Cholil Mahmud, Kios Ojo Keos, dan Harga Sebuah Idealisme

Cholil Mahmud, Kios Ojo Keos, dan Harga Sebuah Idealisme

Di Kios Ojo Keos, seniman dan penikmat bebas bertemu dan bertukar peran. Baik yang sama atau beda frekuensi

Cholil Mahmud, Kios Ojo Keos, dan Harga Sebuah Idealisme
Dalam Artikel Ini

“Matilah engkau mati, kau lahir berkali-kali. Segala luka beralih rupa. Segala daya untuk merdeka. Segala murka jadi tenaga. Segala doa jadi cahaya"

Lirik itu menggema di setiap sudut Kios Ojo Keos ketika Efek Rumah Kaca (ERK) memperdengarkan tembang terbarunya, Matilah Kau Mati. Untuk sesaat, toko buku mungil itu bersulih rupa menjadi ruang dengar.

Tak ada panggung besar. Tak ada jarak antara musisi dan pendengar. Di tempat kecil itu, musik menemukan ruangnya sendiri. Orang-orang duduk berdesakan di kursi yang tersedia. Sebagian memilih berdiri di sela-sela rak buku, sementara yang lain menyimak sambil sesekali menyesap kopi.

Dalam ruang yang nyaris tak menyisakan jarak itu, keintiman justru tumbuh begitu saja. Orang-orang datang tanpa dibebani biaya apapun, menjadi bagian dari suasana yang tercipta di dalamnya.

Harga tak ternilai untuk sebuah idealisme

Suasana semacam itulah, bisa jadi yang membuat Kios Ojo Keos bertahan sejak 2018. Inklusivitas yang tak berhenti di balik meja kasir, menjadi salah satu alasan Cholil Mahmud dan kawan-kawan di Efek Rumah Kaca (ERK) memilih untuk terus mempertahankan ruang tersebut.

Dalam teori Cholil, tidak semua yang membuat sebuah bisnis layak dipertahankan, bisa dihitung di dalam laporan keuangan. Baginya, tidak ada angka yang bisa mengukur nilai seorang musisi, sehingga dapat ruang untuk tampil, seseorang yang datang tanpa harus membeli tiket, atau sebuah komunitas yang akhirnya bisa menggelar diskusi tanpa lebih dulu memikirkan biaya sewa.

Kios Ojo Keos, bukan semata toko buku dan kedai kopi yang harus mengejar keuntungan sebesar-besarnya. Ruang itu dibangun dengan keyakinan bahwa sebuah bisnis tetap bisa berjalan sambil memegang idealisme.

Namun, di balik rak-rak buku, cangkir kopi, dan orang-orang yang datang silih berganti, Kios tetaplah sebuah bisnis. Ada biaya yang tetap harus dibayar, termasuk upah orang-orang yang bekerja di dalamnya.

Sejak awal, Cholil dan kawan-kawan memilih untuk tetap membayar karyawan sesuai upah minimum. Pilihan yang terdengar sederhana, tetapi tidak selalu mudah bagi sebuah bisnis kecil yang masih meraba-raba jalan untuk bertahan.

Keputusan tersebut menjadi cara ERK menjalankan, bukan sekadar menyuarakan, nilai yang selama ini mereka percaya. Walk the talk.

"Kita harus punya tanggung jawab walk the talk dari ERK-nya, dengan bayar pegawainya UMR. Pada saat yang sama misalnya kita survei barista-barista di toko-toko kopi di sini gajinya jauh dari UMR, padahal mungkin dari chain yang besar," kata Cholil di sebuah siang di awal Agustus pada SUAR.

Hal seperti inilah, yang memicu adanya pertentangan antara ideologi dengan kenyataan bisnis. "Kalau itu kita mengedepankan ideologi , kita ingin tetap walk the talk, enggak apa-apa deh kita rugi," kata Cholil lagi.

Dekorasi dan buku-buku di Kios Ojo Keos, Jakarta, Sabtu (8/8/2026). Foto: Feby Febrina/Suar.id

Pada masa-masa awal, konsekuensinya lebih terasa. Kios belum sepenuhnya mampu membiayai dirinya sendiri. Bahkan, menurut Cholil, pada beberapa tahun pertama ada semacam “kecurangan” dalam cara mereka menghitung keberlangsungan Kios. Biaya sewa ruang tidak sepenuhnya dibebankan kepada Kios, melainkan ikut dianggap sebagai bagian dari kebutuhan ERK sebagai sebuah band.

Pelan-pelan, Kios kemudian belajar berdiri berjalan dengan kakinya sendiri. Dalam dua hingga tiga tahun terakhir, pemasukan Kios sudah mampu mencapai titik impas.

Namun, keberhasilan Kios tidak berhenti, ketika pemasukan dan pengeluaran berada di titik yang seimbang. Ada nilai yang memang sejak awal tidak mereka tempatkan di dalam neraca bisnis. Kios memberi ERK kesempatan untuk terus bertemu orang, mendengar musik baru, membaca gagasan yang berbeda, sekaligus berbagi ruang dengan orang-orang di luar lingkaran mereka.

“Kita rugi secara finansial tapi secara sosial enggak rugi,” kata Cholil.

Buka akses sebagai balas budi

Keputusan untuk membiarkan Kios tetap terbuka, bermula dari satu hal yang sederhana: akses. Ia teringat masa ketika ERK masih harus berusaha mencari jalan untuk memperkenalkan karya mereka. Kini, keadaan itu berbalik. ERK justru berada pada posisi ketika orang-orang datang untuk mencari mereka.

