Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan berbagai reformasi yang dilakukan di pasar modal Indonesia mulai mendapat pengakuan dari investor global. Hal itu tercermin dari respons positif penyedia indeks global dan lembaga pemeringkat terhadap berbagai langkah perbaikan yang ditempuh regulator, termasuk keputusan S&P Global Ratings mempertahankan peringkat utang (sovereign rating) Indonesia dengan prospek stabil.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Frederica Widyasari Dewi, mengatakan, penguatan integritas pasar modal menjadi fokus utama OJK di tengah dinamika global yang masih dipenuhi ketidakpastian, mulai dari tensi geopolitik, fragmentasi ekonomi, hingga volatilitas arus modal.
"OJK terus menindaklanjuti berbagai perhatian terhadap market kita dalam menjawab concern global index provider," ucap Frederica dalam sambutannya di acara Investment Forum di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (15/6/2026).
Menurut perempuan yang akrab disapa Kiki itu, saat ini OJK bersama DPR, BEI, dan pemangku kepentingan lainnya bahkan mendatangi New York beberapa bulan lalu untuk bertemu langsung dengan penyedia indeks global serta lembaga pemeringkat internasional.
Dalam pertemuan tersebut, delegasi Indonesia menjelaskan kondisi sektor jasa keuangan nasional sekaligus menjawab berbagai perhatian investor terhadap pasar modal domestik.
"Kita jelaskan posisi Indonesia, ketahanan sektor jasa keuangan kita, dan kita jawab semua concern mereka terhadap market Indonesia," kata dia.
Baca juga:

Ia menjelaskan, berbagai reformasi dilakukan secara cepat setelah muncul dinamika di pasar modal pada awal tahun. Langkah tersebut mencakup penguatan integritas pasar, peningkatan keterbukaan data dan informasi, perbaikan kualitas data, peningkatan likuiditas pasar, hingga penguatan penegakan hukum (enforcement).
Menurut Kiki, berbagai upaya tersebut memperoleh apresiasi dari investor global dan mulai memberikan dampak positif terhadap persepsi pasar terhadap Indonesia.
Sentimen positif itu, lanjutnya, semakin diperkuat setelah S&P Global Ratings mempertahankan sovereign rating Indonesia dengan outlook stabil. Keputusan tersebut, menurutnya, menjadi sinyal bahwa fundamental sektor keuangan Indonesia tetap dipercaya di tengah ketidakpastian ekonomi global.
"Kita juga melihat bagaimana keputusan S&P untuk mempertahankan sovereign rating Indonesia dengan outlook stabil. Ini tentunya juga memberikan sentimen yang sangat baik. Langsung market juga merespons dengan sangat positif dengan kemudian indeks kita naik," ujarnya.
Selain itu, OJK bersama BEI juga terus melakukan penyempurnaan terhadap berbagai kebijakan di pasar modal, termasuk penyesuaian metodologi High Shareholding Concentration (HSC).
Penyempurnaan tersebut dilakukan setelah regulator menerima berbagai masukan dari investor global mengenai skema dan mekanisme yang diterapkan di pasar modal Indonesia.
"Kita address berbagai isu yang disampaikan oleh global investors terhadap berbagai skema yang kita berikan, termasuk kalau HSC metodologi apa lagi yang bisa kita tingkatkan," imbuh Kiki.
Di tengah ketidakpastian global, Kiki menegaskan sektor jasa keuangan Indonesia tetap menunjukkan ketahanan yang kuat. Hal itu ditopang oleh permodalan perbankan yang solid, likuiditas yang memadai, serta profil risiko yang terjaga.
Ia menyebut kredit perbankan masih tumbuh 11,51% secara tahunan. Sementara itu, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) berada di level 23,74%, yang dinilai mencerminkan kondisi perbankan yang sangat kuat.
Baca juga:
Kiki mengingatkan bahwa keberhasilan reformasi pasar modal tidak hanya bergantung pada regulator, melainkan membutuhkan komitmen seluruh pelaku industri untuk menjaga integritas pasar.
"Integritas sektor jasa keuangan merupakan fondasi utama dalam menjaga stabilitas dan membangun kepercayaan investor. Ini tidak bisa dibangun hanya oleh OJK, DPR, atau Bursa Efek Indonesia, tetapi oleh semua pihak," ujarnya.
Berharap MSCI ikut pulihkan persepsi Indonesia
Keputusan S&P Global Ratings mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil dinilai menjadi katalis penting bagi pemulihan kepercayaan investor global terhadap pasar keuangan domestik. Di tengah tekanan eksternal yang memicu pelemahan rupiah dan arus keluar modal asing, pengakuan dari lembaga pemeringkat tersebut diyakini dapat mengurangi ketidakpastian di pasar sekaligus membuka peluang membaiknya persepsi penyedia indeks global, termasuk MSCI.
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik mengatakan pasar langsung merespons positif keputusan S&P. Pengumuman yang dirilis sekitar 15 menit sebelum perdagangan saham ditutup pada Senin itu langsung membalikkan arah IHSG dari zona merah menjadi menguat hampir 2 persen hingga penutupan.
"Pada saat announcement dari S&P dikeluarkan, pasar bergerak di zona merah. Begitu announcement itu keluar, pasar langsung rebound dan tutup hampir plus 2 persen," kata Jeffrey di gedung BEI, Rabu (15/7/2026).
