Hidup Eros Djarot Setelah 'Badai Pasti Berlalu'

Setelah semua badai berlalu dalam hidupnya, Eros kini menghabiskan waktu sehari-hari dengan menulis. Jilid pertama autobiografinya telah diluncurkan pada Oktober 2025 lalu

Hidup Eros Djarot Setelah 'Badai Pasti Berlalu'
Eros Djarot saat ditemui tim SUAR di kediamannya di Jakarta, Jumat (10/4/2026). (Foto: Chris Wibisana / SUAR)
Daftar Isi

Pagi masih terlalu dini ketika dering telepon terdengar di apartemen flat Eros Djarot di Jerman, suatu hari di penghujung Maret 1976. Tatkala diangkat, suara sang kakak, Slamet Rahardjo terdengar di ujung telepon. "Dik, kamu menang Piala Citra!"

Lantaran masih setengah mengantuk, Eros tidak memahami apa yang dimaksud sang kakak. Ia sama sekali tidak tahu nama penghargaan itu, pun tidak mengetahui apa artinya. Slamet tidak dapat menjelaskan lebih panjang. Ia hanya mengatakan piala itu serupa Academy Award versi Indonesia. Jangankan bangga, Eros pun tidak memahami apa artinya.

Beberapa waktu kemudian, Eros bertolak ke Paris, Prancis, dan bertemu sastrawan Ramadhan K.H. yang sedang bermukim di Kota Cahaya itu. Saat menceritakan ia memenangkan Piala Citra untuk Penata Musik Terbaik dalam film Kawin Lari, Ramadhan berdecak kagum bukan kepalang.

"Wah, gila! Kamu harusnya bangga dengan penghargaan ini," cetus Ramadhan. Ia pun menceritakan panjang-lebar tentang Piala Citra sebagai salah satu warisan Bapak Perfilman Indonesia Usmar Ismail, serta signifikansi penghargaan itu bagi insan layar putih di Tanah Air. Saat itu, barulah Eros memahami.

"Tetapi bagi saya, ya, sudah. Saya tidak merasa bangga, karena scoring film itu saya kerjakan karena terpaksa, dan karena saya ditantang untuk menyelesaikan, padahal saya tidak pernah merasa mengerti musik," kisah Eros kepada SUAR, Jumat (10/4/2026).

Cerita Eros menjadi penata musik film besutan sutradara kawakan Teguh Karya itu pun tak kalah unik. Ia bahkan mengaku tidak terlalu antusias saat diajak abangnya, Slamet Rahardjo, menyaksikan screening perdana Kawin Lari. Namun, karena dibujuk, Eros pun meluangkan waktu karena Slamet turut menjadi pemeran teraju film itu.

Saat pemutaran, Eros mengkritik adegan-adegan yang menurutnya tidak pas. Tak nyana, sang sutradara mendengarnya dan serta-merta berdiri, "Siapa yang ngomong itu?" Rol film berhenti berputar. Ruangan senyap. Eros pun mengacungkan tangan. "Saya, Pak Steve," ucap Eros meminjam nama kecil Teguh, Steve Liem.

"Oh, elu. Sudah, deh, jangan banyak omong. Coba buktikan. Lu bikin musiknya," cetus Teguh.

Secara spontan, Eros mengiyakan tantangan Teguh walau masih melongo. "Saya yang bilang OK, yang stress Mas Slamet," ucapnya terkekeh.

Sang kakak menarik Eros keluar dari ruang screening dan mengingatkan, "Kamu nekat. Kamu ngerti enggak, sih? Kamu harus bikin musik filmnya, lho!"

Eros menjawab, "Mas, aku ditantang depan orang banyak, masa saya bilang enggak? Saya 'kan enggak enak, dong. Itu satu tantangan, jadi saya harus bilang ya." Slamet pun pasrah. "Ya, sudahlah, kamu buktikan beneran, ya. Jangan bikin malu saya,"

Eros Djarot saat muda, ca. 1977 (Dokumentasi: Irama Nusantara)

Eros pun putar otak untuk mulai menyusun komposisi musik film dalam waktu singkat. Ia membanding-bandingkan scoring sejumlah film Indonesia yang saat itu dominan digarap maestro Idris Sardi dengan gaya orkestra. Namun, karena terjepit tenggat waktu, Eros mantap memilih menggunakan style yang sama sekali berbeda.

Ia mengambil konsep yang memadukan irama diatonik dan pentatonik dari langgam Keroncong Tugu. Ketika jadi, musik itu memang terdengar agak lain dari scoring film sezaman. Di luar dugaan, Teguh Karya justru setuju dengan musik itu, termasuk theme song utama film yang diambil Eros dari lagu yang ia susun untuk kekasihnya.

"Padahal sebetulnya, semua komposisi musik film itu akal-akalan saya saja. Andalan saya kreativitas. Tetapi karena saya menang Piala Citra di usia 26 tahun, saya dianggap beneran mengerti musik," tuturnya.

