Perjalanan Bendera 80 Memikat Panggung Elite

Formasi Bendera 80 diisi tujuh personel dari latar belakang yang beragam. Lima diantaranya merupakan musisi profesional sedangkan dua lainnya berprofesi di luar dunia musik, atau pengusaha. 

Perjalanan Bendera 80 Memikat Panggung Elite
Ilustrasi Bendera 80 saat manggung di satu acara. (Foto: Tim SUAR/ AI)
Daftar Isi

Iringan gitar akustik, keyboard  dan suara santai khas musik country jarang berkaitan dengan tren musik populer masa kini, apalagi di tengah tren menjamurnya band pop baru dan dinamika industri musik yang semakin beragam. 

Namun Band Era 80 atau kemudian disebut Bendera 80 berhasil mematahkan stereotip tersebut, dengan penampilan energik dan memukau di tiap aksinya selama lebih dari satu dekade.

Dari panggung ke panggung, grup beranggotakan lima sampai tujuh orang ini tampil di berbagai pesta ataupun acara yang dihadiri beberapa orang penting. 

Bagi sang team leader, Ario Prakoso, 56 tahun, bertahan di industri musik bukan perkara mudah, tapi Bendera 80 punya jurus sendiri untuk tetap relevan dan dicari. 

Salah satunya, kata dia, Bendera 80 bukan hanya jualan musik nostalgia lagu 1980-an, namun juga pada konsistensi kualitas pertunjukan, kesamaan visi antar-personel dan tata kelola profesional seperti layaknya sebuah bisnis berkembang. 

“Saya dari muda dan teman-teman dari muda itu sudah menggemari lagu 80-an, jadi kita harus suka dulu. Begitu kita suka, kita akan ikhlas membawakannya dengan sebenar-benarnya,” ujar dia saat ditemui di kawasan BSD City, Jumat (24/7/2026).

Jejak Bendera 80 sendiri, sebenarnya sudah terbentuk sebelum nama itu diresmikan pada 2011. Ario mengisahkan, cerita Bendera 80 dimulai sejak 1993 silam. Ario bersama rekannya aktif menyanyikan tembang era 80-an, saat genre tersebut belum lazim dibawakan di panggung kafe Jakarta. 

“Antara awal 2000 sampai 2010, kafe di Jakarta sempat kosong dari penampilan band. Yang terjadi adalah musik-musik akustik merajalela mulai dari mulai piano, vokal, bass, terus setelah itu jamannya gitar, cajon, dan segala macam. Baru di tahun 2010 awal itu band mulai bergerak lagi, 2011 kita berdirilah namanya Bendera 80, mengusung lagu-lagu 80-an,” kata Ario. 

Formasi Bendera 80 diisi tujuh personel dari latar belakang yang beragam. Lima diantaranya merupakan musisi profesional, sedangkan dua lainnya berprofesi di luar dunia musik, atau pengusaha. 

Meski demikian, seluruh personel ini disatukan oleh kecintaan yang sama terhadap musik era 1980-an.

“Harus suka dulu, kalau enggak suka hanya ikut-ikutan, mendingan jangan. Suka, menguasai, menggemari, dan kita tahu detail-detail 80-an itu seperti apa, seperti Genesis, Toto, Duran Duran, kalau cewe penyanyi solo Madona, Whitney Houston, Gloria Estefan, seperti itu lah yang kita bawakan,” tambahnya.

Ketua Band Bendera 80 saat diwawancarai Tim SUAR di Marketing Office BSD City, Kabupaten Tangerang, Jumat (24/07/2026). (Foto: Gema Dzikri/Suar.id)

Tonggak musik modern 

Ario menilai, era 80-an adalah tonggak lahirnya musik modern. Transisi teknologi keyboard dari analog ke digital, melahirkan subgenre baru seperti new wave yang dipelopori Duran Duran, A-ha, hingga The Police. 

“Nah jadi dari situ, musik 80-an itu pada saat tahun 90-an saya bawakan otomatis masih tersisa, yang menggemari masih banyak. Begitu, tahun 2000-an band banyak mengalami vakum, nah mulai tahun 2005 ke atas sampai 2010 itu anak-anak muda mulai menggandrungi musik 80-an,” kenangnya. 

Ia juga menekankan pentingnya memiliki referensi musik bagi setiap musisi. Bahkan, ia menyebutkan nama-nama sejumlah tokoh publik dan musisi seperti Tantowi Yahya, Tony Wenas, hingga Ahmad Dhani, yang memiliki panutan dari musisi-musisi terlebih dahulu baik dari dalam maupun luar negeri.