Menurutnya, respons tersebut menunjukkan investor memandang keputusan S&P sebagai validasi atas kuatnya fundamental ekonomi dan pasar keuangan Indonesia.
Lebih dari sekadar mendorong penguatan indeks saham, Jeffrey menilai keputusan tersebut berhasil mengurangi ketidakpastian (uncertainty) yang selama beberapa waktu terakhir membayangi pasar akibat berbagai faktor, baik dari dalam maupun luar negeri.
Ia menjelaskan, selama ini investor menghadapi berbagai risiko nonfundamental yang membuat persepsi terhadap Indonesia cenderung negatif. Dengan dipertahankannya peringkat investment grade dan outlook stabil, sebagian ketidakpastian tersebut mulai berkurang sehingga investor memiliki dasar yang lebih jelas dalam menghitung risiko investasi.
"Investor akan bisa mengukur risiko investasinya. Yang tadinya unsystematic risk sangat tinggi, sekarang bisa lebih terkelola sehingga mereka tinggal menghadapi systematic risk dalam berinvestasi di pasar modal," bebernya.
Jeffrey berharap keputusan S&P menjadi awal dari membaiknya penilaian berbagai lembaga internasional terhadap Indonesia.
Selain lembaga pemeringkat lain, ia juga berharap penyedia indeks global, termasuk MSCI, dapat melihat kembali perkembangan fundamental ekonomi dan reformasi pasar keuangan Indonesia.
"Kita harapkan dengan rating agency yang lain, juga dari global index provider yang lain, saya kira harusnya akan menyusul," cetus Jeffrey.
Perhatian kebijakan moneter
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menilai keputusan S&P pada dasarnya merupakan cerminan meningkatnya kepercayaan investor global terhadap pengelolaan ekonomi Indonesia.
Menurut Destry, S&P melihat Indonesia tetap mampu menjaga stabilitas ekonomi di tengah berbagai guncangan global melalui kombinasi kebijakan fiskal dan moneter yang dijalankan secara hati-hati.
"Yang diberikan oleh S&P sebenarnya mencerminkan trust dari global investor bahwa Indonesia mempunyai ekonomi yang sangat potensial dan selama ini di-manage dengan prudent," ungkap Destry.
Ia mengatakan salah satu aspek yang menjadi perhatian S&P adalah tetap terjaganya independensi Bank Indonesia dalam menjalankan kebijakan moneter.
Destry mencontohkan, kemampuan BI menaikkan suku bunga ketika diperlukan menunjukkan bank sentral tetap memiliki ruang independen dalam menjaga stabilitas ekonomi tanpa intervensi kebijakan lain.
Menurut dia, keputusan S&P mempertahankan peringkat BBB dengan outlook stabil akan memperkuat kepercayaan pelaku pasar sekaligus meningkatkan keyakinan regulator dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Apresiasi terhadap kerja keras
Sementara itu, Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menyebut keputusan S&P sebagai bentuk apresiasi internasional terhadap kerja keras pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Ia menilai pengakuan tersebut penting karena S&P selama ini dikenal sebagai salah satu lembaga pemeringkat yang paling konservatif dalam menilai risiko suatu negara.
"Kerja keras kita merasa dihargai dan diapresiasi oleh internasional," cetus Misbakhun.
Menurut Misbakhun, fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya masih berada dalam kondisi kuat meski rupiah mengalami tekanan dan investor asing masih melakukan aksi jual di pasar domestik.
Ia menilai pelemahan rupiah lebih banyak dipengaruhi dinamika global, terutama tingginya suku bunga Amerika Serikat serta meningkatnya ketegangan geopolitik dunia yang mendorong investor mencari aset-aset yang dianggap lebih aman.
"Kita ketemu ekuilibrium baru di nilai tukar. Situasi sekarang bukan situasi yang normal karena tekanan geopolitik yang luar biasa terhadap sistem keuangan global," tuturnya.
Ia menambahkan, berbagai indikator ekonomi domestik masih menunjukkan kondisi yang sehat, mulai dari pertumbuhan ekonomi, inflasi yang tetap berada dalam sasaran Bank Indonesia, cadangan devisa yang masih kuat, hingga stabilitas sektor perbankan.
Menurut Misbakhun, arus keluar modal asing yang terjadi belakangan lebih dipengaruhi faktor persepsi dibandingkan memburuknya fundamental ekonomi Indonesia.
Untuk memperkuat daya tarik investasi dalam jangka panjang, pemerintah juga tengah menyiapkan pembentukan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) sebagai bagian dari implementasi Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK).
PFII dirancang menjadi pusat jasa keuangan internasional yang menawarkan berbagai insentif bagi investor global, mulai dari insentif perpajakan, kepastian hukum, penyederhanaan regulasi, hingga ekosistem pembiayaan yang lebih kompetitif.
Menurut Misbakhun, Indonesia ingin menghadirkan pusat keuangan yang mampu bersaing dengan Singapura, Dubai, maupun Labuan, sekaligus menjadi pintu masuk investasi global ke berbagai sektor ekonomi nasional.
Melalui PFII, pemerintah berharap Indonesia tidak hanya menjadi tujuan investasi portofolio, tetapi juga mampu menarik investasi langsung, memperdalam pasar keuangan domestik, meningkatkan cadangan devisa, serta memperkuat posisi Indonesia dalam persaingan pusat keuangan internasional.
"Tujuannya memberikan confidence kepada investor global bahwa Indonesia memiliki sistem keuangan yang semakin kuat dan kompetitif," kata Misbakhun.