Suharso Monoarfa Belajar Hidup Dari Jalanan

Berjalan kaki menyediakan kesempatan baginya untuk bertemu dan bersosialisasi dengan berbagai individu yang ia temui di jalan

Suharso Monoarfa Belajar Hidup Dari Jalanan
Mantan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) 2019-2024 Suharso Monoarfa. (Foto:Dokumen Pribadi)
Daftar Isi

Bagi Suharso Monoarfa, memahami keadaan masyarakat tidak melulu harus melalui dokumen tebal, angka statistik, ataupun pertemuan resmi. Mantan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) untuk periode 2019-2024 ini malah memperoleh banyak pelajaran dari diskusi ringan dengan masyarakat yang ia temui di jalan.

Mulai dari pembersih jalan, pedagang makanan, sampai juru parkir, Suharso menyatakan bahwa ia mendapatkan perspektif yang mendalam tentang kehidupan sehari-hari masyarakat, yang selanjutnya memengaruhi pandangannya dalam merumuskan kebijakan publik kala itu agar lebih tepat dan efisien.

Walaupun sudah tak lagi berperan dalam pemerintahan, Suharso kini masih terus mempertahankan rutinitas aktivitas fisik bahkan hampir setiap hari. Dia menghabiskan waktunya dengan berbagai jenis olahraga mulai dari berjalan kaki, bermain tenis meja, hingga renang. Semua kegiatan yang telah lama dijalaninya ini bertujuan untuk mempertahankan kebugaran dan kedisiplinan dalam hidupnya.

“Saya itu punya kebiasaan sih ya, membaca, lalu main tenis meja, walking exercise. Saya walking exercise itu Jumat, Sabtu, dan Minggu, hari Selasa pagi saya main ping pong, hari Rabu saya berenang, Senin dan Kamis saya puasa, dan Jumat sampai Minggu saya pasti baca buku,” ucap Suharso saat ditemui usai acara Indonesia Investor Relations Forum (IRF) di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta Selatan, Senin (11/05/2026).

Berjalan kaki bukan semata-mata aktivitas untuk menjaga kebugaran bagi Suharso. Kegiatan tersebut menyediakan kesempatan baginya untuk bertemu dan bersosialisasi dengan berbagai individu yang ia temui di jalan, tentunya dengan beragam latar belakang. Melalui obrolan yang biasa, Suharso memperoleh banyak kisah dan sudut pandang yang memudahkannya untuk lebih memahami kondisi masyarakat secara lebih dekat.

“Kalau walking exercise itu saya banyak bertemu orang, menyapa, ketemu pembersih jalan saya tegur saya sapa nanya kabarnya bagaimana? Keluarganya bagaimana? Asalnya dari mana? Sudah berapa lama kerja? Ada insight dari orang-orang seperti itu, menarik buat saya,” jelasnya.

Satu foto, seribu cerita, demikian yang orang bilang. Suharso justru malah menemukan lebih banyak cerita lagi dengan bertemu masyarakat secara langsung, mendengarkan kisah mereka, keluh kesah, hingga aspirasi. Cerita-cerita obrolan dari warga itu juga tak pernah membuatnya bosan, selalu ada hal baru yang didapat oleh seorang Suharso.

“Orang bilang, foto itu bisa menceritakan sesuatu dengan narasi dan kata-kata. Maka menyaksikan dari demonstrasi sosok-sosok orang seperti itu, that’s a lot of story, narasinya luar biasa. Satu orang seribu cerita, dia bisa cerita macam-macam, kita bisa melihat,” ujarnya.

Interaksi dengan masyarakat

Dengan wajah tersenyum, Suharso menceritakan kembali bagaimana ia berbincang dengan seorang juru parkir. Dalam percakapan tersebut sang juru parkir mengaku tinggal di dalam satu rumah bersama dengan 5 anggota keluarganya. Dalam satu minggu, mereka menggunakan beras 8 liter. Sementara untuk sarapan, anggota keluarga yang masih anak-anak biasanya hanya menyantap mi saja akibat keterbatasan ekonomi.

Mendengar kisah tersebut pun membuat hati Suharso tersentuh. 

