Kehadiran buah hati memang membawa kebahagiaan tersendiri bagi calon orangtua. Banyak dari mereka kemudian bersemangat menyiapkan segala perlengkapan bayi menyambut momen tersebut.
Namun, tak seperti perlengkapan rumah tangga lainnya, perlengkapan bayi justru memiliki masa pakai yang relatif singkat.
Seiring anak yang kian tumbuh besar, banyak perlengkapan bayi itu perlahan kehilangan fungsinya. Pada akhirnya, menumpuk di setiap sudut rumah. Padahal, sebagian besar barang tersebut masih berada dalam kondisi baik dan layak digunakan.
Berangkat dari kondisi tersebut, Dewi Laras, 28 tahun, mendirikan BabyBox, sebuah usaha penyewaan perlengkapan bayi pada 2022. BabyBox mengusung konsep efisien sekaligus ramah lingkungan.
"Para orang tua itu kan kalau sama anaknya itu all out banget kan, pasti pengen berikan fasilitas yang terbaik. Nah, tapi gimana caranya itu bisa kita dapatin dengan harga yang relatif terjangkau, karena kan kita juga tahu kalau produk bayi itu lumayan mahal gitu, dan kepakainya juga cuma sebentar."
"Nah, dari situ akhirnya kita juga sadar kenapa enggak kita coba sewain aja. Kalau sewa kan jadi lebih ekonomis, lebih praktis, dan juga ramah lingkungan," katanya kepada SUAR, Selasa (17/6/2026) melalui sambungan telepon.
Konsep penyewaan di situs BabyBox sangat bervariasi, baik dari sisi durasi maupun harganya. Orang tua dapat menyewa stroller, mainan, maupun berbagai perlengkapan bayi dengan biaya yang jauh lebih rendah dibandingkan jika mereka membeli produk baru.
Dalam situs resminya, harga sewa berkisar di Rp100.000 - Rp700.000 per minggu, tergantung jenis produk. Sebuah stroller kebanggaan ibu-ibu dengan merek Bogaboo Butterfly misalnya dibanderol dengan harga sewa Rp759.000 dengan durasi waktu seminggu, atau Rp103.000 per harinya. Padahal harga baru di pasaran berkisar Rp5.299.000.
Pengalaman menyewa yang diberikan ini juga bisa menjadi bahan kaum ibu untuk menentukan jenis stroller yang cocok untuk bayinya sebelum mereka memutuskan membeli produk tersebut.
Menurut Dewi, model bisnis ini menawarkan sejumlah keuntungan. Selain menghemat pengeluaran keluarga, penyewaan juga membantu mengurangi penumpukan barang yang sudah tidak terpakai.
"Kalau dibeli, kadang hanya dipakai beberapa bulan. Setelah itu menumpuk dan akhirnya menjadi sampah. Dengan sistem sewa, penggunaan produk menjadi lebih efisien dan ramah lingkungan," katanya.

Jual beli preloved
Untuk mendukung konsep tersebut, BabyBox tidak hanya menyediakan layanan penyewaan. Dewi juga menawarkan penjualan produk preloved dan jasa pencucian perlengkapan bayi.
Menurutnya, kedua layanan tersebut menjadi bagian dari upaya memperpanjang usia pakai produk agar tidak langsung berakhir sebagai limbah.
Produk yang sudah tidak lagi memenuhi standar untuk disewakan akan dijual kembali sebagai barang preloved. Sementara itu, perlengkapan bayi dan mainan anak yang masih layak pakai dapat dibersihkan melalui layanan laundry khusus sebelum digunakan kembali.
Dengan cara tersebut, satu produk dapat dimanfaatkan oleh lebih banyak keluarga dalam jangka waktu yang lebih panjang.
BabyBox juga terus berupaya menjaga keamanan dan kebersihan dengan menerapkan proses sterilisasi yang ketat sebelum barang dikirim kepada pelanggan. Setiap produk dibersihkan, disterilisasi menggunakan cairan khusus, serta melalui proses penyinaran ultraviolet (UV) untuk menjaga agar produk higienis.
"Jadi itu benar-benar aman, bersih, wangi, dan sampai ke customer itu juga insyaAllah aman," katanya.

Tempatkan sosial dalam bisnis
Dewi menyebut konsep ini sebagai bentuk sociopreneurship, yakni menggabungkan tujuan bisnis dengan upaya menciptakan dampak sosial dan lingkungan.
Lulusan magister komunikasi tersebut mengaku mulai mengenal isu keberlanjutan ketika mengikuti sebuah program di Jepang yang membahas perdamaian, kualitas air, dan sustainability.
Pengalaman tersebut membentuk pandangannya mengenai pentingnya menggabungkan nilai sosial dengan aktivitas bisnis.
"Nah, summer program di Jepang itu tentang peace, terus tentang sustainability, dan juga tentang water quality. Jadi banyak mengangkat isu-isu sosial. Dari situ mungkin ya, kita juga di sisi lain emang aware dengan hal-hal sustainability. Jadi usaha saya pasti ada unsur sociopreneurship-nya. Bahkan tesis saya sendiri itu juga mengangkat isu sociopreneurship," katanya
Meski model bisnis penyewaan perlengkapan bayi mulai bermunculan di Indonesia, Dewi menilai peluang pasar masih terbuka lebar, terutama di luar wilayah Jabodetabek.
