Saham Lahan Industri Ketiban 'Durian Runtuh' Demam Data Center AI

Saham Lahan Industri Ketiban 'Durian Runtuh' Demam Data Center AI

Bukan hanya emiten teknologi dan telekomunikasi yang mendapat sentimen positif, permintaan terhadap pusat data juga membuka peluang bagi perusahaan pemilik kawasan industri, penyedia listrik, konstruksi, jaringan serat optik, hingga infrastruktur pendukung lainnya.

Saham Lahan Industri Ketiban 'Durian Runtuh' Demam Data Center AI
Dalam Artikel Ini

Tren kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan ekspansi data center mulai menciptakan efek berantai ke pasar saham Indonesia. Bukan hanya emiten teknologi dan telekomunikasi yang mendapat sentimen positif, permintaan terhadap pusat data juga membuka peluang bagi perusahaan pemilik kawasan industri, penyedia listrik, konstruksi, jaringan serat optik, hingga infrastruktur pendukung lainnya.

Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Fath Aliansyah Budiman mengatakan Indonesia dapat menjadi indirect proxy dari pertumbuhan ekosistem AI global karena belum memiliki perusahaan teknologi raksasa seperti Nvidia, Google, atau Samsung. Aliran investasi ke ekosistem tersebut justru berpotensi mengalir ke perusahaan domestik yang menyediakan kebutuhan dasar pengembangan infrastruktur digital.

"Indonesia pada saat itu sebagai indirect proxy-nya karena kita tidak punya perusahaan-perusahaan seperti Nvidia, Google, Samsung, dan lainnya. Kita akan mendapatkan imbas dari beberapa hal, terutama di sektor-sektor yang berhubungan sama bahan material karena permintaan skala global, terutama di timah dan tembaga," ujar Fath kepada SUAR, Senin (31/8/2026).

Menurut Fath, perkembangan AI tidak berhenti pada kebutuhan komputasi. Teknologi tersebut membutuhkan fasilitas pusat data dengan kapasitas besar, yang pada akhirnya meningkatkan kebutuhan terhadap lahan, listrik, air, jaringan telekomunikasi, serta berbagai material penunjang.

Kinerja emiten kena berkah

Dampak tersebut mulai terlihat pada kinerja emiten kawasan industri. PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS), misalnya, membukukan pendapatan usaha Rp1,80 triliun pada semester I/2026, hampir tiga kali lipat dibandingkan Rp613,36 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan DMAS terutama berasal dari segmen kawasan industri yang mencatat pendapatan Rp1,75 triliun atau sekitar 97% dari total pendapatan. Penjualan lahan untuk kebutuhan data center menjadi salah satu faktor utama di balik pengakuan pendapatan perseroan sepanjang paruh pertama tahun ini.

Kenaikan pendapatan tersebut ikut mengerek laba bersih perseroan yang melonjak 175,34% menjadi Rp1,19 triliun dari Rp433,02 miliar pada semester I/2025.

Kinerja tersebut memperlihatkan bagaimana ekspansi pusat data dapat memberikan dampak langsung kepada pemilik kawasan industri. Ketika perusahaan data center membutuhkan lokasi dengan pasokan listrik dan infrastruktur yang memadai, pemilik land bank di kawasan strategis menjadi bagian dari rantai bisnis yang ikut menikmati peningkatan permintaan.

Selain DMAS, PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) mencatat pertumbuhan kuat pada segmen propertinya. Pada semester I/2026, SSIA membukukan pendapatan konsolidasian Rp3,35 triliun, naik 58,4% dibandingkan Rp2,11 triliun pada semester I/2025.

Pendapatan segmen properti mencapai Rp1,26 triliun, meningkat 274,1% secara tahunan. Pertumbuhan tersebut terutama didorong pengakuan penjualan secara akuntansi (accounting sales recognition) pada bisnis kawasan industri.

SSIA juga mencatat laba bruto Rp1,08 triliun. Segmen properti menjadi penyumbang terbesar dengan laba bruto Rp612,3 miliar, melonjak 315,4% secara tahunan.

