Bursa Buka Jalan Investasi Dua Arah, Investor Global Mulai Dilirik Lewat Platform Ini
Fasilitas ini tidak hanya diarahkan untuk memberi investor domestik akses ke produk investasi global, tetapi juga membuka peluang bagi investor internasional mendapatkan eksposur terhadap saham dan aset pasar modal Indonesia.
•
7 Menit Baca
Oleh:
Tautan telah disalin! Tempelkan ke stiker tautan di Bio atau Story Anda.
Bursa Efek Indonesia (BEI) membuka jalan bagi pasar modal Indonesia untuk semakin terhubung dengan ekosistem keuangan global melalui pengembangan Platform for Global Market Access (PLM).
Fasilitas ini tidak hanya diarahkan untuk memberi investor domestik akses ke produk investasi global, tetapi juga membuka peluang bagi investor internasional mendapatkan eksposur terhadap saham dan aset pasar modal Indonesia. Dengan demikian, arus investasi diharapkan dapat bergerak dua arah, dari Indonesia ke pasar global maupun sebaliknya.
Langkah tersebut ditandai dengan penandatanganan memorandum of understanding (MoU) antara BEI dan perusahaan infrastruktur brokerage global AlpacaDB Incorporated di Main Hall BEI, Jakarta, Selasa (1/9/2026).
Kerja sama tersebut menjadi langkah awal untuk mengeksplorasi akses pasar lintas negara, termasuk kesiapan teknologi, infrastruktur, regulasi, hingga model kerja sama yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan kerja sama tersebut menjadi pijakan awal untuk memperkukuh konektivitas pasar modal Indonesia dengan ekosistem keuangan global.
“Penandatanganan MOU ini menjadi langkah awal bagi kita untuk mengeksplorasi berbagai peluang kerja sama dan model akses pasar lintas batas,” kata Jeffrey dalam sambutannya.
Menurut Jeffrey, konektivitas tersebut diharapkan berjalan dua arah. BEI ingin membuka peluang bagi Anggota Bursa (AB) Indonesia memperoleh akses ke pasar global. Pada saat yang sama, broker internasional dan pelaku pasar global juga diharapkan mendapatkan akses yang lebih baik ke pasar modal Indonesia.
“Konektivitas akan membuka lebih banyak peluang investasi, memperluas pilihan produk, mendorong inovasi, dan pada akhirnya meningkatkan daya saing pasar modal Indonesia,” ucapnya.
Jeffrey menegaskan, pengembangan akses pasar lintas batas tidak cukup hanya dengan menghubungkan sistem dan infrastruktur. BEI bersama para pemangku kepentingan perlu memastikan keselarasan regulasi, kesiapan teknologi, perlindungan investor, hingga kesiapan operasional pelaku pasar.
Tindak lanjut MoU akan mencakup knowledge sharing, pengkajian kesiapan teknologi dan infrastruktur pasar, keterlibatan regulator dan pelaku industri, serta eksplorasi model kerja sama sesuai ketentuan.
Investor muda dorong diversifikasi
Direktur Pengembangan BEI, Iding Pardi, mengatakan pengembangan PLM sejalan dengan arah bursa untuk semakin terbuka terhadap ekosistem pasar modal global. Melalui PLM, investor domestik dapat mengakses produk dan pasar global melalui perantara pedagang efek dalam negeri.
Namun, fokusnya bukan hanya membawa investor Indonesia ke luar negeri, melainkan membuat pasar Indonesia lebih mudah diakses komunitas investor global.
“Jadi dalam hal ini, dari perspektif IDX, ini bukan tentang bagaimana investor kita bisa membeli saham asing, tetapi yang paling penting adalah membawa IDX lebih terbuka ke ekosistem pasar global,” kata Iding.
Pengembangan fasilitas tersebut juga didorong pertumbuhan jumlah investor domestik. Iding menyebut jumlah investor pasar modal Indonesia telah mencapai 13,1 juta investor. Sekitar 55% berusia di bawah 30 tahun dan hampir 75% berusia di bawah 40 tahun.
Menurut Iding, dominasi investor muda meningkatkan kebutuhan terhadap variasi produk dan diversifikasi investasi. “Investor yang semakin muda dan semakin terhubung secara global biasanya membutuhkan lebih banyak variasi produk dan diversifikasi,” cetusnya.
Selain pertumbuhan investor, perubahan kerangka regulasi pasar keuangan yang semakin membuka ruang bagi pelaku domestik untuk menyediakan akses terhadap produk global turut menjadi faktor pendorong pengembangan PLM.
Permintaan Investasi Global Meningkat
Co-Founder dan CEO Ajaib Group, Anderson Sumarli, melihat permintaan terhadap produk investasi global di Indonesia cukup besar, terutama seiring perubahan perilaku investor muda yang semakin terhubung dengan informasi ekonomi dan pasar keuangan dunia.
