FTSE Russell Belum Lepas Pandangan, Saham HSC Jadi Sasaran
Lembaga indeks global Financial Times Stock Exchange (FTSE) Russell mengeluarkan sejumlah putusan untuk pasar modal Indonesia.
Lembaga indeks global Financial Times Stock Exchange (FTSE) Russell mengeluarkan sejumlah putusan untuk pasar modal Indonesia.
Lembaga indeks global Financial Times Stock Exchange (FTSE) Russell memperketat perlakuan terhadap saham Indonesia dengan menghapus sekuritas yang memiliki tingkat konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) dari indeksnya pada September 2026.
Di saat yang sama, FTSE Russell memperpanjang periode pemantauan terhadap reformasi pasar modal Indonesia dan menunda sejumlah perubahan indeks hingga setidaknya tinjauan Desember 2026.
Keputusan tersebut menjadi bagian dari evaluasi FTSE Russell terhadap penerapan reformasi pasar modal Indonesia, terutama terkait kepemilikan saham yang terkonsentrasi dan ketersediaan saham yang dapat diperdagangkan publik (free float).
Dalam keterangan resmi yang dikutip, Rabu (19/8/2026) FTSE Russell menyatakan sekuritas yang terdampak HSC akan dihapus pada tinjauan indeks berikutnya. Penghapusan akan menggunakan harga pasar pada peninjauan September 2026 dan mulai berlaku ketika perdagangan dibuka pada Senin, 21 September 2026.
“Perusahaan tersebut akan dihapus pada saat tinjauan indeks berikutnya. FTSE Russell akan menghapus sekuritas terkena dampak High Shareholding Concentration tersebut dengan harga pasar pada peninjauan bulan September 2026, berlaku efektif sejak pembukaan pasar pada Senin, 21 September 2026,” ungkap FTSE Russell.
Ketentuan tersebut mengacu pada pedoman Pembatasan Free Float yang digunakan FTSE Russell. Pedoman itu mencakup saham yang telah memperoleh peringatan terkait HSC dari otoritas pasar modal Indonesia, termasuk Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).
FTSE Russell tidak hanya menetapkan mekanisme penghapusan bagi saham yang masuk kategori tersebut. Lembaga indeks itu juga akan memantau tingkat likuiditas sekuritas yang terdampak. Pemantauan tersebut dilakukan untuk memastikan harga yang digunakan dalam proses penghapusan tetap dapat direplikasi di pasar.
Dalam melakukan penilaian, FTSE Russell menggunakan sejumlah indikator yang berkaitan dengan reformasi pasar modal Indonesia. Indikator tersebut mencakup pedoman mengenai HSC, free float, serta data kepemilikan saham di atas 1%.
Data dan pedoman tersebut menjadi bagian dari parameter yang disiapkan BEI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta sejumlah lembaga regulator mandiri atau self-regulatory organizations (SRO) dalam rangka memperbaiki kualitas informasi kepemilikan dan ketersediaan saham publik di pasar.
Di luar perlakuan terhadap saham HSC, FTSE Russell juga menahan sejumlah perubahan klasifikasi indeks Indonesia. Perubahan segmen ukuran antara saham berkapitalisasi besar, Mid-Small, dan Micro-Cap akan ditunda hingga periode pemantauan berikutnya.
FTSE Russell juga akan mengamati perkembangan kenaikan free float, perubahan Faktor Penyesuaian Bobot atau Weight Adjustment Factor (WAF) dari nol menjadi positif, serta penambahan saham hasil penawaran umum perdana (initial public offering/IPO).
Pemantauan atas berbagai indikator tersebut akan berlangsung setidaknya sampai tinjauan indeks Desember 2026. Dengan demikian, perlakuan terhadap sejumlah perubahan indeks Indonesia belum akan diberlakukan dalam waktu dekat, sementara penghapusan saham yang terkena ketentuan HSC tetap dijadwalkan pada September.
“Guna memberikan periode pengamatan dan pemantauan yang lebih lama terhadap reformasi pasar dan efektivitasnya,” lanjut FTSE Russell.
Keputusan itu membuat FTSE Russell mempertahankan fokus pada perkembangan reformasi pasar modal Indonesia sebelum menentukan perubahan lebih lanjut terhadap perlakuan indeks.
Evaluasi berikutnya akan menjadi kesempatan bagi lembaga indeks tersebut untuk menilai perkembangan free float, kepemilikan saham, likuiditas, serta efektivitas kebijakan yang diterapkan oleh otoritas pasar modal Indonesia.
Penundaan penyesuaian indeks oleh FTSE Russell berpotensi menahan peningkatan bobot Indonesia di indeks global.
Managing Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su menilai keputusan tersebut mencerminkan masih adanya perhatian terhadap transparansi free float dan tingkat investability saham Indonesia.
