Menyesap Manis dari Pawon Dawet Ireng

Berbeda dari dawet ayu yang berwarna hijau, dawet ireng memiliki warna hitam. Ireng dalam bahasa Jawa berarti hitam. Warna hitam yang dihasilkan pada dawet ireng berasal dari sekam padi yang dibakar dan menghasilkan pewarna alami.

Menyesap Manis dari Pawon Dawet Ireng
Siti Aminah, Founder UMKM Dawet Ireng di depan kedainya di Bogor (Foto: Dokumentasi Pribadi)
Daftar Isi

Siapa bilang minuman tradisional kalah pamor sama boba kekinian? Siti Aminah membuktikan sebaliknya. Berbekal resep dari sang adik, Siti Aminah, 49 tahun akhirnya mantap menekuni usaha es dawet ireng khas Purworejo berlabel Pawon Djiwandono di Bogor.

Ketertarikannya muncul setelah melihat sang adik lebih dulu sukses berjualan es dawet di wilayah Cikarang. Selain melihat peluang usaha yang menjanjikan, Siti juga ingin membantu meningkatkan perekonomian keluarganya melalui bisnis minuman tradisional yang memiliki cita rasa khas tersebut.

Awal 2018, ia belajar dari nol, mulai dari meracik bahan, memilih santan dari kelapa segar, hingga memasak gula aren asli. Berbeda dari dawet ayu yang berwarna hijau, dawet ireng memiliki warna hitam. Ireng dalam bahasa Jawa berarti hitam. Warna hitam yang dihasilkan pada dawet ireng berasal dari sekam padi yang dibakar, dan menghasilkan pewarna alami.

“Respon masyarakat waktu itu cukup menggembirakan, cita rasa tradisionalnya beda dengan minuman lain di pasaran. Dari situ, pelanggan mulai berdatangan," kenang Siti saat berbincang di Jakarta, Selasa (28/7/2026)

Tidak hanya berbagi ilmu, sang adik juga memberikan dukungan modal sebesar Rp5 juta kepada Siti. Dana tersebut digunakan untuk membeli bahan baku, perlengkapan memasak, hingga peralatan berjualan. Berbekal modal tersebut, Siti mulai merintis usaha dengan penuh keyakinan meski belum memiliki pengalaman berbisnis.

Nama "Es Dawet Ireng Pawon Djiwandono" memiliki makna khusus bagi keluarga. Kata "Pawon" dalam bahasa Jawa berarti dapur, sebagai simbol tempat lahirnya racikan tradisional yang dibuat dengan sepenuh hati. Sementara "Djiwandono" diambil dari nama belakang anaknya, sehingga nama usaha tersebut menjadi identitas keluarga yang terus dijaga. 

Dawet Ireng menjadi salah satu menu andalan di warung tersebut. Siti memilih dawet Ireng sebagai menu utama karena belum banyak orang yang berjualan minuman khas tradisional Purworejo tersebut. 

Sedangkan, minuman lainnya seperti, cendol, cincau dan es lainnya seperti boba sudah banyak dijajakan di sekitar lingkungannya tinggal. 

“Antusiasme pembeli tinggi, karena cita rasa minuman tradisional yang ditawarkan berbeda dengan kebanyakan minuman lain di pasaran. Perlahan usaha saya semakin dikenal,” ujar dia.

Siti Aminah sedang melayani pembeli Dawet Ireng di kedainya di Bogor. (Foto: Dokumen Pribadi)

Kualitas tinggi dan Inovasi faktor penting 

Keaslian rasa menjadi prinsip utama yang terus dijaga Siti. Es dawet ireng racikannya menggunakan bahan baku sederhana namun berkualitas.

Segelas dawet ireng dengan es batu yang mengapung dalam santan segar dan diberikan lelehan gula aren rasanya tak pernah salah alamat dikonsumsi. Apalagi di tengah teriknya matahari di musim kemarau ini. 

“Alhamdulillah kalau cuaca panas selalu habis,” kata dia. 

Di tengah menjamurnya berbagai minuman kekinian seperti boba dan aneka minuman modern lainnya, Siti optimistis es dawet ireng tetap memiliki tempat di hati masyarakat. Baginya, minuman tradisional memiliki karakter yang tidak lekang oleh waktu. 

“Untuk menarik minat generasi muda, kami menghadirkan berbagai kreasi topping tanpa menghilangkan cita rasa aslinya,” ujar dia.

Sejumlah varian topping kini melengkapi menu Es Dawet Ireng Pawon Djiwandono, mulai dari durian, keju, hingga alpukat. 

Inovasi tersebut mendapat sambutan positif karena memberikan pilihan baru bagi konsumen, sekaligus membuat minuman tradisional tampil lebih menarik bagi kalangan muda.

Siti Aminah bersama Komisaris Utama Amartha Fintech, Rudiantara saat mengunjungi booth es Dawet Ireng Pawon Djiwandono di acara Amartha Run September 2025, (Foto: Amarha)

Jatuh bangun usaha 

Tak ada jalan yang selalu mulus, perjalanan membangun Dawet Ireng pun tak pernah lepas dari rintangan. Mulai dari modal yang terbatas, sepi pembeli, hingga bahan baku yang mendadak naik, tantangan selalu datang bergantian. 

Siti membeberkan, tantangan yang kerap dihadapi adalah fluktuasi harga bahan baku, terutama gula aren dan santan kelapa. Meski harga sering mengalami kenaikan, Siti memilih tetap mempertahankan kualitas rasa, dibandingkan mengurangi mutu bahan. 

Menurutnya, kepercayaan pelanggan jauh lebih berharga karena menjadi alasan mereka kembali membeli. Komitmen menjaga kualitas terbukti membuahkan hasil. Banyak pelanggan yang awalnya mencoba karena penasaran kemudian menjadi pelanggan tetap. 

