Suntikan Optimisme dari Pengumuman S&P Global Rating dan Reformasi yang Terus Berjalan

Investor pasar modal mendapatkan suntikan optimisme pasca pengumuman peringkat kredit Indonesia dari S&P Global Ratings.

Suntikan Optimisme dari Pengumuman S&P Global Rating dan Reformasi yang Terus Berjalan
Suasana penutupan perdagangan di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto: Nana/Suar.id
Daftar Isi

Investor pasar modal mendapatkan suntikan optimisme pasca pengumuman peringkat kredit Indonesia dari S&P Global Ratings. Pada saat yang sama, Bursa Efek Indonesia (BEI) terus melanjutkan agenda reformasi pasar modal dengan memperketat metodologi pengawasan saham. Kombinasi kedua sentimen tersebut dinilai memperkuat kepercayaan investor terhadap pasar keuangan domestik, meski pelaku pasar tetap diminta mewaspadai tekanan dari sektor eksternal pada semester II-2026.

Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan reformasi pasar modal dilakukan secara berkelanjutan melalui penyempurnaan mekanisme pengawasan perdagangan saham. Salah satu langkah terbaru adalah revisi metodologi High Shareholding Concentration (HSC) dengan menambahkan indikator price impact ratio untuk mendeteksi lebih dini saham yang memiliki indikasi konsentrasi kepemilikan tinggi.

Menurut Jeffrey, penyempurnaan tersebut merupakan hasil evaluasi yang dilakukan BEI bersama Self-Regulatory Organization (SRO), yakni PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), serta masukan dari berbagai pemangku kepentingan.

"Hari ini kami dari SRO Bursa Efek Indonesia bersama dengan KPEI dan KSEI ingin menegaskan kembali komitmen dan konsistensi kami terhadap reformasi pasar modal Indonesia. Kami akan terus melakukan review atas seluruh aksi reformasi yang telah kami lakukan," kata Jeffrey di gedung BEI, Selasa (14/7/2026).

Ia menjelaskan, price impact ratio mengukur perubahan harga saham terhadap tingkat velocity atau kecepatan perputaran saham berdasarkan volume transaksi dan jumlah saham yang beredar di publik (free float). Saham dengan price impact ratio tinggi akan disaring lebih lanjut untuk melihat ada atau tidaknya indikasi HSC.

"Atas saham-saham yang memiliki price impact ratio yang tinggi akan dilakukan screening atas indikasi ada atau tidaknya high shareholding concentration," jelas dia.

Baca juga:

Buka-bukaan di Pasar Modal (1)
Otoritas keuangan mengusahakan realisasi transparansi pasar modal secepatnya. Publik tak ingin mutu sektor industri keuangan terdegradasi.

BEI akan melakukan evaluasi menggunakan indikator tersebut setiap tiga bulan mengikuti siklus evaluasi indeks utama. Berdasarkan hasil evaluasi awal, sebanyak 37 saham akan masuk kategori HSC sehingga total saham dalam daftar tersebut menjadi 51 saham.

Jeffrey menegaskan masuknya suatu saham ke dalam kategori HSC tidak otomatis menunjukkan adanya pelanggaran. Namun, saham tersebut tidak akan dimasukkan ke dalam indeks utama seperti LQ45 dan IDX30 selama masih memenuhi kriteria HSC. Emiten juga diberikan kesempatan memperbaiki distribusi kepemilikan saham sebelum dilakukan evaluasi ulang.

Pasar merespons positif

Keputusan S&P tersebut langsung direspons positif oleh pelaku pasar. Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Indonesia Fath Aliansyah Budiman mengatakan mayoritas investor sebelumnya memperkirakan S&P akan mengikuti langkah lembaga pemeringkat lain yang menurunkan prospek Indonesia.

"Ketika melihat kemarin muncul beritanya, pasarnya ‘kan langsung mengapresiasi," kata Fath kepada SUAR.

Menurut dia, keputusan mempertahankan outlook stabil berada di atas ekspektasi pasar sehingga menjadi katalis positif bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

"Mayoritas pasar berekspektasi bahwa kurang lebih akan sama dengan Fitch dengan Moody's yaitu akan terjadi pemangkasan dari sisi outlook. Jadi ini sebenarnya sangat bagus sekali," ungkap Fath.

