Permintaan Pesat, Danantara Kejar Investasi Data Center
Danantara juga sudah memiliki task force bersama dengan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga Kementerian Keuangan yang bergerak dalam lingkup penguatan pengawasan, stabilitas ekonomi, dan keamanan infrastruktur keuangan nasional.
•
6 Menit Baca
Oleh:
Tautan telah disalin! Tempelkan ke stiker tautan di Bio atau Story Anda.
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menyatakan kesiapannya dalam mendorong investasi dan pengembangan infrastruktur pusat data atau data center untuk mengimbangi permintaan terhadap infrastruktur digital bersama dengan komponen pendukungnya yang terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia.
Penguatan infrastruktur digital yang salah satunya merupakan data center ini dinilai semakin penting untuk menopang perkembangan teknologi termasuk teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan juga transformasi digital.
Chief Technology Officer BPI Danantara Sigit Puji Santosa mengatakan, pembangunan infrastruktur digital ini harus terus diperkuat seiring dengan ekonomi digital Indonesia yang terus mengalami perkembangan. Penguatan ini mencakup aspek konektivitas, keamanan, serta kemudahan yang perlu dibangun secara bersama-sama untuk mendukung percepatan transformasi digital di dalam negeri.
Dijelaskan olehnya, ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan untuk melakukan transformasi digital, dengan tahapan yang pertama adalah pembangunan infrastruktur data center.
“Tahapan satu yang paling penting adalah infrastruktur data center, ini menjadi suatu bagian yang sangat kritikal saat ini. Tentunya kami di Danantara dengan beberapa BUMN yang ada di bawah kita akan kita bangun bersama-sama, agar pada saat kita jadi booming digital market technology kita menjadi suatu kelayakan dan kelaziman proses transaksi, itu infrastruktur sudah siap,” kata Sigit dalam OJK Digital Financial Innovation Day 2026 di Jakarta, Kamis (27/08/2026).
Baru setelah infrastruktur digital tersebut siap, tahapan selanjutnya adalah mengenai konektivitas dan keamanan. Namun demikian, konektivitas dan keamanan ini juga merupakan sebuah hal yang harus dipersiapkan dan diperkuat sedini mungkin, sebagai antisipasi dalam menghadapi ancaman teknologi post-quantum dalam beberapa tahun ke depan yang berpotensi membuat sistem enkripsi, password, hingga user id tidak lagi cukup aman.
Danantara juga sudah memiliki task force bersama dengan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga Kementerian Keuangan yang bergerak dalam lingkup penguatan pengawasan, stabilitas ekonomi, dan keamanan infrastruktur keuangan nasional.
“Infrastruktur ini harus kita siapkan sekarang, sehingga pada saat kita melakukan inovasi, sandboxing, kemudian instrumen keuangan apa pun yang kita jalankan di Indonesia, kita sudah siap,” tegasnya.
Permintaan terhadap peningkatan kapasitas data center saat ini juga semakin meningkat pesat. Sigit menjelaskan, bahkan kapasitas dari data center yang baru saja dibangun langsung dapat terserap oleh pasar dengan sebegitu cepatnya.
“Data center ini sebenarnya kalau kita membangun 100 megawatt, 200 megawatt, habis langsung, offtaker-nya langsung, bahkan dalam negeri pun kita gak bisa dapat,” ungkapnya.
Indonesia sendiri saat ini telah memiliki sejumlah data center berkapasitas besar. Tingginya permintaan ini pun kemudian memicu persoalan baru mengenai ketersediaan berbagai komponen pendukung dari data center seperti sistem kelistrikan hingga sistem pendingin.
Permasalahan seperti itu juga dirasakan oleh negara tetangga yakni Singapura. Keterbatasan daya yang merupakan tantangan bagi Singapura dalam pengembangan infrastruktur digitalnya ini pun mempercepat pergeseran arah investasi di Asia Tenggara khususnya, di mana Indonesia berada di posisi yang diuntungkan dalam mengambil peluang tersebut.
