Bagi Irfan Setiaputra, memiliki keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi atau dikenal dengan istilah work-life balance bukan sekedar membagi waktu antara kantor dan rumah. Lebih dari itu, menurut dia juga tentang bagaimana cara seseorang memandang jabatan yang diembannya.
Sebagai Komisaris Utama PT. Pembangunan Jaya Ancol Tbk, Irfan berusaha menetapkan batas yang jelas antara pekerjaan dan keluarga. Kepada tim SUAR, ia mengatakan selalu berupaya memegang batas tegas antara urusan kerjaan dan keluarga.
Ia bercerita berkomitmen menjadikan akhir pekan sebagai waktu khusus bersama keluarga.
"Saya coba disiplin. Sabtu-Minggu itu untuk keluarga. Jatah liburan konsisten diikuti," katanya pada SUAR ditemui di kantor pusaat Ancol, Jakarta, Kamis (25/6/2026).
Ia mengaku tak punya hobi khusus, yang utama adalah libur bersama keluarga.

Tak melekat pada jabatan
Menurut mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk itu, sumber terbesar yang membuat banyak pemimpin kehilangan keseimbangan hidup justru bukan beban pekerjaan, melainkan keterikatan yang berlebihan terhadap jabatan.
Ia menilai tidak sedikit orang yang hidup dalam tekanan karena terlalu takut kehilangan posisi yang dimiliki.
Baginya, jabatan hanyalah amanah yang memiliki masa berlaku. Ketika seseorang terlalu melekat pada status, kewenangan, maupun berbagai fasilitas yang menyertainya, tekanan akan muncul karena ada rasa takut kehilangan semuanya.
"Saya juga tidak mau nggondeli (terlalu memegang erat) jabatan. Banyak orang stres karena takut kehilangan jabatannya," ujarnya.
Irfan bercerita pengalamannya memimpin Garuda Indonesia pada 2020 hingga 2024 membuatnya memahami bagaimana sebuah jabatan sering kali disertai berbagai fasilitas dan perlakuan khusus. Menurutnya, berbagai kemudahan tersebut dapat membuat seseorang terlena apabila tidak mampu menjaga cara pandangnya.
"Di BUMN, protokolnya jahat sekali. Bikin kita terlena. Ke kawinan saja staf sudah datang duluan mastiin tempat duduk VIP," imbuhnya.

Berusaha tak bergantung staf
Karena itu, ia memilih tetap melakukan banyak hal secara mandiri, mulai dari membawa tas sendiri hingga melakukan check-in penerbangan tanpa bergantung pada staf.
Kebiasaan sederhana itu, menurutnya, menjadi pengingat bahwa setiap orang pernah memulai dari bawah dan suatu saat akan kembali menjadi masyarakat biasa.
Prinsip tersebut juga ia pegang ketika mengakhiri masa jabatannya sebagai Direktur Utama Garuda Indonesia. Pada hari terakhir bekerja, seluruh fasilitas yang melekat pada jabatannya langsung dikembalikan.
"Jadi santai saja. Begitu berhenti menjabat, hari itu juga semua fasilitas saya kembalikan. Laptop, kunci lemari, kunci mobil, saya serahkan semua jam 5 sore. Saya pulang naik taksi. Selesai," katanya.
Cara pandang seperti itu tidak lahir dalam semalam. Filosofi untuk tidak terlalu melekat pada jabatan terbentuk dari perjalanan panjang Irfan memimpin berbagai perusahaan selama lebih dari tiga dekade. Salah satu ujian terbesarnya datang ketika ia memimpin Garuda Indonesia pada 2020.
Saat itu, maskapai pelat merah tersebut tengah menghadapi tekanan utang yang besar di saat pandemi COVID-19 melanda. Saat itu industri penerbangan nyaris lumpuh. Situasi tersebut menjadi salah satu krisis terbesar yang pernah dihadapi Garuda Indonesia.
Di tengah kondisi yang membuat banyak orang memilih mencari siapa yang harus disalahkan, Irfan justru melihatnya sebagai kesempatan untuk melakukan pembenahan dari akar persoalan.
Alih-alih menghabiskan energi untuk menyalahkan pemerintah atau direksi sebelumnya, Irfan memilih memusatkan perhatian pada penyelesaian masalah. Menurutnya, seorang pemimpin harus mampu melihat krisis sebagai momentum untuk bertransformasi, bukan sekadar mencari kambing hitam.
"Tapi saya beruntung ada COVID. Coba kalau tidak ada COVID, mungkin nasib saya tidak beda dengan direksi lain. Mengelola Garuda saat itu sangat susah dengan struktur biaya termahal di dunia. COVID itu membuka 'Kotak Pandora'. Kelihatan semua borok-boroknya, dan kita beresin satu-satu. Enggak perlu nyalah-nyalahin yang sebelumnya," katanya.

