Independensi Bank Indonesia, Reformasi Pasar Modal, dan Kinerja IHSG
Independensi Bank Indonesia (BI), transparansi, dan tata kelola pasar modal menjadi unsur yang membentuk dinamika pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Independensi Bank Indonesia (BI), transparansi, dan tata kelola pasar modal menjadi unsur yang membentuk dinamika pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Independensi Bank Indonesia (BI), transparansi, dan tata kelola pasar modal menjadi sorotan di tengah tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia. Pasalnya, penundaan sejumlah perubahan indeks oleh lembaga pemeringkat asing seperti FTSE Russell serta evaluasi MSCI dinilai menunjukkan kredibilitas kelembagaan semakin penting dalam menjaga kepercayaan investor dan stabilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM)Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Teuku Muhammad Riefky Hasan, mengatakan independensi bank sentral merupakan fondasi penting untuk menjaga stabilitas inflasi dan nilai tukar. Menurut dia, independensi tidak cukup hanya diatur dalam peraturan perundang-undangan, tetapi juga harus tercermin dalam proses pengambilan kebijakan.
"Secara di atas kertas peraturan perundang-undangannya masih cukup independen. Tapi dalam praktiknya bisa jadi tekanan-tekanan ini membuat pengambilan keputusan Bank Indonesia itu tidak independen," Riefky dalam diskusi publik yang digelar Economic Frontline bertajuk Masa Depan Bank Sentral di Era Dunia yang Terfragmentasi, Kamis (20/8/2026).
Menurut Riefky, pengalaman Indonesia menunjukkan pentingnya menjaga jarak antara kebijakan moneter dan kebutuhan pembiayaan pemerintah. Sebelum BI independen, bank sentral memiliki ruang lebih besar untuk mendukung pembiayaan pemerintah melalui penciptaan uang.
Kondisi tersebut, lanjut dia, turut berkontribusi terhadap tingginya inflasi pada era 1960-an. Setelah reformasi dan penguatan independensi BI, inflasi Indonesia cenderung lebih terkendali, sementara pertumbuhan ekonomi tidak menunjukkan perbedaan yang terlalu besar dibandingkan periode sebelumnya.
"Yang berbeda adalah saat Bank Indonesia independen itu inflasinya terjaga cukup rendah," jelasnya.

Karena itu, Teuku menilai mandat utama BI untuk menjaga stabilitas harga dan nilai tukar tidak seharusnya dikompromikan dengan target pertumbuhan ekonomi. Dorongan terhadap pertumbuhan tetap diperlukan, tetapi tidak boleh mengorbankan kredibilitas kebijakan moneter.
Persoalan kredibilitas kelembagaan tersebut juga memiliki implikasi langsung terhadap pasar modal. Investor membutuhkan kepastian mengenai arah kebijakan moneter, stabilitas nilai tukar, serta kualitas tata kelola pasar untuk mempertahankan kepercayaan terhadap aset domestik.
Direktur Utama Nawasena Utama Capital, Prayoga Putera Utama mengatakan pasar modal Indonesia masih memiliki daya tarik bagi investor asing karena ukuran dan potensi ekonominya. Namun, kepercayaan investor, termasuk investor ritel, perlu dijaga agar mereka tidak beralih ke aset atau pasar di luar negeri ketika menghadapi gejolak.
"Jangan mengecewakan orang-orang yang memang baru masuk ini. Mereka baru mau belajar sedikit," kata Prayoga.
Menurut dia, tantangan pasar modal ke depan juga semakin kompleks seiring perkembangan aset digital. Arus dana yang semakin mudah berpindah antara aset domestik, dolar, dan aset digital berpotensi menambah tantangan bagi otoritas moneter dalam mengelola likuiditas dan stabilitas nilai tukar.
"BI harus bersiap untuk inflow ataupun outflow digital currency," ujarnya.
Terkait review beberapa lembaga indeks global, Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda mengatakan, penundaan sejumlah perubahan indeks oleh FTSE Russell dan evaluasi MSCI perlu dilihat sebagai momentum untuk memperbaiki transparansi dan tata kelola pasar Indonesia.
Menurut Nailul, rencana demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI) dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat akuntabilitas dan kinerja bursa. Namun, keterlibatan Danantara dalam struktur kepemilikan atau ekosistem bursa perlu disertai mekanisme tata kelola yang mampu mencegah konflik kepentingan
"Yang dipertanyakan oleh berbagai pihak adalah potensi conflict of interest ketika memang masuknya Danantara di situ," jelas Nailul.

Dia menilai demutualisasi dapat membuat bursa tidak hanya menjalankan fungsi sebagai self-regulatory organization (SRO), tetapi juga memiliki tata kelola korporasi yang kinerjanya dapat dinilai oleh publik.
