Istilah work-life balance kian populer di dunia kerja saat ini. Mantra ini menjadi wajib bagi tiap pekerja yang ingin memisahkan urusan kantor dan kehidupan pribadi.
Namun faktanya, menjaga batas itu sering kali berujung mitos belaka, seiring bertambahnya beban kerja dan tuntutan hidup yang terus merangkak naik.
Cara pandang berbeda dimiliki Direktur Eksekutif Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal, Juliani Kusumaningrum. Ia lebih memilih menjaga keduanya bisa berjalan beriringan tanpa ada yang harus dikorbankan.
Bagi perempuan berambut panjang itu, konsep work-life balance kerap kali disalahartikan sebagai kondisi yang mengharuskan seseorang benar-benar harus melepaskan dirinya dari pekerjaan sehari-hari.
Padahal, kata dia, menjaga keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan bukan berarti 100 persen off kerja, melainkan mengatur porsi waktu agar tetap dapat beristirahat, menjalani hobi, sekaligus siap memenuhi tanggung jawab pekerjaan ketika dibutuhkan.
Menurut Juliani, penerapan work-life balance baginya lebih tepat dipahami sebagai pengaturan porsi waktu, bukan memisahkan secara mutlak antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Ia menggambarkan, pada hari kerja yakni Senin hingga Jumat, sekitar 80 persen waktu dan tenaganya didedikasikan untuk menyelesaikan pekerjaan, sementara 20 persen sisanya digunakan untuk aktivitas di luar pekerjaannya sebagai Direktur Eksekutif KEK Kendal.
“Sekarang itu selalu overrated work-life balance. Work-life balance menurut saya gak 100 persen off dari kerjaan, yang tadinya Senin sampai Jumat kerjaan misalkan dari jam 08.30 sampai 17.30 itu dedikasinya 80 persen untuk kerjaan, 20 persen untuk hal lain secara kita juga masih punya kehidupan,” ucapnya kepada SUAR.

Menjaga ruang akhir pekan
Memasuki akhir pekan, porsi tersebut kemudian diubah dengan memberikan lebih banyak ruang dan waktu untuk beristirahat, berolahraga, atau berkumpul bersama dengan keluarga dan kolega.
Meski begitu, ia mengaku tetap tidak bisa sepenuhnya lepas dari pekerjaan karena sebagai pengembang kawasan industri, ada tanggung jawab yang harus tetap mampu dipenuhi kapan pun diperlukan.
“Nah misalkan Sabtu-Minggu itu rada switching aja dikit, tapi gak bisa 100 persen off kerja, dan kebanyakan work-life balance itu sering disalahartikan, kayak jadi gak mau sama sekali dikontak urusan kerjaan di hari Sabtu atau hari Minggu,” jelasnya.
Tanggung jawab sebagai Direktur Eksekutif KEK Kendal menuntut kesiapsiagaan hampir sepanjang waktu. Sebagai pengelola kawasan industri yang berfokus pada pelayanan kepada investor dan berbagai pemangku kepentingan, ia tidak dapat sepenuhnya memisahkan waktu kerja dan waktu pribadi.
Hal itu karena berbagai persoalan operasional maupun kebutuhan layanan dapat muncul kapan saja, termasuk pada malam hari atau akhir pekan.

Berbagai macam olahraga dijalani
Namun di tengah padatnya aktivitas, Juliani ketika memiliki waktu luang, mengisinya dengan berbagai hobi yang menjadi sarana penyegaran.
Ia gemar melakukan berbagai macam kegiatan olahraga seperti berlari, berlatih di gym, hingga bermain golf untuk menjaga kebugaran sekaligus melepaskan penat. Selain itu, ia juga menikmati kegiatan memasak, membuat kue, serta menjadi tuan rumah acara makan malam dengan mengundang teman atau kolega untuk berkumpul bersama.
Meski olahraga dan aktivitas sosial menguras energi, Juliani tidak merasa keduanya menambah rasa lelah setelah menjalani hari-hari kerja penuh tuntutan. Ia justru menemukan kenikmatan tersendiri sebagai cara untuk memulihkan kondisi fisik dan mentalnya.
“Saya kalau misalkan gak gerak, malah sakit. Sama kalau gak ketemu orang tuh saya sakit,” ujarnya.
Aktivitas-aktivitas tersebut pun tidak membuatnya benar-benar terlepas dari pekerjaan karena lagi-lagi, kapan pun sewaktu-waktu ia harus siap siaga menangani urusan pekerjaan yang membutuhkan perhatiannya.
“Saya ini kan developer, developer itu juga kan ada service yang perlu di-deliver, semua segala macam yang berbau dengan service itu gak mungkin off sama sekali, itu kalau memang ada yang sesuatu yang jam dua subuh, tiga subuh, jam berapa pun kalau memang harus dikerjakan ya saya kerjakan,” ujarnya.