Fath menilai peluang penguatan IHSG masih terbuka karena S&P memandang Indonesia tetap mampu menjaga disiplin fiskal dan ketahanan ekonomi di tengah gejolak global.

Namun, keberlanjutan reli pasar akan sangat bergantung pada munculnya katalis lanjutan dari sisi fundamental ekonomi maupun kebijakan pemerintah lainnya.

Sementara itu, PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia mengingatkan bahwa perhatian investor pada semester II-2026 akan bergeser ke ketahanan sektor eksternal Indonesia. Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan investor akan semakin selektif memilih emiten yang memiliki fundamental kuat di tengah suku bunga tinggi dan ketidakpastian global.

"Kami melihat investor akan semakin memperhatikan kualitas fundamental perusahaan. Di tengah kondisi makro yang masih berkembang, emiten dengan likuiditas yang kuat, kualitas aset yang terjaga, serta kemampuan menghasilkan kinerja yang berkelanjutan akan memiliki daya tarik lebih besar dibandingkan emiten yang lebih sensitif terhadap perubahan kondisi pasar," ujar Rully.

Pandangan tersebut diperkuat oleh Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Novani Karina Saputri. Ia menilai fokus pasar kini mulai bergeser setelah neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 mencatat defisit sebesar US$1,61 miliar, yang mengakhiri tren surplus selama 72 bulan berturut-turut.

"Berakhirnya surplus perdagangan selama 72 bulan menunjukkan bantalan eksternal Indonesia mulai menyempit. Dampaknya, ketergantungan terhadap arus modal portofolio untuk menjaga stabilitas eksternal menjadi semakin besar," kata Novani.

Menurut dia, pemulihan permintaan global, pergerakan harga komoditas, kebutuhan impor energi, serta efektivitas implementasi kebijakan devisa hasil ekspor (DHE) akan menjadi faktor yang menentukan ketahanan sektor eksternal, stabilitas rupiah, dan arah sentimen pasar pada paruh kedua tahun ini.

Adapun IHSG berhasil ditutup di zona hijau pada perdagangan Selasa (14/7/2026), meski penguatannya terbatas di tengah aksi jual investor asing terhadap saham-saham domestik. IHSG naik 1,68 poin atau 0,03% ke level 6.039,52 dari posisi penutupan sebelumnya di 6.037,84.

Sepanjang hari, IHSG bergerak fluktuatif. Indeks dibuka di level 6.057,76, sempat menyentuh level tertinggi 6.095,02, kemudian tertekan hingga mencapai level terendah 6.002,90 sebelum akhirnya ditutup menguat tipis.

Aktivitas perdagangan pun terpantau cukup ramai dengan volume transaksi mencapai 33,23 miliar saham, nilai transaksi sebesar Rp16,74 triliun, dan frekuensi sebanyak 2,71 juta kali. Sementara itu, kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp10.527 triliun.

Secara keseluruhan, sentimen pasar cenderung positif yang tercermin dari jumlah saham yang menguat lebih banyak dibandingkan yang melemah. Sebanyak 439 saham ditutup menguat, 217 saham melemah, dan 309 saham bergerak stagnan.

Meski demikian, investor asing masih membukukan aksi jual bersih (net sell). Nilai pembelian investor asing tercatat sebesar Rp5,35 triliun, sedangkan nilai penjualannya mencapai Rp6,18 triliun, sehingga terjadi net sell sekitar Rp830 miliar.

Di sisi lain, investor domestik masih menopang perdagangan dengan nilai pembelian mencapai Rp11,39 triliun, lebih tinggi dibandingkan nilai penjualan sebesar Rp10,56 triliun.

Pada kelompok saham berkapitalisasi besar, pergerakannya berlangsung bervariasi. Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menguat 4,64% ke level 3.380, sementara saham perbankan justru mengalami tekanan. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) turun 2,44% ke 2.800, sedangkan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) melemah 2,12% ke 4.160

Penulis

Baca selengkapnya