Tiga gulungan kain batik pesisiran berdiri anggun menyambut pengunjung sebuah museum di Kota Tua, Jakarta sore itu. Hadir dalam balutan warna jingga, hijau, dan marun, ketiganya memamerkan lekuk motif rangkaian bunga yang sukses memikat pandangan.
Di sudut lain, belasan lembar kain batik yang terpajang di bawah temaram lampu visual juga tak luput dari tatapan lekat para pengunjung.
Kain-kain elok ini merupakan bagian dari pameran bertajuk “Threads of Wax: A Cultural Confluence of Indonesian and Hungarian Heritage”. Sebuah ruang temu kreatif yang mengawinkan warisan budaya Hungaria dan Indonesia, memadukan corak batik ikonik dari Yogyakarta, Solo, Lasem, dan Pekalongan dengan keindahan motif bunga dari tradisi sulaman Matyó serta Kalocsai khas Hungaria.

Simbol 70 Tahun Persahabatan
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan bahwa pameran ini bukan sekadar pajangan seni, melainkan refleksi dari eratnya hubungan persahabatan kedua negara yang telah berakar selama puluhan tahun.
“Lebih dari itu, pameran ini mencerminkan semangat persahabatan, kreativitas, dan kolaborasi yang menghubungkan kedua bangsa kita,” ujar Pramono dalam sambutannya di Jakarta, Senin (29/7/2026).
Pria yang akrab disapa Pram ini menuturkan, relasi antara Jakarta dan Budapest tidak hanya berjalan di level diplomasi antar-pemerintah, melainkan hidup lewat kerja sama sister city yang telah terajut lebih dari satu dekade.
Digelar sebagai bagian dari perayaan HUT ke-499 Jakarta, pameran ini sekaligus menandai persahabatan abadi Indonesia dan Hungaria yang menginjak usia 70 tahun.
Pramono menilai, program pertukaran budaya dan kepemudaan sejauh ini telah memperkokoh hubungan kedua kota, dan ia berharap kolaborasi ini bisa melebar ke sektor-sektor lainnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Duta Besar Hungaria untuk Indonesia, Lilla Karsay. Ia mengungkapkan bahwa “Threads of Wax” awalnya berangkat dari ide sederhana: menyilangkan motif sulaman rakyat Hungaria ke dalam guratan canting batik Indonesia.
Bagi Lilla, proyek kolaborasi ini menjadi kado penutup yang manis bagi masa tugas diplomatisnya di Indonesia, sekaligus simbol pengikat rasa kedua negara.
“Dengan menyatukan dua tradisi tekstil yang sama-sama diakui UNESCO—batik Indonesia dan sulaman cerita rakyat Hungaria—kita membuktikan bahwa tradisi bukanlah peninggalan masa lalu yang statis. Tradisi adalah ekspresi hidup yang terus bertumbuh lewat dialog dan saling pengertian,” kata Lilla.

Tulip dan Sun Rose
Diinisiasi oleh Kedutaan Besar Hungaria di Jakarta yang berkolaborasi dengan Museum Seni Rupa dan Keramik, pameran yang berlokasi di kawasan distrik Kota Tua Jakarta ini menampilkan kreasi batik otentik yang bernapas motif bunga khas tradisi Matyó dan Kalocsai.
Lewat reinterpretasi pola rakyat Hungaria ke dalam bahasa visual batik, pameran ini berhasil menyoroti titik temu kedua negara. Meski terpisah jarak geografis yang teramat jauh, keduanya disatukan oleh nilai-nilai keahlian lokal, identitas budaya, narasi kehidupan, dan kekuatan komunitas.

Desainer pameran, Jesus Cedeño, menyebutkan bahwa “Threads of Wax” berperan sebagai panggung dialog dan diplomasi budaya yang organik.
“Bagaimana garis-garis lilin batik Indonesia bersanding dengan semarak motif bunga sulaman Hungaria, melahirkan bentuk ekspresi artistik baru tanpa sedikit pun melunturkan keaslian kedua tradisi tersebut,” ungkap Cedeño kepada SUAR.
Lebih dalam lagi, pameran ini mengeksplorasi kekayaan simbolisme batik, seperti pesan tentang kesuburan, perlindungan, kemakmuran, dan nilai komunal yang ternyata juga hidup dalam kebudayaan Hungaria. "Berbagai motif bunga menjadi inspirasi, khususnya bunga tulip dan sun rose yang sangat populer di Hungaria," tambah Cedeño.

Cedeño menjelaskan selendang berwarna merah ini mengambil inspirasi dari konsep batik Indonesia 'Pagi Sore'. Komposisinya ditopang kombinasi warna legendaris khas Lasem yang dikenal sebagai Bangbiron, asal dari kata abang (merah) dan biron (biru).
"Komposisi ini mencerminkan bagaimana elemen yang kontras dapat hidup berdampingan dalam harmoni," ujar dia.

Sedangkan dalam selendang hijau, struktur Tumpal menjadi wadah dimana elemen flora Kalocsai tumbuh dan berkembang. Motif ini melambangkan ketuhanan, kesuburan, keseimbangan dan perlindungan.
"Menggambarkan bagaimana perlindungan ikatan keluarga, keharmonisan yang terjalin antar sepasang kekasih, kerabat dan masyarakat dalam kehidupan," ujar dia.
Lewat pameran ini, Cedeño menyelipkan asa agar generasi muda tergerak untuk menyentuh, mencoba, dan berani berinovasi dengan batik.
“Batik adalah teknik yang indah yang harus terus kita perbarui, kita tantang, dan kita eksplorasi untuk membangun sesuatu yang baru. Sebagai sebuah teknik, batik akan selalu ada, siap menerima dan menyambut setiap seniman atau pengrajin yang berani mencoba hal baru,” tuturnya.
Perhelatan budaya ini turut dihadiri oleh deretan tokoh penting, di antaranya Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam Dennis Chaibi, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri, hingga politisi Verrel Bramasta.
Pameran “Threads of Wax” siap menyambut antusiasme masyarakat dari berbagai lintas generasi selama tiga pekan penuh, mulai dari tanggal 30 Juni hingga 21 Juli 2026.