“Sekarang di Indonesia ada 45 data center yang besar, setiap kali invest habis. Bahkan di Singapura mereka juga kehabisan daya, kehabisan power, gak punya air juga. Kita memang di sini sekarang permintaan data center luar biasa besar, sehingga terjadi kelangkaan, harus menunggu 6 bulan, 9 bulan, sampai setahun,” jelas Sigit.
Danantara pun menyatakan kesiapannya dalam mengambil bagian dalam pengembangan infrastruktur data center, termasuk juga menyiapkan komponen pendukungnya. Selain infrastrukturnya, Danantara juga menaruh perhatian pada pengembangan chip semikonduktor terutama untuk AI chip yang terus mengalami peningkatan kebutuhan dengan pesat.
Sebelumnya, Danantara telah melakukan perjanjian kerja sama dengan Arm Limited, sebuah perusahaan semikonduktor dan perangkat lunak yang berkantor pusat di Inggris. Kerja sama ini merupakan upaya penguatan industri semikonduktor nasional untuk melakukan pengembangan desain chip.
“Kemarin di bulan Februari kita melakukan penandatanganan dengan salah satu platform semikonduktor AI chip yang terbesar, dengan Arm, Danantara bekerja sama. Kita sekarang kerjakan untuk melakukan design chip bersama-sama dengan Arm sehingga nanti data center chip kita tidak akan perlu ngantri lagi,” ujarnya.
Ketersediaan AI chip ini juga menjadi salah satu hambatan dalam pengembangan data center, karena permintaannya yang sangat tinggi namun di sisi lain pasokannya terbatas. Bahkan, Sigit menjelaskan, negara seperti China saja harus menunggu sekitar 6 sampai 9 bulan untuk mendapatkan chip tersebut.
Demi menjawab tantangan tersebut, Danantara telah menugaskan sejumlah BUMN untuk mengawal kesiapan dari rantai pasok komponen tersebut, mengingat AI chip ini menjadi salah satu komponen yang paling banyak dibutuhkan.
“Ini yang kita kerjakan, jadi infrastruktur, sistem, subsistem, dan komponen yang diperlukan untuk data center kita siapkan,” lanjutnya.
Pengembangan data center hingga ekosistem semikonduktor ini dinilai sebagai sebuah fondasi penting dalam membangun ekonomi digital Indonesia ke depannya. Pemerintah terus memperkuat transformasi digital nasional sebagai bagian dari strategi dalam mendorong produktivitas, daya saing, hingga pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan inklusif.
Menopang pertumbuhan ekonomi
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan, AI secara global berpotensi menambah USD 15,7 triliun terhadap perekonomian dunia pada tahun 2030 mendatang. Selain itu, industri yang paling banyak menggunakan AI juga mencatatkan pertumbuhan pendapatan.
Demi mewujudkan target pertumbuhan ekonomi nasional 8%, ekonomi digital yang di mana di dalamnya terdapat AI pun memegang peranan penting, namun hal ini juga perlu diiringi dengan pengembangan dari infrastrukturnya.
“Indonesia ingin tumbuh lebih dari 8% dan salah satu pengungkitnya adalah digital economy. Dan kuncinya adalah tentunya AI, dan AI itu akan ada kalau infrastrukturnya data center-nya baik,” ucap Airlangga.
Sektor data center sendiri disebut telah menjadi salah satu game changer bagi perekonomian Indonesia seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan infrastruktur digital yang mendukung aktivitas perekonomian dan transformasi digital.
“Di antara negara ASEAN yang lain saya bisa katakan Indonesia lebih siap. Oleh karena itu, pengembangan talenta digital, data center, dan industri semikonduktor harus terus didorong agar Indonesia tidak tertinggal dalam persaingan ekonomi digital global,” tegasnya.
Dari sisi dunia usaha, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia juga menaruh perhatian terhadap ekonomi digital ini sebagai mesin pertumbuhan perekonomian nasional. Ekonomi digital ini dipandang penting, namun tantangan selanjutnya adalah bagaimana menciptakan produktivitas, investasi, lapangan kerja, hingga nilai tambah di dalam negeri.
