Andi Septiadi Ubah Sampah Plastik Jadi Furnitur Estetik

Andi Septiadi Ubah Sampah Plastik Jadi Furnitur Estetik

Sampah kemasan botol plastik, tutup botol plastik dibuat menjadi meja, kursi yang bernilai tinggi

Andi Septiadi Ubah Sampah Plastik Jadi Furnitur Estetik
Dalam Artikel Ini

Suara mesin pencacah itu terdengar bising. Tiga pekerja laki-laki terlihat dari kejauhan bergerak cepat dalam bekerja. Situasi itu merupakan keseharian CV Recycle Investama, pabrik pengolahan di kelurahan Setu, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur.

Dalam gudang berlantai dua itu, beberapa pekerja terlihat lihai dengan tugas masing-masing. Ada yang menyortir limbah plastik, ada yang mencuci dan ada yang memasukkannya dalam mesin pengering.

Tak jauh dari sana, terbentang di hamparan area tersebut, karung-karung berisi ragam sampah plastik, mulai dari botol air minum kemasan, gelas kemasan, hingga tutup botol, menggunung menunggu giliran untuk diproses.

Sampah-sampah itu menjadi bisnis menjanjikan bagi Andi Septiadi (39), pendiri CV Recycle Investama. Ia menghasilkan omset ratusan juta rupiah per bulan dengan mengolah sampah plastik itu menjadi berbagai furnitur.

Tiga pekerja di CV Recycle Investama sedang melakukan pekerjaannya masing-masing. Foto: Nana/Suar.id

Sebelumnya, rekam jejak Andi sama sekali tidak bersinggungan dengan dunia daur ulang. Selama satu dekade, ia dikenal sebagai penyuplai buah-buahan. ‎Langkah berani untuk melakukan diversifikasi bisnis dan banting setir ke dunia pengolahan limbah ini bermula dari sebuah pengamatan sederhana di lingkungan sekitarnya.

Bisnis buahnya kemudian ia percayakan kepada sang istri sepenuhnya, sementara ia memutar haluan dan terjun ke bisnis pengolahan sampah plastik untuk disulap jadi furnitur yang cantik.

"Karena kita (Andi dan istrinya) tuh berawal dari buah. Sudah jadi supplier buah 10 tahun yang lalu, sekarang beralih ke pengolahan limbah plastik jadi urusan bisnis buah sekarang istri yang megang," ungkap Andi saat ditemui di lokasi usahanya, Kamis (17/9/2026). ‎ ‎Ia membeberkan alasan utamanya beralih profesi. Sebelumnya, dia tergugah untuk peduli pada lingkungan dengan memperhatikan limbah plastik sekitar. Dia kemudian mendapat ilham setelah memperhatikan banyaknya sampah plastik yang tidak terolah menjadi sesuatu yang berharga.

Papan daur ulang dari plastik tutup botol yang siap untuk dibentuk jadi furnitur cantik. Foto: Nana/Suar.id

"Peduli limbah ini ya karena tertarik aja gitu melihat banyak sampah plastik tapi enggak bisa menghasilkan nilai kan sayang banget ya. Makanya saya kumpulin sampah tutup botol, saya beli mesin press, kemudian saya olah, saya giling, saya buat karya sehingga jadi meja, kursi, rak yang bernilai jual tinggi," jelasnya.

Andi membanderol Rp600.000 - Rp750.000 untuk tiap produknya. Tergantung berapa luas meter furnitur yang dipesan. Misalnya untuk meja bulat ukuran satu meter, dia banderol dengan harga Rp650.000, sedangkan yang berbentuk kotak satu meter harganya Rp750.000.

Berinovasi dengan modal terbatas ‎

‎Merintis usaha daur ulang plastik di tingkat komunitas tentu membutuhkan modal dan keberanian, terlebih Andi memulainya di tahun 2022. Bertepatan dengan masa transisi pandemi COVID-19 ke era new normal. Dengan tekad bulat, ia menggelontorkan dana puluhan juta untuk pengadaan alat operasional pertamanya. ‎ ‎"Buat beli mesin press plastik itu, harganya sekitar 49 juta,” ujar pria tamatan SMA ini.

