Aktivitas membuat tembaga dan kuningan menghiasi keseharian masyarakat di Desa Tumang, Kukuhan Barat 01/13, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.
Selama puluhan tahun, desa ini terkenal menghasilkan hasil karya kerajinan kelas dunia. Melalui tangan terampil para perajin, lembaran tembaga dan kuningan bisa disulap menjadi berbagai karya seperti lampu gantung hias, piala dan kerajinan yang menghiasi berbagai hotel mewah, bangunan megah hingga tempat ibadah di belahan dunia.
Adalah Rumah Tempa, menjadi salah satu usaha homemade industri yang telah bertahan sejak 1990. Sebagai generasi kedua, pemilik sekaligus Founder Rumah Tempa, Dimas Bayu Saputra berada di balik perjalanan lahirnya mahakarya tembaga.

Pria berusia 30 tahun ini menceritakan usaha keluarganya itu tumbuh bukan dari guyuran modal besar, melainkan ditopang oleh semangat keluarga perajin yang ingin mempertahankan warisan keterampilan turun temurun menjadi tukang tempa tembaga khas Tumang.
“Sejak awal berdiri, usaha ini tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga menjaga kualitas pengerjaan secara manual yang menjadi ciri khas kerajinan Boyolali,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta, Rabu (29/7/2026).
Tanpa menyebut angka modal awal, ia menegaskan bisnis ini dibangun merayap dari bawah. Berbekal keahlian turun temurun, ketelitian tangan para perajin dan menjaga kepercayaan pelanggan menjadi modal utamanya.
“Prinsip saya adalah 'kepuasan pelanggan, kesenangan kami' menjadi pegangan dalam setiap proses produksi,” ujar dia.

Terus mengembangkan inovasi produksi
Dimas juga mengaku membawa semangat baru tanpa meninggalkan nilai-nilai yang diwariskan pendahulunya, dengan cara mengembangkan inovasi tanpa merubah pakem utama. Hal tersebut dilakukannya agar mampu bersaing di pasar yang semakin kompetitif.
Baginya, mempertahankan kualitas produk menjadi prioritas utama karena itulah yang membuat pelanggan terus kembali. “Rumah Tempa kini menghasilkan beragam produk kerajinan berbahan tembaga dan kuningan untuk kebutuhan interior maupun eksterior bangunan,” katanya.

Tangan terampil di Rumah Tempa tak hanya lihai membidani lahirnya vas bunga atau cangkir. Produk unggulan mereka sangat beragam mulai dari air mancur, bathtub, bowl, chafing dish, handle pintu, helm, kubah masjid, replika pintu Nabawi, ornamen masjid, lampu gantung, lampu dinding, coffee table, cermin, wastafel, vas, wall art, hingga berbagai dekorasi khusus lainnya yang dibuat sesuai permintaan pelanggan (custom-made).
Dimas menuturkan tidak hanya mengandalkan tembaga dan kuningan, Rumah Tempa juga mengolah material lain seperti besi, aluminium, dan stainless steel.
“Fleksibilitas tersebut memungkinkan kami melayani berbagai kebutuhan proyek dengan konsep custom-made, baik untuk hunian pribadi, hotel, restoran, gedung perkantoran, maupun rumah ibadah. Kemampuan menyesuaikan desain menjadi salah satu keunggulan yang membuat produk kami memiliki daya saing tinggi,” kata dia.

Tantangan di waktu sulit
Namun menggeluti bisnis di bidang seni bukan tanpa aral. Dimas mengaku ujian terberat yang kerap menghantam usahanya adalah fluktuasi harga bahan baku impor yang terus melambung tinggi.
“Belum lagi ketersediaan material yang tidak selalu stabil serta fluktuasi kualitas menjadi tantangan yang harus dihadapi agar standar produksi tetap terjaga,” kata dia.
Perjalanan usaha ini, kata Dimas, juga diwarnai berbagai pasang surut. Persaingan pasar, perubahan harga bahan baku, hingga tuntutan konsumen yang semakin tinggi menjadi bagian dari dinamika yang harus dihadapi.
“Setiap tantangan justru menjadi motivasi untuk terus berinovasi, meningkatkan keterampilan para perajin, serta memperluas jaringan pemasaran agar usaha keluarga ini tetap berkembang,” kata dia.
Bagi Dimas, kualitas bahan baku merupakan pondasi utama untuk menghasilkan produk yang mampu memenuhi ekspektasi pelanggan.
“Saya masih menggunakan pembiayaan pribadi untuk menjalankan bisnis ini dan ketersediaan bahan baku masih bisa diperoleh,” ungkap dia.
Soal harga, Rumah Tempa tergolong sangat fleksibel. Produk buatan mereka dibanderol mulai dari Rp300 ribu untuk aksesori kecil, hingga menembus angka miliaran rupiah untuk proyek hiasan arsitektural berskala raksasa.

Bangkit dan berhasil mendunia
Strategi melayani segmen ritel hingga proyek bernilai jumbo ini terbukti ampuh. Meski tak menyebut angka pasti, setiap bulannya, Rumah Tempa mampu mengantongi omzet hingga ratusan juta rupiah.
“Kemampuan memproduksi berbagai jenis kerajinan sesuai kebutuhan pelanggan membuat perusahaan mampu menjangkau berbagai segmen pasar,” tambah dia.
Hal ini menjadi bukti kalau kerajinan tradisional tetap memiliki tempat terhormat di hati rakyat khususnya di tengah menjamurnya produk-produk modern dengan harga terjangkau.
Baca juga:

Kepercayaan pelanggan yang terus meningkat turut mendorong pertumbuhan kinerja usaha.
Bagi Dimas, Rumah Tempa bukan sekadar mencari laba. Namun sebagai upaya merawat warisan agar tak tergerus zaman.
Kini, kepopuleran Rumah Tempa tak hanya dikenal dalam negeri. Karya anggun Rumah Tempa telah menjelajah ke pasar internasional, dengan pasar Eropa menjadi salah satu tujuan utama.
“Permintaan dari luar negeri menunjukkan bahwa kerajinan logam asal Boyolali mampu memenuhi standar kualitas internasional sekaligus membawa nama Indonesia di pasar global,” kata dia.