Kepala Badan Ekosistem Digital Kadin Indonesia Firlie H. Ganinduto menilai, perhatian terhadap data center maupun AI sejauh ini masih perlu mendapatkan perhatian lebih besar lagi akan perkembangannya semakin cepat.
“Ada tiga area yang menurut saya perlu mendapat perhatian dan exposure lebih besar. Yang pertama adalah data center, yang kedua adalah artificial intelligence, yang ketiga adalah pengembangan aset digital atau kripto,” kata Firlie.
Data center dan AI ini memiliki hubungan yang saling bergantung, di mana data center berperan sebagai fondasi fisik dan infrastruktur utamanya. Penggunaan AI pun didorong untuk memudahkan para pelaku usaha termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sehingga AI ini tidak hanya dimanfaatkan oleh perusahaan besar saja.
Ketika pelaku usaha khususnya UMKM dapat memanfaatkan AI seperti untuk menyusun strategi promosi, pengelola persediaan, hingga membaca pola permintaan, produktivitas usaha pun akan menjadi lebih efisien. Karena itu, pengembangan AI membutuhkan dukungan infrastruktur yang memadai, sehingga infrastruktur data center ini menjadi salah satu aspek penting dalam membangun ekosistem AI dan ekonomi digital di Indonesia.
“Data center itu harus dikembangkan terus untuk menunjang kemampuan AI di kemudian hari,” sambungnya.
Menanggapi, ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, dirinya melihat bahwa peran dari Danantara maupun BUMN dalam pengembangan ekosistem dan data center ini lebih tepat dipandang sebagai katalis dan bukan pemain tunggal.
Kerja sama dengan Arm juga dinilai membuka peluang Indonesia untuk melakukan pengembangan talenta dan teknologi chip. Namun, peran serta batas intervensi dari Danantara dan pemerintah ini juga perlu diatur secara jelas.
“Pemerintah sebaiknya fokus memastikan energi, infrastruktur, perizinan, dan keamanan data tersedia. Sementara investasi dan operasional tetap didorong oleh swasta dan operator global. Kalau negara terlalu dominan, ada risiko inefisiensi dan berkurangnya persaingan,” ucap Yusuf, Minggu (30/08/2026).
Jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, Indonesia sebenarnya juga memiliki keunggulan dalam pengembangan data center. Singapura, memiliki keunggulan dalam hal konektivitas, keandalan infrastruktur, talenta, dan kepastian hukum. Sementara Malaysia, disebut lebih agresif dalam melakukan pengembangan mengingat lahan dan pasokan dayanya yang relatif lebih siap.
“Indonesia memiliki pasar domestik yang lebih besar, ketersediaan lahan yang lebih luas, dan kebutuhan penyimpanan data yang terus mengikat. Batam dan Bintan juga punya posisi strategis karena dekat dengan Singapura. Masalahnya, keunggulan tersebut belum sepenuhnya berubah menjadi keunggulan kompetitif,” ungkapnya.
Namun demikian, melakukan transformasi digital dan pengembangan infrastruktur digital seperti data center ini bukan tanpa tantangan. Apalagi, data center juga membutuhkan sistem pendinginan yang sangat besar, sehingga ketersediaan air ini menjadi isu yang sangat penting terutama di wilayah Batam maupun Pulau Jawa.
Pembangunan infrastruktur data center juga membutuhkan modal yang sangat besar. Selain itu, tantangannya juga mengenai listrik, lahan, jaringan, perizinan, hingga keamanan siber. Maka dari itu, Danantara dinilai dapat menyatukan berbagai kepentingan BUMN seperti Telkom maupun PLN dengan investor swasta, sehingga hambatan-hambatan seperti itu dapat diminimalkan.
“Bauran listrik Indonesia masih banyak bergantung pada batu bara, sehingga target data center yang lebih hijau membutuhkan akses yang lebih mudah terhadap energi terbarukan. Kita juga masih menghadapi kekurangan talenta teknis, keamanan siber, dan kemampuan desain semikonduktor,” tutupnya.