Sementara itu, Juru Bicara Ekonomi Badan Komunikasi (Bakom) Republik Indonesia Fithra Faisal Hastiadi menilai persoalan yang muncul dalam evaluasi MSCI tidak serta-merta menunjukkan ancaman terhadap status Indonesia sebagai emerging market. Menurut dia, evaluasi tersebut justru dapat menjadi momentum untuk mempercepat reformasi pasar modal.
Fithra mengatakan MSCI memiliki sejumlah kriteria dalam menilai klasifikasi pasar. Indonesia memang mengalami penurunan penilaian pada aspek flow of information, tetapi kondisi tersebut tidak otomatis membuat Indonesia turun menjadi frontier market.
Dia mencontohkan Korea Selatan yang juga menghadapi persoalan pada sejumlah indikator market accessibility dan flow of information. Menurutnya, keduanya harus terus direformasi tata kelolanya. Menurut dia, tekanan dari penyedia indeks global justru mendorong peningkatan keterbukaan informasi, termasuk mengenai ultimate beneficial owner (UBO). Pembenahan tersebut pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas dan kredibilitas pasar modal Indonesia.
"Ini merupakan bagian kita untuk reform juga. Kalau enggak gitu, enggak akan ada UBO yang keluar segitu banyak," ujar Fithra.
Lebih lanjut, terkait independensi BEI setelah demutualisasi nanti, Fithra menilai hal tersebut bukan merupakan gagasan baru karena telah menjadi bagian dari agenda reformasi sektor keuangan sejak krisis ekonomi. Model serupa juga telah diterapkan di sejumlah pusat keuangan regional, termasuk Hong Kong dan Singapura. Menurut dia, keterlibatan berbagai pemangku kepentingan dalam ekosistem pasar modal tidak menjadi persoalan selama mekanisme tata kelola dan batas kewenangannya jelas. Fithra juga melihat keterlibatan BI dalam ekosistem pasar modal memiliki dasar karena berkaitan dengan sistem pembayaran, kustodian, dan penyelesaian transaksi. Sementara itu, Danantara dapat berperan dalam memperluas ekosistem pasar, termasuk sebagai penyedia likuiditas atau investor. "Untuk menjadi market atau liquidity provider, Danantara butuh menjadi bagian dari stakeholders di situ," ucapnya. Di sisi lain, Prayoga menilai bursa tetap membutuhkan koordinasi dengan BI, pemerintah, dan OJK. Menurut dia, karakter pasar saham Indonesia membuat pergerakan saham berkapitalisasi besar dapat berdampak signifikan terhadap IHSG, sehingga koordinasi antar lembaga tetap diperlukan. "Menurut saya bursa efek enggak bisa independen," cetus Prayoga. Dia menilai koordinasi tersebut terutama diperlukan untuk menjaga stabilitas pasar sekaligus mempercepat pengawasan terhadap potensi praktik perdagangan tidak wajar. Penanganan yang lambat, menurut dia, dapat memperbesar kerugian investor dan semakin menekan kepercayaan terhadap pasar domestik. Menurutnya, tekanan dari MSCI dan FTSE Russell tidak hanya berkaitan dengan perubahan bobot atau komposisi indeks. Evaluasi tersebut menjadi cerminan atas kualitas transparansi, keterbukaan kepemilikan, tata kelola, dan kredibilitas kelembagaan pasar Indonesia. Teuku menambahkan, prinsip yang sama berlaku bagi BI. Independensi bank sentral membutuhkan waktu panjang untuk dibangun, sementara kepercayaan yang hilang akan jauh lebih sulit untuk dipulihkan. "Yang mahal itu adalah merebut kembali independensi waktu sekalinya Bank Indonesia itu sudah tidak independen," kata Teuku.
Sementara itu, IHSG pada perdagangan hari ini ditutup menguat 1,68% atau 107,46 poin ke level 6.501,59. Penguatan tersebut membawa IHSG kembali menembus level psikologis 6.500 setelah sehari sebelumnya terkoreksi.
Berdasarkan data perdagangan, IHSG dibuka di level 6.447,25 dan sempat menyentuh level tertinggi 6.514,68. Sementara itu, level terendah berada di 6.444,40. Sebanyak 480 saham menguat. Sementara 196 saham melemah, sedangkan 287 saham lainnya tidak mengalami perubahan. Aktivitas perdagangan turut menunjukkan pergerakan yang cukup tinggi. Volume transaksi tercatat mencapai 77,09 miliar saham dengan nilai transaksi Rp15,77 triliun. Adapun frekuensi perdagangan mencapai 2,262 juta transaksi. Seiring penguatan IHSG, kapitalisasi pasar BEI pada perdagangan hari ini tercatat sebesar Rp11.420 triliun.