Arti logistik tak hanya distribusi memindahkan barang dari satu truk ke truk lainnya, melainkan merupakan bagian penting rantai pasok yang menentukan pondasi dalam mendorong daya saing ekonomi suatu negara," demikian disampaikan Setijadi yang dikenal sebagai Founder dari Supply Chain Indonesia (SCI).
Pria lulusan pendidikan Sarjana dan Magister Teknik Industri dari Institut Teknologi Bandung ini mengaku memang bercita-cita menciptakan sistem logistik nasional yang efisien.
Komitmen tersebut mendorong Setijadi mendirikan Supply Chain Indonesia (SCI) di awal tahun 2010 sebagai lembaga independen yang berfokus pada pengembangan sektor logistik dan rantai pasok nasional.
“SCI didirikan untuk mendorong lahirnya berbagai kajian dan rekomendasi kebijakan yang dapat membantu menekan biaya logistik nasional secara berkelanjutan,” ujar dia dalam wawancara khusus dengan SUAR di Jakarta (1/8).
Kehadiran SCI dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan lembaga yang mampu menyediakan riset, pelatihan, dan layanan konsultasi profesional guna menjawab tantangan industri yang semakin kompleks.

Menurut Setijadi, tingginya biaya logistik di Indonesia menyebabkan distribusi barang tersendat, industri sulit bersaing, hingga harga produk di tingkat konsumen.
Selain masalah biaya, ia juga mencermati masih terbatasnya tenaga profesional yang paham seluk-beluk rantai pasok. Lewat SCI, Setijadi mencoba mengisi celah itu melalui program pelatihan, sertifikasi, dan seminar. Baginya, manusia di belakang sistem adalah kunci utama agar rantai pasok bisa lebih tangguh dan adaptif.
Setijadi berharap semakin banyak sumber daya manusia Indonesia yang memiliki kemampuan sesuai dengan standar industri modern.
"Kualitas SDM merupakan faktor utama dalam membangun rantai pasok yang tangguh dan adaptif," kata dia yang mengaku akan berulangtahun ke 55 tahun.
Pengalaman Setijadi sendiri terbilang panjang. Ia mengantongi berbagai sertifikasi nasional maupun regional di bidang keinsinyuran, manajemen rantai pasok, enterprise resources planning (ERP), serta enterprise risk management (ERM).
Ia juga banyak terlibat dalam proyek riset dan konsultasi bersama perusahaan swasta, BUMN, perusahaan multinasional, hingga kementerian dan lembaga pemerintah dan kementerian, termasuk diantaranya Kementerian Perhubungan, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, serta Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Aktif mengajar
Di luar itu, Setijadi juga membagi ilmunya dengan mengajar sebagai dosen Teknik Industri Universitas Widyatama serta aktif berdiskusi di berbagai macam forum.
Menurut dia, penyebaran ilmu pengetahuan merupakan bagian penting dari upaya membangun ekosistem logistik yang lebih maju dan berkelanjutan.
Dalam kesehariannya memimpin SCI, Setijadi selalu menekankan pentingnya fokus pada proses. Hal tersebut dilakukannya agar menghasilkan capaian yang maksimal.
"Sebuah pekerjaan tidak boleh dilakukan setengah-setengah karena hanya komitmen penuh yang mampu menghasilkan perubahan nyata," ujar dia
Nilai tersebut juga diterapkannya dalam membangun hubungan dengan mitra bisnis maupun dalam membina tim yang dipimpinnya.
Selain mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia dan efisiensi biaya logistik, Setijadi juga menaruh perhatian besar terhadap reformasi tata kelola sektor logistik nasional. Ia memandang bahwa logistik merupakan sektor yang bersifat multisektoral sehingga memerlukan koordinasi erat antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
“Melalui SCI, saya akan terus mendorong lahirnya rekomendasi kebijakan yang mampu memperkuat kolaborasi lintas sektor demi menciptakan sistem logistik yang lebih efektif,” ungkap dia.
Bagi Setijadi, Supply Chain Indonesia bukan hanya sebuah organisasi, tetapi juga sebuah warisan yang ingin ia tinggalkan bagi generasi muda. Ia berharap SCI terus berkembang menjadi pusat pemikiran, inovasi, dan pengembangan kompetensi yang mampu melahirkan pemimpin-pemimpin baru di bidang logistik dan rantai pasok.
Dengan demikian, cita-citanya agar daya saing logistik Indonesia naik kelas dan mampu bersaing ditingkat global dapat terus diwujudkan oleh generasi penerus.

Luncurkan platform ruang logistik
Pemanfaatan teknologi juga tak luput dari perhatiannya. Pada 2020, SCI meluncurkan platform digital bernama Ruang Logistik. Hal ini dilakukan untuk memudahkan masyarakat, mulai dari praktisi, mahasiswa, hingga pelaku usaha mengakses pelatihan dan persiapan sertifikasi secara daring.
Langkah ini diambil karena ia melihat masih sedikit pekerja logistik yang mengantongi sertifikasi kompetensi sesuai standar pemerintah. Padahal, sertifikasi penting untuk memastikan keahlian seseorang di lapangan.
“Transformasi digital menjadi solusi untuk menjangkau lebih banyak peserta tanpa dibatasi oleh lokasi geografis. Melalui Ruang Logistik, pelatihan dan proses persiapan sertifikasi dapat dilakukan secara lebih fleksibel, efisien, dan mudah diakses oleh para profesional, mahasiswa, maupun pelaku usaha yang ingin meningkatkan kompetensinya di bidang logistik dan rantai pasok,” ujar dia.
Ia menilai peningkatan kualitas SDM merupakan fondasi utama dalam membangun sistem logistik nasional yang lebih kompetitif. Pada akhirnya, kembali lagi ke soal SDM. Dengan makin banyaknya tenaga kerja yang terlatih dan tersertifikasi, dunia usaha mendapatkan jaminan kualitas yang pada akhirnya bisa mendongkrak efisiensi dan produktivitas nasional.
"Dengan semakin banyak tenaga kerja yang tersertifikasi, dunia usaha akan memperoleh sumber daya manusia yang memiliki standar kompetensi yang jelas, sehingga mampu meningkatkan produktivitas, efisiensi operasional, serta kualitas pengelolaan rantai pasok," kata dia.