Margareta Astaman Merasa Lebih Hidup dengan Traveling

Traveling mengajarkan CEO PT Nusantara Segar Global atau Java Fresh itu membangun cara pandang yang lebih humanis dan menghargai hidup.

Margareta Astaman Merasa Lebih Hidup dengan Traveling
CEO PT Nusantara Segar Global atau Java Fresh Margaretha Astaman saat berbincang dengan suar.id di Jakarta, 17 April 2026. (Foto: Ahmad Afandi / SUAR)
Daftar Isi

Di tengah kesibukannya mengurus sebuah perusahaan eksportir buah tropis Indonesia, Margareta Astaman mengaku bahwa traveling tetap menjadi bagian penting dalam hidupnya.

Traveling bagi perempuan yang akrab di sapa Margie ini bukan cuma aktivitas tambahan, melainkan ruang untuk membaca manusia, menemukan perspektif baru, sekaligus menjaga dirinya tetap dekat dengan cerita-cerita kecil yang sering luput diperhatikan orang lain.

Dari kebiasaannya berpindah kota, masuk ke desa-desa, dan mengamati kehidupan orang lain, CEO PT Nusantara Segar Global atau Java Fresh itu perlahan membangun cara pandang yang kemudian membentuk karier, tulisan, bahkan keputusan-keputusan penting dalam hidupnya.

“Aku memang senang jalan-jalan,” kata Margie ketika ditemui SUAR, Jumat (17/4/2026).

Menurut Margie, hal tersebut terdengar sederhana, namun, bagi dirinya, traveling merupakan benang merah dari hampir seluruh fase hidup perempuan yang dikenal sebagai sosok ceria dan gigih itu.

Di tengah aktivitasnya sebagai eksportir buah tropis Nusantara, Margie mengaku tetap mempertahankan kebiasaan bepergian, membaca, menulis, dan mengamati orang-orang yang ditemuinya di sepanjang jalan.

“Aku suka observasi. Makanya buku traveling-ku judulnya Stalking Indonesia. Kayak nge-stalk gitu, ngulik-ngulik hal-hal yang enggak penting,” ujarnya sambil tertawa.

Namun justru dari hal-hal kecil itulah Margie seolah menemukan hidden gem yang sesungguhnya dengan mendapatkan banyak cerita. Ia senang memperhatikan cara orang berbicara, kebiasaan masyarakat lokal, cara pasar bekerja, hingga bagaimana orang-orang menjalani hidup dalam keterbatasan maupun kesederhanaan.

“Sisi sosialnya itu yang menarik. Seninya di situ,” imbuhnya.

Ketertarikan terhadap manusia dan cerita sehari-hari sebenarnya sudah tumbuh sejak lama. Sebelum berkecimpung di dunia ekspor hortikultura, Margie lebih dulu hidup di industri media digital selama hampir sepuluh tahun. Ia menempuh pendidikan Communications dengan peminatan Publishing dan Journalism di Nanyang Technological University (NTU), Singapura.

“Aku memang dari dulu suka nulis,” ucap Margie.

Selepas kuliah, ia pun membangun karier di sejumlah perusahaan media seperti Reuters yang digelutinya sejak tahun 2008, MSN, hingga Yahoo. Dunia jurnalistik memberinya kesempatan bertemu banyak orang dan membaca berbagai dinamika sosial. Namun seiring waktu, Margie merasa ada sesuatu yang perlahan berubah dalam industri media digital.

“Aku merasa waktu jadi jurnalis, terutama ketika sudah jadi editor, pasar itu sangat menentukan apa yang kita tulis,” katanya.

Dia merasa bahwa ritme media digital yang semakin cepat membuat ruang untuk turun langsung bertemu orang semakin sempit. Padahal, bagian itulah yang justru paling ia sukai dari dunia jurnalistik.

Makna berserah diri ketika traveling

Perjalanan hidupnya kemudian berubah ketika ia mulai sering traveling bersama teman-temannya. Dari singgah di banyak kota itu, mereka melihat peluang di sektor hortikultura, khususnya ekspor buah tropis Indonesia. Hingga lahirlah Java Fresh di tahun 2014.

“Nah waktu jalan-jalan itu kita lihat ternyata demand-nya (permintaan terhadap buah tropis) ada. Akhirnya ya sudah kita seriusin,” ujarnya.

Keputusan tersebut membawa Margie masuk ke dunia yang sama sekali baru baginya. Ia yang sebelumnya terbiasa bekerja di depan layar komputer mendadak harus masuk ke kebun, packing house, hingga belajar memahami kualitas buah dengan segala tetek bengeknya.

“Dulu aku bahkan enggak tahu phytosanitary itu apa,” cetusnya.

Phytosanitary merupakan sertifikat wajib untuk memastikan produk pertanian aman diekspor ke negara tujuan. Ketidaktahuannya terhadap dunia pertanian justru membuatnya banyak belajar langsung dari petani dan pekerja desa yang tidak sungkan untuk mengajarinya sedari awal.

“Mereka kira aku mahasiswa KKN,” kelakarnya.