Dewi bercerita saat ini BabyBox melayani area Jabodetabek dengan sistem antar-jemput produk. Pelanggan cukup melakukan pemesanan melalui telepon dan tim Babybox akan mengantarkan barang hingga ke rumah, hotel, atau lokasi yang disepakati.
Permintaan biasanya melonjak saat periode libur sekolah, Natal dan Tahun Baru, serta Lebaran. Pada periode tersebut jumlah transaksi dapat mencapai 150 hingga hampir 200 pesanan per bulan. Sebaliknya, pada bulan-bulan normal permintaan cenderung lebih rendah.
Tidak sedikit pula pelanggan yang berasal dari luar Jabodetabek. Mereka biasanya menyewa stroller saat transit di Jakarta sebelum melanjutkan perjalanan ke destinasi wisata dalam maupun luar negeri.
"Misalnya dari Kalimantan atau dari Medan, mereka mau rencana liburan ke Tokyo atau misalkan mau liburan ke luar negeri yang lainnya, itu kan ada momen transit di Jakarta. Nah, itu bisa sewa ke kita, nanti kita antar di hotel atau bandaranya," kata Dewi.
Belajar kehilangan
Selama hampir empat tahun menjalankan usaha, Dewi mengaku mendapat banyak pelajaran. Salah satu pengalaman yang paling membekas justru datang dari kasus kehilangan aset.
Seorang pelanggan yang menyewa stroller beberapa waktu lalu tidak dapat dihubungi ketika masa sewa berakhir. Setelah ditelusuri, ternyata pelaku juga melakukan modus serupa terhadap sejumlah usaha rental perlengkapan bayi lainnya.
"Jadi pelajarannya adalah kami harus lebih teliti terhadap data pelanggan. Tapi dari kejadian itu juga kami jadi lebih terhubung dengan bisnis rental lainnya," ujarnya.
Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap konsumsi yang lebih bijak dan ramah lingkungan, model bisnis seperti BabyBox menunjukkan bahwa kebutuhan keluarga dan upaya mengurangi limbah dapat berjalan beriringan.
Melalui sistem sewa, satu stroller atau perlengakapan anak dapat dimanfaatkan oleh banyak keluarga secara bergantian sehingga busa memperpanjang usia pakai produk sekaligus mengurangi potensi limbah.
Hobi traveling dan train run
Di tengah kesibukannya mengurus BabyBox, Dewi Laras selalu berusaha menjaga keseimbangan dengan kehidupan sehari-hari. Di luar kesibukannya sebagai pelaku usaha, Dewi mengaku gemar melakukan trail run dan traveling, terutama ke destinasi alam. Ia menilai aktivitas tersebut tidak hanya menjaga kebugaran fisik, tetapi juga membantu melatih daya tahan mental.
Menurutnya, kondisi tubuh yang sehat membuat seseorang memiliki energi lebih besar dalam bekerja dan mengambil keputusan. Berlari di alam juga menjadi sarana untuk melepas stres sehingga pikiran menjadi lebih jernih dalam menghadapi berbagai persoalan.
"Lari di alam itu juga healing ya, bisa mengurangi stres juga. Dan kalau pikiran kita minim stres, itu kan kita lebih siap buat berkembang, lebih siap buat menyelesaikan masalah," katanya.
Sementara itu, kegemarannya traveling ke tempat-tepat baru juga turut membentuk kemampuan beradaptasi. Baginya, kemampuan berdapatasi sangat dibutuhkan sebagai pebisnis mengingat dunia bisnis selalu diwarnai tren, tantangan, dan perubahan yang terus berkembang.
Nol sampah
Di sisi lain, Dewi juga beruapaya menerapkan prinsip keberlanjutan atau sustainability dala kehidupan sehari-hari meski belum sepenuhnya menerapkan konsep zero waste. Ia berusaha memulainya dari langkah-langkah sederhana, seperti lebih bijak dalam membeli dan merawat barang.
"Mungkin kalau misalkan di lingkungan pertemanan aku, teman-teman aku melihat kayak apa ya, kayak aku tuh ya tampilannya mungkin pakai bajunya itu-itu aja," katanya.
Selain menggunakan baju yang sama berulang, Dewi juga terbiasa membeli barang elektronik bekas apabila masih memiliki kualitas yang baik.
Menurutnya, barang elektronik memiliki tingkat depresiasi yang tinggi sehingga membeli barang second dinilai lebih ekonomis sekaligus menjadi langkah kecil untuk mengurangi dampak terhadap lingkungan.
Baginya, penerapan gaya hidup yang lebih bijak dan tidak konsumtif merupakan salah satu bentuk kontribusi sederhana dalam mendukung keberlanjutan.
"Menurut aku itu mungkin apa ya small step kita buat menjaga lingkungan. Semoga sih harapannya bisa konsisten dan ya enggak cuma di aku tapi juga di lingkungan aku dan lainnya juga," katanya.