Cerita Sirly W. Nasir Temukan Harmoni Antara Kerja dan Hidup

Sirly menciptakan ritme hidup yang selaras, adaptif, sambil menghadapi tekanan kerja tanpa mengorbankan keseimbangan diri. Apa saja?

Cerita Sirly W. Nasir Temukan Harmoni Antara Kerja dan Hidup
CEO & Founder SWN PR, Sirly W Nasir dalam sebuah acara di Jakarta. (Foto: Dokumen pribadi)
Daftar Isi

Di tengah tuntutan dunia kerja yang semakin tanpa batas, konsep work-life balance kian terasa sulit untuk diwujudkan. Sirly W. Nasir justru melihatnya sebagai suatu hal yang sudah tak lagi relevan, terutama bagi para profesional di kota besar dengan mobilitas tinggi.

Bagi CEO & Founder SWN PR itu, alih-alih membagi waktu secara kaku antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, yang lebih realistis baginya adalah menciptakan sebuah hal yang disebut dengan work-life harmony, di mana Sirly menciptakan ritme hidup yang selaras, adaptif, sambil menghadapi tekanan kerja tanpa mengorbankan keseimbangan diri.

Menurutnya, di era digital dan situasi saat ini, sudah tidak ada lagi yang namanya work-life balance. Tetapi yang justru harus dilakukan, adalah bagaimana caranya mengharmonisasikan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi agar selaras.

“Saya ngobrol dengan beberapa teman-teman founders gitu kan, masih bisa gak sih work-life balance? Rata-rata jawabannya nggak, karena there’s no such thing as work-life balance anymore in this economy, digital era, dan juga segala mobilitas tinggi apalagi di kota besar kayak Jakarta,” ucap Sirly kepada SUAR di Jakarta, akhir April lalu.

Pendekatan work-life harmony ini merupakan upaya Sirly dalam mengharmonisasikan berbagai aspek kehidupan dalam satu ritme yang selaras. Dalam pandangannya, menciptakan alur yang fleksibel dan adaptif, di mana pekerjaan dan kehidupan pribadi dapat berjalan secara beriringan tanpa saling berbenturan.

“Yang harus kita lakukan adalah bagaimana caranya kita mengharmonisasikan semua itu sebenarnya,” ucap Sirly.

Kunci work-life harmony menurutnya terletak pada kemampuan setiap individu dalam menemukan dan membangun ritme kehidupannya sendiri. Setiap orang memiliki pola hidup, kebiasaan, dan tuntutan yang berbeda, sehingga tidak ada formula baku yang bisa diterapkan untuk semuanya.

Ketika sudah mengenal diri sendiri, menemukan dan menciptakan ritme pekerjaan dan kehidupan sehari-hari pun akan lebih mudah.

“Jadi kita harus tahu habit kita sendiri seperti apa? Dan bagaimana caranya kita di situ menyeimbangkan semua faktor dari rumah, kantor, dan lain sebagainya. Jadi ritme itu menurut saya sangat penting, dan membuat pekerjaan menjadi lebih smooth,” katanya.

Di balik citra yang kerap dianggap sederhana dan mudah, Sirly menegaskan bahwa bidang public relations (PR) yang digelutinya itu menyimpan kompleksitas yang jauh lebih dalam dari sekadar soal publikasi saja. Dunia PR menuntut kesiapan setiap saat, pengambilan keputusan cepat, hingga pengelolaan krisis, sehingga batas antara kerja dan kehidupan berpotensi semakin tipis.

Dengan work-life harmony, Sirly menjadikan pendekatan tersebut sebagai cara untuk tetap menjaga kejernihan pikiran, energi, dan memastikan dirinya bisa terus responsif tanpa kehilangan kendali atas diri sendiri.

Tekanan tinggi menjadi bagian yang tak terpisahkan dari profesi yang dijalani Sirly. Di industri PR, setiap keputusan bisa berdampak langsung pada reputasi klien. Dalam kondisi itu, Sirly dituntut untuk tangguh secara mental, mampu tetap tenang di bawah tekanan, serta dengan cepat dan tepat mengambil keputusan.

“Di PR itu harus tangguh, karena kita yang menjadi garda terdepan daripada reputasi seseorang, mau itu korporasi atau individual. Dan bagaimana caranya kita menjadi resilien, itu sebuah perjalanan yang butuh jam terbang dan pengalaman,” kata Sirly.

Pekerjaan sebagai seorang PR dalam praktiknya juga nyaris tidak mengenal batas waktu kerja yang pasti, lantaran tuntutannya adalah kesiapan setiap saat.

We need to be ready for any issues. Saya percaya PR tidak punya jam kerja tetap, kita harus siap kapan pun,” tegasnya.

PR sendiri menurut Sirly bukan sekadar soal membangun citra di permukaan saja, melainkan membantu individu maupun perusahaan untuk menemukan, membentuk, hingga mengembangkan potensinya secara strategis.

Peran ini membuat hasil kerja Sirly tidak selalu terlihat secara langsung, tetapi membuat kliennya bersinar itulah justru letak kepuasan tersendiri bagi Sirly, ketika ia bisa menjadi bagian dari proses pertumbuhan.

“Kita works behind the scenes, our clients yang bersinar. Saya pikir itu yang menjadi kekuatan, di mana orang lain, perusahaan, atau hasil karya kita benar-benar menjadi sesuai, and we are part of it, dan gak cuma part of the journey, tapi juga we are the integral part of it. Makanya saya tuh suka banget kalau misalnya membantu yang masih berkembang,” jelasnya.