Proses pengeringan cacahan plastik. Foto: Nana/Suar.id

Seiring berjalannya waktu, dia pun mulai memutar otak untuk menekan biaya modal dan melakukan ekspansi. Dari yang awalnya hanya memiliki satu mesin giling, usahanya kini telah beranak pinak memiliki mesin konveyor, mesin sentrifugal, mesin press, hingga mesin oven. Hebatnya, beberapa infrastruktur tersebut ia rakit secara mandiri. ‎ ‎"Kita akhirnya berkembang di mesin oven, kita bikin sendiri, kita rakit sendiri. Akhirnya kita bisa menciptakan satu produk furniture yang punya value atau nilai jualnya tuh lebih tinggi dari limbah-limbah sebelumnya," tutur Andi. ‎ ‎Kapasitas produksinya pun kini tak bisa dipandang sebelah mata. Untuk mesin giling berukuran 16 inci yang ia miliki, Andi mampu mencacah ratusan kilogram plastik dalam sehari. ‎ ‎"Limbah plastikan yang siap diolah jadi furnitur atau diekspor ke pabrik tuh di-press jadi papan, ukurannya 16 inch. Sehari bisa 500 sampai 700 kilo produk cacahan dan press nya," jelasnya.

Tantangan ketersediaan sampah plastik ‎

‎Sebagai pengusaha di sektor hulu pengolahan limbah perkotaan, Andi menyerap bahan baku dari berbagai elemen sosial di bawahnya. Rantai pasoknya bertumpu pada para pemulung, tukang sampah, hingga bank-bank sampah di sekitar Jakarta Timur. ‎ ‎"Dari pemulung yang bawa ke sini. Pemulung sama tukang sampah. Dari bank-bank sampah juga. Kan kita ada ambil pengolahannya," ujar Andi. ‎ ‎Plastik-plastik tersebut ia beli di rentang harga pasaran yang cukup kompetitif, yakni Rp6.000 hingga Rp7.000 per kilogram. ‎ ‎Namun, mengamankan ketersediaan bahan baku terbukti menjadi tantangan terberat. Persaingan harga antar pengepul sangat ketat. Belum lagi, ia kerap menjadi korban kecurangan oknum pengepul nakal yang ingin meraup untung instan dengan memanipulasi timbangan.

Cacahan tutup botol plastik yang siap diolah. Foto: Nana/Suar.id

‎"Kadang juga ada dari pengepul-pengepul yang curang dengan ngirim botol isinya air, isi paku," beber Andi menceritakan lika-liku di lapangan. ‎ ‎Selain itu, proses teknis quality control juga menjadi momok yang bisa menggerus keuntungan. Andi menuturkan bahwa kegagalan paling menyakitkan dalam bisnis ini terletak pada tahap penyortiran. Pasalnya, standar pabrik peleburan sangatlah kaku. ‎ ‎"Kadang dari pihak pabrik itu spesifikasinya untuk pemilihan bahan sampahnya tuh beda-beda ya. Misalkan PET nih. Dia nggak boleh tercampur sama PVC, sama jenis-jenis lain. Itu biasanya ketolak tuh barang kita. Dan itu udah nggak berharga lagi sih," keluhnya. “Jenis PP biasanya digiling dan di jual dalam bentuk cacahan, kemudian dikirim ke pabrik. Jenis PET itu botol plastik biasanya dipress dan dijual dalam bentuk press. Terakhir HDPE ini biasanya tutup botol kita buat papan atau furnitur gitu karena warnanya kan banyak,” ucap Andi.

Perusahaannya berhasil jadi pemasok bahan cacahan untuk dua pabrik besar yaitu PT Sejahtera Bersama Plasindo di Cibinong dan PT Production Recycling Indonesia di Karawang. Tak tanggung-tanggung, perusahaan Andi bisa menyetor hingga 3 ton sampah dalam dua kali seminggu.

Cacahan plastik jadi furnitur cantik

Tidak puas hanya menjadi pemasok, Andi memutuskan putar otak. Ia menargetkan pengolahan jenis plastik HDPE, khususnya dari tutup botol, untuk dicetak ulang menjadi produk furnitur dan perlengkapan interior yang estetik dan ramah lingkungan.

