Dua Inspirasi Geliatkan Ekonomi Akar Rumput di Tengah Ketidakpastian

Transformasi kewirausahaan menjadi kunci menggeliatkan ekonomi rakyat agar tetap mandiri di tengah ketidakpastian. Dua cerita inspirasi kesuksesan UMKM binaan Bank Indonesia asal Jawa Barat membuktikannya

Dua Inspirasi Geliatkan Ekonomi Akar Rumput di Tengah Ketidakpastian
Pengelola Koperasi Pesantren Al-Ittifaq menjajakan hasil panen hortikultura dalam pekan Minggu Ceria Sarinah, 2023. Foto: Dokumentasi Ponpes Al-Ittifaq
Daftar Isi

Kecil-kecil cabai rawit. Biar kecil tapi terus menggeliat. Inilah kisah Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang terus menggeliat di tengah ketidakpastian ekonomi.

Setia Irawan masih ingat pengalaman para petani Desa Ciburial, Rancabali, Bandung Barat hampir tiga dasawarsa lalu. Ketika itu, petani yang menggarap 1.000-1.500 meter persegi lahan menjual hasil panen sendiri-sendiri ke pasar tradisional. Tak ada pendapatan tetap. Berapa lama dapur petani bisa berasap tergantung jumlah sayur yang dapat dipanen dan kualitas hasil yang sama-sama tidak menentu.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ittifaq itu putar otak. Belajar dari pengalaman penyaluran panen sayur-mayur lewat KUD Pasirjambu yang tidak terlalu berhasil, ia mengoptimalkan Koperasi Pesantren yang berdiri sejak 1997 agar berdampak bagi masyarakat sekitar, bukan hanya bagi para santri.

“Kami mencoba untuk berperan sebagai offtaker hasil panen para petani di sekitar pondok. Dengan supermarket area Jakarta sebagai pasar terbesar, hari ini kami mendistribusikan 7 ton sayur-mayur setiap hari, hasil kemitraan dengan 1.200 petani di Desa Ciburial,” ungkap Irawan dalam gelar wicara “Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu” di Jakarta, Senin (22/6/2026).

Kemitraan yang diusung Pesantren Al-Ittifaq, Irawan menjelaskan, berangkat dari kenyataan bahwa tidak semua petani memiliki kelolaan lahan yang luas. Di samping itu, ia meyakini pesantren perlu berperan lebih dari sekadar tempat belajar ilmu agama, tetapi juga ruang pertumbuhan bagi ekonomi desa. Salah satunya, dengan mengembangkan sistem agar petani tidak berjalan sendiri dalam menjangkau pasar.

“Model ekosistem kami bukan kebun, tetapi sistem distribusi hulu ke hilir. Semua produksi didasarkan permintaan pasar, dan koperasi menjamin kepastian itu. Sistem sortasi dan quality control dibuat dengan sistem distribusi cepat dan aman untuk serta menjangkau pasar modern di Jakarta,” jelasnya.

Suasana ruang penyortiran dan pengemasan Koperasi Pesantren Al-Ittifaq. Foto: Dokumentasi Ponpes Al-Ittifaq

Tak sekadar membeli produk, pendampingan dan monitoring kebun memungkinkan petani memahami pentingnya penyortiran hasil panen dan menjaga mutu. Dukungan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat yang terjalin sejak 2014 membuka kesempatan para petani mempelajari pencatatan keuangan sederhana dan pengelolaan keuangan keluarga.

“Dari 2014, kami bekerja sama dengan BI yang memiliki fokus pemerataan dan penguatan UMKM. Dengan pendampingan intensif, kami membuktikan UMKM bisa naik kelas jika mempunyai mentor dari berbagai sektor, disertai keterbukaan yang memungkinkan kami bekerja sama seluas-luasnya, mencapai kemaslahatan semua orang,” tutur Irawan.

Kopi yang kembali ke bumi

Lain cerita Irawan, lain pula cerita Rani Mayasari. Dari Desa Gununghalu, Bandung Barat, pendiri Java Halu Coffee itu belajar dari pengalaman mengelola kedai kopi bahwa keberhasilan usaha industri minuman tidak hanya membutuhkan rantai pasok yang dapat menjamin ketersediaan kopi, tetapi juga memiliki akses, modal, dan kepercayaan.

“Sebagai perempuan, masalah jaminan dan keterbatasan modal kerja seringkali membuat akses pembiayaan terasa sangat sulit untuk dijangkau,” tuturnya. Titik terang baru terjadi saat pertemuan dengan perwakilan BI pada 2023 memutuskan untuk menggandeng Java Halu Coffee sebagai mitra. Setahun kemudian, usahanya menjadi UKM binaan bank sentral. 

Melalui pameran dan business matching, Java Halu menemukan jalan bertemu dengan buyer internasional yang memungkinkan mereka menjadi pelaku ekspor. Dukungan KPW BI Jawa Barat membantu Rani mendapatkan mesin pulper dan mesin pengupasan gabah kopi. 

“BI juga mendukung kami dengan water treatment yang memungkinkan kami memasuki pasar Jepang. Pelanggan kami di sana sampai memberikan ucapan selamat, sebab zero chemical residue yang kami praktikkan lebih baik daripada sekadar sertifikat organik di kebun,” imbuh Rani.

