Jakarta punya cara unik untuk memikat hati. Bagi Adam Hans Salter, Direktur Greenvolt Power Indonesia, aroma nasi goreng di pinggir jalan, deru kendaraan yang tak pernah berhenti, hingga kemacetan, justru menjadi alasan ia merasa betah.
Dalam obrolan di sesi break sebuah diskusi SUAR di Jakarta, Menurut dia, Jakarta bukan hanya tempat bekerja, tetapi sebuah kota yang penuh energi.
“Salah satu yang paling menarik di Indonesia tentu saja makanannya. Di sini merupakan lokasi eksplorasi yang lengkap,” katanya kepada SUAR, Jakarta, Selasa (3/2).
Meski dirinya tergolong baru tinggal di Jakarta. Ia mengaku sangat menikmati tinggal di kota-kota besar. Dengan pengalaman tinggal di berbagai kota di dunia, Adam dengan percaya diri menyebut dirinya sebagai “anak kota.”
Pernah tinggal di Amerika Serikat, Timur Tengah, dan Eropa, ia merasa Jakarta punya ritme berbeda.
“Yang membuat saya sangat suka Jakarta adalah bisa melihat budaya lain, bertemu dengan orang-orang baru. Bagi saya itu lebih dari sekadar hobi tapi juga gairah,” kata Adam yang menyebut Jakarta sebagai kota yang unik.
Meski Jakarta dicap buruk dengan image kemacetan dan polusi, bagi Adam kota Jakarta tetap menakjubkan. “Jakarta itu sangat dinamis, penuh dengan hiruk pikuk,” ujarnya.
Ia juga menilai pertumbuhan ekonomi di Indonesia sangat berdampak pada pembangunan gedung bertingkat di Jakarta. Bagi Adam kota Jakarta ini justru menarik karena kontrasnya design gedung-gedung modern di kawasan SCBD yang sangat modern bisa berdiri berdampingan dengan situs bersejarah yang menyimpan cerita masa lalu.
“Tapi satu hal yang selalu kita bicarakan di antara rekan-rekan adalah satu hal yang tidak pernah Anda temui adalah, katakanlah, saat Anda pergi ke rapat, orang-orang di sini selalu sangat ramah dan sangat menggembirakan. Jadi harap Jakarta bisa dikunjungi lebih banyak orang lagi,” kata dia.

Pria yang pernah tinggal Los Angeles itu mengatakan sudah terbiasa dengan kemacetan di Jakarta sehingga ia tahu kapan harus mulai berangkat ke sebuah event.
“Jadi Anda belajar bagaimana berjalan, pas nya jam berapa yang lebih baik untuk pergi ke arah tertentu,” kata dia.
Menariknya, ia sudah akrab dengan cita rasa Indonesia sejak lama karena di Amsterdam, tempat tinggalnya, restoran Indonesia cukup populer.
“Saya suka nasi goreng. Tidak ada yang bisa mengalahkan nasi goreng, kan? Tapi saya juga senang mencoba makanan baru, biasanya dibantu rekan-rekan yang menunjukkan apa yang harus dicoba,” katanya.

Berjalan - jalan
Di sela kesibukannya, Adam memilih cara sederhana untuk menikmati akhir pekan di salah satu kota tersibuk di Indonesia yaitu dengan berjalan kaki. Ia kerap berkeliling di GBK Park atau menyusuri trotoar SCBD.
“Itu cara saya untuk melepaskan diri dari urusan kerja di Jakarta,” katanya.
Ia juga tak segan menjelajah kota lain saat tugas membawanya ke Bali, Makassar, atau Medan. Baginya, setiap perjalanan adalah kesempatan bertemu orang baru dan merasakan denyut budaya lokal. “Kemanapun saya pergi, saya mencoba untuk mendapatkan kesempatan untuk sekedar melihat-lihat,” kata dia.
Tentang lalu lintas Jakarta, ada satu hal yang membuatnya kagum: “Di sini tidak ada ditemui amarah ketika di jalan. Orang lebih santai. Ya, macet memang masalah, tapi orang Jakarta lebih menerima apa yang terjadi, Kita hanya perlu melanjutkan hidup saja,” kata dia.
Sikap itu, menurutnya, mencerminkan karakter masyarakat yang ramah dan sabar.
Meski Jakarta sering dikritik, Adam melihat sisi positif yang jarang diperhatikan. “Kalau hanya melihat negatif, itu mudah sekali ditemukan. Tapi kalau mau melihat, ada banyak hal menarik di sini,” ujarnya.
Dari keramahan orang-orang hingga energi kota yang tak pernah padam, ia percaya Jakarta layak dikunjungi lebih banyak orang.