Langkah inisiatif Tiongkok, bersama 29 negara yang didominasi negara berkembang termasuk Indonesia, WAICO hadir sebagai upaya diplomasi strategis untuk mendobrak dominasi Amerika Serikat melalui kemitraan Pax Silica. Dengan mempromosikan model AI open-source berbiaya rendah dan menyediakan 5.000 kesempatan pelatihan serta akses teknologi meteorologi, Tiongkok menolak praktik pembatasan teknologi berdalih keamanan nasional.
Visi inklusif ini bahkan mendapat dukungan penuh dari Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres. Guterres menegaskan bahwa teknologi masa depan harus dikendalikan oleh seluruh umat manusia, bukan segelintir negara atau korporasi raksasa.
Menyadari besarnya potensi pergeseran kekuatan teknologi di kancah global, Indonesia mengambil langkah taktis dengan bergabung ke dalam WAICO. Tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto ini ditegaskan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, sebagai upaya agar Indonesia tidak tertinggal dalam revolusi AI.
Di tingkat domestik, penetrasi dan perilaku masyarakat dalam memanfaatkan AI tercermin dari hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). Survei APJII mengungkap pergeseran tren terkait pola konsumsi AI oleh masyarakat Indonesia.
Meskipun secara umum persentase akses terhadap AI tercatat mengalami penurunan dari 27,3% pada 2025 menjadi 18,2% pada 2026, terjadi lonjakan adopsi yang tajam pada sektor produktif. Penggunaan AI untuk urusan pekerjaan dan produktivitas (seperti penulisan otomatis) melesat lebih dari dua kali lipat, dari 12,3% menjadi 26,9%.
Selain itu, pemanfaatan AI untuk hiburan juga naik dari 29,5% menjadi 36,5%. Sebaliknya, penggunaan untuk edukasi dan riset justru menurun dari 43,9% menjadi 30,2%. Begitu pula dengan fitur asisten digital suara yang menyusut ke angka 6,4%. Hal ini mengindikasikan bahwa meski jumlah pengguna secara umum mengecil, mereka yang bertahan kini menggunakan AI untuk fungsi yang jauh lebih aplikatif, berorientasi pada efisiensi kerja, dan hiburan berbasis generative.
Pergeseran perilaku pengguna ke arah produktivitas perusahaan ini sejalan dengan meroketnya valuasi ekonomi digital nasional. Prospek pertumbuhan pasar digital Indonesia menunjukkan lonjakan berkat dorongan teknologi AI. Setelah melalui fase implementasi awal Generative AI pada 2025 dengan ukuran pasar 24,37 miliar doalr AS.
Tahun 2026 diproyeksikan menjadi titik lonjakan dengan pertumbuhan year-on-year (yoy) mencapai 19,1%, mendorong nilai pasar hingga 29,03 miliar dolar AS. Lonjakan ini didorong secara spesifik oleh transformasi perusahaan yang mengutamakan peran AI atau AI-led enterprise transformation.
Momentum yang mendorong pasar digital Indonesia diprediksi akan terus konsisten hingga tahun 2027, di mana ukuran pasar diperkirakan menembus 34,58 miliar dolar AS seiring dengan mulai diadopsinya sistem AI otonom atau Autonomous and agentic AI systems. Kombinasi antara diplomasi global di WAICO dan adaptasi agresif perusahaan domestik ini memastikan Indonesia berada di jalur yang tepat untuk menjadi kekuatan ekonomi digital baru di Asia.
Lebih dari sekadar menjadi pengguna, keikutsertaan ini membuka ruang bagi Indonesia untuk ikut merumuskan tata kelola AI global yang bertanggung jawab dan inklusif. Dengan langkah strategis ini, diharapkan adopsi teknologi mutakhir dapat diakses dengan mudah dan memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi seluruh lapisan masyarakat. Khususnya dalam mendorong daya saing usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Tanah Air.