PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI) dan PT Bach Multi Global Tbk (BACH) sama-sama mengawali debut pasar modal di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan respons positif dari investor. Penawaran umum perdana saham (Initial Public Offering/IPO) kedua emiten mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed), sementara harga saham keduanya melonjak pada perdagangan perdana.
Dana segar yang diperoleh dari aksi korporasi tersebut pun langsung diarahkan untuk mendukung strategi pertumbuhan, mulai dari ekspansi kapasitas produksi hingga memperkuat struktur keuangan.
Komitmen bangun ekosistem alkes
EMMI menjadi emiten keempat yang mencatatkan saham di BEI pada 2026. Perseroan melepas 522,86 juta saham baru atau sekitar 30% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO dengan harga penawaran Rp470 per saham. Antusiasme investor tercermin dari tingkat oversubscribe yang mencapai 14 kali.
Pada hari pertama perdagangan, saham EMMI ditutup menguat setelah sempat melonjak 20,21% ke level 520 dari harga penawaran.
Direktur Utama PT Esa Medika Mandiri Tbk Florian Chris Widjaja mengatakan pencatatan saham menjadi langkah strategis bagi perusahaan untuk memperkuat tata kelola sekaligus meningkatkan transparansi sebagai perusahaan terbuka.
"Pencatatan ini adalah awal komitmen kami untuk membangun ekosistem alat kesehatan yang lebih mandiri di Indonesia," kata Florian kepada awak media, Rabu (8/7/2026).
Florian menjelaskan sebagian dana hasil IPO akan digunakan untuk membayar sebagian pinjaman bank, sementara sisanya dialokasikan untuk mempercepat ekspansi usaha melalui pembangunan fasilitas produksi baru serta penambahan modal kerja.
Perseroan akan membangun pabrik baru di Cikupa, Tangerang, di atas lahan seluas sekitar 2.000-3.000 meter persegi dengan bangunan dua hingga tiga lantai. Fasilitas tersebut akan difokuskan untuk memproduksi barang medis habis pakai (BMHP) dan ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal III hingga kuartal IV 2027.
Selain investasi fasilitas produksi, dana IPO juga akan digunakan untuk meningkatkan persediaan barang guna memenuhi kebutuhan proyek pengadaan alat kesehatan yang terus bertambah. Saat ini EMMI telah memiliki jaringan distribusi berskala nasional serta fasilitas produksi yang berlokasi di Cikupa dan Solo.
Di sisi operasional, Florian mengungkapkan kapasitas produksi benang operasi perseroan saat ini mencapai sekitar empat juta unit per tahun. Namun, mengingat lini produksi tersebut baru mulai beroperasi pada tahun ini, realisasi produksi pada tahun pertama diperkirakan berada di kisaran satu juta hingga 1,5 juta unit.
Perseroan juga menargetkan pertumbuhan pendapatan dan laba dua digit sepanjang 2026. Target tersebut akan didorong melalui peningkatan penjualan pada pengadaan Kementerian Kesehatan, optimalisasi penjualan melalui e-katalog, serta perluasan pemasaran benang operasi ke rumah sakit pemerintah maupun swasta.
Florian mengatakan perusahaan telah mengamankan sejumlah kontrak pada tahun ini, meski belum mengungkapkan nilai kontraknya.
Di tengah pelemahan nilai tukar rupiah, Florian menilai dampaknya terhadap biaya produksi masih relatif terbatas. Pasalnya, pembelian bahan baku dari prinsipal di China menggunakan mata uang RMB dengan harga yang telah dikunci sejak awal tahun. Hingga saat ini, seluruh pemasaran produk EMMI masih difokuskan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik.
Perkuat keuangan
Sementara itu, PT Bach Multi Global Tbk (BACH) juga mencatatkan debut yang impresif di BEI. Saham perseroan kelima yang tercatat di 2026 itu langsung menyentuh Auto Rejection Atas (ARA) setelah melonjak 24,43% ke level 550 dari harga penawaran Rp442 per saham pada perdagangan perdana.
Minat investor terhadap IPO BACH bahkan lebih tinggi. Penawaran saham perseroan mengalami oversubscribe sekitar 65 kali, mencerminkan tingginya minat pasar terhadap prospek bisnis perusahaan.
Direktur Utama BACH Budi Kurniawan mengatakan mayoritas dana hasil IPO akan digunakan untuk memperkuat struktur keuangan perusahaan melalui pembayaran utang kepada perbankan.
Sekitar 70% dana IPO dialokasikan untuk melunasi pinjaman bank, sedangkan 30% sisanya digunakan sebagai modal kerja. Dana tersebut akan dimanfaatkan antara lain untuk pembelian genset yang akan dipasarkan maupun disewakan, serta penyediaan suku cadang guna mendukung operasional perusahaan.