"Kita biasanya nawarin ke kafe-kafe, sekolah-sekolahan yang mau pesan meja atau rak-rak sepatu buat sekolah gitu ya kita datengin satu-satu buat jemput bola," tuturnya.

Contoh meja daur ulang yang sudah jadi dan siap dipasarkan. Foto: Nana/Suar.id

Menurutnya, produk daur ulang ini memiliki daya tarik custom yang tinggi karena motif dan warna hasil leburannya tidak pernah sama antara satu cetakan dengan cetakan lainnya. ‎ ‎Keberanian mengambil risiko dari hulu ke hilir inilah yang membuat ketahanan finansial Andi melesat. Saat ditanya mengenai omzet per bulan dari perputaran sampah tersebut, ia menjawab dengan rendah hati namun mengisyaratkan angka yang cukup fantastis. ‎ ‎"Omzet sebulan itu ya bisa 100 lebih lah. Kalau saya selama usaha sih ya alhamdulillah bisa menghidupi yang kerja sama saya disini," selorohnya.

Buka lapangan kerja warga Cipayung ‎

‎Memulai bisnis di tengah ketidakpastian lantaran transisi pandemi COVID-19 ke new normal empat tahun silam sempat membuat mental Andi babak belur. "Keadaan masih kacau kan saat 2022 itu. Semua di titik itu beneran membuat mental kita beneran diuji terus digojlok terus mental kita," kenangnya. ‎ ‎Bagi pengusaha yang telah mencecap asam garam dunia bisnis selama satu dekade, ia tidak memiliki hobi khusus selain memecahkan masalah. Ia percaya bahwa kunci utama dalam berbisnis bukanlah seberapa besar modal di kantong, melainkan seberapa kuat mental menahan hantaman kegagalan. ‎ ‎"Memang susah buat menempa mental. Kalau mentalnya enggak kuat pasti bakal jatuh. Kalau mentalnya udah kuat modal kecil pun juga pasti bakal jalan. Pasti ada jalan karena kalau udah mentalnya goyang, mau ngapain juga nggak bakal bisa sih," ungkapnya. ‎Prinsip hidupnya pun sederhana, ia berpegang pada keyakinan bahwa setiap masalah pasti ada solusinya, dan sebaik-baiknya adalah kita terus menjalaninya. “Jalanin aja tiap prosesnya," imbuhnya. ‎ ‎Kini, dengan bisnis yang mulai memasuki fase stabil, Andi membawa misi sosial untuk lingkungannya. Berlokasi di wilayah RT 01 RW03, Setu, Cipayung, ia aktif menggandeng perangkat warga, termasuk Ketua RW setempat, untuk menjadikan wilayah mereka sebagai sentra kreasi pengolahan limbah plastik yang bernilai tinggi.

Ia rutin melakukan sosialisasi agar masyarakat sadar bahwa barang yang mereka buang sejatinya adalah pundi-pundi rupiah jika dipilah dengan benar. ‎"Nanti semua kita terapin ekonomi sirkular di RW 3 tempat saya tinggal. Semua kreativitas akan diwadahi bareng RW 3 ini," cetus Andi.

Suasana balai RW 3 Setu, Cipayung Jakarta Timur. Foto: Nana/Suar id

Bagi Andi, membangun bisnis bukan soal pertumbuhan usaha saja. Ia justru merasa senang jika dia bisa bermanfaat bagi masyarakat sekitar dengan cara membuka lebih banyak kesempatan kerja bagi masyarakat. Oleh sebab itu, ketika usahanya berkembang dan mulai mampu menyerap tenaga kerja, hal tersebut menjadi kebahagiaan tersendiri untuknya. “Karyawan tetap memang 4. 3 laki-laki, 1 perempuan sebagai admin. Tapi kan di lingkungan sekitar kita bisa bantu warga yang jual limbahnya ke kita, pemulung sekitar juga kita tampung kan. Ya saya senang saja karena itu salah satu tujuan saya, membuka lapangan kerja sekaligus peduli pada lingkungan,” pungkasnya.

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)

Lainnya Dalam Glowlight

Rekomendasi SUAR