Beragam cara ditempuh untuk melarikan diri sejenak dari kepenatan rutinitas sehari-hari. Ada yang memilih menghirup udara segar di pegunungan, meresapi keheningan di antara hamparan pepohonan hijau, bermain salju, hingga melacak jejak satwa di alam bebas.
Namun, tak sedikit pula yang memilih jalan lain dengan menyelam ke dalam lautan. Bagi sebagian orang, menyelam bukan hanya sekadar hobi atau olahraga yang tengah naik daun, melainkan bentuk meditasi di dalam air.
Di bawah permukaan laut, ketenangan perlahan hadir. Merasakan sensasi kehidupan tanpa beragam gangguan, melancarkan pernapasan serta mengenalkan keindahan alam bawah laut yang luar biasa.
Di antara sekian banyak penggiatnya, dua sosok pemimpin dan pejabat ternama membagikan pengalamannya meluruhkan penat di kedalaman laut biru.

Juliani Kusumaningrum berserah diri ketika menyelam
Bagi Juliani Kusumaningrum, laut adalah ruang hidup kedua tempatnya belajar arti pengembangan diri. Direktur Eksekutif Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal ini merasa laut kerap menyadarkannya tentang kerendahan hati, dan pengingat bahwa manusia sejatinya tak pernah benar-benar mampu mengendalikan segala hal sendirian.
Sebagai pimpinan, Juliani terbiasa berhadapan dengan tumpukan masalah yang menuntut keputusan cepat. Rapat beruntun dan target yang harus tuntas membuatnya terbiasa memegang kendali penuh. Pola itu perlahan terbawa dalam kesehariannya, membentuk persepsi bahwa hampir semua persoalan sanggup ia urus seorang diri.
Namun, di bawah laut, garis batas kemampuan manusia justru terlihat jelas.
"Bukan seperti super power, tapi mungkin saya orang yang kurang berserah kepada Tuhan. Saya sering kali merasa bisa melakukan semuanya sendiri. Mungkin kalau sudah mentok baru ingat. Sementara kalau diving itu mengajarkan saya untuk berserah. Kita cuma bisa mengandalkan alat, kalau tidak alat ya Tuhan, tak ada lainnya," tutur Juliani.
Pelajaran itu makin menghujam pada 2023 di kawasan Bunaken, Manado. Penyelaman yang mulanya berjalan normal mendadak menjelma menjadi near-death experience. Juliani yang awalnya hanya ingin menikmati keindahan terumbu karang dan kekayaan biota laut harus menghadapi situasi yang berbalik 180 derajat. Arus kencang datang bergulung dengan kekuatan luar biasa.
Ia nyaris kehilangan kendali di tengah situasi berbahaya tersebut. Beruntung, ia didampingi rekan penyelam profesional asal Morotai yang membantunya selamat. Pengalaman hampir kehilangan nyawa itu menjadi titik balik yang makin membuka matanya: ada kekuatan maha besar di luar manusia, dan kepasrahan adalah satu-satunya jalan.
“Sebenarnya pertama kali itu adalah saya liburan ke Karimunjawa rencananya hanya mau snorkling saja. Tapi saat itu diving master-nya mengajak saya diving, karena saya belum punya pengalaman yaudah jadinya saya coba tapi gak dalam paling hanya 8 atau 10 meter sambil dipegangin kan belum bisa mengatur buoyancy,” kata Juliani.

Indonesia lebih indah
Keberanian kecil itu berbuah rasa penasaran yang mendalam. Tak menunggu lama, ia memantapkan diri mengambil lisensi diving di Phuket, Thailand, pada 2019. Pengalaman itu justru makin membuka matanya akan keunggulan bawah laut Indonesia.
Bahkan, Juliani menegaskan bahwa keindahan bawah laut Indonesia sebenarnya jauh lebih indah dan beragam dibandingkan dengan kawasan diving di Phuket.
Phuket sendiri diketahui memang menjadi salah satu destinasi populer bagi wisatawan untuk melakukan diving. Juliani pun terheran ketika lebih banyak wisatawan justru lebih memilih Phuket, sementara Indonesia sebenarnya justru menawarkan kekayaan alam yang lebih beragam, terutama di kawasan Timur.
"Bagian Indonesia itu lebih menarik. Phuket itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Indonesia. Tapi kenapa ya di Indonesia itu minim turis?" ujar Juliani.
Bagi Juliani, persoalan utama pariwisata bahari Indonesia bukanlah pada kualitas destinasi, melainkan kemudahan akses. Perjalanan ke kawasan Indonesia timur kerap menuntut penerbangan panjang dengan jadwal dini hari yang kurang disukai wisatawan.
Baca juga:

Ketika ditanya di mana lokasi diving yang menjadi favorit dan membekas di ingatan Juliani, tanpa berpikir lama ia langsung menyebut Raja Ampat yang berlokasi di ujung timur Indonesia, tepatnya di Provinsi Papua Barat. Raja Ampat ini memiliki berbagai pulau yang berukuran kecil maupun besar, dengan empat pulau utama yakni Pulau Waigeo, Misool, Salawati, dan Batanta.
Kawasan yang masuk ke dalam coral triangle ini merupakan rumah bagi 75% spesies terumbu karang dunia dan sekitar 2.500 spesies ikan. Maka tak heran apabila Raja Amat ini menjadi salah satu destinasi utama untuk diving, mengingat semua perjuangan demi mencapai wilayah yang satu ini segera terbayarkan dengan apa yang disuguhkan oleh bawah laut Raja Ampat. Kenanekaragaman inilah yang membuat pengalaman menyelam Juliani begitu istimewa.
“Paling bagus ya Raja Ampat, biodiversitasnya banyak sekali. Jadi biasanya kan kalau diving di tempat-tempat tertentu mereka punya icon-nya apa saja yang memang spesialnya di daerah itu. Nah tapi kalau misalnya di Raja Ampat itu bisa melihat semuanya. Semuanya dikumpulin jadi satu ya ada di Raja Ampat,” ungkapnya.

Bani Maulana Mulia, belajar bersyukur dari menyelam
CEO PT Samudera Indonesia Tbk Bani Maulana Mulia mengatakan menyelam sebagai sarana melihat keindahan laut sekaligus pengingat bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari ciptaan Tuhan.
Bani melihat laut justru sebagai pengingat bahwa sebesar apa pun pencapaian yang berhasil digapai olehnya, pada akhirnya dirinya tetaplah kecil di hadapan Tuhan.
Ketakjuban seorang Bani terhadap laut muncul dari hal-hal yang mungkin terlihat sederhana seperti gerombolan ikan yang bergerak bersamaan, hamparan koral, hingga berbagai tumbuhan laut yang tumbuh dan membentuk ekosistemnya sendiri di bawah laut.
Pemandangan seperti ini membuatnya menyadari betapa luar biasanya ciptaan Tuhan, yang tidak sebanding jika disandingkan dengan kemampuan manusia dalam menciptakan berbagai hal.
“Jadi merasa bahwa luar biasa ciptaan Tuhan, luar biasa. Mana bisa manusia bikin seperti ini? Mana bisa sebagus ini? Kita nih apa sih bisanya? Nothing, we are nothing,” ujar Bani.
Laut pun membuat Bani merasa manusia hanyalah bagian kecil dari alam yang lebih besar, sehingga membentuk kepribadian Bani saat ini. Diving sendiri bukan sebuah hobi bagi Bani yang bisa dilakukan sesering dalam melakukan aktivitas sehari-hari, karena membutuhkan waktu dan persiapan khusus.

Setelah menyelam pun ada aturan yang harus ditaati para penggiat olahraga diving tersebut. Dalam aturannya, setelah melakukan diving, penyelam dianjurkan tidak boleh langsung naik pesawat dikarenakan tubuh memerlukan waktu untuk mengeluarkan nitrogen yang larut akibat tekanan di bawah air. Jika terlalu cepat, penyelam akan berisiko mengalami decompression sickness.
“Hobi itu cuma untuk ngingetin aja, oh iya kita tidak ada apa-apanya. Karena itu ya jangan malas, yang rajin, usaha, bekerja, dan jangan jahat. Kalau jahat, kita akan kualat, apa pun itu balasannya. Jadi sesuatu yang mencengangkan mustinya membuat kita berpikir bahwa itu mendorong kita untuk berbuat baik,” sambungnya.
Baca juga:
Hobi diving ini menurutnya memang membutuhkan komitmen waktu dan tenaga yang cukup besar untuk digeluti, sehingga tidak bisa dilakukan dengan sering. Bani sendiri telah mengunjungi beberapa destinasi wisata untuk diving seperti Labuan Bajo ataupun Bali. Namun, satu nama yang justru sering ia dengan dan membangkitkan rasa penasaran di dalam dirinya, lagi-lagi adalah Raja Ampat.
Bani yang belum pernah menyelam di Raja Ampat, mendengar cerita dari teman-temannya, membuatnya semakin penasaran akan keindahan destinasi diving terbaik di Indonesia yang satu ini.
“Saya ke daerah Labuan Bajo sana. Kalau Raja Ampat saya belum pernah tapi saya tanya teman-teman semua bilang paling bagus masih Raja Ampat di Indonesia,” ungkapnya.