Dari Hobi Hiking, Open Trip Lindang Harun Laris Manis

Dari Hobi Hiking, Open Trip Lindang Harun Laris Manis

Aktivitas pendakian ini tidak hanya soal menjalankan bisnis, tetapi juga bagaimana keberadaan wisatawan dapat memberikan manfaat dan menggerakkan perekonomian masyarakat di sekitar gunung yang sedang didaki.

Dari Hobi Hiking, Open Trip Lindang Harun Laris Manis
Dalam Artikel Ini

Berawal dari kepercayaan senior saat aktif di organisasi mahasiswa pecinta alam (mapala), Lindang Harun, 35 tahun, perlahan membangun bisnis jasa open trip pendakian gunung, sebuah usaha penyediaan jasa perjalanan wisata mendaki gunung di mana para pesertanya hadir dari berbagai latar yang berbeda.

Pengalaman membawa rombongan 85 pendaki ke Gunung Semeru pada tahun 2015 lalu, menjadi titik awal seorang pemandu gunung yang satu ini belajar mengelola perjalanan, membaca karakter para peserta, hingga memastikan keselamatan seluruh anggota rombongannya.

Dari pengalaman tersebut, kepercayaan kemudian berkembang menjadi rekomendasi dari mulut ke mulut, hingga akhirnya Lindang membangun tim open trip-nya sendiri pada tahun 2019 lalu.

“Tahun 2015 itu disuruh bawa rombongan, itu belum bawa nama usaha, bawa rombongan 85 orang karena dikasih kepercayaan oleh senior ya saya menjaga kepercayaan saja, dari situ mulai belajar manajemen perjalanan, transportasi, logistik, dan lain sebagainya,” kata Lindang ketika diwawancara, Kamis (06/08/2026).

Lindang Harun, 35 tahun, pemandu gunung dan penyedia jasa private trip dan open trip pendakian gunung.

Lindang bergabung dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mapala di Universitas Islam Indonesia (UII) atau yang dikenal dengan Mapala Unisi pada tahun 2009 lalu. Pekerjaannya sebagai pemandu gunung pun dimulai ketika ia dipercaya membawa 85 orang untuk mendaki Gunung Semeru.

Diawali Semeru

Untungnya, pendakian tersebut sukses, semua peserta berhasil turun dengan selamat. Dari sana, kepercayaan terhadap Lindang mulai berkembang. Para peserta kemudian merekomendasikan jasanya kepada teman-teman mereka yang ingin mendaki gunung, sehingga bisnis yang dirintis olehnya ini berkembang dari mulut ke mulut.

“Ternyata dari 2015 itu kemudian memanjang, dari 85 orang yang ke Semeru bareng itu saya akhirnya direkomendasikan ke masing-masing temannya, kalau mau naik gunung mereka minta ditemani saya, semua berawal dari mulut ke mulut,” jelasnya.

Pengalaman Lindang di Mapala ini menjadi bekal penting sebelum dirinya terjun ke bisnis open trip. Setelah mengikuti latihan dasar sebagai anggota, Lindang yang tengah menuntut ilmu di Yogyakarta itu tiba-tiba dihadapkan pada pengalaman yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Sejumlah petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bertugas di kawasan Gunung Merapi saat erupsi pada 2018. Foto tersebut diambil oleh Lindang Harun saat ikut membantu kondisi darurat di kawasan Merapi.

Pada 26 Oktober 2010, Gunung Merapi mengalami erupsi besar yang menewaskan ratusan orang, Lindang pun ikut turut membantu penanganan di tengah situasi darurat tersebut. Dari pengalaman itu, ia mulai mempelajari berbagai hal terkait penanganan kondisi darurat seperti proses evakuasi, pendirian dapur darurat, hingga cara menghadapi situasi yang tidak terduga selama pendakian. Pengalaman inilah yang kemudian menjadi modal berharga bagi Lindang ketika dipercaya membawa rombongan dalam jumlah besar. 

“Saya ingat jelas kala itu saya masih menuntut ilmu di Jogja, dan hati saya memaksa diri ini untuk turun serta membantu. Bahu membahu dengan Satkorlak Kemenhut dengan BPBD dengan SAR, semuanya,” ujarnya.