Fath menilai efek AI terhadap pasar saham juga dapat meluas ke sektor energi. Pusat data membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar dan stabil karena fasilitas tersebut beroperasi secara terus-menerus. Karena itu, penyedia daya listrik seperti PT Cikarang Listrindo Tbk (POWR) serta emiten energi berbasis geothermal dapat menjadi bagian dari rantai pendukung pertumbuhan tersebut.

Sementara itu, Senior Equity Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas, melihat sentimen pembangunan data center mulai tercermin pada pergerakan sejumlah saham. Menurut dia, efek tersebut tidak hanya dirasakan perusahaan yang mengoperasikan pusat data, tetapi juga emiten yang menyediakan lahan, menara telekomunikasi, jaringan fiber optic, dan jasa konstruksi.

Pergerakan saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menjadi salah satu contohnya. Saham DSSA tercatat menguat 16% dalam satu minggu dan 47% dalam satu bulan.

Penguatan juga terjadi pada PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET), yang mengoperasikan data center di Cyber 1 Jakarta. Saham INET melonjak 56% dalam satu bulan. Pergerakan tersebut turut menjadi sentimen bagi emiten yang berada dalam ekosistemnya, termasuk PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) dan PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR).

Pada sektor telekomunikasi, PT Indosat Tbk (ISAT) mencatat kenaikan harga saham 28% dalam satu bulan. Perseroan mengembangkan bisnis pusat data melalui kerja sama dengan Nvidia serta pembentukan Zankkor melalui BDx, dengan potensi pasokan listrik hingga 1,2 gigawatt di Jatiluhur dan Batang. Tahap awal proyek tersebut ditargetkan berlangsung pada semester I/2027.

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) juga mengembangkan bisnis infrastruktur digital. Perseroan membidik kapasitas data center 300–500 megawatt pada 2030, meskipun kontribusi pendapatan data center terhadap pendapatan perseroan saat ini masih di bawah 2%.

Di luar operator pusat data, sentimen tersebut turut menjalar ke saham perusahaan kawasan industri. PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) menguat 71% dalam satu bulan seiring potensi klasterisasi data center dan kepemilikan land bank yang luas. PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST) naik 24% dalam periode yang sama setelah menyediakan lahan 8 hektare untuk PT DCI Indonesia Tbk (DCII).

Sementara itu, SSIA menguat 15% dan DMAS naik 12%. Pergerakan saham tersebut menunjukkan bahwa pasar mulai memperhitungkan keterkaitan antara ekspansi pusat data dengan perusahaan yang menguasai lokasi dan infrastruktur penunjangnya.

Dari sisi kinerja fundamental, DCII juga mencatat pertumbuhan pada semester I/2026. Operator pusat data tersebut membukukan pendapatan Rp1,77 triliun hingga 30 Juni 2026, naik 33% dibandingkan Rp1,33 triliun pada semester I/2025.

Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp732,53 miliar, meningkat sekitar 18,7% dari Rp616,94 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Total aset DCII juga naik menjadi Rp8,01 triliun dari Rp6,64 triliun pada akhir 2025.

Pertumbuhan ekosistem pusat data turut masuk ke bisnis infrastruktur TLKM. Pada semester I/2026, pendapatan konsolidasian TLKM meningkat 3,9% secara tahunan menjadi Rp75,9 triliun, sedangkan EBITDA naik 3,8% menjadi Rp37,5 triliun.

Segmen infrastruktur B2B mencatat pendapatan Rp33,1 triliun, tumbuh 19% secara tahunan, dengan pertumbuhan berasal dari bisnis fiber, menara, satelit, dan data center. Tingkat okupansi data center TLKM tercatat 88%, sementara panjang backbone fiber telah melampaui 211.000 kilometer.

Sukarno menilai monetisasi infrastruktur menjadi salah satu bagian penting dari perkembangan bisnis TLKM di tengah peningkatan kebutuhan digital.

"Kami melihat 2Q26 sebagai kuartal dengan peningkatan operasional yang bertahap bagi TLKM. Kombinasi dari ARPU yang lebih tinggi, profitabilitas Telkomsel yang lebih kuat, dan monetisasi infrastruktur yang membaik menunjukkan bahwa strategi transformasi TLKM30 perusahaan mulai memberikan manfaat finansial yang nyata," ucapnya.

