‎Menjembatani Modal dan Dampak Sosial Lewat Pasar Modal Berkelanjutan

Tidak lagi semata menjadi tempat bertemunya pemilik modal dan perusahaan untuk mengejar keuntungan finansial, pasar modal kini diarahkan menjadi jembatan antara kebutuhan pendanaan dengan dampak sosial dan lingkungan yang dihasilkan dari investasi.

‎Menjembatani Modal dan Dampak Sosial Lewat Pasar Modal Berkelanjutan
‎Dari kanan ke kiri: Rofikoh Rokhim selaku Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis ‎Universitas Indonesia, ‎Jeffrey Hendrik selaku Direktur Utama BEI, Djamal Attamimi selaku Managing Director Global Business Development, Corporate Finance, and Investment Danantara, Sahat Pangaribuan selaku Direktur Keuangan Permodalan Nasional Madani (PNM) dan Veronica Colondam selaku Founder and CEO YCAB Foundation dalam Impact Investment Festival 2026 di gedung BEI, Kamis 13 Agustus 2026. Foto: Nana/Suar.id
Daftar Isi

Pasar modal Indonesia mulai memainkan peran yang lebih luas dalam mendorong pembangunan berkelanjutan. Tidak lagi semata menjadi tempat bertemunya pemilik modal dan perusahaan untuk mengejar keuntungan finansial, pasar modal kini diarahkan menjadi jembatan antara kebutuhan pendanaan dengan dampak sosial dan lingkungan yang dihasilkan dari investasi.

‎Perkembangan tersebut tercermin dari semakin beragamnya instrumen keuangan berkelanjutan, mulai dari green bond, social bond, sustainability bond, sukuk, hingga instrumen berbasis ESG.

‎Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bahkan tengah mengembangkan Roadmap Pasar Modal Berkelanjutan 2026-2030 yang mencakup penguatan fondasi, perluasan produk, peningkatan partisipasi, serta penguatan kolaborasi. Hingga Desember 2025, akumulasi penerbitan obligasi dan sukuk berkelanjutan telah mencapai Rp74,14 triliun.

‎Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik mengatakan, pada dasarnya keberadaan bursa sejak awal memiliki tujuan memberikan dampak kepada masyarakat.

‎Menurut dia, melalui pasar modal, masyarakat dengan modal relatif kecil dapat ikut memiliki perusahaan-perusahaan besar yang memanfaatkan sumber daya ekonomi Indonesia.

‎“Kalau tidak ada bursa efek, maka hanya segelintir oranglah yang bisa memiliki pertambangan, perkebunan besar yang menggunakan sumber daya alam Indonesia. Dan melalui bursa efek, masyarakat yang paling kecil bisa ikut memiliki perusahaan-perusahaan tersebut,” kata Jeffrey dalam acara Impact Investment Festival 2026 di gedung BEI, Kamis (13/8/2026).

‎Menurut Jeffrey, BEI kemudian mengembangkan berbagai infrastruktur untuk mendorong semakin banyak perusahaan dan investor masuk ke kegiatan ekonomi yang memberikan dampak positif.

‎Infrastruktur tersebut antara lain mencakup aturan penerbitan green bond, social bond, sustainability bond, sukuk, serta berbagai instrumen lain yang berkaitan dengan keberlanjutan.

‎BEI juga menyediakan ESG score bagi perusahaan tercatat melalui kerja sama dengan lembaga independen. Saat ini, penilaian ESG perusahaan tercatat dilakukan bersama Morningstar Sustainalytics dan ditampilkan agar investor dapat mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola dalam keputusan investasinya.

‎“Investor bisa melihat dan bisa menentukan perusahaan-perusahaan mana yang mereka mau invest. Karena sekarang sudah banyak sekali investor yang hanya mau invest di instrumen-instrumen yang ESG score-nya bagus,” ujar Jeffrey.

‎Langkah tersebut diperluas melalui IDX Carbon. Melalui platform ini, unit karbon dapat diperdagangkan dengan sejumlah mekanisme, termasuk pasar reguler, negosiasi, dan lelang. Dengan demikian, aktivitas menjaga lingkungan mulai memiliki nilai ekonomi yang dapat diperdagangkan di pasar.

‎Jeffrey mengatakan BEI juga memberikan insentif berupa diskon 50% biaya pencatatan bagi penerbit green bond, social bond, dan sustainability bond.