Hari ini, pasar Java Halu telah menjangkau Eropa, Amerika Utara, Australia, Timur Tengah, Taiwan, dan Korea Selatan. Mutakhir, usaha lokal yang memberdayakan 160 kepala keluarga di Desa Gununghalu ini berhasil masuk ke pasar Jepang dengan capaian zero chemical residue

“Kami bekerja sama dengan akademisi untuk menghasilkan fermentasi kopi dengan karakter fermentasi luwak tanpa mengeksploitasi luwak. Dengan pengembangan ini, hasil panen masyarakat terus meningkat. Ibu-ibu kami ajak menanam kopi di lahan belakang rumah agar tetap berpenghasilan tanpa perlu jauh dari anak dan suami,” kisah Rani.

Sebagai produsen kopi artisan, Rani menekankan pentingnya pengelolaan berkelanjutan yang menghargai proses. Tidak hanya memberdayakan pemetik kopi perempuan, pengelolaan Java Halu Coffee memastikan tidak ada sisa produksi yang terbuang. 

“Sebanyak kopi yang kami panen, sebanyak itu pula yang harus kembali ke tanah dalam bentuk pupuk. Usaha yang baik bukan sekadar tumbuh, tetapi memastikan prosesnya membawa kebahagiaan bagi makhluk hidup sekitar,” tegasnya.

Transformasi konkret

Berkaca dari kisah inspirasi Java Halu Coffee dan Koperasi Pesantren Al-Ittifaq, kapasitas UMKM bertransformasi lewat wirausaha terpadu menjadi kunci agar ekonomi rakyat tetap menggeliat. Tujuannya, agar masyarakat tetap memiliki kemandirian dan mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah ketidakpastian global yang meninggi.

“Kita tidak bisa mengendalikan global, maka kita harus perkuat diri kita sendiri. Itulah cara kita untuk mandiri, maju. Karena itu, memajukan UMKM adalah langkah mendorong pertumbuhan dan menyejahterakan keluarga dari akar rumput,” ujar Gubernur BI Perry Warjiyo saat membuka acara kick off Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu.

Melalui program transformasi kewirausahaan yang dikoordinasikan 46 kantor perwakilan BI, pembinaan akan berorientasi pada pengukuran dampak bisnis terhadap perekonomian daerah dan nasional. Benchmark pengalaman BI mengelola lebih dari 3.000 UMKM dan 1.500 pesantren menjadi titik tolaknya. 

“Untuk bisa maju, kewirausahaan UMKM tidak cukup diajarkan di kelas. Karena itu, program ini menyiapkan 3 tahap pendidikan kewirausahaan bersertifikasi, uji coba magang, dan bantuan permodalan bagi para peserta yang berhasil lulus dalam pendidikan,” katanya.

Baca juga:

UMKM Butuh Naik Mutu Tak Hanya Naik Kelas
Artikel ini merupakan opini Guru Besar Departemen Manajemen FEB UGM sekaligus Direktur Magister Manajemen FEB UGM Kampus Jakarta, Gugup Kismono

Melalui program mentoring, transformasi kewirausahaan UMKM berangkat dari empat program. Pertama, program Cangkir Barista yang menargetkan 400 barista bersertifikasi internasional Kedua, program Citra Nusantara untuk memberdayakan 47.700 unit usaha kain wastra dan produsen aksesoris. Targetnya, terdapat 50 inovasi wastra baru dari 500 peserta yang dibimbing perancang busana terkemuka.

Selain dua program konvensional, BI juga mendorong program Air Berkah Indonesia dan Tani Berkah Indonesia, masing-masing mendorong kapasitas produksi air minum dalam kemasan (AMDK) yang diproduksi pesantren sebagai unit usaha berbasis sumber daya lokal, serta pengembangan green farming hidroponik di lahan terbatas 200-500 meter persegi.

“Keduanya minimal mampu memenuhi kebutuhan konsumsi pesantren masing-masing, lebih baik lagi jika mampu mendorong ekonomi di desanya masing-masing. Kesuksesan program ini menjadi bentuk komitmen BI dan pemerintah terhadap ekonomi kerakyatan, dan memajukan 65 juta UMKM yang menggerakkan pertumbuhan ekonomi kita,” tandasnya.

Berbasis outcome

Sebelumnya, Ekonom Senior INDEF Aviliani, usaha mendorong UMKM adalah memasukkan pelaku usaha dalam rantai pasok, sehingga akselerasi UMKM naik kelas dapat ditingkatkan.

"UMKM kita naik kelas tidak hanya dengan mendorong dari supply side, tetapi juga dari demand side. Melalui program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis, misalnya, UMKM dapat dimanfaatkan sehingga mereka menjadi pemasok bahan baku," tuturnya.

Beberapa program untuk meningkatkan partisipasi tersebut, misalnya, mendorong produk unggulan UMKM dari kabupaten. Indonesia pernah mengujicobakan program yang berhasil di negeri gajah putih Thailand ini, tetapi tidak bertahan lama karena implementasi yang terhambat di lapangan dan penetrasi pasar yang tidak direncanakan secara matang.

Dorongan lain adalah peningkatan kapasitas produksi UMKM hingga mencapai economies of scale yang memungkinkan usaha mikro menerima pesanan jumlah besar dengan kualitas setara. Meski sulit, dampak program ini jauh lebih berkesinambungan daripada menyuntikkan stimulus secara terus-menerus hingga membebani fiskal.

"Tanda UMKM naik kelas adalah model bisnis yang memungkinkan kelancaran arus kas, pendapatan yang terus meningkat, dan kreditnya di bank tidak macet. Pembinaan model bisnis UMKM berbasis outcome itulah yang saya kira perlu diperhatikan dan dievaluasi dalam strategi CSR perusahaan-perusahaan ke depan," ujar Aviliani.

Penulis

Chris Wibisana
Chris Wibisana

Wartawan Makroekonomi, Keuangan, Ekspor-Impor, Ketenagakerjaan, dan Teknologi

Baca selengkapnya