Berjaya sebelum COVID-19

Periode tahun 2015 hingga 2019 sendiri disebut sebagai masa di mana persaingan bisnis open trip tidak seketat seperti saat ini. Penyedia jasa open trip saat itu masih dapat dihitung jari karena minat masyarakat untuk beraktivitas di alam bebas khususnya mendaki gunung belum sebesar seperti saat ini. Kondisi itu turut membuka ruang bagi Lindang untuk mengembangkan jasanya. 

“Kalau waktu itu, orang naik gunung susah, nyari transportasi atau informasi tentang gunungnya susah, makanya orang gak mau ribet langsung ikut open trip aja,” ucap Lindang. 

Baru saja satu tahun memulai bisnis open trip secara resmi, tantangan besar langsung menghadang akibat pandemi Covid-19. Aktivitas pariwisata termasuk pendakian gunung pun terhenti. Bisnisnya itu pun terpaksa diberhentikan sementara. 

Lindang beberapa tahun kemudian baru perlahan kembali membuka perjalanan setelah mendapat permintaan dari pelanggan lama yang sebelumnya pernah mendaki Gunung Merapi bersamanya dan ingin melanjutkan pendakian ke Gunung Lawu. Dari perjalanan tersebut, bisnis yang ia rintis mulai perlahan bangkit dan berkembang secara bertahap.

“Waktu sekitar tahun 2020 Maret, awal-awal Covid, kacau semuanya, benar-benar pasang mode bertahan, semua dari bidang pariwisata khususnya bisa dibilang mati suri, itu saya berhenti dulu beberapa tahun, baru mulai lagi di tahun 2024,” katanya.

Persaingan semakin ketat sejak saat itu, jumlah perusahaan penyedia jasa open trip semakin banyak, informasi mengenai pendakian dapat lebih mudah dicari melalui media sosial. Bahkan, banyak orang yang baru mendaki gunung beberapa kali saja tetapi sudah berani untuk membuka jasa open trip

Di tengah kondisi tersebut, Lindang tetap untuk tidak memilih melakukan perang harga, tetapi mengandalkan pelayanan dan fasilitas yang diberikan kepada para peserta.

Lindang mematok tarif yang disesuaikan dengan tingkat kesulitan jalur, durasi perjalanan, dan destinasi gunung yang dituju.

Untuk pendakian gunung di Jawa Tengah seperti Gunung Merbabu atau Gunung Lawu, paket open trip dibanderol sekitar Rp850 ribu per peserta, sudah mencakup biaya transportasi.

Sementara untuk rute dengan durasi lebih panjang dan medan yang lebih berat seperti Gunung Argopuro hingga Gunung Rinjani, tarifnya mencapai Rp1,8 juta per orang guna menutupi membengkaknya operasional, kebutuhan logistik, serta tenaga tim pendamping.

“Kalau bertemu open trip lain ya selagi pelayanan dan fasilitas kita bagus ya tidak merasa tersaingi, kita masing-masing aja, punya dapur masing-masing, cuman memang tetap kalau ada insiden atau apa pun yang berbahaya kita harus tetap saling membantu,” tegas Lindang.

Dalam sekali perjalanan, Lindang rata-rata membawa rombongan berisi 15 hingga 20 orang tamu. Untuk menjaga rasio keamanan dan kenyamanan peserta, ia menerjunkan sekitar 8 orang tim lapangan yang terbagi secara proporsional.

Lindang mengombinasikan 50 persen guide berpengalaman yang dibawa langsung dari Jakarta dengan 50 persen pemandu lokal setempat, sehingga selain menjamin standar keselamatan, langkah ini juga efektif memberdayakan masyarakat di sekitar kaki gunung.

Para peserta open trip berkumpul menikmati nasi kuning yang disiapkan oleh tim Lindang Harun saat mengikuti pendakian. (Dok: Lindang Harun).

