Akbar Linggaprana dan Jalan Panjang Melukis di Tengah Disiplin Militer

Akbar Linggaprana dan Jalan Panjang Melukis di Tengah Disiplin Militer

Lingga tetap menjadikan seni sebagai ruang untuk menyampaikan gagasan. Bukan hanya mengenai keindahan, tetapi juga perdamaian, lingkungan, disiplin, dan pengalaman hidup.

Akbar Linggaprana dan Jalan Panjang Melukis di Tengah Disiplin Militer
Dalam Artikel Ini

Bagi Marsma TNI (Purn) M. Akbar Linggaprana, A.Md., melukis bukan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu luang. Ketertarikannya terhadap seni rupa telah tumbuh sejak duduk di bangku sekolah dasar dan semakin kuat ketika memasuki sekolah menengah atas pada tahun 1972. Saat itu, ia mulai membayangkan masa depan sebagai seniman atau menekuni profesi yang masih berkaitan dengan dunia seni.

Pria kelahiran Yogyakarta 16 Oktober 1956 itu mengaku kerap dimintai bantuan teman-temannya ketika harus menggambar. Ketertarikan itu kemudian membawanya menempuh pendidikan seni rupa hingga melanjutkan studi ke STSRI “ASRI” Yogyakarta, Jurusan Seni Lukis, angkatan 1976.

“Pengalaman melukis memang kayaknya bakat deh. Pada waktu SMA saya sudah dianggap memiliki bakat sama teman-teman. SD pun kalau saya menggambar sering dimintai bantuan sama teman-teman,” kata Lingga, sapaannya, kepada SUAR di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa (18/8/2026).

Namun, perjalanan hidupnya kemudian membawa Lingga ke arah yang berbeda. Pada 1981, ia mendapat panggilan wajib militer dan masuk ke lingkungan TNI Angkatan Udara.

“Saya tadinya pengen jadi seniman, jadi guru, atau jadi apa ya di bidang pendidikan dan kesenian. Tapi tiba-tiba tahun 1981 dipanggil wajib militer. Saya nggak bisa nolak karena kalau saya nggak menerima nanti ada hukumannya,” ujarnya.

Alhasil, pilihan tersebut membuat aktivitas melukis yang sebelumnya menjadi bagian dari kesehariannya harus berhadapan dengan ritme kehidupan militer. Selama sekitar 33 tahun berdinas, waktu untuk memegang kuas menjadi lebih terbatas. Meski begitu, Lingga justru menemukan nilai lain dari dunia militer yang kemudian ikut membentuk perjalanan hidupnya, yakni kedisiplinan.

“Pertama agak kaget pertama kali (di militer). Tapi ternyata banyak nilai yang bisa saya ambil dari militerisme itu,” katanya.

Pada awal kariernya di TNI AU, latar belakang seni rupa Lingga masih mendapat tempat. Ia ditempatkan di Dinas Penerangan Angkatan Udara dan memanfaatkan kemampuannya untuk berbagai kebutuhan visual, seperti desain dan penyiapan majalah, pembuatan pataka (bendera/panji), simbol, hingga logo.

Seiring perjalanan kedinasan, tugasnya pun berkembang ke berbagai bidang. Ia antara lain berkecimpung di bidang pendidikan selama sekitar 16 tahun dan bidang sejarah selama sekitar enam tahun. 

“Begitu menjalani pengalaman di militer, akhirnya tahu saya sebagai pelukis ini bisa mendidik, bisa bikin kurikulum, bisa menulis sejarah akhirnya lengkap jadinya. Lengkap jadinya. Nulis boleh, melukis boleh, main musik boleh gitu lengkap,” ujarnya.
Akbar Linggaprana (kiri, nampak belakang) dalam proses melukis bersama seniman lainnya. (Foto: dokumentasi pribadi.)

Di tengah padatnya tugas kedinasan, Lingga tetap berusaha mempertahankan aktivitas melukis. Kesempatan itu biasanya muncul ketika pekerjaan militer sedang longgar. Bahkan, waktu akhir pekan pun tidak selalu tersedia karena masih harus menyelesaikan laporan dan berbagai tugas lainnya.

“Kan susah ya waktunya kalau tugas kan padat sekali. Kadang-kadang hari Sabtu Minggu pun masih ada tugas nyelesain laporan, nyelesain ini nyiapin itu. Ada pas kosong buka kanvas,” tuturnya.

Beralih ke akrilik

Keterbatasan waktu tersebut turut memengaruhi pilihan teknik yang digunakannya. Setelah sebelumnya banyak menggunakan cat minyak, sekitar tiga tahun terakhir Lingga beralih ke akrilik.

“Saya baru tiga tahun ini memakai teknik akrilik. Sebelumnya saya memakai cat minyak tetapi karena banyak yang menyarankan kalau cat minyak itu untuk kesehatan kurang bagus, kemudian saya berpindah ke akrilik,” tuturnya.