Margareta alias Margie menikmati perjalanannya di Niseko Annupuri International Ski Area Hokkaido Jepang. Foto: Dokumentasi Pribadi

Berangkat dari situ, traveling bagi Margie perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar hobi. Perjalanan membuatnya bertemu orang-orang dengan cara pandang hidup yang sangat berbeda dibanding lingkungan profesional perkotaan yang selama ini ia kenal.

“Ketemu petani, sopir truk, ibu-ibu packer, itu cerita semua. Cerita hidup. Aku malah merasa lebih jurnalis sekarang (dibanding yang dulu),” terangnya dengan mata berbinar.

Margie mengaku bahwa salah satu pelajaran terbesar yang ia dapat dari perjalanan dan interaksinya dengan masyarakat desa adalah soal kepasrahan terhadap hidup. Ia melihat para petani memiliki hubungan yang berbeda dengan ketidakpastian.

Di dunia profesional perkotaan, kata dia, hampir semua hal diukur dengan target, angka, dan prediksi. Sementara dalam kehidupan pertanian, manusia hidup berdampingan dengan sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya dikendalikan, yakni alam dengan segala lakunya.

“Aku merasa belajar banyak dari mereka. Cara mereka melihat kesempatan, cara mereka berserah sama alam,” tuturnya.

Ia mengingat satu pengalaman ketika Java Fresh harus memenuhi target pengiriman 10 ton salak menggunakan kontainer laut. Saat dicek, jumlah buah yang tersedia diperkirakan hanya sekitar tujuh ton. dia pun panik karena khawatir pengirimannya gagal.

Namun berbeda dengan Margie yang panik luar biasa, para petani justru tenang. Kelewat tenang dan berserah.

‘Kalau memang belum penuh berarti belum waktunya ekspor, mereka bilang begitu,” kenangnya.

Keesokan harinya, jumlah buah yang terkumpul ternyata tepat memenuhi target pengiriman. Pengalaman itu membuat dia menyadari bahwa masyarakat desa memiliki ketenangan yang berbeda dalam menghadapi hal-hal di luar kendali manusia.

“Buat mereka, kita sudah doa, sudah usaha, berarti dikasih sama Tuhan. Ya harus bersyukur,” katanya.

Cara pandang tersebut perlahan memengaruhi hidup Margie sendiri. Traveling dan interaksi dengan masyarakat desa membuatnya belajar menerima ketidakpastian tanpa terus-menerus diliputi kecemasan.

Menerbitkan buku

Selain traveling, Margie juga tetap mempertahankan hobi menulis. Hingga kini, ia telah menerbitkan tujuh buku dengan tema yang beragam, mulai dari pengalaman hidup di Singapura, identitas Chinese Indonesian, pengalaman menjadi editor muda, hingga novel bertema tekanan sosial terhadap perempuan lajang.

Salah satu bukunya yang cukup personal adalah The Overqualified Leftover Club, yang ditulis bersama rekannya, Inayah Wahid yang merupakan putri bungsu Gus Dur (Abdurrahman Wahid).

Buku itu lahir dari obrolan mereka saat pandemi COVID-19 mengenai pengalaman perempuan usia akhir 30-an yang terus mendapat tekanan sosial karena belum menikah. Dia juga menjelaskan bahwa penulisan buku ini menggunakan metode ‘riset berbasis ghibah’. Pasalnya, mereka mengemas cerita nyata berdasarkan pengalaman real mereka dalam menghadapi tekanan sosial menjadi sebuah cerita yang ringan dan jenaka.

Buku The Overqualified Leftover Club yang merupakan buku personal bagi Margie. Foto: Dokumentasi Pribadi

Margie kemudian mewawancarai 16 perempuan dari berbagai profesi, mulai dari profesor, arsitek, hingga pebisnis. Dari situ muncul berbagai cerita absurd yang kemudian diolah menjadi novel.

“Ada profesor yang pernah dibawa ke dukun rukyah karena dianggap ada jin yang bikin belum nikah,” katanya sambil tertawa.

Meski mengangkat isu sosial, gaya tulisan Margie cenderung ringan dan penuh humor. Sama seperti caranya menikmati perjalanan, ia tampaknya lebih suka mengamati hidup dengan rasa penasaran dibanding menghakimi orang lain.

Perjalanan dari sudut pandang Margie justru menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari ritme kerja dan hidupnya. Aktivitas yang mengharuskannya berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain membuatnya terbiasa berada di luar ruang kantor dan lebih sering berinteraksi dengan banyak situasi lapangan.

Di tengah mobilitas itu, ia justru merasa semakin mudah menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan hal-hal personal seperti membaca maupun menulis.

“(Ketika traveling) Malah lebih bisa ngatur waktu ya, waktu buat nulis, buat baca. Selama traveling tuh masih lebih bisa baca, terus pas waktu senggang nulis, jadi dapat cerita-cerita juga dari teman-teman. Kayak malah lebih bisa ngatur sekarang sebenarnya,” jelas dia.

Penulis

Baca selengkapnya

Ω