Berkat motivasi Fatmawati

Jika sejarah hidup Eros Djarot dapat dilukiskan, bentang kanvas itu niscaya memperlihatkan kekayaan warna yang tiada dua. Tumbuh di Kota Gudeg Yogyakarta pada dasawarsa 1960-an, situasi politik membawa Eros merapat pada garis politik Presiden Sukarno hingga menjadi Ketua Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI) Yogyakarta.

"Sesudah Gerakan 30 September, karena situasi saat itu tidak mudah untuk para pendukung Bung Karno, ayah melarang saya ikut-ikutan politik karena takut saya menjadi korban. Sempat tinggal setahun di Belitung, saya kemudian pindah ke Jakarta, masuk SMA 1 Boedi Oetomo," ceritanya.

Saat itu, muda-mudi Jakarta tidak lepas dari perkembangan gaya hippies yang dominan dan mulai terbawa pergaulan bebas. Karena frustrasi dengan situasi yang tidak sehat itu, Eros menemukan musik sebagai tempat pelarian yang aman. Baginya, musik mengobati kerinduannya pada kebebasan berkreasi dan mengekspresikan diri.

Lulus SMA, Eros memberanikan diri menjual sepeda motor miliknya dan merantau ke Jerman Barat. Tanpa bekal, ia bekerja serabutan selama setengah tahun sebelum menggabungkan diri dalam band, dari rombongan opera hingga band Kopfjaeger yang lebih senior darinya. Eros pun memahami bahwa musik ternyata bisa menghidupi seseorang.

"Saya mulai bermusik setiap weekend, karena satu kali manggung itu bisa hidup untuk dua minggu. Saya menganggap telah berutang budi kepada dunia musik, dan selama 5 tahun lebih di Jerman, saya menghidupi diri dari musik itu," ucap Eros.

Tak hanya memenuhi kebutuhan hidup, musik mempertemukan Eros dengan lingkar pertemanan yang kelak menjadi sahabatnya seumur hidup. Salah satunya Guruh Soekarnoputra yang saat itu mengangsu ilmu di negeri kincir angin. Ketika itu, Guruh sudah mulai menyusun komposisi lagu "Chopin Larung", yang kemudian menjadi salah satu nomor dalam album Guruh Gipsy (1977).

Sampul kaset album "Guruh Gipsy" (1976). Foto: SUAR/Chris Wibisana

Ketika Guruh pulang ke Indonesia pada 1975, Eros memutuskan ikut serta dan indekos di kediaman Fatmawati Soekarno, Jalan Sriwijaya 26, Jakarta Selatan. Di sanalah, kreativitas Eros semakin berkembang berkat motivasi ibu negara pertama Indonesia itu, agar orang muda Indonesia mengangkat musik-musik khas Indonesia yang tergerus tren lagu-lagu pop Barat.

"Eros, kau ini bikinlah musik yang benar. Musik-musik sekarang jeng-jeng-jeng ini, pusing kepalaku. Gimana, ya, kau bikinlah musik yang bagus, seperti dulu Sam Saimun, Muchtar Embut, Pak Maladi bisa bikin lagu-lagu bagus," pesan Fatmawati

Bersama Guruh, Eros mulai bereksperimen dengan berbagai irama musik, mulai dari gamelan Bali hingga keroncong. Demi menghadapi arus kaset-kaset pop Barat, mereka bertekad mengangkat pamor bahasa Indonesia sebagai lagu pop.

"Waktu saya pulang, anak-anak Menteng itu tidak ada yang mau punya kaset lagu-lagu Indonesia. Kaset-kaset mereka The Bee Gees, Deep Purple, bahkan God Bless-nya Achmad Albar dulu memanggungkan lagu-lagu bule saat konser di Taman Ria Senayan," kenang Eros.

Eksperimen rock dan gamelan Bali itulah yang kelak menjadi roh album Guruh Gipsy, yang kelak dinobatkan sebagai album terbaik dalam sejarah musik Indonesia versi majalah Rolling Stones pada 2007. Lewat penggarapan album itu pula, Eros mulai berkenalan dengan Chrisye dan Keenan Nasution, yang kelak membersamainya memproduksi album Badai Pasti Berlalu.

The invisible hand

Sukses meraih Piala Citra untuk Kawin Lari, Teguh Karya kembali mengajak Eros mengaransemen komposisi musik untuk film Badai Pasti Berlalu. Intuisi eksperimental Eros kembali menyala. Ia pun menambahkan sedikit bumbu klasik dalam komposisi album, dan mengundang Chrisye menyanyikan beberapa lagu di dalamnya.

