Di Balik Ribuan Pelari, Ada Ekonomi UMKM yang Bergerak
Di balik lintasan 10K dan half marathon, aktivitas ekonomi turut bergerak melalui kehadiran para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjajakan produknya kepada para peserta.
Di balik lintasan 10K dan half marathon, aktivitas ekonomi turut bergerak melalui kehadiran para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjajakan produknya kepada para peserta.
Ribuan pelari yang memadati kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta Pusat, Minggu (06/09/2026), dalam Amartha 10X Run 2026, tidak hanya menjadi gambaran tingginya minat masyarakat dalam berolahraga khususnya olahraga lari. Di balik lintasan 10K dan half marathon, aktivitas ekonomi turut bergerak melalui kehadiran para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjajakan produknya kepada para peserta.
Bagi Amartha, gelaran yang memasuki tahun ketiganya ini menjadi salah satu upaya Amartha untuk mempertemukan pelaku UMKM dengan pasar yang lebih luas. Selain itu, Amartha 10X Run juga menunjukkan bahwa sebuah event olahraga bisa menciptakan ruang bagi usaha kecil untuk mendapatkan pelanggan baru dan memperkenalkan produknya.

Salah satu pelaku UMKM racikan rempah teh herbal aromatik dari Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Iyus, mengaku usahanya yang lahir pada tahun 2024 dari skala rumahan itu merasa sangat terbantu setelah dilibatkan dalam event olahraga lari yang mengusung semangat #WeGoBeyond ini.
“Bukan hanya sekadar terbantu, pokoknya benar-benar terbantu. Produk kita ini menjadi terkenal, orang itu kan melihat, setelah melihat itu mencoba, setelah mencoba ya harapannya membeli, nanti orang ya pasti balik lagi membeli lagi kalau memang butuh,” kata Iyus.
Amartha 10X Run 2026 ini diikuti oleh 5.000 pelari yang terbagi dalam dua kategori lomba yakni 10K dan half marathon. Mereka datang dari berbagai wilayah di Indonesia, bertemu di satu tempat yang sama, namun dengan tujuan yang berbeda-beda. Ada yang datang untuk menantang kemampuan diri, mengejar catatan waktu terbaik, menjadi pemenang, hingga sekadar berolahraga bersama dengan komunitas maupun orang-orang terdekat.
Ramainya peserta dari berbagai latar belakang yang berbeda pun menjadi momentum yang tepat bagi pelaku UMKM untuk menjajakan produknya di area race village.
“Biasanya saya menjual produk ini di sekitar rumah saja. Senang sekali hari ini bisa datang ke Jakarta dan bertemu banyak orang,” lanjutnya.
Usahanya ini pada awalnya merupakan hasil patungan dari lima orang untuk mengembangkan produk berbahan tanaman obat yang tumbuh di sekitar rumah. Setelah mendapatkan pendampingan dan bantuan, usaha yang semakin berkembang ini tidak hanya membuat produksi meningkat, tetapi juga membuat Iyus bisa mengajak ibu-ibu lain berjiwa usaha di sekitar tempat tinggalnya untuk ikut terlibat dalam kegiatan usahanya.
“Berkat pembiayaan dan pendampingan dari Amartha, saya dapat mengembangkan produk herbal ini. Saya juga senang karena sering diajak mengikuti bazar dan kegiatan pameran yang diadakan Amartha. Kini, saya bisa mengajak serta ibu-ibu di sekitar rumah untuk ikut membantu menjalankan usaha,” ungkap Iyus.
Sama seperti Iyus, salah satu pelaku UMKM lainnya yang turut hadir dalam Amartha 10X Run 2026, Listiawati, juga berkata hal yang sama. Pelaku UMKM yang menjajakan dagangan es teler dari Parung, Kabupaten Bogor, mengaku usahanya mengalami kenaikan omzet hingga hampir dua kali lipat setelah dilibatkan oleh Amartha dalam berbagai kegiatan seperti event olahraga lari ini.
“Ada pengaruh dari bantuan modal juga. Omzet hampir naik dua kali lipat, jadi lebih banyak,” kata Listiawati.
Area race village di mana para pelaku UMKM menjual berbagai macam produk usahanya ini baru diserbu oleh para pelari yang sebelumnya mengikuti kategori 10K maupun half marathon. Meski rangkaian acara dimulai sejak dini hari, antusiasme para pelari sudah terlihat sejak open gate dibuka pukul 04.00 WIB. Tepat pukul 05.00 WIB, pelari kategori half marathon mulai dilepas dengan batas waktu atau cut off time selama empat jam. Suasana pagi hari yang masih gelap pun tidak menyurutkan semangat dari para peserta.
Dengan perlengkapan lari yang sudah dikenakan, dan persiapan yang dilakukan masing-masing, para pelari tampak antusias memulai hari mereka dengan berlari menempuh 21,1 kilometer, sambil menantang catatan waktu terbaik diri mereka sendiri. Sementara itu, untuk kategori 10K baru dimulai pada pukul 5.20 WIB, dengan batas waktu maksimal 2 jam. Para peserta diajak berlari menyusuri sejumlah ikon Kota Jakarta, termasuk Bundaran Hotel Indonesia (HI) sampai akhirnya kembali lagi ke lokasi acara.
Peserta lari kategori 10K pada pukul 05.20 WIB semangat memulai hari dengan berlari dalam Amartha 10X Run 2026 di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat, Minggu (06/09/2026).(Video:Gema Dzikri/Suar.id).
Para pelari ini dilepas secara langsung oleh Founder dan CEO Amartha Financial Andi Taufan yang juga turut berlari dalam kategori tersebut dan Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia Erick Thohir.
Pada kesempatan tersebut, Andi Taufan menjelaskan bahwa Amartha melalui Amartha 10X Run turut membawa misi pemberdayaan dengan mengusung semangat inklusivitas. Semangat yang sama dalam menggelar Amartha 10X Run ini juga tercermin dalam perjalanan para perempuan pelaku UMKM yang terus bergerak mengembangkan kegiatan usahanya.
“Dari awal kita bikin acara ini, semangatnya itu untuk menunjukkan bahwa semua orang bahwa yang namanya limit itu cuma ada di mental. Jadi kalau misalnya kita konsisten untuk latihan untuk naikin progress, pasti bisa bikin impact. Makanya kita bikin 10X Run sebagai selebrasi untuk semua yang konsisten latihan, konsisten berusaha,” ucap Taufan.

