Setelah puluhan tahun berkiprah di dunia jurnalistik, media, dan diplomasi, Suryopratomo kini memasuki babak baru dalam perjalanan kariernya. Pada 2026, mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Singapura itu dipercaya memimpin PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL), perusahaan produsen ban terbesar di Asia Tenggara.
Di tengah tanggung jawab memimpin perusahaan manufaktur yang telah berusia 75 tahun itu, pria yang akrab disapa Tommy itu memiliki satu rutinitas yang selalu ia usahakan untuk dijaga, yakni bersepeda.
Bagi Tommy, bersepeda bukan sekadar olahraga. Aktivitas tersebut menjadi cara menjaga kebugaran sekaligus melatih fokus dan konsentrasi di tengah padatnya aktivitas sehari-hari.
"Saya senang naik sepeda," kata Tommy kepada SUAR ketika ditemui di kantor pusat Gajah Tunggal, di kantornya di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Pusat, Selasa (9/6/2026).
Bersepeda telah menjadi bagian dari rutinitas akhir pekannya. Setiap pekan, ia berusaha meluangkan waktu untuk mengayuh sepeda dengan jarak tempuh sekitar 25 kilometer. Rute yang dipilih tidak jauh dari kawasan tempat tinggalnya di Jakarta Selatan.
"Jadi tiap weekend saya naik sepeda, saya coba di sini 25 kilo lah. Tapi di sekitar rumah saja, di sekitar rumah saya di Jakarta Selatan, di Ragunan saya naik sepeda ke Ragunan, ke Kemang, mutar-mutar," jelas Tommy.
Meski terlihat sederhana, menurut Tommy, bersepeda di Jakarta memiliki tantangan tersendiri. Kepadatan kendaraan dan kondisi jalan membuat pesepeda harus selalu waspada. Karena itu, aktivitas tersebut sekaligus menjadi latihan untuk menjaga konsentrasi selama berada di jalan.
"Trafiknya itu kan padat sekali sementara jalannya juga perlu harus hati-hati. Tapi saya naik sepeda," tuturnya.
Di tengah meningkatnya tren olahraga baru di kalangan profesional dan eksekutif, Tommy juga mengaku beberapa kali diajak teman-temannya untuk bermain padel. Olahraga raket yang belakangan populer di Indonesia itu banyak digemari oleh rekan-rekannya yang pernah tinggal dan bekerja di Singapura.
"Kadang-kadang ada teman-teman saya, teman-teman yang di Singapura sudah banyak yang pulang juga. Kalau mereka lebih senang main padel," ujarnya.
Namun, meskipun sesekali mengikuti ajakan tersebut untuk bersosialisasi, ia menegaskan bahwa bersepeda tetap menjadi olahraga yang paling konsisten dijalankan.
"Iya kan jadi saya kadang-kadang diundang mereka untuk ikut sekedar sosialisasi. Tapi yang saya tekuni adalah naik sepeda karena saya harus seminggu sekali paling tidak untuk bisa naik sepeda atau ketika hari libur nasional," katanya.

Belajar Fokus dari Jalanan Jakarta
Tommy menjelaskan bahwa nilai utama dari bersepeda justru terletak pada pelajaran tentang konsentrasi dan kewaspadaan. Pengalaman itu diperolehnya dari seorang pelatih saat dirinya masih berada di Singapura.
Ketika ditanya apakah bersepeda juga menjadi sarana mencari inspirasi atau ide baru seperti yang sering dirasakan banyak pesepeda, ia mengaku lebih memilih memusatkan perhatian pada keselamatan selama berada di jalan.
"Ya sama juga. Tapi saya kalau naik sepeda kan saya diingatkan oleh orang Singapura trainer ya, dia bilang tolong konsentrasi ke jalan. Karena sedikit saja pecah konsentrasi, itu bahaya," bebernya.
Menurutnya, ukuran ban sepeda yang relatif kecil membuat pengendara harus selalu memperhatikan kondisi jalan. Lubang, kendaraan yang berhenti mendadak, hingga kepadatan lalu lintas menjadi faktor yang tidak boleh diabaikan.
"Sedikit saja pecah konsentrasi itu bahaya naik sepeda itu saya
lihat. Harus benar-benar (konsentrasi) dan sekali lagi sepeda itu kan ban kecil kan? Sementara di depan banyak lubang atau banyak mobil berhenti gitu karena itu saya ya enjoy lah. So far sih oke," ujar dia.
Tommy juga mengaku, ia bukan tipe pesepeda yang mengejar target waktu tertentu."Saya enggak mengejar kecepatan, karena saya lebih untuk kardio. Makanya 25 kilo, 30 kilo okelah (cukup)," ujarnya.
Lebih jauh dia bercerita, pada beberapa kesempatan, terutama saat akhir pekan, ia juga mencoba menjelajahi rute yang lebih panjang. Dari rumahnya, ia terkadang bersepeda menuju kawasan Kuningan hingga Thamrin dan memanfaatkan jalur Car Free Day yang tersedia.
Dan meski bebas kendaraan, situasi jalanan malah kurang kondusif. "Banyak orang di jalan tuh malah susah. Saya takut malah kebanyakan orang," kelakarnya.
Rutinitas tersebut menjadi cara Tommy dalam menjaga keseimbangan di tengah aktivitas bisnis yang padat. Baginya, bersepeda bukan tentang kecepatan ataupun jarak tempuh yang ekstrem, melainkan tentang menjaga kesehatan, melatih konsentrasi, dan menikmati perjalanan.