‎Selain itu, BEI mengembangkan IDX Net Zero Incubator untuk membantu perusahaan menyusun peta jalan menuju net zero serta Green Equity Designation bagi perusahaan yang menerapkan prinsip hijau dalam kegiatan operasionalnya.

‎“Jadi itu kira-kira infrastruktur yang kita siapkan untuk memberikan insentif, untuk mendorong lebih banyak lagi pihak yang peduli dan memberikan impact sebesar-besarnya kepada publik,” jelas Jeffrey.

‎Instrumen Pemberdayaan

‎Perkembangan pasar modal berkelanjutan tersebut juga mulai mempertemukan kebutuhan pendanaan dengan persoalan sosial yang konkret. ‎Salah satunya ditunjukkan Permodalan Nasional Madani (PNM) melalui penerbitan Orange Bond untuk mendukung pemberdayaan perempuan prasejahtera.

‎Direktur Keuangan PNM, Sahat Pangaribuan, mengatakan, penerbitan Orange Bond merupakan inovasi untuk mendiversifikasi sumber pendanaan PNM sekaligus memperluas kapasitas pemberdayaan perempuan.

‎PNM, kata dia, saat ini melayani sekitar 16 juta perempuan prasejahtera. Pemberdayaan dilakukan tidak hanya melalui pembiayaan, tetapi juga aspek intelektual dan sosial.

‎“Kami perlu melakukan inovasi agar dapat di satu sisi untuk memperluas pemberdayaan, tentunya kita harus mengakses sumber dana yang lebih banyak dengan rate yang mudah-mudahan bisa lebih efisien,” ungkap Sahat.

‎Orange Bond PNM menggunakan prinsip gender-positive capital allocation, gender-lens leadership and diversity, serta transparansi. Penerbitannya mendapat respons kuat dari investor. Dari program penawaran umum berkelanjutan dengan total plafon Rp15 triliun, PNM sejauh ini telah melakukan empat kali penerbitan dengan total Rp7,5 triliun.

‎Pada penerbitan pertama, permintaan investor bahkan mencapai hampir 11 kali dari jumlah yang ditawarkan. Selain menunjukkan minat investor terhadap instrumen berbasis dampak sosial, penerbitan tersebut juga memberikan manfaat dari sisi biaya pendanaan. Sahat menyebut salah satu penerbitan mampu memperoleh tingkat bunga 4,95% untuk tenor satu tahun.

‎Dampak pembiayaan tersebut juga diukur PNM melalui sejumlah indikator. Dalam lima tahun terakhir, jumlah nasabah kelolaan meningkat dari sekitar 9 juta menjadi 16 juta. Selain itu, sekitar 2,5 juta nasabah telah naik kelas ke BRI.

‎PNM juga mencatat hasil riset internal yang menunjukkan pendapatan nasabah meningkat sekitar 34% dan aset meningkat sekitar 22%. Pertumbuhan tiket pembiayaan dari sekitar Rp2 juta menjadi hampir Rp4 juta turut menjadi indikator perkembangan usaha nasabah.

‎“Ini yang real kami bisa track di data internal kami,” kata Sahat.

‎Proyek ekonomi sekaligus sosial

‎Di tingkat yang lebih luas, Danantara melihat pasar modal berkelanjutan sebagai bagian dari upaya mempertemukan modal dengan proyek yang menghasilkan manfaat ekonomi sekaligus sosial.

‎Managing Director Global Business Development, Corporate Finance, and Investment Danantara, Djamal Attamimi, mengatakan prinsip investasi Danantara tetap berorientasi pada return yang berkelanjutan. Namun, return tersebut tidak semata-mata dihitung dari besarnya keuntungan finansial.

‎Menurut Djamal, penciptaan lapangan kerja, penurunan biaya kesehatan, peningkatan pendidikan dan keterampilan, pengembangan teknologi, serta penguatan rantai pasok juga merupakan bentuk dampak yang perlu diperhitungkan dalam investasi.

‎Salah satu bidang yang dilihat memiliki dampak besar adalah pengelolaan sampah. Namun, agar proyek tersebut berkelanjutan, diperlukan pembenahan model bisnis dan skema offtake sekaligus keterlibatan modal swasta.