Pengalaman panjang sebagai prajurit kemudian ikut memengaruhi tema yang dituangkan olehnya ke dalam kanvas. Ia tidak hanya mengejar bentuk dan keindahan visual, tetapi juga menggunakan lukisan untuk menyampaikan gagasan mengenai kekerasan, antikekerasan, disiplin, perdamaian, hingga lingkungan.

“Masalah kekerasan, anti-kekerasan, masalah disiplin itu tercermin dalam lukisan itu kan. Cuma disuarakan dalam seni kan, menyampaikan dalam bidang seni,” ujarnya.

Salah satu tema yang kemudian banyak muncul dalam karya-karyanya adalah perdamaian. Dalam pameran Art for Peace and a Better Future: Collaboration yang digelar SBY Art Community (SAC), Lingga menampilkan sejumlah karya yang menggunakan simbol dan figur untuk menyampaikan pesan tersebut.

Lingga bercerita mengenai cara dia menerjemahkan gagasan perdamaian ke dalam lukisan. Ia memilih figur perempuan sebagai representasi suara yang menurutnya kerap tidak terdengar, tetapi tetap memiliki kekuatan ketika berbicara mengenai alam dan perdamaian.

Lukisan karya tangan Akbar Linggaprana bertajuk Whispering Hope (kiri) dan Prayers for Peace (kanan). Foto: Nana/Suar.id

Pendekatan tersebut terlihat dalam karya Prayers for Peace. Lukisan itu menampilkan sosok perempuan yang membawa tangkai zaitun dan dikelilingi burung merpati. Dua elemen tersebut digunakan untuk memperkuat pesan mengenai doa dan harapan terhadap perdamaian.

Pesan serupa muncul dalam Whispering Hope. Melalui sosok perempuan dan burung merpati, Lingga menghadirkan gagasan mengenai harapan dan perdamaian. Nuansa hijau yang dominan pada kedua karya tersebut turut membangun suasana visual yang lebih lembut.

Menurut Lingga, simbol-simbol itu sengaja digunakan agar tema yang berat dapat disampaikan tanpa menghadirkan kekerasan secara langsung. Ia memilih menyampaikan pesan melalui sisi yang lebih positif.

“Jadi memang harapannya ke sana, jadi kita mengambil dari sisi positifnya, bukan melihat dari kekerasan tetapi bagaimana kita menyampaikan tema-tema itu secara halus dan bisa disampaikan,” ujarnya.

Selain perdamaian, lingkungan menjadi tema lain yang mendapat tempat dalam karya Lingga. Dalam Greener World, No More Choice, ia menggunakan ikan sebagai simbol untuk menggambarkan kondisi alam yang mengalami gangguan.

Karya Akbar Linggaprana yang berjudul Greener World, No More Choice. Foto: Nana/Suar.id

“Jadi kalau ikan sampai keluar dari habitatnya ini menandakan bahwa alam tidak baik-baik saja. Itu salah satu apa, patokan kita kalau dia tidak bisa hidup layak di air berarti alam kita sudah tercemar demikian Mbak,” jelasnya.

Berbeda dari Prayers for Peace dan Whispering Hope yang didominasi warna hijau, Greener World, No More Choice lebih banyak menggunakan warna biru. Perbedaan tersebut menjadi bagian dari cara Lingga membangun karakter sekaligus pesan dalam masing-masing karya.

Perjalanan karier militer juga tidak membuat Lingga meninggalkan referensi seninya. Saat kuliah, ia tertarik pada karya-karya surealisme seperti Salvador Dali, Joan Miro, dan Chagall. Sementara dalam seni rupa Indonesia, ia mengenal Raden Saleh dan Affandi. Namun, dirinya mengaku lebih nyaman dengan pendekatan realis.

“Orang dikira kan gampang melukis abstrak, susah itu karena intinya itu simbol-simbol dari pengendapan pikiran dari pelukis. Nah itu yang saya susah,” katanya.

Meski telah melukis selama puluhan tahun, Lingga mengaku tidak menghitung jumlah karya yang telah dibuatnya. Ia juga tidak merasa sebagai pelukis yang cepat menyelesaikan karya. Satu lukisan bahkan dapat dikerjakan hingga sekitar satu bulan.

“Di rumah wah enggak terhitung ya. Tapi enggak banyak, saya termasuk lama kalau melukis. Rata-rata 1 bulan saya. 1 bulan. Padahal siang malam, kalau satu karya dikerjakan siang malam tapi bisa 1 bulan,” cetusnya.

Setelah pensiun dari TNI AU, ruang untuk kembali menekuni seni rupa pun semakin terbuka. Lingga bergabung dengan SBY Art Community pada 2021. Sebelumnya, ia pernah menjadi staf Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 2014 ketika membantu mengumpulkan dokumen, foto, dan berbagai kegiatan untuk kebutuhan yang kemudian diserahkan kepada Arsip Nasional.

