UMKM Berdaya dengan Akal Imitasi

Pemerintahmencoba meningkatkan kualitas UMKM dengan mendorong penggunaan AI. Disediakan aplikasi super sebagai pendamping

UMKM Berdaya dengan Akal Imitasi
Pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Aulya Rismawati menata batik tulis bernuansa merah putih di Batik Blimbing, Malang, Jawa Timur, Senin (10/8/2026). ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto
Daftar Isi

Kementerian Usaha Miko, Kecil, dan Menengah (UMKM) Republik Indonesia, tengah mendorong pemanfaatan artificial intelligence (AI) atau teknologi akal imitasi, untuk meningkatkan daya saing para pelaku UMKM di Tanah Air. Bahkan, teknologi kecerdasan buatan ini sendiri, telah dikembangkan sebagai asisten digital yang mampu membantu UMKM dalam menentukan kebutuhan pengembangan bisnisnya secara lebih tepat.

Salah satunya lewat SAPA UMKM, yang merupakan platform layanan terpadu atau SuperApp resmi dari Kementerian UMKM Republik Indonesia yang mengintegrasikan data, perizinan, permodalan, dan pembinaan usaha guna mendorong pelaku usaha agar naik kelas secara nasional.

Di aplikasi ini terdapat fitur akses teknologi AI yang mendukung pelaku ekonomi kreatif dan usaha kecil, dalam mengembangkan produk maupun pemasaran digital mereka. Kementerian UMKM melakukan soft launching SAPA UMKM ini pada Kamis (21/05/2026) lalu.

Alat digital pendamping UMKM

Selain itu, pihak Kementerian UMKM juga tengah melakukan pengembangan aplikasi bernama Prodigi, yang memanfaatkan AI untuk berbagai fitur layanan aplikasi yang bertujuan untuk memberikan kemudahan kepada para pelaku UMKM.

Asisten Deputi Produksi dan Digitalisasi Usaha Kecil Kementerian UMKM Ali Alkatiri mengatakan, pengembangan aplikasi baru ini dilatarbelakangi oleh banyaknya pelaku UMKM yang masih membutuhkan informasi dan pendampingan, serta layanan konsultasi yang cepat, mudah digunakan, dan terjangkau. Maka dari itu, perlu ada sebuah inovasi yang dilakukan.

“Dari divisi kami, sedang mengembangkan dengan mitra, platform Prodigi Apps, satu platform yang menghubungkan para pengusaha UMKM yang sering mengalami masalah di dalam pemilihan proses teknologi dan manajerial produksinya. Sementara, banyak sekali pakar baik itu dari akademisi atau BRIN yang belum bertemu dengan para pelaku UMKM,” kata Ali, Selasa (11/08/2026).

Model memperagakan busana kain lurik dan batik karya produk lokal dalam festival pasar seni dan produk Usaha, Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Hotel LK Pemuda, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (31/7/2026). ANTARA FOTO/Makna Zaezar

Dalam aplikasi Prodigi ini nantinya, AI didorong untuk tidak hanya berperan sebagai alat bantu, tetapi menjadi asisten digital para pelaku UMKM. Ada beberapa fitur dari aplikasi Prodigi ini, di antaranya adalah AI Audit yang memberikan nilai instan temuan dan rekomendasi awal, laporan AI yang merupakan sebuah laporan otomatis mencakup kondisi pasar hingga laporan internal bisnis para pelaku UMKM, dan Marketplace Expert di mana para pelaku UMKM yang sedang mengalami hambatan dapat terhubung dengan konsultan.

Pemanfaatan AI dalam platform ini akan diarahkan untuk mempertemukan pelaku UMKM dengan para pakar. Rekomendasi yang diberikan oleh AI pun akan sesuai dengan kebutuhan dari masing-masing pelaku usaha. Nantinya, para pelaku UMKM ini akan diminta untuk memasukkan sejumlah informasi seperti rencana bisnisnya, produknya, hingga model bisnisnya, sehingga teknologi AI kemudian dapat memberikan arahan yang tepat dan akurat.

Selain berkonsultasi langsung dengan pakar, para pelaku UMKM dalam fitur obrolan juga bisa berdiskusi secara langsung dengan AI Mentor. Fitur tersebut dirancang dengan memanfaatkan data bisnis yang telah dimasukkan dan tersimpan di dalam platform, sehingga AI dapat memahami profil serta kebutuhan masing-masing pelaku UMKM dan kemudian memberikan rekomendasi.