‎“Danantara kelihatannya modalnya besar, tapi kebutuhan ekonomi secara nasional itu jauh lebih besar lagi yang tidak mungkin hanya dijalankan oleh Danantara saja. Jadi partisipasi dari pihak ketiga juga penting,” tutur Djamal.

Baca juga:

Keberlanjutan Industri dan Alam yang Perlu Dilindungi
Sebagai salah satu produsen kayu terbesar di dunia, keberlanjutan industri hasil hutan di Indonesia bergantung pada ketersediaan bahan baku. Pemanfaatan bahan baku harus memperhatikan kelestarian hutan serta antisipasi dampak kerusakan alam yang ditimbulkan.

‎Karena itu, Danantara berupaya membawa private capital, baik domestik maupun asing, untuk ikut membiayai proyek-proyek tersebut. Setelah proyek berjalan dan memenuhi kelayakan, menurut Djamal, tidak tertutup kemungkinan proyek atau perusahaan yang dihasilkan kemudian dibawa ke bursa sehingga masyarakat juga dapat ikut berpartisipasi.

‎Namun, imbuhnya, keberhasilan membangun pasar modal berkelanjutan tidak cukup hanya dengan memperbanyak produk. Kredibilitas, transparansi, kepastian aturan, dan kemampuan mengukur dampak menjadi faktor penting untuk menarik investor.

‎Djamal mengatakan investor global pada dasarnya melihat Indonesia sebagai pasar yang menarik. Persoalannya adalah bagaimana memastikan investor memperoleh informasi yang transparan dan konsisten serta memiliki kepastian mengenai aturan.

‎“Semakin tinggi tingkat transparansi dan kredibilitas kita maka akan semakin tinggi jumlah modal internasional yang akan masuk ke suatu pasar atau suatu negara,” ujarnya.

‎Investasi berdampak

‎Hal senada disampaikan Founder and CEO YCAB Foundation Veronica Colondam. Menurut dia, tantangan terbesar investasi berdampak adalah mengubah persepsi bahwa investasi sosial identik dengan kegiatan amal atau corporate social responsibility (CSR).

‎YCAB, kata Veronica, selama bertahun-tahun menjalankan program pemberdayaan masyarakat melalui CSR. Namun, model tersebut memiliki keterbatasan karena besarnya dana untuk dampak sosial bergantung pada alokasi CSR.

‎Karena itu, YCAB mulai mencari sumber pendanaan yang lebih berkelanjutan melalui pasar modal. Pengalaman YCAB dalam investasi langsung juga menunjukkan bahwa investasi berdampak tetap dapat menghasilkan keuntungan finansial.

‎Veronica mengatakan YCAB pernah berinvestasi pada 16 perusahaan dan dua di antaranya berhasil mencatatkan hasil exit hingga 10 kali lipat. Pengalaman tersebut menjadi pembuktian bahwa impact investing tidak harus diposisikan sebagai kegiatan amal.

‎“Impact yes, but you have to make money,” ujar Veronica.

‎Menurut dia, pasar modal memberikan peluang untuk memperbesar skala dampak. Ketika aset kelolaan sebuah produk investasi bertambah, dana yang dapat dialokasikan untuk pemberdayaan juga dapat meningkat.

‎Kendati demikian, menurut Veronica, pertumbuhan tersebut harus diikuti dengan sistem pengukuran dampak yang kredibel.

‎Dia menilai pengukuran Social Return on Investment (SROI) penting agar investor dapat mengetahui manfaat sosial yang dihasilkan dari dana yang mereka investasikan.

‎"Di sinilah tantangan berikutnya muncul, yakni mencegah impact washing, ketika suatu produk atau perusahaan mengklaim memiliki dampak sosial atau lingkungan tanpa ukuran yang memadai," ucapnya.

‎Terkait hal tersebut, Jeffrey mengatakan pihaknya menggunakan pihak ketiga yang independen untuk penilaian ESG dan bekerja sama dengan lembaga verifikasi untuk memastikan klaim keberlanjutan dapat dipertanggungjawabkan. Veronica juga mendorong pengukuran dampak melalui riset, white paper, hingga peer review.

‎"Kerja sama pelaku pasar modal dan pelaku di impact ketemu di tengah, sehingga impact nya enggak washing saja, tapi at the same time bisa membesarkan AUM supaya lebih banyak lagi yang bisa diberdayakan," tutur Veronica. ‎

Penulis

Baca selengkapnya