Referensi inilah yang menjadi bekal penting untuk memperkuat dan memperkaya wawasan bermusik sekaligus membentuk karakter seorang musisi yang baik. “Itu wajib untuk siapa yang mau kita jadikan panutan, buat referensi kita, musisi siapa saja wajib punya itu. Bahkan Ahmad Dhani punya referensi, kalau tidak punya, ya jangan jadi musisi deh,” kata dia.

Ia mencontohkan, salah satu referensi musisi dari luar negeri antara lain The Beatles. Sedangkan musisi dalam negeri, Koes Ploes. 

“Harus punya referensi, setidaknya musisi sekarang itu kalau dia tidak tahu dan tidak bisa mainin The Beatles,wah jangan deh. Bukan The Beatles yang rock and roll ya, tapi pas era-era gondrong, itu musiknya lebih ruwet lagi, cikal bakalnya The Beatles. Wawasan itu penting untuk membentuk karakter dalam bermusik,” kata Ario. 

Sebagai band cover, Bendera 80 pantang untuk sekadar menjiplak. Setiap lagu yang mereka bawakan pun hanya dipertahankan sekitar 50% dari karakter aslinya, sementara sisanya diisi dengan sentuhan musik khas Bendera 80. 

“Tapi esensinya itu yang kita ambil, sehingga orang masih menganggap kita oke jadi 50% mirip, 50% yang lainnya adalah hasil karya atau kerjanya kita. Menggabungkan itu jadi keunikan tersendiri, dan proses membedahnya bukan hal yang gampang,” kata dia. 

Dua Founder Bendera 80 Ario Prakoso (kiri) dan Pipiet Fidyawati (kanan) saat ditemui di Marketing Office BSD City, Kabupaten Tangerang, Jumat (24/07/2026). (Foto: Gema Dzikri/Suar.id)

Kebangkitan musik era 1980-an 

Menariknya, musik era 1980-an sendiri kini kembali digandrungi anak muda. Melodi yang kuat, serta sentuhan aransemen modern, membuat karya masa lalu menjadi tak lekang oleh waktu. 

Ario ingat betul momen manis pada 2011 saat tampil reguler di kawasan BSD pada 2011 silam. Kala itu, seorang anak muda yang awalnya hanya menonton karena penasaran, perlahan ikut bergoyang. Bahkan memesan lagu tertentu untuk dimainkan oleh Ario bersama dengan band.

“Di penampilan kita yang ketiga dia mulai request lagu. Setelah request, kita bawakan lagunya, dan pada saat kita selesai kita ngobrol kok dia tahu lagu 80-an, dia bilang ya tahu dari kami, enak lagunya dia search di Google dan YouTube. Anak muda sekarang justru menjadikannya kiblat,” ujar Ario. 

Namun, besarnya ceruk pasar bukan menjadi satu-satunya faktor Bendera 80 mampu bertahan. Di balik setiap penampilan, band tersebut menerapkan pengelolaan bisnis yang profesional. Mulai dari pemilihan personel, pembagian peran, hingga pengelolaan keuangan. 

Menurut dia, sebuah band harus dijalankan layaknya sebuah bisnis agar dapat berkembang di tengah persaingan industri musik, tidak cukup hanya mengandalkan orang-orang yang hanya bisa sekadar bermain alat musik saja.

“Di dalam bisnis itu ada kepercayaan. Pemain band itu saya wawancarai juga dalam hal etika berbisnis. Kalau tidak ada etikanya, ya saya keluarkan. Perbedaan pendapat itu wajar, tapi pola pikir dan visi harus sama,” kata dia. 

Bendera 80 di suatu event (Foto: Dokumen Bendera 80)

Masuk segmen eksklusif

Pendekatan profesional ini membawa Bendera 80 masuk ke segmen pasar eksklusif, termasuk jadi langganan di acara tokoh publik, serta musisi legendaris seperti Tantowi Yahya. 

Jejaring ini terbangun berkat kedekatan Ario dengan Romulo Radjadin atau yang akrab disapa Lilo, gitaris sekaligus vokalis dari grup musik KLa Project.