“Young people, they now think about the world borderless,” kata Anderson.
Menurut dia, kecenderungan tersebut juga terjadi di negara lain. Investor muda global semakin tertarik mendapatkan eksposur terhadap pasar Indonesia.
Indonesia dinilai memiliki sejumlah daya tarik, mulai dari sumber daya alam, populasi besar dan relatif muda, hingga perusahaan dengan basis konsumen domestik yang kuat.
Dari kiri ke kanan: Direktur Pengembangan BEI Iding Pardi, CEO AlpacaDB Yoshi Yokokawa, CEO Ajaib Group Anderson Sumarli, Kepala Pengembangan Bisnis Produk Derivatif Pier Yose. Foto: Nana/Suar.id
“Jadi bukan hanya benar untuk pelanggan Indonesia, tetapi juga benar untuk anak muda di seluruh dunia. Mereka juga ingin mendapatkan akses ke saham-saham Indonesia,” jelas dia.
Karena itu, Anderson melihat konektivitas pasar sebagai peluang bagi investor Indonesia untuk memperoleh produk global sekaligus bagi perusahaan Indonesia untuk menjangkau investor internasional.
Tak Otomatis Picu Capital Outflow
Perluasan akses investasi global sebelumnya berpotensi menimbulkan kekhawatiran mengenai capital outflow. Semakin mudah investor Indonesia membeli aset luar negeri, semakin besar pula peluang dana domestik dialokasikan ke pasar global.
Namun, Anderson menilai investasi global tidak otomatis mengurangi investasi domestik. Berdasarkan data Ajaib, investor yang menggunakan lebih banyak produk investasi justru cenderung mengalokasikan lebih banyak pendapatannya untuk investasi jangka panjang.
“Data kami menunjukkan bahwa pelanggan yang menggunakan banyak produk justru merupakan pelanggan yang akhirnya menginvestasikan lebih banyak penghasilannya setiap bulan ke dalam rencana tabungan jangka panjang,” ungkapnya.
Karena itu, menurut Anderson, investasi domestik dan global tidak harus dipandang sebagai permainan zero-sum.
Iding mengakui kekhawatiran mengenai capital outflow merupakan hal yang valid. Namun, menurut dia, permintaan terhadap produk global pada dasarnya sudah terbentuk.
“Pertanyaannya bukan apakah kita ingin membukanya, tetapi bagaimana memindahkan permintaan tersebut ke akses yang lebih legal dan lebih teregulasi melalui broker domestik,” ujar Iding.
Menurut dia, akses melalui perantara domestik memberikan pilihan produk yang lebih luas sekaligus memperkuat peran perusahaan sekuritas lokal dalam melayani nasabah.
“Bagi BEI, tujuan akhirnya adalah menciptakan ekosistem yang tidak mempertentangkan pasar domestik dengan pasar global. Akses global justru diharapkan memperkuat konektivitas pasar Indonesia dengan dunia,” tutur Iding.
AlpacaDB Siapkan Infrastruktur
Dari sisi teknologi, CEO AlpacaDB Yoshi Yokokawa mengatakan kerja sama dengan BEI merupakan bagian dari visi perusahaan untuk menghubungkan pasar modal berbagai negara.
Yoshi mengatakan AlpacaDB telah bekerja sama dengan pelaku industri Indonesia selama sekitar lima tahun dan menyediakan infrastruktur untuk memberikan akses terhadap saham Amerika Serikat dan pasar global kepada investor Indonesia sesuai ketentuan yang berlaku.
Beberapa perusahaan yang disebut telah bekerja sama dengan AlpacaDB antara lain Ajaib, Gotrade, Valbury, Reku, dan Nanovest.
Menurut Yoshi, setiap negara memiliki struktur pasar dan persyaratan regulasi berbeda, termasuk Indonesia yang memiliki kerangka khusus terkait kebutuhan serta perlindungan investor.
“Indonesia has its own specific framework for the investor needs and investor protection,” kata Yoshi.
AlpacaDB berperan sebagai penyedia infrastruktur kliring dan kustodian bagi perusahaan sekuritas serta broker-dealer. Di Amerika Serikat, AlpacaDB terdaftar pada Securities and Exchange Commission (SEC) dan Financial Industry Regulatory Authority (FINRA), serta menjadi anggota Depository Trust & Clearing Corporation (DTCC). Perusahaan juga memiliki registrasi atau lisensi di sejumlah yurisdiksi, termasuk Singapura, Jepang, Inggris, Uni Eropa, dan Uni Emirat Arab.
Yoshi menyebut AlpacaDB memiliki lebih dari 300 klien broker-dealer di 50 negara, lisensi global di delapan negara, serta melayani hampir 15 juta rekening broker ritel.
Melalui kerja sama dengan BEI, jaringan tersebut diharapkan dapat memperluas akses terhadap pasar Indonesia sekaligus menghubungkan investor Indonesia dengan pasar global.