Siti punya banyak cerita berkesan selama berjualan. Pernah suatu hari dagangannya ludes lebih cepat hingga beberapa pembeli terpaksa gigit jari. Uniknya, para pelanggan itu kembali lagi keesokan harinya, demi mencicipi Es Dawet Ireng Pawon Djiwandono. Tak sedikit dari mereka yang memuji kelezatan rasanya, lalu merekomendasikannya ke teman dan kerabat. “Kami sudah ada pelanggan tetap untuk event-event tertentu,” kata dia.

Selain menghadapi fluktuasi harga bahan baku, musim hujan juga menjadi tantangan tersendiri. Saat cuaca kurang bersahabat, jumlah pembeli biasanya menurun, sehingga stok yang telah dipersiapkan berisiko tidak habis terjual. Di saat seperti ini, Siti biasanya mengalihkan menu dawet ireng dengan menu lainnya di dalam warung. 

Selain itu, Siti juga mengemas dawet ireng agar layak untuk dijual kembali dengan kemasan botolan, sehingga bisa disimpan di mesin pendingin, dan freezer. Dengan begitu, daya tahan produk menjadi lebih lama. 

“Kami juga tawarkan di acara nikahan, jual juga untuk acara keluarga seperti arisan, rapat kantor atau ulang tahun pelanggan,” kata dia. 

Meski demikian, bagi Siti ujian yang paling besar datang saat pandemi COVID-19 yang menjadi masa tersuram bagi usahanya karena aktivitas masyarakat sangat terbatas. Kala pandemi, Siti jarang berjualan, kalaupun ada dalam jumlah sedikit. 

Hal tersebut membuat modal usahanya perlahan menipis bahkan habis. “Sempet terhenti saat pandemi dan itu masa-masa paling sulit,” kata dia. 

Founder dan CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra bersama Siti Aminah di salah satu stand UMKM binaan Amartha (Foto: Humas Amartha)

Bangkit bersama Amartha 

Titik balik usahanya terjadi mulai 2022 saat kondisi ekonomi dan pandemi berangsur pulih. Setelah sebelumnya memperoleh dukungan modal dari keluarga, sejak 2022 Siti mencoba melalui pinjaman lunak.

Alih-alih meminjam dana ke bank, ia memilih meminjam dana melalui Amartha, sebuah perusahaan teknologi finansial (fintech). Amartha membantu menghubungkan pelaku usaha mikro dan ultra mikro di pedesaan—terutama perempuan—dengan akses permodalan terjangkau dari para pemberi pinjaman (lender).

Melalui rekomendasi seorang teman, Siti meminjam dana 3 kali kepada Amartha dengan besaran Rp5 juta hingga Rp8 juta. 

Berbeda dengan bank, mengajukan pinjaman pembiayaan ke perusahaan fintech prosesnya mudah sekali. Mulai dari persyaratan, survei lapangan, foto, hingga persetujuan, besoknya langsung cair. "Bersyukur saya mengenal Amartha yang banyak membantu dalam mengembangkan bisnis ini,” ujar dia.

Siti Aminah, pendiri Dawet Ireng, UMKM binaan Amartha (Foto: Amartha)

Bermodalkan pinjaman tersebut, Siti tak cuma memutar roda usahanya, tetapi juga memperluas jangkauan pasar. Usaha es dawetnya yang dulu terbatas penjualannya, kini mulai berkembang pesat, terutama setelah ia membuka peluang kerja sama dengan pihak luar. 

“Peningkatan penjualan tidak hanya berasal dari pembeli langsung, tetapi juga didukung jaringan reseller yang membantu memasarkan produk ke berbagai wilayah,” ungkap Siti.

Harga yang ditawarkan pun relatif terjangkau. Es dawet ireng dijual dalam cup kecil seharga Rp5.000, cup besar Rp10.000, serta kemasan botol 350 mililiter seharga Rp15.000. 

“Permintaan biasanya melonjak saat menerima pesanan untuk acara ulang tahun, pernikahan, hingga sunatan yang menjadi momen dengan penjualan tertinggi,” kata dia.

Dukungan tersebut juga dimanfaatkan Siti untuk memperluas usaha, memperbanyak reseller, menyewa kedai, serta membayar karyawan. Saat ini usaha tersebut dikelola bersama dua karyawan, dengan bantuan anaknya dalam operasional pengantaran jarak dekat serta satu orang yang fokus menangani pemasaran. 

Kerja kerasnya terbayar manis. Es Dawet Ireng Pawon Djiwandono sukses terpilih sebagai Amartha UMKM Champion. Tak cuma sokongan modal, Siti mengaku mendapat banyak ilmu dari jejaring komunitas Amartha, mulai dari informasi pelatihan hingga peluang kolaborasi bisnis. Ke depan, ia berharap akses permodalan dan edukasi semacam ini terus terbuka lebar agar UMKM lokal bisa makin berdaya dan tangguh.

“Tentunya, semua orang memiliki harapan atas sesuatu yang dilakukan, termasuk Ibu Siti. Ia berharap supaya usahanya selalu lancar dan mendapat rezeki. Bahkan, Ibu Siti ingin supaya kedepannya ia bisa membuka cabang dengan menu beragam,” kata dia.

Baca juga:

Master Lemon yang Inovatif Jadi Primadona di Lembang
Master Lemon kini sudah dikenal masyarakat seluruh Indonesia dan menjadi salah satu produk kebanggaan Desa Cikahuripan, Lembang, Jawa Barat.

Penulis

Ridho Sukra
Ridho Sukra

Wartawan ekonomi makro dan DPR

Baca selengkapnya