Terganjal Infrasturktur Dasar

Meski peluang bisnis semakin besar, ekspansi data center tetap menghadapi tantangan dari sisi infrastruktur dasar. Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (APTIKNAS) Fanky Christian mengatakan pembangunan pusat data berbasis AI membutuhkan kepastian regulasi, pasokan listrik, air, serta kapasitas pendinginan yang memadai.

Menurut Fanky, salah satu persoalan utama terletak pada banyaknya pihak yang harus dilibatkan investor untuk menyiapkan kebutuhan sebuah pusat data. Kondisi tersebut membuat proses pembangunan tidak sederhana, terutama karena pembangunan data center dapat memerlukan waktu dua hingga tiga tahun.

"Jadi kalau di Indonesia sama di luar, let's say kasusnya Malaysia beda. Malaysia datang ke satu pihak, itu mereka urusin semua. Under government. Kalau di kita (Indonesia) enggak. Saya datang sebagai investor, saya ketemu kamu punya pengelola lahan, kamu punya PLN-nya, kamu punya gasnya, kamu punya airnya. Beda-beda itu stakeholder-nya," kata Fanky ketika ditemui SUAR, Jumat (28/8/2026).

Kawasan industri menjadi salah satu lokasi yang lebih mudah dikembangkan karena telah memiliki pengelola dan sebagian infrastruktur pendukung. Fanky mencontohkan Cikarang, Jababeka, dan Deltamas sebagai kawasan yang memiliki ekosistem pendukung bagi pengembangan pusat data.

Selain listrik, air menjadi kebutuhan penting karena digunakan dalam sistem pendinginan fasilitas. Kebutuhan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pusat data berbasis AI yang membutuhkan kapasitas komputasi dan pendinginan lebih besar.

"Challenge-nya data center di Indonesia itu terutama untuk AI infrastructure adalah cooling capacity. Selain power ya. Power dan cooling, itu yang jadi isu," beber Fanky.

Fanky juga mengingatkan kondisi iklim tropis Indonesia dapat menambah tantangan pengoperasian pusat data. Peningkatan suhu dan tekanan terhadap ketersediaan air membuat kebutuhan terhadap sistem pendinginan dan pengelolaan sumber daya menjadi semakin penting.

Di tengah kebutuhan tersebut, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) juga menempatkan pembangunan data center sebagai bagian penting dari penguatan infrastruktur digital nasional.

Chief Technology Officer BPI Danantara Sigit Puji Santosa mengatakan pembangunan infrastruktur pusat data akan dilakukan bersama sejumlah BUMN di bawah Danantara untuk mengantisipasi pertumbuhan ekonomi digital.

“Tahapan satu yang paling penting adalah infrastruktur data center, ini menjadi suatu bagian yang sangat kritikal saat ini. Tentunya kami di Danantara dengan beberapa BUMN yang ada di bawah kita akan kita bangun bersama-sama, agar pada saat kita jadi booming digital market technology kita menjadi suatu kelayakan dan kelaziman proses transaksi, itu infrastruktur sudah siap,” kata Sigit dalam OJK Digital Financial Innovation Day 2026 di Jakarta, Kamis (27/08/2026).

Baca juga:

Permintaan Pesat, Danantara Kejar Investasi Data Center
Danantara juga sudah memiliki task force bersama dengan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga Kementerian Keuangan yang bergerak dalam lingkup penguatan pengawasan, stabilitas ekonomi, dan keamanan infrastruktur keuangan nasional.

Setelah pembangunan infrastruktur pusat data, Danantara akan memperkuat konektivitas dan keamanan digital. Persiapan tersebut juga mencakup antisipasi terhadap perkembangan teknologi post-quantum yang berpotensi memengaruhi keamanan sistem enkripsi, password, hingga user ID.

Untuk mendukung penguatan aspek tersebut, Danantara telah membentuk task force bersama Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Kementerian Keuangan yang bergerak dalam pengawasan, stabilitas ekonomi, serta keamanan infrastruktur keuangan nasional.

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)

Lainnya Dalam Pasar Modal

Rekomendasi SUAR