan di bulan ini. Terutama setelah sebelumnya secara konsisten terus mengalami kenaikkan. Sekalipun mengalami koreksi, namun tidak melewati level support yang ada. Secara rentang, IHSG akan bermain di 6.510 – 6.640,” ungkapnya.

Namun, Nico tetap mengingatkan potensi tekanan pasar. Secara historis, IHSG dalam 10 tahun terakhir terkoreksi rata-rata 0,76% pada September dengan tingkat probabilitas sebesar 60%.

Baca juga:

Menjaga Kepercayaan di Tengah Turbulensi Pasar Modal Indonesia
Benang merah dari penyelenggaraan Indonesia IRF (Investor Relations Forum) 2026 pada 11 Mei 2026 menegaskan bahwa tanpa reformasi struktural yang kredibel, daya tarik pasar keuangan domestik berisiko tergerus oleh volatilitas yang kian meningkat.

‎Tekanan juga berpotensi datang dari perkembangan global, mulai dari perang Amerika dan Iran, kenaikan harga minyak, inflasi Amerika, hingga potensi kenaikan suku bunga bank sentral dunia. Kondisi tersebut dapat memperkecil investasi dan kredit serta memperlambat perekonomian.

‎Pada hari kedua di bulan September ini, IHSG ditutup melemah tipis sebesar 4,16 poin atau 0,06% ke level 6,595.78. Sepanjang sesi perdagangan, indeks saham nasional sempat mengalami tekanan jual yang cukup dalam di sesi pagi hingga menyentuh titik terendah harian di level 6,561.00 sebelum akhirnya berangsur pulih menjelang penutupan.

Berdasarkan data perdagangan, aktivitas pasar mencatatkan volume transaksi sebesar 61,98 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp 16,54 triliun dari 2,42 juta kali frekuensi perpindahan tangan. Kapitalisasi pasar tercatat berada di angka Rp 11,525 triliun. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 296 saham mengalami penguatan, 338 saham terkoreksi, dan 329 saham stagnan.

Tekanan pada perdagangan hari ini diwarnai oleh aksi jual (net sell) yang dilakukan oleh investor domestik senilai sekitar Rp 2,02 triliun, dengan rincian pembelian Rp 13,75 triliun dan penjualan Rp 15,77 triliun.

Kendati demikian, tekanan tersebut berhasil diredam berkat masuknya aliran dana asing (foreign net buy) sebesar kurang lebih Rp 2,03 triliun, di mana investor asing mencatatkan aksi beli senilai Rp 6,95 triliun dan penjualan Rp 4,93 triliun.

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)

Lainnya Dalam Pasar Modal

Rekomendasi SUAR