“Nah Lilo itu adalah orang yang paling berperan pada saat saya bikin band ini. Saya hubungi beliau untuk jamming bareng dan dia tertarik. Dari Lilo itu kan link-nya meluas, ke Pak Tony Wenas di mana Tony Wenas pada tahun 80-an saya penggemar beliau sering nonton band Solid 80. Berlanjut lagi ke Tantowi Yahya. Orang-orang sekarang maunya memorable lagi ke jaman dulu,” jelas Ario.

Untuk menjaga standar eksklusif, Bendera 80 menuntut intelektual personelnya, terutama vokalis yang berada di baris depan. Menurut dia, vokalis tak hanya dituntut merdu, tapi juga komunikatif dan elegan. 

“Kita harus punya intelektual, di mana itu menentukan. Garis terdepan itu kan adalah penyanyi, jadi dia menjaga standar performa band, harus bisa menghibur dengan bahasa yang intelektual, yang elegan

Tak hanya itu, mereka juga dituntut fleksibel. Contohnya, ketika penonton meminta lagu di luar koridor 80-an, seperti dangdut atau koplo karya Didi Kempot, Bendera80 siap membawakannya tanpa pandang sebelah mata. 

Bagi Ario, setiap genre ini juga memiliki karakter dan tingkat kesulitan tersendiri, sehingga tidak bisa dimainkan secara asal-asalan hanya demi memenuhi permintaan.

“Harus siap, suka gak suka, seperti koplo, Didi Kempot, kita siapkan. Walaupun itu bukan musik kita, tapi kita hargai bahwa orang bikin koplo, bikin dangdut, itu hebat kita salut. Saya bukannya enggak mau bawain, tapi memang butuh waktu untuk mendalami musik mereka. Enggak sembarangan loh, enggak segampang itu, jadi kita mempelajari juga,” katanya.

Bendera 80 saat manggung membawakan musik era 80an (Foto: Dokumen Pribadi)

Ujian pandemi

Daya tahan band ini makin teruji saat krisis melanda. Ketika pandemi COVID-19 pada 2020, hingga perlambatan ekonomi dan gejolak geopolitik yang berdampak. Dalam situasi tersebut, band dituntut untuk beradaptasi tanpa mengorbankan standar yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun.

Ario dan tim akhirnya memilih beradaptasi lewat penampilan live streaming, yang menjadi salah satu penggalangan dana pertunjukan musik terbesar saat itu. 

“Saya waktu pandemi punya penghasilan dari live streaming, saya gabung dengan teman saya di Radio Dalam, dia seorang penyanyi juga. Kita bikin live streaming di mana band-band bisa main dan ada donasinya,” kata dia. 

Setelah pandemi berakhir, lanjut Ario, 2023 awal aktivitas bermusiknya praktis stop. Dengan adanya gejolak ekonomi dan geopolitik yang berdampak terhadap industri musik dalam negeri, semakin menuntut Bendera 80 untuk menjaga dan bahkan meningkatkan kualitas penampilannya. Sehingga para pelanggan atau penonton yang mengeluarkan uang untuk melihat penampilan mereka merasa puas dan tertarik untuk berlangganan kembali.

“Sebutuh-butuhnya kita, kita jangan murahan, kita harus jual mutu. Membayar kita mahal kan, kita juga ada proses latihan, bikin konsep, berunding, di mana itu butuh waktu dan biaya, terus bikin sequencer yang merupakan musik pendamping yang tidak bisa ditangani oleh pemain,” katanya.

Baca juga:

Adam Salter “Anak Kota” yang Kepincut Jakarta
Orang Jakarta lebih mudah menerima dan melanjutkan hidup ketimbang melimpahkan kemarahan di jalan

Menutup perbincangan, Ario membagikan cara bisa bertahan dan mengembangkan bisnis di industri musik. 

Menurut dia, musisi harus memiliki pemahaman sejarah musik sebelum berkarya. Selain memiliki kemampuan bermusik, intelektualitas, etika, hingga pemahaman bisnis juga dinilai menjadi bekal penting untuk membangun karier yang berkelanjutan.

“Pertama harus tahu sejarah musik yang dia gandrungi, begitu dia tahu sejarah, dia akan menemukan dia mau ke mana. Yang kedua tentunya harus berintelektual, belajarlah soal musik sehingga menguasai musik lebih dalam. Yang ketiga, belajarlah ilmu berbisnis, sehingga etika berbisnis itu tidak dia langgar. Itu saja, namun dari semua, attitude nomor satu,” tutupnya.

Baca selengkapnya