Dari Jurnalis, Diplomat, hingga Presiden Direktur
Perjalanan karier Tommy memasuki babak baru pada 2026 ketika ia ditunjuk sebagai Presiden Direktur PT Gajah Tunggal Tbk melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar di Jakarta pada 22 Mei 2026 lalu.
Keterlibatannya dengan kelompok usaha Gajah Tunggal sebenarnya telah terjalin jauh sebelum dirinya dipercaya memimpin perusahaan. Hubungan tersebut bermula menjelang akhir masa tugasnya sebagai Duta Besar RI untuk Singapura.
"Waktu itu, saya bertemu dengan founders dari PT Gajah Tunggal. Dan ketika itu beliau meminta saya untuk membantu," kata Tommy.
Menurut dia, permintaan tersebut awalnya tidak berkaitan langsung dengan bisnis ban. Ia diminta membantu kegiatan di bawah naungan kelompok usaha Gajah Tunggal, khususnya organisasi United in Diversity (UID) atau Upaya Indonesia Damai.
Organisasi tersebut didirikan pasca-krisis 1998 oleh almarhum Aristides Katoppo dengan dukungan para pendiri Gajah Tunggal. Tujuannya adalah membangun dialog, kolaborasi, dan rasa saling percaya di tengah berbagai tantangan sosial dan politik yang dihadapi Indonesia saat itu.
Tommy mengaku memiliki kedekatan dengan organisasi tersebut, karena pernah terlibat dalam penyusunan program kepemimpinan yang mempertemukan pemerintah, dunia usaha, dan organisasi masyarakat sipil.
"Bahkan saya yang membuat program leadership untuk membangun kolaborasi di antara tiga sektor: pemerintah, dunia usaha, sama NGO, untuk sama-sama memikirkan bagaimana membuat Indonesia ke depan yang lebih baik," ujarnya.
Keterlibatan itu kemudian berkembang menjadi berbagai penugasan lain hingga akhirnya ia dipercaya memimpin Gajah Tunggal. "Dalam perjalanannya kemudian ada penugasan lain termasuk adalah saya dipercaya untuk menjadi Presiden Direktur di PT Gajah Tunggal Tbk ini," jelasnya.
Baca juga:

Sebelum memasuki dunia manufaktur, Tommy telah menorehkan perjalanan panjang di industri media. Lulusan Fakultas Peternakan IPB itu, memulai karier sebagai jurnalis di Harian Kompas dan kemudian dipercaya menjadi Pemimpin Redaksi Kompas pada 2000–2008.
Di lingkungan Kompas Gramedia, ia juga pernah menjabat sebagai Wakil CEO Kompas Gramedia Group pada 2005–2008. Setelah itu, kariernya berlanjut ke Metro TV sebagai Direktur Pemberitaan pada 2008–2016 dan kemudian menjadi Direktur Utama Metro TV pada 2017–2019.
Pada 2020, ia memasuki dunia diplomasi setelah dipercaya menjadi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Singapura hingga Desember 2025.
Meski berasal dari dunia media dan diplomasi, Tommy mengaku tidak asing dengan visi yang dibangun para pendiri Gajah Tunggal. Menurutnya, selama bertahun-tahun ia telah memahami gagasan dan semangat yang ingin dijaga oleh perusahaan tersebut.
Ia melihat Gajah Tunggal sebagai bagian dari industri manufaktur nasional yang memiliki sejarah panjang dan berperan penting dalam perkembangan industri Indonesia.
"Indonesia itu sebetulnya mempunyai industri-industri yang dibangun sejak lama. Termasuk Gajah Tunggal ini. Gajah Tunggal ini kan sejak tahun 1951, jadi sudah 75 tahun," ujarnya.
Baca juga:

Menurut Tommy, keberadaan perusahaan-perusahaan manufaktur yang telah bertahan puluhan tahun merupakan aset penting bagi Indonesia. Karena itu, saat diminta bergabung, ia melihat kesempatan tersebut sebagai tantangan sekaligus tanggung jawab.
"Menurut saya ini adalah sesuatu yang sangat menantang. Bagaimana industri yang sudah begitu lama dengan sejarah yang begitu panjang, ini memang harus kita jaga karena sekali lagi Indonesia ingin menjadi negara industri," katanya.
Pandangan itu pula yang akhirnya mendorongnya menerima amanah baru di Gajah Tunggal. Baginya, perpindahan dari dunia media dan diplomasi ke industri manufaktur bukan sekadar pergantian profesi, melainkan bagian dari upaya menjaga keberlanjutan industri nasional yang telah tumbuh selama beberapa generasi.
"Jadi di sana, keterpanggilan saya lebih kepada bagaimana menjaga kelanjutan dari industri ini," ujar pungkasnya.