Menurut Harry, sentimen dari penundaan FTSE Russell cenderung sedikit negatif bagi pasar saham Indonesia. Pasalnya, keputusan tersebut menunjukkan bahwa sejumlah aspek yang berkaitan dengan keterbukaan kepemilikan dan kemudahan saham untuk diperdagangkan oleh investor masih menjadi perhatian penyusun indeks global.
Meski demikian, dampaknya terhadap IHSG diperkirakan relatif terbatas. Efek yang lebih besar justru berpotensi dirasakan oleh sejumlah saham yang sebelumnya diperkirakan memperoleh tambahan bobot dalam indeks FTSE Russell.
Tambahan bobot tersebut berkaitan erat dengan potensi masuknya dana pasif atau passive inflow dari pengelola dana yang mengikuti indeks. Ketika penyesuaian indeks ditunda, arus dana yang sebelumnya diharapkan masuk ke saham-saham tertentu juga berpotensi ikut tertunda.
Harry menjelaskan, kenaikan bobot Indonesia juga berpotensi belum terealisasi dalam waktu dekat karena peningkatan free float dan sejumlah penyesuaian indeks masih ditunda hingga agenda review pada Desember 2026.
Kondisi tersebut membuat dampak penundaan tidak serta-merta menjadi tekanan besar bagi keseluruhan pasar. Namun, saham-saham yang memiliki ekspektasi memperoleh peningkatan bobot tetap menghadapi risiko tertundanya katalis dari arus dana berbasis indeks.
Dari sisi pasar, free float menjadi salah satu faktor penting karena menggambarkan porsi saham yang tersedia untuk diperdagangkan publik. Semakin akurat perhitungan free float, semakin jelas pula gambaran mengenai saham yang benar-benar dapat diakses investor di pasar.
Karena itu, Harry menilai Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama regulator perlu memperkuat sejumlah aspek struktural pasar.
"Langkah tersebut mencakup peningkatan transparansi kepemilikan saham, memastikan penghitungan free float dilakukan secara lebih akurat, serta memperbaiki likuiditas dan tingkat investability pasar Indonesia," kata Harry kepada SUAR.
Upaya tersebut, sambungnya, menjadi penting karena keputusan penyedia indeks global tidak hanya berkaitan dengan kinerja harga saham, tetapi juga mempertimbangkan karakteristik pasar dan aksesibilitas bagi investor.
Dengan transparansi kepemilikan yang lebih baik serta likuiditas yang memadai, lanjut Harry, pasar Indonesia diharapkan dapat memenuhi persyaratan yang menjadi pertimbangan dalam evaluasi indeks berikutnya. Sementara itu, penundaan hingga review Desember 2026 membuat investor perlu mencermati kembali ekspektasi terhadap perubahan bobot saham Indonesia dalam indeks FTSE Russell.
"Bagi IHSG secara keseluruhan, dampaknya relatif terbatas, sedangkan konsekuensi yang lebih spesifik berpotensi muncul pada saham yang sebelumnya diproyeksikan menerima tambahan bobot dan aliran dana pasif," jelasnya.
Sementara itu, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai FTSE Russell menjadi salah satu faktor penting bagi daya tarik pasar modal Indonesia di mata investor global.
Menurut dia, keputusan FTSE Russell yang belum memberikan perubahan lebih lanjut membuat potensi masuknya investor global ke pasar saham Indonesia masih dapat tertahan.
Nico mengatakan perkembangan tersebut sejauh ini telah sesuai dengan proyeksi pasar. Namun, pelaku pasar dan investor sebenarnya berharap FTSE Russell memberikan perkembangan yang lebih besar terhadap pasar modal Indonesia.
“Sejauh ini memang sudah sesuai juga dengan proyeksi pasar. Meskipun pelaku pasar dan investor menginginkan lebih dari itu. Namun memang transformasi pasar modal juga tidak bisa berjalan dengan instant. Dibutuhkan waktu bertahap untuk membuktikan bahwa Indonesia memang layak untuk menjadi pilihan investor,” kata Nico kepada SUAR.
Menurut dia, karena perkembangan FTSE Russell telah diperkirakan sebelumnya, pelaku pasar kini cenderung mengalihkan perhatian pada sentimen kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI). Nico menyebut keputusan BI mempertahankan tingkat suku bunga menjadi salah satu sentimen yang dinantikan pasar.
“Dan karena sudah diproyeksikan, maka dari itu kami melihat pelaku pasar dan investor cenderung menantikan sentimen BI Rate yang sudah keluar hari ini dan mempertahankan tingkat suku bunga mereka,” ujarnya.
Di sisi lain, Nico melihat peluang saham-saham Indonesia untuk kembali menjadi pilihan investor global tetap terbuka. Salah satu faktor yang dinilai penting ialah peningkatan free float saham.
Menurut dia, peningkatan free float menjadi salah satu hal yang dinantikan oleh pelaku pasar dan investor global. Perbaikan pada aspek tersebut berpotensi meningkatkan kembali daya tarik saham Indonesia di mata investor internasional.