Melepas penat
Olahraga baginya bukan hanya sekadar menjaga kebugaran saja, tetapi menjadi sarana untuk melepas penat dan memicu pelepasan hormon endorfin yang membuat tubuh dan pikiran terasa lebih segar. Juliani mengaku gemar berlari seorang diri agar dapat lebih fokus menikmati aktivitasnya tersebut.
Menariknya, ketika pikiran terasa lebih segar saat berlari, terutama ketika mendekati garis finish, ia sering mendapatkan berbagai macam ide yang kemudian bisa diterapkan dan mendukung pekerjaannya sehari-hari. Oleh karena itu, olahraga menurutnya tidak hanya menjadi pelepas stres, tetapi juga ruang untuk menemukan berbagai inspirasi baru yang mendukung untuk pengambilan keputusan.
“Contohnya saya lari biasanya sendiri, gak rame-rame biar cepat beres aja gitu. Pas lagi lari pun ada kilometer-kilometer tertentu ya misalkan udah mau finish, nanti bisa kepikiran ide-ide untuk kerjaan, yang itu cuman muncul pas lagi lari, ujungnya kerja lagi,” lanjut Juliani.

Hal serupa juga ia rasakan ketika bermain golf. Olahraga tersebut menjadi sarana efektif untuk Juliani dalam membangun dan mempererat hubungan sosial baik dengan rekan kerja, klien, maupun mitra yang berkaitan dengan pekerjaannya.
“Kalau misalkan golf itu kan olahraganya kan jalan ya gitu, yang lainnya lebih games gitu, sama membangun hubungan sosial bisa sama rekan kerja, sama klien, bisa juga sama yang berhubungan mendukung di pekerjaan, ya sama aja ujung-ujungnya balik lagi ke kerjaan,” ucapnya.
Baca juga:

Saling melengkapi
Jadi pada dasarnya, aktivitas pribadi dan pekerjaan ini bukanlah dua hal yang saling bertentangan satu sama lain, melainkan sifatnya justru saling melengkapi. Hobi dan waktu luang memberikan kesempatan baginya untuk memulihkan energi, menjaga kesehatan, serta mendapatkan perspektif baru yang bermanfaat untuk kerja. Terciptanya keseimbangan ini kemudian memberikan dampak manfaat bagi kedua sisi kehidupan Juliani tersebut.
“Jadi kayak work-life balance, ya saling melengkapi, tapi nanti ujung-ujungnya ke kerjaan lagi, jadi sebenarnya gak 100 persen off,” katanya.
Lantaran hari kerja dipenuhi berbagai agenda dan tanggung jawab dengan porsi yang lebih besar, biasanya Juliani hanya memiliki kesempatan untuk bermain golf pada akhir pekan saja. Oleh sebab itu, ia menjadikan waktu di akhir pekan ini sebagai sesuatu yang selalu dinantikan.
Kesempatan untuk bisa bermain golf dan menikmati berbagai kegiatan lainnya pada akhir pekan ini pun menjadi semacam hadiah bagi dirinya, atas target pekerjaan yang telah ia selesaikan selama hari kerja.
“Senin sampai Jumat ini harus menyelesaikan apa yang signifikan, buat nanti saya hari Sabtu atau Minggu merasa layak main nih di lapangan, kalau nggak kan di hari Sabtu dan Minggu saya beresin dulu, enak aja masa saya main,” katanya.
Baginya, setiap orang perlu memiliki aktivitas atau hobi sebagai salah satu cara menjaga keseimbangan hidup dan kesehatan mental.
“Pentinglah, untuk menjaga. Kalau orang bilangnya ya supaya waras,” tutupnya.