Hal itu lah yang membuat Cholil merasa ada sesuatu yang bisa dikembalikan. Akses yang dulu mereka cari, kini ingin mereka buka untuk orang lain.

“Sekarang kita sebenarnya sudah punya akses yang lebih mudah dibandingkan yang lain-lain. Jadi ya istilahnya orang-orang tuh give back to community,” imbuhnya.

Maka Kios dibiarkan menjadi ruang yang tidak terlalu banyak bertanya, siapa yang datang dan berapa yang sanggup dibayar. Selama tidak berbenturan dengan jadwal dan apa yang sudah dibangun di dalamnya, ruang itu boleh digunakan.

Kursi dan meja yang menjadi tempat pengunjung Kios Ojo Keos menghabiskan waktu, Jakarta, Sabtu (8/8/2026). Foto: Feby Febrina/Suar.id

Cholil sebenarnya sempat memikirkan bagaimana acara musik di Kios bisa tetap memberi penghargaan kepada musisi yang tampil. Salah satu kemungkinan sempat terpikir adalah donasi dari penonton. Namun, gagasan itu pun masih belum menemukan wujudnya.

Sebab, bahkan kata “donasi” bisa menjadi semacam pagar kecil yang membuat orang merasa "terbebani' sebelum berani melangkah masuk. Padahal, yang ingin dijaga justru sebaliknya: pintu yang terbuka.

“Kita pengen orang bisa membuka pemikirannya. Kita hormatin waktu orang, kita hormatin transportasi orang datang yang mengeluarkan biaya. Jadi datang saja, enggak usah bingung bayar-bayar,” katanya.

Pada akhirnya, Cholil tidak melihat pilihan itu sebagai sesuatu yang harus disesali. Pengalaman Kios Ojo Keos juga membuat Cholil melihat bahwa idealisme tidak selalu harus ditempatkan berseberangan dengan kebutuhan untuk bertahan hidup. Keduanya bisa berjalan beriringan, selama ada batas yang tetap ingin dipertahankan.

Terbuka untuk visi yang sama

Hal serupa ia terapkan ketika ERK memilih panggung, bekerja sama dengan pihak lain, maupun menentukan bentuk karya. Karena itu, ERK tidak menutup diri dari kerja sama atau kesempatan komersial, sepanjang mereka tahu dengan siapa bekerja, dan tidak bertentangan dengan isu yang selama ini mereka suarakan. Mulai dari persoalan hak asasi manusia hingga lingkungan.

Bagi ERK sendiri, batas tersebut terus berkembang seiring perjalanan mereka. Apa yang dulu dianggap biasa, belum tentu tetap sesuai dengan nilai yang mereka pegang sekarang.

"Secara ideologis tidak bertentangan dengan dengan ERK dalam artian kita bertumbuh untuk terus memikirkan apa yang mau kita lakukan bagaimana kita bertahan hidup juga. Tapi kita enggak untuk menjadi yang paling benar. Orang mau berjalan ke mana ya sudah. Tapi kita sebagai sebuah entitas perlu punya sikap," katanya.

Sikap tersebut juga tidak hanya dibawa Cholil melalui musik. Di luar ERK, ia sudah cukup lama terlibat dalam kerja-kerja Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS). Keterlibatan itu bermula ketika ERK diundang menjadi bagian dari anggota KontraS pada 2012.

Ia kemudian menjadi pengurus selama dua periode, sebelum kini melanjutkan perannya sebagai badan pengawas. Pengalaman tersebut pula yang membuat Cholil melihat bahwa musisi punya ruang untuk ikut menyuarakan isu sosial.

Karena itu, ia tak sepakat dengan anggapan bahwa musik seharusnya hanya menjadi hiburan dan musisi tidak perlu ikut berbicara soal persoalan sosial maupun politik. Ketika musik hanya ditempatkan sebagai hiburan, fungsi lain yang dimilikinya perlahan bisa ikut menghilang.

Padahal, musik juga dapat menjadi medium edukasi, dokumentasi, hingga ruang dialektika.

Penulis novel Laut Bercerita Leila S.Chudori (tengah) dan Cholil Mahmud (kanan) saat sesi dengar lagu Matilah Kau Mati sebagai OST film Laut Bercerita di Kios Ojo Keos, Senin (27/7/2026). Foto: Feby/Suar.id

Membebaskan musik jadi apa saja

Namun, Cholil tidak ingin musik dibebani sebagai satu-satunya alat untuk mendorong perubahan. Kesadaran dan perubahan tetap membutuhkan kontribusi dari berbagai bidang.

"Terkait orang bilang musisi tidak perlu menyuarakan isu sosial-politik ya itu pandangan atas ketidakmengertian apa itu politik. Tapi kalau memberi beban kepada musik untuk bisa mengajak orang bergerak atas sesuatu itu juga enggak proporsional. Bukan peran musik secara total,” kata Cholil.

Meski tidak ada jaminan sebuah lagu akan mengubah cara pandang seseorang, Cholil tetap menganggapnya sebagai sesuatu yang layak dicoba. Layaknya ERK yang tumbuh dengan banyak belajar dari musik yang mereka dengarkan, Cholil percaya pengalaman serupa bisa menghampiri orang lain.

Worth it, menurut gue worth it. Kalau kami misalnya ERK merasa kami belajar dari musik juga, saya pikir orang yang akan melakukan hal-hal seperti kami itu, juga ada di luar,” ujarnya.

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)

Lainnya Dalam Glowlight

Rekomendasi SUAR