Melukis dan menulis jurnal

Tekanan dan kompleksitas tersebut menempatkan Sirly di titik untuk harus tetap menjaga kejernihan pikiran dan kestabilan emosi, agar tetap mampu mengambil keputusan secara tepat di tengah tekanan yang terus berlangsung.

Sirly memiliki sejumlah cara sederhana yang ia jadikan sebagai “reset button”, mulai dari melukis yang memberinya ruang berekspresi dan berpikir lebih reflektif, menulis jurnal untuk merapikan pikiran saat menghadapi situasi kompleks, hingga menonton film sebagai sarana belajar sekaligus melepas penat.

Baginya, aktivitas-aktivitas ini bukan sekadar distraksi saja, melainkan bagian dari ritme harmonisasi yang membantunya kembali fokus. Salah satu hobi yang ia geluti adalah melukis. Kegiatan ini pun telah ia lakukan dengan giat sejak tahun 2020 lalu, di mana pandemi Covid-19 melanda dan memaksa seluruh aktivitas terhenti.

“Saya belajar melukis. Melukis ternyata gak segampang itu, bagaimana caranya untuk menemukan warna, komposisinya, itu gak gampang. Ada ilusi di sana, ada teknik berpikir bagaimana cara menciptakan satu warna, atau kita harus juga memikirkan teksturnya, itu buat saya perjalanan berpikir,” ungkap Sirly.

Melukis ini pun dijadikan olehnya sebagai sebuah medium untuk bercerita. Melalui kanvas, ia mengekspresikan berbagai perasaan dan kondisi yang tengah dilalui seperti kegelisahan, ketidakpastian, hingga harapan. Setiap warna dan gaya lukisannya menjadi representasi dari apa yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.

Lukisan berjudul Out of The Woods karya Sirly

Salah satu karyanya bahkan dipamerkan dalam sebuah exhibition, terinspirasi dari situasi pandemi, di mana dijelaskan olehnya lukisan tersebut menggambarkan sebuah hutan lebat sebagai metafora kondisi penuh ketidakpastian dan kesulitan yang dialami oleh banyak orang. Namun di tengah kegelapan, ada sebuah silver lining atau simbol sebuah harapan.

Lukisan berjudul Out of The Woods itu didasarkan pada perasaan berada di masa-masa yang sulit. Karena jika dilihat dari dekat, situasinya masih jauh dari kata luar biasa. Tetapi begitu dilihat secara keseluruhan, keindahan alam yang tadinya tersembunyi baru terlihat dengan jelas.

“Itu saya bikin ada 3 seri, jadi yang pertama dimasukkan ke dalam exhibition, yang kedua dan ketiga itu buat personal collection saja. Karena sebenarnya itu lebih kepada perasaan saya, it’s uncertain, dan juga walaupun lagi dalam kesusahan kita harus percaya akan ada cara,” ujarnya.

Dari proses melukis itu pula, Sirly memetik sejumlah nilai yang kemudian ia refleksikan dalam kehidupan dan pekerjaannya. Ia menyadari betul bahwa apa yang terlihat dengan mata tidak selalu merepresentasikan kenyataan sepenuhnya.

“Hal-hal yang kita lihat, itu sebenarnya bukan 100% the things that it’s really are. Jadi ketika kita melihat warna, satu warna ungu misalnya, itu adalah campuran dari warna-warna lain. Jadi kalau misalnya kita melakukan sesuatu, hasilnya juga belum tentu A,” lanjut Sirly.

Salah satu karya Sirly W Nasir, Crombo The Little Elephant

Melatih kesabaran

Melukis juga melatih kesabaran, dari proses menunggu lapisan cat yang mengering hingga melakukan koreksi berulang kali untuk mencapai komposisi yang diinginkan. Proses ini mencari cara untuk lebih membumi, memperlambat ritme, dan menghadirkan ruang untuk berefleksi.

Ada tahapan panjang yang harus dilalui dengan sabar dan konsisten. Filosofi inilah yang kemudian ia bawa ke dunia kerja, bahwa ketekunan dan proses yang dijalani dengan benar itu tidak akan mengkhianati hasil.

“Kalau kita mau sukses, atau kita painting yang bagus gitu, atau misalnya kita mau hasil yang bagus, itu ada perjalanan proses yang panjang. Dan juga prosesnya itu paling penting, di mana prosesnya tidak akan mengkhianati hasil,” katanya.

Sirly percaya bahwa proses belajar dirinya itu tidak akan pernah benar-benar berhenti. Bahkan, ia masih rutin menulis atau journaling untuk merefleksikan pikirannya. Ketika ia dihadapkan pada situasi bertekanan tinggi atau dilematis, ia memilih kembali pada fondasi utama profesinya, dengan membuka kembali prinsip-prinsip PR ethics. Dari sana, ia mencari pijakan untuk menentukan langkah yang tepat.

At the end of the day, kita juga harus tahu end game kita apa, karir kita mau seperti apa, what kind of PR misalnya yang saya mau. Saya akan kembali dengan PR ethics, karena ada tanggung jawab besar di situ,” ungkapnya.

Pada akhirnya, perjalanan Sirly di dunia PR maupun kehidupan pribadinya terus mengalami penyesuaian ritme. Ia memilih untuk tetap berpegang teguh pada proses, menjaga ketahanan diri, serta merawat harmoni dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Baca selengkapnya

Ω