Mengapa Sentra Industri Indonesia Sulit Naik Kelas?

Mengapa Sentra Industri Indonesia Sulit Naik Kelas?

Masalah industrialisasi kita bukan ketiadaan kluster. Masalahnya adalah mengapa begitu banyak kluster mampu terus berproduksi, tetapi sulit mengubah pengulangan produksi menjadi akumulasi kemampuan.

Mengapa Sentra Industri Indonesia Sulit Naik Kelas?
Dalam Artikel Ini

Mengapa sebagian kawasan industri mampu terus naik kelas, dari bengkel dan perusahaan kecil menuju engineering, teknologi dan merek global, sementara kawasan lain selama puluhan tahun tetap menghasilkan kurang lebih produk yang sama?

Italia punya Emilia-Romagna, tempat tradisi craftsmanship dan perusahaan keluarga berkembang menjadi basis bagi Ferrari, Lamborghini, Ducati, dan Maserati. China punya Shenzhen, yang lahir dari manufaktur dan perakitan, lalu tumbuh menjadi rumah bagi Huawei, BYD, dan DJI. Meski jalurnya berbeda, keduanya berhasil mengubah konsentrasi produksi menjadi proses belajar yang terus memperkuat kemampuan.

Indonesia juga memiliki banyak sentra yang bertahan lintas generasi, seperti: Cibaduyut untuk alas kaki, Jepara untuk mebel, Solo dan Yogyakarta untuk batik, serta Bali untuk kerajinan dan desain. Jadi, masalah industrialisasi kita bukan ketiadaan kluster. Masalahnya adalah mengapa begitu banyak kluster mampu terus berproduksi, tetapi sulit mengubah pengulangan produksi menjadi akumulasi kemampuan.

Mobil-mobil yang akan diekspor terparkir di salah satu pabrik otomotif di kawasan Bojongmangu, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Senin (7/9/2026). Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat ekspor mobil utuh atau completely built up (CBU) sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai 293.547 unit, meningkat 3,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 283.708 unit. ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/tom.

Dari Kedekatan ke Pembelajaran

Lebih dari seabad lalu, Alfred Marshall (1890) menjelaskan mengapa perusahaan memperoleh keuntungan ketika berada berdekatan. Tenaga kerja menjadi lebih terspesialisasi, supplier khusus tumbuh, informasi menyebar lebih cepat, dan pembagian kerja semakin dalam.

Namun, kedekatan geografis hanya membuka peluang. Ia tidak otomatis menghasilkan pembelajaran. Seratus pengrajin sepatu yang berdekatan tetap dapat menggunakan bahan, mesin, dan saluran pasar yang sama dari tahun ke tahun. Workshop bertambah, tetapi kemampuan industrinya tidak banyak berubah.

Kluster menjadi mesin industrialisasi ketika perusahaan di dalamnya saling membuat satu sama lain menjadi lebih baik. Keterampilan berpindah bersama pekerja, pemasok meningkatkan kualitas karena tuntutan pelanggan, perusahaan belajar dari pesaing, dan institusi pendidikan merespons kebutuhan industri. Pengetahuan pun beredar dan terakumulasi menjadi kemampuan kolektif.

Emilia-Romagna memperlihatkan proses tersebut berkembang secara evolusioner. Di balik Motor Valley, seperti dijelaskan OECD (2020), terdapat tradisi mekanik, perusahaan keluarga, supplier khusus, pendidikan vokasi, dan jaringan engineering yang berkembang lintas generasi. Kemampuan manufaktur kemudian bertemu dengan engineering dan desain, membentuk produk, reputasi dan merek. Kebijakan inovasinya pun dibangun di atas kompetensi yang sudah tumbuh tersebut.

Singkatnya, Ferrari bukanlah titik awal, melainkan bagian paling terlihat dari ekosistem pengetahuan yang lebih luas.

Shenzhen menempuh jalan yang lebih cepat. Setelah menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pada 1980, infrastruktur, investasi asing (FDI), dan akses ke pasar global telah membuka ruang bagi pembelajaran. Seiring berkembangnya pendidikan teknis dan kapasitas riset, perusahaan lokal masuk ke jaringan produksi, mempelajari standar global, dan membangun kemampuan engineering. Sebagian kemudian berkembang menjadi perusahaan teknologi dengan produk sendiri.

OECD (2020) menggambarkan perubahan Shenzhen dari kota yang mengandalkan investasi asing menuju pusat inovasi dengan kemampuan domestik yang semakin kuat.

Mengapa Kita Tersendat?

Di sinilah banyak sentra industri di Indonesia tampaknya tersendat. Di Cibaduyut, keterampilan membuat sepatu telah diwariskan lintas generasi dan melahirkan banyak workshop baru. Namun, ekspansi horizontal ini tidak otomatis menghasilkan vertical upgrading.

Semakin banyak yang mampu membuat sepatu, tetapi jauh lebih sedikit yang mampu mengembangkan material baru, memperbaiki proses, atau membangun kemampuan desain dan engineering. Dengan kata lain, kemampuan membuat produk tumbuh lebih cepat daripada kemampuan mengembangkan produknya.

Jepara menghadapi persoalan serupa dalam bentuk berbeda. Tradisi mebel dan ukirnya sangat kuat, tetapi kemampuan woodworking tidak otomatis berubah menjadi kemampuan desain industri, material engineering, branding, atau jaringan distribusi global. Keterampilan bisa diwariskan tanpa seluruh ekosistem bergerak menuju aktivitas yang lebih kompleks.