“Ini adalah visi dua arah. Bagaimana pasar saham Indonesia dapat didistribusikan secara global, dan bagaimana pasar modal global, termasuk saham AS, dapat diakses secara patuh di Indonesia melalui broker-dealer anggota bursa kepada nasabah ritelnya,” ujar Yoshi.
Akses Global Harus Teratur
Yoshi menilai perluasan akses pasar global harus diimbangi mekanisme yang legal dan memberikan perlindungan kepada investor. Menurut dia, pembatasan akses tidak serta-merta menghilangkan permintaan terhadap produk global.
“Demand doesn't disappear,” ujar Yoshi.
Karena itu, menurut dia, mekanisme resmi diperlukan agar investor memperoleh eksposur pasar global secara compliant dengan perlindungan yang memadai.
Pandangan serupa disampaikan Sekretaris Jenderal Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) Firlie Ganinduto. Menurut Firlie, kerja sama BEI dan AlpacaDB relevan dengan perkembangan industri fintech Indonesia yang memasuki fase pendewasaan.
Berdasarkan AFTECH Annual Member Survey 2025–2026 yang diikuti 141 perusahaan anggota, sebanyak 43% perusahaan fintech Indonesia telah mencatatkan laba. Selain itu, 84% anggota AFTECH telah mengadopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam operasional bisnis, sementara 86% menilai kerangka regulasi saat ini telah mendukung inovasi.
“Industri fintech Indonesia sedang memasuki fase maturing atau fase pendewasaan,” kata Firlie.
Menurut dia, fokus industri kini tidak lagi semata-mata mengejar pertumbuhan, tetapi juga membangun bisnis berkelanjutan, memperkuat tata kelola dan kualitas layanan, serta memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan.
Di sisi lain, masih terdapat tantangan. Sebanyak 66% anggota AFTECH melaporkan kesenjangan talenta di bidang AI dan big data. Sementara itu, 74% pengguna fintech masih terkonsentrasi di wilayah Jabodetabek.
Firlie menilai kondisi tersebut menunjukkan pentingnya kolaborasi antara industri fintech, pasar modal, dan penyedia infrastruktur teknologi global.
“Teknologi memungkinkan akses terhadap produk dan pasar modal yang semakin luas, termasuk membuka lebih banyak pilihan bagi investor Indonesia untuk melihat peluang di luar pasar domestik dan begitu pula membuka pintu bagi investor luar untuk berinvestasi di Indonesia,” ungkapnya.
Peluang Capital Inflow
AFTECH melihat kebutuhan terhadap akses investasi global dari investor Indonesia semakin besar. Namun, perluasan akses harus disertai perlindungan konsumen, level playing field, dan peningkatan literasi keuangan.
Firlie mengatakan infrastruktur brokerage AlpacaDB dapat membantu pelaku industri menyediakan akses terhadap berbagai instrumen investasi global, mulai dari saham, exchange-traded fund (ETF), hingga fractional investing, serta market data yang dapat diintegrasikan ke dalam platform investasi.
“Dengan brokerage infrastructure Alpaca yang dapat diakses melalui API, penyelenggara platform investasi dapat lebih berfokus pada pengembangan produk, pengalaman pengguna, dan kebutuhan pasar tanpa harus membangun seluruh infrastrukturnya sendiri dari awal,” kata Firlie.
Di sisi lain, jaringan AlpacaDB berpotensi memperluas eksposur pasar modal Indonesia kepada investor internasional.
Anderson melihat peluang tersebut didukung besarnya basis investor dan perusahaan di Indonesia. Menurut dia, Indonesia telah berada di antara 15 pasar modal terbesar dunia dan memiliki peluang meningkatkan posisi hingga masuk lima besar.
Potensi tersebut ditopang populasi besar dan muda, perusahaan dengan pasar domestik kuat, serta peluang penambahan jumlah emiten. Pengembangan produk seperti ETF juga dapat memperbesar pilihan bagi investor global untuk memperoleh eksposur terhadap Indonesia.
Dalam konteks tersebut, konektivitas dua arah dapat mempertemukan perusahaan dan aset Indonesia dengan basis investor yang lebih luas.
Bagi BEI, kata Iding, pengembangan akses lintas negara sekaligus menjadi bagian dari transformasi bursa menuju pasar modal yang lebih terbuka dan terhubung dengan pasar internasional.
"Jika kesiapan regulasi, teknologi, infrastruktur, dan perlindungan investor dapat dipenuhi, keterhubungan tersebut tidak hanya memberi ruang bagi investor domestik untuk melakukan diversifikasi global, tetapi juga membuka peluang bagi semakin banyak investor internasional untuk masuk dan berinvestasi di pasar modal Indonesia," pungkas Iding.
Bagian selanjutnya tersedia khusus untuk member SUAR