“Kita arahkan dengan AI. Kita minta pelaku UMKM memberikan model bisnisnya seperti apa, rencananya seperti apa, produknya apa, sehingga nanti bisa membantu AI ini memberikan direksi dan arahan yang tepat dan akurat,” jelasnya.

Transformasi teknologi untuk semua

Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2025, tercatat ada sebanyak 56 juta pelaku UMKM di Indonesia, di mana mayoritas atau 96,71% merupakan pelaku usaha mikro, sementara sisanya 1,86% pelaku usaha kecil dan 1,43% pelaku usaha menengah.

Namun berdasarkan Basis Data Tunggal UMKM dari Kementerian UMKM per 31 Desember 2025, ada 30 juta UMKM yang tercatat. Mayoritas masih pelaku usaha mikro dengan persentase 99,7%, sisanya 0,24% merupakan pelaku usaha kecil dan 0,05% pelaku usaha menengah.

Dengan pemanfaatan AI yang semakin inklusif ini, Kementerian UMKM berupaya memastikan bahwa transformasi teknologi juga dinikmati dan menjadi instrumen penting bagi pengusaha UMKM di Indonesia demi meningkatkan produktivitasnya, memperluas pasar, dan meningkatkan daya saingnya.

Sejumlah pengunjung melihat produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang dipamerkan pada area Uniqlo Neighborhood Collaboration di Trans Studio Mall, Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (21/7/2026). ANTARA FOTO/Hasrul Said

Sementara itu, SAPA UMKM yang dikembangkan oleh Kementerian UMKM sebagai layanan terpadu yang mengintegrasikan berbagai fasilitas pemerintah bagi para pelaku UMKM, juga akan memanfaatkan AI.

“Arsitektur di platform SAPA UMKM pastinya nanti akan bersentuhan menggunakan AI, karena kita tahu sebagai super aplikasi pasti AI ini berperan penting dalam mengolah jutaan data penggiat UMKM, menghubungkan kebutuhan legalitas, pasar, pendampingan, sertifikasi, dan lain-lain,” ujarnya.

Penting untuk akurasi data

SAPA UMKM sendiri memiliki konsep satu data, satu platform, dan satu akses, di mana diharapkan dengan adanya platform ini para pelaku UMKM dapat lebih mudah mengakses layanan dari pemerintah seperti pengurusan legalitas dan sertifikasi, pembiayaan, pelatihan, hingga perluasan akses pasar yang selama ini tersebar di berbagai kementerian dan lembaga.

Selain itu, kehadiran SAPA UMKM juga bertujuan untuk mencegah terjadinya duplikasi data UMKM ataupun program bantuan yang diberikan dari pemerintah

“Secara potensi ada 56 juta pelaku UMKM, sementara data tunggal kami ada 30 juta, dari awal saja secara besarnya sudah berbeda. Nanti SAPA UMKM ketika ini bergulir dan dimanfaatkan, sudah tidak ada lagi perbedaan, mendekati faktual yang ada dan dinamis,” ucap Ali.

Peluncuran SAPA UMKM

Mengenai pemanfaatan AI, Kementerian UMKM juga bekerja sama dengan beberapa institusi, salah satunya lewat program AI for MSME Advancement in ASEAN (AIM ASEAN), yang merupakan kolaborasi pelatihan AI untuk membantu para pelaku UMKM naik kelas. 

Pelatihan yang diinisiasi oleh ASEAN Foundation ini mengarahkan para pelaku UMKM untuk memanfaatkan AI tidak hanya sekadar mengikuti tren digitalisasi, tetapi bagaimana agar AI ini benar-benar mampu membantu pelaku usaha dalam memahami kebutuhan pasar, melakukan pengembangan dan inovasi produk, hingga memperluas akses hingga ke rantai nilai ataupun konsumen.

“Seperti kita tahu kita ada hilirisasi, yang kita kenal itu hilirisasi riset, hilirisasi produk, tapi yang penting ada hilirisasi market. AI ini sangat membantu sekali, di mana market sampai kepada end user kemudian dikonsolidasi. Dengan dukungan pelatihan AI itu menjadi lebih terbuka,” ungkapnya.