Perajin menyelesaikan pembuatan cangkul di sentra kerajinan alat pertanian tradisional Purwojati, Kertek, Wonosobo, Jawa Tengah, Kamis (10/9/2026). Sebanyak 125 industri rumahan pembuatan alat pertanian berupa cangkul dan sabit di kawasan tersebut telah memasarkan produknya secara langsung maupun melalui daring ke berbagai wilayah di Indonesia. ANTARA FOTO/Anis Efizudin/wsj.

Di sinilah dinamika perusahaan menjadi penting. Perusahaan dalam satu kluster tidak sama. Sebagian tetap kecil, sebagian keluar, dan hanya sedikit yang tumbuh menjadi pemasok spesialis atau lead firms. Cirera, Comin, dan Cruz (2022) menunjukkan bahwa kemampuan teknologi sangat berbeda antarperusahaan dan upgrading umumnya berlangsung secara bertahap.

Jika perusahaan produktif sulit melakukan scaling, kluster kehilangan salah satu motor upgrading. Terlalu sedikit perusahaan yang mampu membawa standar baru, merekrut engineer, membuka pasar dan mendorong pemasok ikut naik kelas.

Sementara itu, struktur pasar juga dapat menahan pembelajaran. Perusahaan bisa semakin efisien dalam memproduksi barang untuk trader atau buyer tanpa pernah membangun kemampuan desain, engineering, dan pemasaran sendiri. Karena itu, ekspor dan FDI tidak otomatis menghasilkan upgrading. Yang menentukan adalah apakah hubungan tersebut memperluas kemampuan perusahaan domestik.

Pengalaman pengembangan KEK memberi pelajaran dari arah lain. Studi Damuri, Atje, dan Christian dari CSIS (2015) menunjukkan bahwa keberhasilan kawasan tidak cukup ditopang oleh lahan, insentif, dan status administratif.

Lokasi harus layak secara ekonomi, infrastrukturnya terhubung, dan perusahaan terintegrasi dengan jaringan pemasok serta rantai nilai yang lebih luas. Pemerintah dapat membangun kawasan, tetapi tidak otomatis membangun industrial ecosystem.

Hal serupa berlaku untuk kebijakan UMKM. Kredit, bantuan mesin, pelatihan, dan promosi tetap diperlukan. Namun, OECD (2018) menemukan bahwa banyak program UMKM di Indonesia lebih berorientasi pada usaha mikro dan necessity entrepreneurship,  sementara relatif sedikit yang berfokus pada pertumbuhan produktivitas perusahaan.

Infografis ini ditambahkan oleh tim redaksi Suar. Bukan merupakan materi dari penulis.

Membangun Kemampuan

Jadi, persoalannya bukan sekadar kekurangan modal atau mesin, melainkan lemahnya proses pembelajaran dan akumulasi kemampuan. Karena itu, kebijakannya juga harus berubah.

Ketika sebuah kemampuan penting terlalu mahal dibangun sendiri, dukungan individual tidak cukup.  Laboratorium material, testing dan certification, fasilitas prototyping, teknologi produksi, informasi pasar, serta akses kepada engineer dan designer dapat dibangun sebagai shared capabilities di tingkat kluster.

Dukungan juga perlu mendorong perusahaan yang mampu naik kelas. Matching grants, pembiayaan investasi, program pengembangan supplier dan dukungan ekspor dapat dikaitkan dengan hasil yang jelas, seperti adopsi teknologi, sertifikasi, pasar baru, atau peningkatan produktivitas.

Namun, fasilitas bersama juga bukan obat mujarab. Tanpa permintaan dan insentif nyata dari perusahaan, fasilitas tersebut hanya menjadi gedung lain. Karena itu, kebijakan harus dimulai dari kemampuan yang sudah tumbuh, lalu mencari mata rantai yang menghambat tahap berikutnya.

Karena kebutuhan setiap kluster berbeda, Cibadyut tidak dapat diperlakukan sama dengan Jepara atau kluster otomotif di Jawa Barat. Pemerintah perlu bisa membaca dan memahami kemampuan apa yang sudah ada, perusahaan mana yang sedang tumbuh, pemasok mana yang bisa naik kelas, dan apa yang menghambat proses berikutnya.

Ukuran keberhasilannya pun harus berubah. Bukan hanya berapa investasi masuk, pabrik berdiri, atau UMKM yang menerima bantuan. Yang lebih penting adalah apakah produktivitas meningkat, perusahaan produktif membesar, pemasok semakin canggih, keterampilan pekerja naik, dan semakin banyak aktivitas engineering, desain, teknologi serta pemasaran dilakukan di dalam negeri.

Indonesia sebenarnya sudah memiliki banyak islands of capability. Tantangannya adalah membuat kemampuan itu terus berkembang.

Sebuah sentra industri benar-benar menjadi mesin industrialisasi ketika generasi perusahaan berikutnya mampu melakukan sesuatu yang belum mampu dilakukan oleh generasi sebelumnya. Jika setiap generasi hanya semakin mahir mengulang hal yang sama, kluster itu mungkin tetap hidup, tetapi belum benar-benar naik kelas.

Opini ini sepenuhnya merupakan pandangan penulis. Bila Anda tertarik untuk menjadi kontributor opini, silakan mendaftarkan diri Anda dengan kirim email ke [email protected]

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)

Lainnya Dalam Opinion

Rekomendasi SUAR