Ledakan AI Buka Peluang Baru di Balik Kebutuhan Data Center dan Lahan Industri
Pertumbuhan penggunaan AI diperkirakan mendorong permintaan kapasitas data center, listrik, air, prosesor, hingga bandwidth, sekaligus meningkatkan kebutuhan terhadap jaringan konektivitas yang andal.
•
7 Menit Baca
Oleh:
Tautan telah disalin! Tempelkan ke stiker tautan di Bio atau Story Anda.
Direktur Wholesale & International Service Telkom Budi Satria Dharma Purba (kedua dari kanan) bersama Chief Executive Officer Telin Abdul Rahman Ansyori (paling kiri), Direktur Utama Telkom Dian Siswarini (kedua dari kiri), dan SVP Group Sustainability and Corporate Communication Telkom Ahmad Reza dalam jumpa pers Bali Annual Telkom International Conference (BATIC) 2026. Dokumentasi: Telkom.
Dalam Artikel Ini
Ekspansi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai mengubah kebutuhan infrastruktur digital di Asia Pasifik, termasuk Indonesia. Pertumbuhan penggunaan AI diperkirakan mendorong permintaan kapasitas data center, listrik, air, prosesor, hingga bandwidth, sekaligus meningkatkan kebutuhan terhadap jaringan konektivitas yang andal.
Perubahan tersebut membuka peluang investasi baru, tetapi juga menuntut kesiapan infrastruktur yang lebih besar. Tidak hanya perusahaan teknologi dan penyedia jaringan yang terdampak, tren pembangunan data center berbasis AI mulai merembet ke sektor lahan industri yang menjadi salah satu bagian penting dalam ekosistem tersebut.
Direktur Wholesale & International Service Telkom Budi Satria Dharma Purba mengatakan pertumbuhan AI dan data center berjalan beriringan dengan peningkatan kebutuhan bandwidth. Kondisi itu menjadikan konektivitas internasional sebagai salah satu infrastruktur yang perlu diperkuat untuk menopang perkembangan ekonomi digital.
"Melalui penguatan kabel laut dan cakupan konektivitas lintas batas, TelkomGroup berkomitmen membangun fondasi digital masa depan. Telin saat ini semakin kuat sebagai salah satu pemain infrastruktur digital di tingkat regional dan global, khususnya melalui bisnis kabel laut internasional yang terus tumbuh signifikan," kata Budi dalam konferensi pers BATIC 2026 di Bali, Selasa (25/8/2026).
Direktur Wholesale & International Service Telkom Budi Satria Dharma Purba (kedua dari kanan) bersama Chief Executive Officer Telin Abdul Rahman Ansyori (paling kiri), Direktur Utama Telkom Dian Siswarini (kedua dari kiri), dan SVP Group Sustainability and Corporate Communication Telkom Ahmad Reza dalam jumpa pers Bali Annual Telkom International Conference (BATIC) 2026. Dokumentasi: Telkom.
Menurut Budi, perkembangan AI tidak berhenti pada sisi teknologi dan aplikasi. Peningkatan kebutuhan pemrosesan digital juga berdampak terhadap kapasitas pusat data serta jaringan yang menghubungkan pusat data dengan pengguna dan berbagai layanan digital.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Bali Annual Telkom International Conference (BATIC) 2026 yang berlangsung pada 24–28 Agustus 2026 di Bali International Convention Center, Nusa Dua, Bali. Forum tersebut mempertemukan lebih dari 2.700 delegasi dari 760 perusahaan di lebih dari 67 negara.
Direktur Utama Telkom Dian Siswarini mengatakan meningkatnya investasi AI dan digital di Asia Pasifik membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat perannya dalam ekonomi digital kawasan. Namun, peluang tersebut perlu diikuti dengan penguatan infrastruktur dan ekosistem digital.
"TelkomGroup memiliki peran strategis dalam memperkokoh posisi Indonesia sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi digital di Asia Pasifik. BATIC merupakan event yang membanggakan bagi TelkomGroup dan terus berkembang setiap tahunnya dengan tema yang relevan bagi industri. Di tengah pesatnya investasi AI dan digital di kawasan Asia Pasifik, Indonesia memiliki potensi yang luar biasa sebagai salah satu pasar digital paling prospektif. Potensi ini perlu diterjemahkan melalui penguatan infrastruktur, inovasi, dan ekosistem digital yang mumpuni," ujar Dian.
Kebutuhan terhadap infrastruktur digital juga diperluas melalui pembahasan penerapan AI di tingkat perusahaan. Dalam BATIC 2026, Telin menghadirkan ignitePRO yang membahas implementasi Autonomous AI, cloud, keamanan siber, tata kelola, dan infrastruktur digital.
CEO Telin Abdul Rahman Ansyori mengatakan agenda tersebut diarahkan untuk merespons kebutuhan perusahaan terhadap penerapan AI dan sistem digital yang terpercaya.