Pada awalnya, kemampuan melukisnya belum banyak diketahui di lingkungan tersebut. Kemampuan itu kemudian diketahui melalui tim yang terlibat dalam penyusunan ensiklopedia.

“Bapak (SBY) tahu, tapi beliau nggak tahu kalau saya bisa melukis. Jadi saya tahunya beliau, ‘nih bisa nulis, bisa publikasi, bisa dokumen’ padahal saya juga bisa lukis,” kelakarnya.

Setelah bergabung dengan SAC, ia menemukan ruang yang mempertemukan berbagai aktivitas seni, mulai dari musik, sastra, hingga seni rupa. Bagi Lingga, aktivitas tersebut sekaligus menjadi cara untuk tetap produktif setelah memasuki masa pensiun.

Di luar tema perdamaian dan lingkungan, Lingga juga mengangkat global warming, kesenian, tradisi, tari-tarian Jawa, serta sejumlah tokoh nasional seperti Bung Karno dan Kartini. Dalam sekitar tiga tahun terakhir, ia lebih banyak mengembangkan karya dengan teknik akrilik yang menurutnya memiliki warna lebih cerah dan dapat menjangkau generasi muda.

“Lebih cerah, berwarna tapi juga menyimpan pesan khusus gitu ya semiotiknya gitu,” imbuhnya.

Latar belakang sebagai orang Jawa juga memengaruhi cara Lingga dalam melihat kehidupan. Sejumlah filosofi Jawa, seperti ojo kagetan dan ojo gumunan, menjadi salah satu pegangan dalam menghadapi berbagai situasi.

Kini, setelah lebih dari lima dekade sejak pertama kali mengenal dunia lukis, Lingga tetap menjadikan seni sebagai ruang untuk menyampaikan gagasan. Bukan hanya mengenai keindahan, tetapi juga perdamaian, lingkungan, disiplin, dan pengalaman hidup.

Pesan yang kemudian ia titipkan kepada generasi saat ini pun sederhana, yakni menemukan bidang yang sesuai dengan minat dan menjalaninya dengan tekun.

“Ya saya berkeinginan tekunilah yang sesuai dengan passion-nya gitu ya. Apa pun passion-nya kalau tekun kemudian dijalankan dengan serius pasti akan jadi,” pungkasnya.

SAC Membawa Pesan Perdamaian dari Kanvas ke Ruang Publik

Adapun karya-karya Akbar Linggaprana, SBY, dan pelukis lainnya bisa dijumpai dalam pameran Art for Peace and a Better Future: Collaboration di Galeri Emiria Soenassa dan Oesman Effendi, Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada 18 - 30 Agustus 2026. Pameran yang diselenggarakan SAC tersebut menempatkan karya seni sebagai medium untuk menanam dan merawat nilai perdamaian melalui perjumpaan antarmanusia.

Sebanyak 150 karya ditampilkan dalam pameran yang melibatkan 27 seniman Indonesia, yang mana 31 lukisan SBY menjadi bagian dari keseluruhan karya yang dipamerkan.

Kurator Agatha Paramita Putri Sanjaya yang akrab disapa Gie Sanjaya menjelaskan perdamaian tidak dipahami sebagai keadaan yang langsung tercipta, melainkan sesuatu yang membutuhkan proses, ruang, hubungan, dan perhatian agar dapat tumbuh.

Karena itu, Gie tidak membatasi makna karya pada bentuk, warna, atau objek yang terlihat di atas kanvas. Lukisan juga dibaca melalui pengalaman yang melatarbelakangi proses penciptaannya, termasuk hubungan seniman dengan manusia lain, lingkungan, budaya, serta tempat yang menjadi sumber inspirasi.

“Pameran ini mengkomunikasikan seni bukan hanya aktivitas estetis, tetapi juga tindakan etis yakni setiap sapuan kuas, setiap percakapan, dan setiap perjumpaan membuka kemungkinan baru bagi hubungan antar manusia,” kata Gie.

Konsep tersebut kemudian terlihat dari keberagaman tema yang hadir dalam pameran. Karya para seniman membawa persoalan dan pengalaman yang berbeda, mulai dari keluarga, pendidikan, spiritualitas, identitas, alam, budaya hingga pengalaman personal.

Sementara itu, Ketua Koordinator Pameran SAC 2026 Letjen (Purn) Ediwan Prabowo mengatakan tema perdamaian menjadi fokus pameran untuk merespons dinamika global dan kebutuhan akan solidaritas.

“Kami berharap pameran ini dapat menjadi inspirasi sosial, memperkuat semangat kebersamaan, dan menumbuhkan optimisme masa depan yang lebih baik. Hal ini sesuai dengan visi Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono yang ingin senantiasa menyuarakan perdamaian dan dunia yang lebih baik melalui seni terutama seni lukis,” jelas Ediwan.

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)

Lainnya Dalam Glowlight

Rekomendasi SUAR