Perjalanan karir Esther Sri Astuti menuju kursi Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) tidak pernah ada dalam daftar rencana hidupnya sejak awal.
Saat duduk di bangku SMA, ia mengambil jurusan Fisika, lingkungan akademik yang dipenuhi rumus, angka, dan matematika. Kala itu, ekonomi bukan bidang yang ia bayangkan akan digeluti, apalagi menjadi dosen, peneliti, hingga memimpin salah satu lembaga think tank ekonomi terkemuka di Indonesia.
Namun arah hidup sering bergerak melalui pintu yang tidak diduga. Langkah awal Esther dimulai ketika ia menjadi asisten di Lembaga Studi Kajian Kebijakan Ekonomi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro pada 1999–2000.
Pengalaman itu menjadi perkenalan pertamanya dengan dunia riset ekonomi. Setelah menyelesaikan studi sarjana ekonomi pada 2000, ia melanjutkan pendidikan magister di Pascasarjana Ilmu Ekonomi Universitas Indonesia.
Perkenalan dengan dunia penelitian
Kesempatan penting datang bahkan sebelum gelar masternya rampung. Pada 2001, ketika masih menyusun tesis, Esther diajak rekannya, Eugenia Mardanugraha yang kini dikenal sebagai Komisioner KPPU untuk menjadi asisten peneliti berbasis proyek di dua penelitian LPEM FEB UI. Dari titik itulah, ketertarikannya terhadap profesi peneliti mulai tumbuh. Ia menemukan bahwa penelitian tidak sesempit gambaran bekerja di balik meja dengan rutinitas monoton.
Bagi Esther, menjadi peneliti justru membuka ruang petualangan intelektual yang luas. Setiap proyek menghadirkan topik berbeda, klien berbeda, dan pengalaman baru. Fleksibilitas waktu, dinamika isu, hingga kesempatan berdiskusi dengan berbagai kalangan mulai dari staf teknis sampai para menteri membuat dunia riset terasa hidup dan menantang.
“Saya menjadi peneliti bukan pekerjaan yang membosankan tetapi selalu ada saja ruang untuk berkembang,” ujar dia dalam wawancara eksklusif kepada SUAR di Jakarta (25/5/2026).
Kecintaannya terhadap ilmu ekonomi juga ditempa oleh lingkungan akademik yang kuat di Universitas Indonesia. Tesisnya bahkan diuji dua sosok yang kelak menjadi Menteri Keuangan Indonesia, Bambang Brodjonegoro dan Chatib Basri.
Di bangku Pascasarjana Ilmu Ekonomi UI, Esther belajar dari sederet nama besar seperti Marie Pangestu, Miranda Goeltom, Perry Warjiyo, Purbaya Yudhi Sadewa, hingga Juda Agung. Para pengajar tersebut bukan hanya membentuk fondasi keilmuan, tetapi juga menjadi sumber inspirasi yang membuatnya semakin menikmati ekonomi sebagai disiplin ilmu.

Sebuah misi transformasi
Selepas menyelesaikan studi S2, Esther sempat bekerja di perusahaan konsultan Jepang dalam proyek penelitian JICA, meski hanya bertahan selama sebulan. Pilihannya kemudian berlabuh di Lembaga Management FEB UI. Di lembaga itu, ia membangun karir secara bertahap, mulai dari asisten peneliti junior hingga akhirnya menjadi peneliti senior.
“Pengalaman panjang tersebut membentuk kemampuan saya dalam mengelola proyek, membangun jaringan, dan memahami kebutuhan riset dari berbagai sektor,” ujar Esther.
Tahun 2018 menjadi fase penting lainnya dalam perjalanan akademiknya. Setelah menyelesaikan pendidikan doktor di Belanda, Esther kembali ke Lembaga Management FEB UI. Namun setahun berselang, sebuah keputusan besar datang. Pada 2019, ia menerima tawaran menjadi Direktur Program INDEF, lalu dipercaya menjabat Direktur Eksekutif INDEF sejak 2022 hingga sekarang.