"BATIC secara konsisten bertransformasi menjadi platform kolaborasi regional paling berpengaruh, baik dari sisi penyelenggaraan maupun tema dan ekosistem yang terlibat. Tahun ini, lewat hadirnya ignitePRO, kami ingin memfasilitasi kebutuhan enterprise akan adopsi Autonomous AI dan sistem digital terpercaya (trust & security). Kami optimistis BATIC 2026 dapat mendorong kolaborasi, membuka peluang bisnis baru dan memberikan nilai tambah yang nyata bagi seluruh pemain di ekosistem digital," jelas Ansyori.
Sejalan dengan ekspansi konektivitas tersebut, Telin mencatat infrastrukturnya mencakup lebih dari 429.167 kilometer sistem kabel bawah laut pada 29 jaringan global dan 211 Global Service Presence di 38 negara. Sementara itu, BATIC 2026 menghasilkan lebih dari 4.200 agenda business meeting.
Indonesia Perlu Bersiap Hadapi Lonjakan Infrastruktur
Kebutuhan infrastruktur akibat ekspansi AI tidak hanya menyangkut konektivitas. Di dalam negeri, peningkatan pembangunan data center AI juga diperkirakan meningkatkan kebutuhan listrik, air, sistem pendinginan, dan kapasitas prosesor secara signifikan.
Dihubungi terpisah, Rabu (26/8/2026), Pakar Siber dan Teknologi Informasi Vaksincom Alfons Tanujaya mengatakan ekspansi data center AI membutuhkan sumber daya yang jauh lebih besar dibandingkan pusat data konvensional.
"Yang satu, jelas, data center. Karena orang kan cenderung akan pakai data center yang ada, infrastruktur data center yang ada untuk data center AI. Tetapi kebutuhannya itu jauh, kebutuhan prosesornya beda, kebutuhan pendinginannya beda, berlipat-lipat, kebutuhan listriknya beda, berlipat-lipat, kebutuhan airnya beda, berlipat-lipat," kata Alfons.
Menurut Alfons, kebutuhan tersebut membuat dampak pembangunan data center AI meluas ke sektor energi dan sumber daya air. Ia menjelaskan, kebutuhan listrik satu data center AI dapat mendekati konsumsi listrik sebuah kota kecil. Sementara itu, kebutuhan air untuk mendinginkan prosesor AI juga dapat meningkat tajam dan berpotensi memengaruhi ketersediaan air bersih di sekitar lokasi pusat data.
"Kebutuhan air untuk pendinginan prosesor AI itu luar biasa, jadi itu bisa mengganggu kebutuhan air bersih yang existing," ujarnya.
Alfons menilai kapasitas infrastruktur Indonesia saat ini belum sepenuhnya memadai apabila pembangunan data center AI berlangsung masif seperti di China atau Amerika Serikat. Kelebihan pasokan listrik dan ketersediaan lahan yang ada saat ini, menurut dia, dapat berubah ketika permintaan dari pusat data AI meningkat pesat.
"Saat ini dari sisi listrik kita kan kelebihan ya dan dari sisi tempatnya kita juga cukup-cukup ada, tetapi sebenarnya jika data center itu dibangun cukup masif seperti di Cina atau Amerika itu bahkan listriknya nggak akan cukup, kita akan kekurangan," katanya.
Selain kebutuhan listrik dan air, pembangunan data center AI juga membawa dampak terhadap lingkungan sekitar. Salah satunya berasal dari sistem pendinginan yang harus beroperasi terus-menerus untuk menjaga perangkat tetap bekerja dalam kondisi optimal.
Meski membutuhkan modal dan sumber daya besar, Alfons melihat perkembangan tersebut sebagai peluang investasi bagi Indonesia. Menurutnya, Indonesia tidak harus menjadi lokasi utama untuk pelatihan model AI karena aktivitas tersebut membutuhkan sumber daya komputasi yang sangat besar.
Peluang yang lebih relevan adalah membangun data center untuk melayani pengguna AI di dalam negeri.
"Sangat besar. Kebutuhan komputasi AI, jadi kalau untuk training AI kita nggak lah. Training AI untuk training modelnya ya, itu mungkin di Amerika umumnya. Lalu model yang udah jadi dijadikan sebagai agent untuk melayani pengguna AI, nah itu yang yang akan digunakan di data center AI gitu," kata Alfons.
Karena itu, investasi infrastruktur AI di Indonesia perlu diarahkan pada pusat data yang mampu melayani permintaan domestik dengan konektivitas cepat dan andal. Infrastruktur pendukung seperti listrik, air, serta kapasitas prosesor juga perlu disiapkan sesuai kebutuhan.
"Jadi peluang investasinya besar sekali tapi sayangnya ini padat modal ya, butuh modal besar. Tetapi kalau tidak dilakukan itu dan perusahaan luar yang masuk ya kita akan rugi, kita akan tergantung nanti. Nanti data-data orang Indonesia akan tergantung," tuturnya.