“Terus saya tanya, sarapan pagi biasanya apa? Dia bilang anak-anak biasanya makan mi saja Pak, itu kan bikin kita terenyuh, tapi that’s life, sehingga saya mengerti,” kata Suharso.

Interaksi dengan masyarakat itu kemudian membuat dirinya diingat oleh masyarakat. Jasa Suharso yang besar pada saat menjabat sebagai menteri, ataupun dari sekadar interaksi sederhana saja meninggalkan bekas untuk masyarakat.

“Ini insight, setiap hari saya temukan yang seperti itu, dengan cerita yang berbeda-beda. Bayangkan, setiap hari, ada tukang sapu pun kenal saya selalu menyapa saya,” lanjutnya.

Percakapan dengan warga secara langsung atau dalam suasana santai sering kali memberikan pemahaman yang lebih nyata mengenai keadaan ekonomi dibanding sekadar melihat angka di tabel. Dari interaksi tersebut, ia bisa menangkap pola belanja masyarakat, kebutuhan keluarga, pengeluaran untuk barang-barang pokok, serta strategi mereka untuk bertahan di tengah situasi ekonomi yang kian terasa berat.

Data yang tampak sepele ini selanjutnya diolah menjadi konteks yang membantunya memahami arti di balik statistik resmi.

Baca juga:

Betty Goenawan Temukan Ketenangan Saat Melukis Abstrak
“Melukis bagi saya bukan sekadar hobi, tetapi juga cara untuk menemukan ketenangan di tengah kesibukan,”

Jadi acuan kebijakan

Beragam interaksi yang terjadi dengan masyarakat itu pun terekam dalam benaknya dan menjadi acuan saat merancang sebuah kebijakan. Ketika mendiskusikan topik mengenai kemiskinan atau kesejahteraan sosial, ia selalu teringat wajah dan narasi dari individu-individu yang pernah ditemuinya di jalan.

Dengan pendekatan ini, ia berusaha memastikan bahwa kebijakan yang dibuat pada saat itu benar-benar relevan dan efektif dalam menyelesaikan masalah yang ada, bukan malah menambah beban pada kelompok-kelompok yang sudah rentan.

“Pada saat waktu di jaman Bappenas, kalau saya menyusun suatu kebijakan, saya selalu teringat orang-orang itu. Jadi kalau bicara soal bagaimana mengatasi kemiskinan, saya terbayang orang-orang yang saya ajak bicara,” jelas Suharso.

Perjalanannya mencari data melalui kisah individu yang ia jumpai selama perjalanan, membawa munculnya pertanyaan baru. Ia berpendapat bahwa kelas menengah akhir-akhir ini sedang menghadapi tantangan ekonomi yang semakin serius, banyak dari mereka yang berusaha keras untuk menjaga daya beli dan standar hidup.

Ia sering bertanya-tanya mengenai keadaan masyarakat kelas menengah sekarang, dan apakah kebijakan yang dibuat oleh pemerintah saat ini telah memberikan perlindungan yang cukup bagi mereka.

“Misalkan kelas menengah yang kemudian jumlahnya turun 10 juta, kemana mereka itu sekarang? Kenapa mereka gak pernah disentuh dengan kebijakan-kebijakan yang sifatnya subsidi mereka? Kenapa yang diperhatikan cuma yang di bawah? Kenapa yang desil 4, 5, 6 ini tidak diperhatikan oleh kita,” ucapnya.

Selain mengambil pelajaran dari kisah serta pengalaman hidup orang-orang yang ia jumpai, Suharso ternyata juga memiliki rutinitas membaca yang hingga kini masih dijalani dengan serius. Ia sangat menyukai buku biografi serta buku-buku sejarah.

Ada alasan di balik itu, buku sejarah menurut pandangannya tidak hanya mencatat kejadian masa lalu, tetapi juga menawarkan beragam pengetahuan yang ia gunakan sebagai cermin untuk menyingkap permasalahan di era sekarang.

“Saya juga senang baca buku sejarah, sejarah apa saja. Karena sejarah itu menceritakan banyak hal, termasuk biografi seseorang,” tutupnya. 

Baca selengkapnya