Meningkatnya produktivitas dan daya saing

Sebelumnya, Menteri UMKM Maman Abdurrahman menegaskan, perluasan pemanfaatan teknologi AI ini selaras dengan visi Asta Cita Presiden Prabowo dalam mewujudkan keadilan ekonomi dan sosial melalui transformasi digital yang merata. 

“Saya sangat meyakini produktivitas UMKM di Tanah Air akan meningkat ketika mereka sudah memanfaatkan AI dalam berbagai aktivitas usahanya. AI tidak lagi menjadi teknologi masa depan, tetapi telah menjadi kebutuhan untuk meningkatkan efisiensi produktivitas dan daya saing,” ucap Maman, Rabu (08/07/2026).

Pemanfaatan AI diharapkan dapat mendorong lebih banyak lagi pelaku usaha yang naik kelas bahkan menjadi pengusaha dengan skala lebih besar. Pada akhirnya, hal ini juga akan berdampak pada penyelesaian berbagai persoalan di daerah-daerah di Indonesia.

UMKM Butuh Naik Mutu Tak Hanya Naik Kelas
Artikel ini merupakan opini Guru Besar Departemen Manajemen FEB UGM sekaligus Direktur Magister Manajemen FEB UGM Kampus Jakarta, Gugup Kismono

Berdasarkan PwC Global Workforce Hopes and Fears Survey 2025 yang melibatkan 812 pekerja di Indonesia, ditemukan bahwa sebanyak 60% pekerja di Indonesia telah menggunakan AI dalam waktu 12 bulan terakhir. Dari 16% yang mengaku menggunakannya setiap hari, 96% melaporkan adanya peningkatan produktivitas.

Pemanfaatan secara tepat

Kepala Lembaga Administrasi Negara Muhammad Taufiq menilai, temuan tersebut menunjukkan bahwa AI ini bukan lagi sekadar wacana teknologi semata, tetapi sudah memberikan dampak terhadap bagaimana masyarakat bekerja, begitu juga untuk sektor pelayanan publik.

“Perkembangan ini memberikan pesan penting bagi kita, bahwa semakin canggih AI, semakin penting pula kapasitas manusianya,” ucap Taufiq, Selasa (11/08/2026).

Pemanfaatan AI dalam pengembangan berbagai layanan dari pemerintah seperti layanan terhadap UMKM ini dinilai sebagai bagian penting dari perubahan yang lebih besar, bagaimana teknologi ini bisa mendukung aktivitas perekonomian masyarakat dan pelayanan dari pemerintah. 

“Kita sedang dalam berada dalam momentum perubahan teknologi yang sangat cepat, AI bukan lagi sekadar teknologi masa depan. AI telah mengubah cara kita bekerja, mengambil keputusan, dan cara kita memberikan layanan,” tegasnya.

Bagi pelaku UMKM di Indonesia, AI telah bertransformasi menjadi “karyawan digital” yang bisa bekerja 24 jam dengan biaya minimal, bahkan gratis.

Senada, Government Relations and Capacity Building Leads Tanoto Foundation Ryan Fajar Febrianto menilai, perkembangan teknologi yang begitu cepat khususnya teknologi AI ini membuatnya semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pemanfaatannya pun harus dilakukan secara tepat, sehingga persoalan-persoalan yang dialami oleh masyarakat ataupun para pelaku usaha dalam hal ini juga dapat terselesaikan secara lebih efektif.

“Kami percaya bahwa pemerintah memiliki peran yang sangat penting dalam memastikan berbagai inovasi dan kebijakan dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” ujar Ryan, Selasa (11/08/2026).

Teknologi seperti AI ini dapat dimanfaatkan untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan yang dihadapi oleh pemerintah dan masyarakat. Tanoto Foundation sendiri terus berupaya untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas dari sumber daya manusia di Indonesia, termasuk juga penguatan kapasitas pemerintah dalam mengadopsi dan memanfaatkan teknologi.

“Bagi Tanoto Foundation, pemanfaatan data dan teknologi merupakan salah satu bagian dari upaya kami untuk memperkuat kapasitas manusia dan institusi dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan,” katanya.

Baca selengkapnya