Selalu ceria
Irfan juga punya dua kebiasaan yakni tidak mengeluh dan selalu ceria dalam kondisi apapun.
Sekilas, kedua prinsip tersebut terdengar sederhana. Namun, menurut Irfan, justru di situlah tantangan terbesar seorang pemimpin. Sebab, di tengah tekanan pekerjaan, keluhan dan kecenderungan mencari kambing hitam sering kali muncul secara spontan.
Ia mencontohkan hal-hal yang kerap ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Ketika terjebak kemacetan, misalnya, banyak orang memilih mengeluh, lalu menyalahkan pemerintah atau kondisi jalan. Padahal, menurut Irfan, kebiasaan tersebut tidak akan mengubah keadaan maupun membantu menemukan solusi.
"Macet jalanan, kita mengeluh. Habis kita mengeluh, kita nyalahin gubernur. Saya enggak pernah ngeluh soal macet. Saya tahu solusinya. Saya bilang, 'Gue mesti jadi dirut.' Karena kalau jadi dirut dapat mobil kantor dan sopir, saya bisa tidur. Begitu Anda tidur, Anda ngerasa macet enggak? Enggak," ujarnya sambil tertawa.
Begitu juga dengan sikap ceria selalu ia terapkan. Alih-alih larut dalam tekanan, ia justru berusaha menjaga optimisme tim. Menurutnya, suasana kerja yang positif akan membuat setiap orang lebih jernih dalam mencari jalan keluar.
"Di Garuda waktu COVID, lantai direksi isinya ketawa terus. Karena itu saya punya prinsip dan selalu temen-temen nanya saya pindah ya, 'Bro, happy lo di tempat baru'. Saya jawab 'Happy gua. Selalu happy gua'," kenangnya.
Bagi Irfan, keceriaan bukan berarti menutup mata terhadap persoalan. Sebaliknya, sikap positif menjadi modal agar seorang pemimpin tetap mampu berpikir rasional ketika menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian.
"Begitu solusi yang Anda punya enggak jalan, cari solusi lain. Cari solusi lain, pasti ketemu," katanya.
Baca juga:

Bagi Irfan, sikap positif juga menjadi fondasi dalam menjalankan transformasi sebuah organisasi. Menurutnya, banyak orang menganggap transformasi identik dengan perubahan strategi, teknologi, atau model bisnis. Padahal, tantangan terbesar justru terletak pada manusia yang menjalankan perubahan tersebut.
Oleh sebab itu, ia mengingatkan seorang pemimpin tidak boleh merasa paling tahu. Salah satu kesalahan yang paling sering membuat proses transformasi gagal adalah keyakinan bahwa keputusan yang diambil pasti merupakan pilihan terbaik tanpa mendengarkan pandangan orang lain.
"Seratus kepala jauh lebih bagus dari satu kepala. Problem transformasi yang gagal itu orang yang melakukan transformasi percaya bahwa apa yang dia lakukan pasti benar," ujarnya.
Baca juga:
