Gelar Astranauts 2026, Astra Dorong Inovasi Digital Bisnis

Dari 36 finalis, dewan juri menetapkan 12 pemenang yang menawarkan beragam solusi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), internet of things (IoT), dan analitik data

Gelar Astranauts 2026, Astra Dorong Inovasi Digital Bisnis
Finalis Astranauts 2026 saat Demo Day & Awarding di Menara Astra, Jakarta Pusat, Selasa (28/07/2026).(Foto:Gema Dzikri/Suar.id)
Daftar Isi

PT Astra International Tbk pada Selasa (28/7/2026) kembali menyelenggarakan Astranauts 2026, sebuah ajang kompetisi inovasi digital yang bertujuan untuk menyaring ide dan solusi inovatif demi menjawab tantangan bisnis dan memberikan dampak untuk ekonomi digital Indonesia. 

Memasuki tahun kelima ini, event dengan tema “ACCELERATE 2026: From Pilot to Business Transformation, Boosting Efficiency and Unlocking New Value” ini mengakselerasi implementasi teknologi tepat guna di lingkungan industri, khususnya di grup Astra.

Division Head Academy, Technology, & New Venture Astra I Wayan Wisnu Anantawijaya mengatakan Astra berupaya untuk membangun ekosistem inovasi digital yang mampu menjawab tantangan bisnis secara nyata.

“Kami ingin dapat menjaring solusi sebenarnya, jadi tidak hanya solusi itu datang dari research and development kami di dalam, kami juga ingin membuka mata kalau misalnya ada solusi-solusi di luar yang sekiranya relevan. Jadi kami tidak menutup mata terhadap perubahan teknologi, kemajuan teknologi,” kata Wisnu dalam Demo Day & Awarding Astranauts 2026 di Menara Astra.

Astranauts 2026 menghadirkan business challenge dari anak perusahaan Astra, seperti PT Astra Honda Motor (AHM), PT Federal International Finance (FIFGROUP), PT Kalimantan Prima Persada (KPP Mining), PT Pamapersada Nusantara (PAMA), dan Astra UD Trucks, serta sektor strategis lain lewat Cross-Industry Challenge.

Dari 36 finalis, dewan juri menetapkan 12 pemenang yang menawarkan beragam solusi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), internet of things (IoT), dan analitik data. Salah satunya DIGVISION ASTRATECH yang menghadirkan sistem kecerdasan armada berbasis AI untuk operasional pertambangan KPP Mining.

Pemenang lainnya mencakup Graymatics MotoVision, MotoSphare, Farmacare, Yu Ai Ai, AssetFindr, Y3 Technologies, Suhat Pride, UDCare, Mycelia, GISACT, dan Alkahvi. Seluruh pemenang akan mengikuti program akselerasi di Astra Innovation Lab, sedangkan finalis kategori mahasiswa masuk ke dalam Astra Career Community.

Division Head Academy, Technology, & New Venture Astra I Wayan Wisnu Anantawijaya di Menara Astra, Jakarta Pusat, Selasa (28/07/2026).(Foto:Gema Dzikri/Suar.id).

Dorong AI di berbagai sektor

Pesatnya adopsi AI dinilai bukan lagi sekadar teknologi pendukung, melainkan instrumen penting strategi bisnis.

Country Manager Amazon Web Services (AWS) Indonesia Anthony Amni menjelaskan, kehadiran AI untuk produktivitas perusahaan ini sebenarnya memberikan dampak yang luar biasa, sehingga perlu dimanfaatkan dan tidak melihat perkembangan teknologi ini bukan sebagai sebuah hambatan tantangan.

AWS sendiri telah memanfaatkan AI dashboard untuk mengotomisasi berbagai pekerjaan, sementara implementasi AI juga mampu memangkas waktu penyelesaian tugas secara drastis, terutama bagi para developer.

“Kalau di customer kami yang paling impactful adalah di level developer, kami ada customer Bank Jabar. Di Bank Jabar, mereka mengadopsi AI awalnya adalah untuk melakukan daily task dengan lebih cepat contohnya adalah upgrade Java. Upgrade Java dulu di BJB itu butuh 3 bulan, mereka pakai AI productivity tools kebetulan dari AWS itu turun ke satu hari, jadi itu undeniable bahwa impact AI terhadap produktivitas itu sangat luar biasa,” jelas Anthony.

Senada dengannya, CEO & CTO GDP Labs dan CTO GDP Venture, On Lee, juga menilai hal yang sama. Biaya yang dikeluarkan untuk memanfaatkan teknologi seperti AI yang bisa dikatakan tinggi, sebenarnya sepadan dengan nilai produktivitas dan bahkan revenue tambahan yang bisa didapatkan oleh perusahaan.

Apalagi, di tengah tantangan geopolitik global yang dihadapi berbagai negara saat ini, pemanfaatan teknologi demi efisiensi dinilai menjadi salah satu faktor penting untuk meningkatkan daya saing perusahaan, sehingga investasi ini perlu dipandang sebagai sebuah instrumen yang mampu menciptakan nilai, bukan sekadar menambah beban biaya yang harus dikeluarkan.