"Ketika Pak Teguh dengar suara Chrisye, dia tanya ini suara cowok apa cewek? Waktu saya kasih dengar rekaman Berlian Hutauruk, protes lagi, 'Ini suara kuntilanak? Lu gila kali, ya! Mau jadi apa, nih?' Kali ini saya tentang. 'Saya mundur saja, deh. Nggak usah saya. Ganti sama pemusik lain," kisah Eros.

Teguh Karya melunak. Eros pun memberikan alasan yang berhasil meyakinkan Teguh mengapa Berlian Hutauruk pantas menyanyikan lagu utama dalam album. "Pak Teguh bilang, karena kamu seorang seniman, saya sebagai seniman bisa menerima. Tapi kalau gagal, awas aja!"

Hatta sejarah berwarta, album Badai Pasti Berlalu ikut melejit bersama film berjudul sama yang dibintangi Christine Hakim, Roy Marten, dan Slamet Rahardjo. Mengalahkan Guruh Gipsy, Badai Pasti Berlalu bahkan dinobatkan sebagai album terbaik dalam sejarah Indonesia, menduduki peringkat pertama dan belum tergantikan sampai hari ini.

Sampul kaset album "Badai Pasti Berlalu" (1977). Foto: SUAR/Chris Wibisana

Pengalaman meraih dua Piala Citra untuk dua scoring film pertama yang dikerjakan membuat Eros kian dipercaya sebagai penata musik berbagai film, mulai dari Usia 18 (1981), Ponirah Terpidana (1984), hingga Secangkir Kopi Pahit (1986). Bersama Chrisye dan Jockie Suryoprayogo, Eros pun menggarap album trilogi Resesi (1983), Metropolitan (1984), dan Nona (1984).

Tidak hanya berhenti menggarap musik, pengetahuan akademis tentang film yang Eros dapatkan dari pengalaman belajar di London International Film School atas biaya British Council pun ia terapkan dalam debutnya sebagai sutradara untuk Tjoet Nja' Dhien (1988). Tidak satu, film itu berhasil merebut 9 Piala Citra, bahkan ditayangkan dalam Selection de la Semaine de la Critique di Cannes pada 1989.

Satu hal yang sama, dari semua pencapaian itu, Eros Djarot tidak pernah merasa terlalu berbangga. Mengapa?

"Saya selalu berdoa, 'Tuhan, pergunakanlah saya untuk menyebarkan kebaikan dan keindahan,' maka saya tidak mengklaim diri sebagai pencipta Badai Pasti Berlalu. Saya waktu itu baru 26 tahun, mana mungkin bisa mengomposisi lagu seperti itu tanpa the invisible hand yang membisikkan saya...."

Sadar akan karunia sebagai seorang komposer, sutradara, arranger, jurnalis, bahkan politikus, Eros selalu meyakini satu hal, yaitu untuk menegakkan yang benar dan meluruskan yang keliru. Di mata sebagian orang, keyakinan itu membuatnya tampak berani menyuarakan masalah-masalah sosial politik.

"Tanya saja anak saya. Saya bukan pemberani, saya juga merasa takut, tetapi saya berani karena segala sesuatu yang tidak benar harus dibenarkan. Jika penguasa tidak suka pada saya, karena saya orang yang terlalu bebas dan terlalu merdeka untuk menceritakan apa yang saya rasakan, walau itu tidak berkenan di hari mereka," cetusnya.

Kini, di usia 75 tahun, sekelompok orang muda beberapa waktu lalu mendatangi Eros dan meminta izin untuk mengadakan konser 52 Tahun Eros Djarot Berkarya pada 25 April 2026 yang akan datang. Badai Pasti Berlalu, yang tahun depan akan genap 50 tahun, menjadi salah satu repertoar andalan dalam konser itu.

"Saya bilang terserah kamu, lah. Saya akan datang, tetapi saya tidak mau mengintervensi cara orang lain menginterpretasikan karya-karya saya. Itu arti kebebasan kreatif yang sejati," tutur Eros.

Setelah semua badai berlalu dalam hidupnya, Eros kini menghabiskan waktu sehari-hari dengan menulis. Jilid pertama autobiografinya telah diluncurkan pada Oktober 2025 lalu, dan saat ini tengah mempersiapkan jilid kedua. Ia memperkirakan ketebalannya tidak akan jauh berbeda. Jika ditotal, kedua jilid autobiografi itu nantinya akan mencapai lebih dari 1.000 halaman.

"Setiap bangun pagi, saya selalu bertanya untuk apa saya ada, mengapa saya masih ada, dan bagaimana hidup ini bermakna. Bagi saya, semua terserah Tuhan. Kalau kamu tunduk pada-Nya, Dia akan memberi kamu semuanya. Tidak usah macam-macam, karena saya masih memiliki tugas dari Sang Atasan yang menjadi pegangan saya," tutup Eros.

Penulis

Chris Wibisana
Chris Wibisana

Wartawan Makroekonomi, Keuangan, Ketenagakerjaan, dan Internasional

Baca selengkapnya

Ω