"Untuk oversubscribe, kita oversubscribe sebanyak 65 kali kurang lebih," ujar Budi.

Setelah resmi menjadi perusahaan terbuka, BACH juga akan memperkuat sinergi dengan PT Global Telekomunikasi Prima (GTP) selaku pemegang saham pengendali.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperluas bisnis infrastruktur telekomunikasi dan energi, termasuk meningkatkan pemanfaatan genset untuk kebutuhan pusat data dan jaringan telekomunikasi.
Menghadapi fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, perseroan menerapkan strategi penyesuaian harga jual serta melakukan lindung nilai (hedging) untuk menjaga margin usaha.
Di sisi ekspansi, BACH tetap mempertahankan target pendapatan sebesar Rp3 triliun pada 2030. Menurut Budi, target tersebut masih realistis karena didukung tren pertumbuhan bisnis perusahaan, prospek sektor infrastruktur yang masih positif, serta backlog pekerjaan yang telah dimiliki hingga 2026.
Dalam tiga tahun mendatang, perseroan juga akan memperluas portofolio bisnis di sektor energi baru terbarukan (EBT), meliputi pengembangan battery storage, penjualan dan penyewaan panel surya, serta sistem hybrid power yang menggabungkan genset, panel surya, dan baterai.
Langkah tersebut, kata Budi, diharapkan menjadi sumber pertumbuhan baru sekaligus memperkuat posisi BACH di sektor penyediaan solusi energi.
Ramainya IPO bukan fenomena khusus
Maraknya perusahaan yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) dinilai tidak mencerminkan adanya fenomena khusus di pasar modal.
Direktur Reliance Sekuritas Reza Priyambada mengatakan, banyaknya IPO yang berlangsung dalam waktu berdekatan lebih dipengaruhi proses perizinan dan persetujuan dari regulator dibandingkan faktor dari sisi emiten semata.
Menurut Reza, proses IPO melibatkan berbagai tahapan dan pihak sehingga tidak bisa disimpulkan bahwa meningkatnya jumlah perusahaan yang melantai di bursa merupakan sinyal tertentu bagi kondisi pasar.
Ia menjelaskan, persetujuan yang diberikan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) maupun BEI bisa saja bertepatan sehingga sejumlah emiten masuk ke pasar pada periode yang sama.
"Terkait dengan maraknya IPO, boleh dikatakan tidak menandakan fenomena tertentu. Karena yang namanya proses IPO itu kan tidak hanya dilihat dari satu sisi, yaitu emiten saja, namun juga ada faktor lain. Anggap saja OJK maupun IDX baru memberikan persetujuan mereka untuk IPO dan kebetulan waktunya saling berbarengan," ujar Reza kepada SUAR.
Ia menambahkan, alasan di balik waktu penerbitan persetujuan IPO sepenuhnya menjadi kewenangan regulator.
Menurutnya, kemungkinan terdapat sejumlah persyaratan atau ketentuan yang harus dipenuhi calon emiten sebelum memperoleh izin untuk mencatatkan sahamnya di bursa.
Ia juga melihat saham-saham sektor kesehatan seperti EMMI, JECX (yang baru melantai di bursa kemarin), hingga PRDL yang bakal melantai besok, berpotensi menarik perhatian pelaku pasar.
Menurutnya, perusahaan di sektor tersebut dinilai memiliki keberlanjutan usaha karena kebutuhan masyarakat terhadap produk dan layanan kesehatan akan tetap ada.
Selain itu, Reza menilai pola transaksi pada saham IPO cenderung tidak banyak berubah. Pelaku pasar umumnya memanfaatkan momentum pencatatan perdana untuk memperoleh keuntungan dalam jangka pendek, sementara hanya sebagian kecil yang mempertahankan saham IPO sebagai investasi jangka panjang.
"Terkait dengan saham-saham IPO, polanya kurang lebih sama, di mana para pelaku pasar akan memanfaatkan momen IPO untuk mencari keuntungan, namun tidak banyak yang sustain menjadikan saham-saham IPO tersebut sebagai investasi jangka panjang. Jadi, lebih kepada short term terlepas dari seperti apa kondisi pasar," ujarnya.
Menurut Reza, salah satu faktor yang umumnya menjadi perhatian investor dalam menilai IPO adalah rencana penggunaan dana hasil penawaran umum. Emiten yang mengalokasikan porsi dana lebih besar untuk ekspansi dan pengembangan usaha serta memiliki kinerja fundamental historis yang positif dinilai memiliki daya tarik lebih besar di mata pelaku pasar.
“Tetap wait and see, jangan mudah FOMO,” pungkasnya.