Pelari tercepat kategori 10K berhasil menuntaskan lintasan sepanjang 10 kilometer hanya dalam waktu sekitar 32 menit. Sementara itu pada kategori half marathon, pelari terdepat mampu menyelesaikannya hanya dalam waktu sekitar 1 jam 11 menit saja. Setibanya di garis finis, para pelari ini disambut penampilan paduan suara yang membawakan sejumlah lagu untuk menyemarakkan suasana.
Lagu-lagu nasional seperti Tanah Airku dan Indonesia Pusaka turut dinyanyikan, diselingi dengan lagu modern seperti Manusia Kuat dan Laskar Pelangi. Alunan lagu ini menjadi bagian dari perayaan setelah para peserta berhasil menyelesaikan perjuangannya dalam berlari.
Meski para peserta telah menghabiskan tenaganya di lintasan lari, mereka justru masih tampak semangat dan bersenang-senang melanjutkan aktivitas dengan mengunjungi race village, di mana mereka dapat beristirahat sambil menikmati berbagai makanan dan minuman sekaligus melihat langsung produk yang dibawa oleh para pelaku UMKM dari berbagai daerah ini.
Sebagaimana diketahui, setelah 16 tahun berdiri, Amartha telah memberikan bantuan dan pendampingan terhadap lebih dari 4 juta UMKM dari 50 ribu pedesaan di Indonesia.
“Pesertanya banyak banget dan kita melihat pada ramai sekarang di race village. Race village ini kita bikin untuk semua merasakan misinya Amartha untuk berkolaborasi dengan pelaku usaha mikro, usaha akar rumput, dan mendekatkan masyarakat Jakarta dengan ekonomi Indonesia yang lebih luas yang mayoritas masih di piramida bawah di usaha mikro,” jelasnya.

Selain beristirahat dan mencoba berbagai aktivitas menarik, para peserta uniknya dapat membawa pulang ikan cupang, buah-buahan, hingga sayur-sayuran yang disediakan oleh Amartha. Para peserta yang hadir bahkan juga dapat memberikan pendanaan modal kerja kepada para pelaku UMKM mitra binaan Amartha melalui Amartha Prosper.
“Amartha 10X Run 2026 bukan sekadar tentang menyelesaikan sebuah race, tetapi tentang menciptakan pengalaman yang berarti bagi setiap peserta,” tegas Taufan.
Kehadiran UMKM dalam gelaran seperti Amartha 10X Run ini membuat para pelaku usaha dapat bertemu dengan masyarakat ataupun calon investor sehingga membuka akses terhadap pasar dengan lebih luas lagi. Akses permodalan ini menjadi salah satu fokus utama Amartha dalam mendampingi UMKM agar usaha mereka dapat terus bertahan dan berkembang, di tengah kondisi ekonomi yang beragam di berbagai daerah di Indonesia.
“Kita fokus di permodalan buat UMKM, dan kita sudah 16 tahun mendampingi UMKM terutama yang di daerah-daerah. Dengan kondisi Indonesia yang sangat beragam, bencana di Kalimantan, banyak UMKM kita terdampak juga, di Nusa Tenggara Timur juga kondisinya recovery sejak bencana, jadi kita fokus mendampingi UMKM di pelosok negeri supaya bisa pulih dan bangkit lebih kuat lagi,” ujarnya.
Semangat mengejar catatan waktu terbaik dalam berlari di dalam Amartha 10X Run ini sejalan dengan upaya para pelaku usaha untuk terus menciptakan progres dalam menjalankan kegiatan usahanya.
Seorang sport enthusiast yang turut berlomba dalam kategori 10K, Stena Wakkary menilai, tema yang diangkat oleh Amartha untuk menembus batasan ini memiliki nilai yang berbeda-beda bagi para peserta. Namun demikian, tujuan yang terpenting adalah untuk terus berkembang dan menikmati setiap usaha yang dilakukan dalam mencapai tujuannya.
“Bagi sebagian orang, go beyond berarti menyelesaikan race pertama, berlari lebih jauh, atau memperbaiki catatan waktu. Apa pun targetnya, yang terpenting adalah berani memulai, berlatih secara konsisten, dan menikmati setiap progres,” kata Stena.
Sementara itu, Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menjelaskan kondisi di dalam negeri, di mana ia mengatakan tingkat partisipasi masyarakat khususnya anak-anak muda dalam berolahraga masih cukup rendah. Namun di tengah kondisi tersebut, ajang olahraga lari seperti Amartha 10X Run ini dapat menjadi salah satu cara untuk mendorong masyarakat aktif berolahraga, sambil di saat yang bersamaan menggerakkan roda perekonomian.
“Melalui ajang lari, seperti marathon dan half marathon, kita dapat terus mendorong kesadaran berolahraga sekaligus menggerakkan roda ekonomi lokal mulai dari UMKM hingga sektor akomodasi,” jelas Erick.