“Mungkin saja. Karena kan peningkatan saham free float merupakan yang dinantikan oleh pelaku pasar dan investor global. Apabila hal tersebut diperbaiki, tidak menutup kemungkinan saham-saham Indonesia akan kembali menjadi pilihan,” ungkap Nico.
Baca juga:

Nico menilai posisi FTSE Russell juga tidak terlepas dari akses investor global terhadap pasar Indonesia. Sebagai salah satu penyedia indeks global, keberadaan FTSE Russell dinilai dapat menjadi pintu bagi investor internasional untuk meningkatkan eksposur terhadap saham-saham Indonesia.
“Dampaknya tentu cukup besar, karena FTSE merupakan salah satu pintu masuk investor global juga untuk kita. Dengan kehadiran FTSE, maka investor global berpotensi untuk masuk lebih besar kempat kita,” ujarnya.
Sebaliknya, apabila FTSE Russell belum memasukkan saham atau pasar Indonesia dalam cakupan yang diharapkan investor, daya tarik pasar domestik berpotensi menghadapi hambatan dalam menarik dana global.
“Namun apabila FTSE belum memasukkan, hal ini tentu membuat daya tarik pelaku pasar dan investor global mungkin akan tertahan,” kata Nico.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik memastikan BEI akan melanjutkan reformasi transparansi pasar modal setelah FTSE Russell memperpanjang proses monitoring dan observasi terhadap pasar modal Indonesia hingga September 2026.
Langkah tersebut dilakukan untuk memantau efektivitas reformasi yang telah dijalankan, sekaligus menjawab perhatian investor global terhadap transparansi dan integritas pasar.
Jeffrey mengatakan BEI mengapresiasi keputusan global index provider tersebut. Dalam laporan terbarunya, FTSE Russell juga mengakui sejumlah reformasi transparansi pasar modal Indonesia, termasuk peningkatan transparansi data dan integritas pasar.
Menurut Jeffrey, BEI akan terus berkomunikasi dengan seluruh global index provider untuk merespons berbagai perhatian yang disampaikan investor global. Komunikasi tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya meningkatkan integritas dan tata kelola pasar modal.
“Dalam laporan FTSE juga menyatakan meng-acknowledge terkait dengan Market Transparancy Reform yang sudah dilakukan Pasar Modal Indonesia termasuk peningkatan transparansi data dan integritas yang telah dilakukan oleh Pasar Modal Indonesia. Kami akan terus menjalin komunikasi dengan seluruh Global Index Provider untuk menjawab seluruh concern dari Global Investor dan meningkatkan integritas serta governance pasar,” ujar dia.
Untuk meyakinkan penyedia indeks global, pihaknya juga menjalankan komunikasi dan diskusi secara rutin. Jeffrey menyebut BEI melakukan pembaruan informasi kepada global index provider terkait perkembangan reformasi transparansi yang telah diterapkan.
“BEI menjalin komunikasi yang baik dengan Global Index Provider dan secara rutin melakukan diskusi dan update dengan Global Indeks Provider. Sejak implementasi 4 aksi reformasi transparansi Pasar Modal Indonesia, BEI terus melakukan continuous improvement atas reformasi transparansi tersebut,” kata Jeffrey.
Salah satu langkah lanjutan dilakukan BEI sejak 15 Juli 2026 dengan menambahkan Price Impact Ratio sebagai salah satu metodologi untuk menentukan saham yang masuk dalam kategori HSC.
Jeffrey menjelaskan, penambahan metodologi tersebut ditujukan untuk meningkatkan aspek tradeability dalam proses replikasi indeks, baik indeks lokal maupun global. Saham yang masuk kategori HSC akan dikeluarkan dari indeks unggulan BEI.
Selain itu, BEI tengah melihat potensi penggabungan informasi afiliasi dengan laporan keterbukaan informasi pemegang saham di atas 1%. Langkah tersebut diarahkan untuk memperkuat informasi dan transparansi yang tersedia bagi pelaku pasar.
Lebih lanjut, BEI juga membuka ruang dialog dengan pelaku pasar untuk memperoleh masukan mengenai pelaksanaan reformasi transparansi. Jeffrey mengatakan masukan tersebut akan menjadi bagian dari proses perbaikan berkelanjutan yang dilakukan BEI.
“Hal ini terus kami lakukan untuk meningkatkan kepercayaan dari seluruh investor Pasar Modal Indonesia,” tutup Jeffrey.
Keputusan FTSE Russell tersebut menyeret IHSG turun 55,70 poin atau 0,86% ke level 6.394,13 dari posisi penutupan sebelumnya 6.449,83.
IHSG sebenarnya sempat menguat pada awal perdagangan dan mencapai level tertinggi 6.490,91. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan. Indeks kemudian berbalik melemah dan menyentuh level terendah 6.373,81 sebelum ditutup di 6.394,13.