Perubahan besar kemudian ia dorong di tubuh INDEF. Saat itu, pendapatan lembaga masih banyak bertumpu pada seminar dan workshop. Suatu hari, salah satu pendiri INDEF melontarkan pertanyaan yang menantangnya: bagaimana mungkin sebuah research think tank justru lebih banyak memperoleh pemasukan layaknya event organizer seminar?
Tantangan itu diterima Esther sebagai misi transformasi. Perlahan namun pasti, ia menggeser orientasi lembaga hingga kini sekitar 90 persen pendapatan INDEF berasal dari kegiatan riset dan program, sementara seminar hanya menyumbang porsi kecil.
Bagi Esther, kekuatan INDEF bukan hanya terletak pada proyek atau angka pendapatan, tetapi pada budaya intelektual di dalamnya.
Ia mengatakan INDEF dipenuhi anak-anak muda dengan ide kreatif, ruang demokrasi, dan kebebasan berpikir. Perbedaan pandangan antara peneliti junior dan senior dalam menyikapi isu ekonomi bukan sesuatu yang dihindari, melainkan bagian dari dinamika sehat sebuah lembaga pemikir.
Dengan semangat itu, Esther berharap INDEF tetap bertahan, bukan hanya selama 30 tahun, tetapi hingga 50 tahun, bahkan ratusan tahun mendatang.
Hobi berkebun dan memasak
Di tengah padatnya aktivitas memimpin INDEF dan berkutat dengan isu-isu ekonomi nasional, Esther Sri Astuti memiliki cara sendiri untuk menjaga keseimbangan hidup. Dunia riset yang penuh angka, analisis kebijakan, dan tenggat waktu tidak membuatnya kehilangan ruang untuk menikmati hal-hal sederhana. Memasak dan berkebun menjadi dua aktivitas yang memberi warna berbeda dalam kesehariannya, sekaligus menjadi tempat ia mengisi ulang energi.

Ia menuturkan memasak bukan sekadar urusan menyiapkan makanan, melainkan proses kreatif yang menyenangkan. Ada kepuasan tersendiri ketika bahan-bahan sederhana diolah menjadi hidangan yang bisa dinikmati bersama keluarga atau orang terdekat.
“Aktivitas di dapur memberi saya ruang untuk bereksperimen, mencoba resep baru, sekaligus menghadirkan suasana santai yang kontras dengan rutinitas pekerjaan yang menuntut ketelitian dan pengambilan keputusan cepat,” ungkap dia.
Selain memasak, Esther juga menemukan ketenangan melalui gardening atau berkebun. Menyentuh tanah, merawat tanaman, dan melihat tunas tumbuh perlahan menjadi pengalaman yang memberinya perspektif berbeda tentang proses dan kesabaran. Berkebun menghadirkan ritme hidup yang lebih lambat,sesuatu yang jarang ditemui di tengah dunia kebijakan ekonomi yang bergerak cepat dan penuh dinamika.
Hobi berkebun bagi Esther bukan hanya soal mempercantik halaman atau mengoleksi tanaman. Ada kepuasan emosional ketika tanaman yang dirawat tumbuh sehat dan berkembang. Aktivitas ini juga menjadi pengingat bahwa banyak hal dalam hidup, termasuk pekerjaan dan karir, membutuhkan konsistensi, perhatian, serta waktu untuk menghasilkan sesuatu yang baik.
Di balik perannya sebagai ekonom dan Direktur Eksekutif INDEF, Esther menunjukkan bahwa kehidupan profesional yang sibuk tidak harus menghilangkan ruang bagi passion personal. Cooking dan gardening menjadi bagian dari cerita dirinya yang lebih utuh,sisi personal yang memperlihatkan bahwa seorang peneliti ekonomi pun dapat menemukan kebahagiaan lewat aroma masakan hangat dari dapur dan hijaunya tanaman yang tumbuh perlahan di rumah.