“Saya sering ditanya, kenapa budget AI kita meningkat sampai tiga kali lipat, jawaban saya adalah jangan melihat cost-nya, tapi return of investment-nya. Kalau betul-betul ingin save money ya menggunakan pensil dan kertas, tapi produktivitasnya gak ada. Saya meningkatkan budget AI dan teknologi secara umum, tetapi jumlah proyek, dan kecepatannya, dan additional revenue yang didapatkan meningkat,” ucap On Lee.

Peserta pelatihan mengikuti pelatihan otomotif di Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBVP), Bandung, Jawa Barat, Senin (27/7/2026). (ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/wsj.)

Manufaktur jadi prioritas

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, dalam mewujudkan target Indonesia menjadi negara maju pada tahun 2045 mendatang, sektor industri manufaktur harus menjadi prioritas dalam strategi pembangunan nasional.

Indonesia tidak boleh mengabaikan industri hanya karena membutuhkan investasi dan insentif yang besar, sebab sebuah negara yang maju menurutnya harus terlebih dahulu melalui fase industrialisasi.

Dalam konteks tersebut, pemanfaatan teknologi termasuk AI itu pun dapat membantu meningkatkan produktivitas dan efisiensi industri.

“Untuk bisa mendorong kelas menengahnya punya uang untuk bisa belanja, maka jawabannya adalah fokus kepada industri yang eksisting, saya lebih suka industri yang eksisting ini dirawat, dibandingkan dengan investasi baru yang masuk yang sebagian besar adalah padat modal, bukan padat karya,” ucap Bhima.

Pemanfaatan AI ini tidak hanya menjadi kebutuhan di kalangan dunia usaha saja, pemerintah juga mulai mengadopsi teknologi AI untuk meningkatkan kualitas layanan publiknya, mempercepat proses pengambilan keputusan, hingga memperluas akses masyarakat terhadap layanan di berbagai sektor, seperti kesehatan.

Baca juga:

Astra Sebar Dividen Rp15,6 Triliun di Tengah Tekanan Global
Dari laba bersih konsolidasian Perseroan 2025 sebesar Rp32,8 triliun, sebesar Rp15,6 triliun akan dibagikan menjadi dividen dengan nilai Rp390 setiap saham.

Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Rizka Andalucia menjelaskan, perkembangan teknologi AI khususnya di bidang kesehatan saat ini bergerak sangat cepat, bahkan AI sendiri sudah menjadi sebuah alat medical devices.

Salah satu pemanfaatan AI, adalah dalam upaya mempercepat deteksi penyakit tuberkulosis melalui teknologi chest X-ray. Menurutnya, teknologi tersebut memegang peranan penting, mengingat Indonesia merupakan salah satu negara dengan kasus TB tertinggi di dunia.

Di satu sisi, tantangannya berasal dari Indonesia yang memiliki 17 ribu pulau dan 10 ribu puskesmas.  Dengan dukungan AI, hasil pemindaian chest X-ray tersebut dapat dianalisis lebih cepat dan kemudian diverifikasi oleh dokter, sehingga mampu memperluas jangkauan akses deteksi dini TB hingga ke daerah terpelosok.

“Dengan bantuan AI ini, kita bisa mendapatkan hasil yang cepat dan akurat, dan bisa terdistribusi sampai ke pelosok-pelosok negeri ini, tanpa kita membutuhkan dokter yang standby di situ. Nanti hasilnya dikirim dan divalidasi oleh dokter yang ada di kabupaten/kota atau provinsi, itu salah satu contoh penggunaan AI untuk decision making,” jelas Rizka.

Baca juga:

Penjualan Mobil Nasional Januari 2026 Naik, Astra Mendominasi
Dari jumlah tersebut, Astra membukukan penjualan 34.867 unit dan menguasai 52% pangsa pasar nasional.

Pemanfaatan AI sendiri tidak akan berjalan optimal tanpa didukung oleh ekosistem yang memadai. Pemerintah juga perlu menyiapkan regulasi yang mampu mengakomodasi perkembangan teknologi sekaligus menjamin keamanan penggunanya. 

Kementerian Kesehatan pun memprioritaskan penyusunan regulasi sebagai landasan utama, sehingga memastikan setiap teknologi yang akan digunakan seperti AI ini telah melalui proses kurasi dan validasi agar sesuai dengan kondisi serta kebutuhan masyarakat akan layanan kesehatan di Indonesia.

“Kementerian Kesehatan sudah menyusun dan mengantisipasi agar perkembangan teknologi digital di bidang kesehatan ini dapat diakselerasi dengan sandbox regulatory, kita sudah antisipasi supaya teknologi ini berkembang cepat untuk diadopsi tapi aman,” lanjutnya.

Baca selengkapnya