Tantangan paling berat

Dalam setiap perjalanan open trip, Lindang biasanya membawa sekitar 10 hingga 30 peserta ke gunung yang dituju. Tantangannya tidak hanya terletak pada soal teknis pendakian semata, tetapi juga bagaimana mengelola orang dengan karakter yang beragam. Sebagai ketua tim dan penanggungjawab, Lindang harus mampu membaca situasi dan menyesuaikan pendekatan kepada setiap peserta yang ada. Kemampuan dalam menyatukan berbagai karakter dalam satu rombongan ini pun sangat penting.

“Orang naik gunung itu kan suasana hatinya berubah-ubah, karena capek, ngantuk, kita harus tahu situasi, cara ngobrolnya bagaimana apakah kita harus ajak bercanda atau ngobrol biasa aja, atau harus kita semangatin terus. Ketika peserta ini nyaman, ya mayoritas selalu balik ikut open trip saya lagi,” lanjut Lindang.

Dengan jumlah peserta sekitar 10 orang, Lindang biasanya menurunkan enam orang dalam timnya, di mana tiga orang bertugas sebagai pemandu yang mendampingi para peserta, sementara tiga orang lainnya membawa berbagai kebutuhan logistik seperti tenda dan perlengkapan memasak. Tim logistik inilah yang biasanya berjalan lebih dahulu untuk mempersiapkan tenda dan memasak di lokasi camp, sehingga ketika para peserta tiba mereka dapat langsung beristirahat.

Melibatkan warga lokal

Lindang juga selalu berupaya untuk melibatkan warga daerah setempat sebagai bagian dari timnya. Menurutnya, aktivitas pendakian ini tidak hanya soal menjalankan bisnis, tetapi juga bagaimana keberadaan wisatawan dapat memberikan manfaat dan menggerakkan perekonomian masyarakat di sekitar gunung yang sedang didaki.

“Bagaimanapun juga kan kita ibaratnya bertamu, ya harus melibatkan mereka juga, menghidupkan perekonomian setempat juga, ibaratnya kita bawa uang dari Jakarta ke Wonosobo ya duit dari sini akan beredar ke sana, apalagi kalau di gunung itu kan sering kali yang paling tahu soal medannya ya warga lokal misalnya seperti cuacanya seperti apa dan lain sebagainya,” ungkapnya.

Pengetahuan navigasi darat menjadi salah satu bekal penting bagi pendaki untuk menentukan arah dan membaca medan, terutama ketika menghadapi kondisi gunung yang tidak menentu. (Dok: Lindang Harun).

Sementara itu, Lindang menyoroti fenomena di mana semakin banyaknya orang yang kini berani membuka jasa open trip meskipun belum memiliki pengalaman dan pengetahuan yang memadai. Kondisi tersebut pun cukup berisiko, lantaran mendaki gunung ini dapat dikatakan sebagai olahraga ekstrem. 

“Semua orang berhak bikin open trip, tapi ya minimal tahu dasarnya atau punya pengalaman. Karena kita bukan cuman bawa orang, tapi kita bawa nyawa orang, kita bertanggung jawab atas nyawanya,” kata Lindang.

Lindang mengatakan, risiko pendakian ini tidak boleh dianggap remeh, bahkan oleh orang yang sudah memiliki pengalaman panjang di gunung sekali pun. Ia mencontohkan, peristiwa meninggal dunianya pendaki dan pemandu gunung berpengalaman, Nirmal “Nims Dai” Purja, yang dikonfirmasi meninggal dunia setelah longsor salju menerjang rombongan ekspedisi di Broad Peak, Pakistan, pada Kamis (30/07/2026). 

Padahal, sang pendaki gunung ternama asal Inggris-Nepal tersebut sebelumnya berhasil mengguncangkan dunia, di mana pada tahun 2019 lalu ia berhasil menaklukkan 14 gunung tertinggi di dunia di atas ketinggian 8.000 meter hanya dalam waktu 189 hari. Rekor tersebut memangkas catatan rekor dunia sebelumnya yang lebih dari 7 tahun.

“Berkegiatan di alam ini risikonya besar. Mau orang memiliki pengalaman apa pun ya kita sebenarnya tetap kecil di alam. Makanya saya selalu mendorong para peserta saya ini juga untuk tidak terlalu bergantung pada saya, mereka juga harus memiliki pengetahuan dasar,” ujarnya.

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)

Lainnya Dalam Glowlight

Rekomendasi SUAR