Menurut Alfons, kesiapan iklim investasi juga menjadi faktor penting agar pembangunan infrastruktur AI tidak beralih ke negara lain di kawasan. Hambatan perizinan dan prosedur investasi yang berbelit dapat membuat investor memilih negara lain seperti Malaysia atau Singapura.
"Jadi jangan pas masuk dipersulit lah, nanti ada ormas minta duit lah, izin ini izin itu segala macam, enggak sempat bangun. Ya sudah mereka (investor) lari ke Malaysia, lari ke Singapura. Itu perlu disadari oleh pemerintah," katanya.
Selain kemudahan investasi, Alfons mendorong penggunaan sumber energi yang lebih bersih untuk menopang operasional data center AI. Tenaga surya dan pembangkit listrik tenaga air dinilai dapat menjadi alternatif sekaligus memberikan nilai tambah bagi Indonesia.
"Itu akan menjadi value added, akan sangat dipertimbangkan oleh orang-orang di luar yang membutuhkan data center AI," cetusnya.
Pada saat yang sama, pengembangan AI di dalam negeri juga perlu diarahkan tidak hanya pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga penciptaan aplikasi.
Pemerintah dinilai perlu mendorong masyarakat dan pelaku usaha domestik mengembangkan aplikasi berbasis AI sehingga Indonesia tidak sekadar menjadi pasar bagi teknologi asing.
"Jadi kita juga bukan cuma market tapi bisa bikin aplikasinya," kata Alfons.
Keberadaan data center AI di dalam negeri juga berkaitan dengan penguasaan data dan arus lalu lintas digital. Jika pusat pemrosesan berada di luar negeri, data pengguna dan traffic digital berpotensi mengalir ke negara lain.
"Karena masyarakat kalau pakai AI mau enggak mau akan akses data center-nya. Kalau data center-nya enggak ada di Indonesia, di luar, ya kita rugi. Satu, datanya kita jadi di tempat lain, yang kedua traffic-nya juga lari tempat lain, rugi kan dua kali. Itu yang perlu disadari," pungkasnya.
Infrastruktur Data Center Mulai Pengaruhi Lahan Industri
Kebutuhan infrastruktur AI tersebut turut membuka peluang bagi kawasan industri yang memiliki kesiapan lahan dan utilitas untuk pengembangan data center. Namun, peluang tersebut tidak serta-merta dapat dinikmati seluruh emiten lahan industri.
Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Fath Aliansyah Budiman mengatakan pembangunan data center memiliki tingkat kompleksitas tinggi karena membutuhkan kesiapan infrastruktur, pasokan air dalam jumlah besar, serta listrik yang stabil.
"Untuk membangun suatu infrastruktur atau data center itu tingkat kompleksitasnya itu sangat tinggi ya. Jadi bukan berarti lahan kosong bisa langsung dibangun," kata Fath, Rabu (26/8/2026).
Menurut Fath, ketersediaan utilitas menjadi salah satu faktor utama dalam menentukan kawasan yang dapat dikembangkan menjadi lokasi data center. Selain lahan, kawasan tersebut harus memiliki sistem saluran air yang memadai dan pasokan listrik yang sangat stabil untuk menopang operasional pusat data.
"Jadi memang infrastruktur harus sangat siap sekali, saluran air juga harus sangat siap sekali karena mereka membutuhkan jumlah apa air yang sangat besar sekali dan juga yang paling penting adalah listriknya itu harus sangat-sangat stabil," ujarnya.
Fath sebelumnya melihat tema AI dan data center mulai memengaruhi pergerakan sejumlah saham serta komoditas yang berkaitan dengan ekosistem tersebut. Ia menyebut ISAT, TLKM, DSSA, serta komoditas tembaga dan timah lainnya sebagai bagian dari ekosistem yang cukup prospektif.
Untuk sektor lahan industri, Fath menyebut PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) dan PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) sebagai dua emiten yang dinilai memiliki lokasi serta infrastruktur yang memungkinkan untuk pengembangan data center.
Meski demikian, ia menegaskan kawasan industri lainnya tetap memiliki peluang untuk menangkap permintaan tersebut sepanjang memenuhi kebutuhan infrastrukturnya.
"Reli di emiten-emiten terkorelasi AI dan data center seperti lahan industri seharusnya momentumnya masih berlanjut tapi mungkin tidak semuanya akan terimbas karena memang kompleksitasnya ini agak berbeda bila dibandingkan dengan membangun pabrik yang normal di lahan industri normalnya," pungkasnya.
Dukung Jurnalisme Solusi.Terangi Lebih Banyak Langkah Bersama SUAR
Di tengah banyaknya informasi, jurnalisme yang memberi arah hanya dapat terus hadir berkat dukungan pembaca. Bersama Anda, kami akan terus menghadirkan informasi yang terkurasi, mendalam, dan berorientasi pada solusi bagi penggerak dunia usaha.
Daftar untuk buletin SUAR Inspirasi Penggerak Dunia Usaha.
Tetap terupdate dengan koleksi cerita terbaik kami.