IHSG Berpeluang Naik, Namun Fundamental Pasar Masih Dibayangi Risiko
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan berada dalam kisaran level 6.800-7.000 hingga akhir tahun.
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan berada dalam kisaran level 6.800-7.000 hingga akhir tahun.
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan berada dalam kisaran level 6.800-7.000 hingga akhir tahun. Adapun pergerakan pasar tetap akan dipengaruhi dinamika ekonomi domestik dan global.
Head of Research dan Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mempertahankan target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di level 6.800 - 7.000 hingga akhir tahun. Rully menilai pasar saham Indonesia masih menghadapi sejumlah risiko, baik dari sisi global maupun domestik, sehingga belum ada alasan untuk mengubah proyeksi tersebut.
Tak hanya itu, sentimen pasar dalam beberapa waktu terakhir masih lebih banyak dipengaruhi perkembangan global dibandingkan kondisi domestik. Meski IHSG sempat menguat, pihaknya tetap mengambil sikap cautious terhadap pasar saham Indonesia.
“Jadi di sepanjang semester 2 kita masih cautious kita masih belum mengubah target IHSG kita,” kata Rully dalam Media Day di Jakarta, Selasa (18/8/2026).
Menurut Rully, penguatan IHSG belakangan ini belum sepenuhnya mencerminkan perbaikan fundamental pasar. Kenaikan indeks pada perdagangan tertentu justru lebih banyak ditopang oleh sejumlah saham yang sebelumnya tidak terlalu aktif diperdagangkan.
Sebaliknya, beberapa saham berkapitalisasi besar dengan fundamental kuat tidak menjadi penggerak utama penguatan IHSG. Rully mencontohkan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan Astra yang justru mengalami penurunan ketika IHSG menguat.
“Kalau kita lihat lebih rinci kenapa di IHSG itu menguat di hari Jumat itu lebih yang mendorong penguatan IHSG itu lebih ke saham-saham yang kayaknya nggak terlalu terkait dengan optimisme. Sementara untuk saham-saham fundamental kayak kemarin kalau nggak salah BBCA, Astra (ASII) itu justru malah turun,” lanjut Rully.
Menurut dia, sentimen global masih menjadi faktor dominan yang menentukan arah IHSG dalam waktu dekat. Perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan bank sentral Amerika Serikat turut memengaruhi pergerakan aset berisiko, termasuk pasar saham Indonesia.
Di sisi lain, penguatan IHSG tetap perlu ditopang fundamental yang lebih kuat, terutama dari kinerja emiten. Rully mengatakan kinerja perusahaan pada kuartal II 2026 masih cukup baik, tetapi potensi perlambatan ekonomi pada semester II berisiko menekan laba perusahaan pada periode berikutnya.
“Kalau dari sisi earnings di kuartal 2 masih cukup bagus, cuma ya kalau kita lihat mungkin dengan yang saya sampaikan tadi, potensi perlambatan ekonomi di semester 2 ini juga mungkin akan berdampak pada earnings dari perusahaan,” kata Rully.
Sementara itu, Kiwoom Sekuritas menilai tren jangka pendek IHSG masih menunjukkan momentum positif.
Dalam keterangannya, Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menjelaskan penguatan IHSG diperkuat oleh keberhasilan indeks menembus level resistance 6.377 dan bertahan di atas sejumlah indikator teknikal, yakni EMA10 di level 6.324, EMA20 di 6.266, dan EMA50 di 6.275.
“Tren bullish jangka pendek masih terjaga,” kata Liza, Selasa (18/8/2026).
Kiwoom juga mencatat IHSG berhasil mempertahankan pola higher low sekaligus menembus resistance terdekat pada perdagangan hari sebelumnya. Kondisi tersebut menunjukkan momentum penguatan indeks kembali meningkat.
Dari sisi momentum, Relative Strength Index (RSI) 14 hari berada di level 59,32. Posisi tersebut masih berada dalam area netral hingga bullish dan belum menunjukkan kondisi overbought. Dengan demikian, ruang penguatan IHSG masih terbuka.
Pihaknya memperkirakan IHSG dapat melanjutkan penguatan apabila mampu bertahan di atas level 6.377. Dalam skenario tersebut, indeks berpotensi bergerak menuju resistance berikutnya di level 6.454.
“Penguatan berpotensi berlanjut menuju 6.454, kemudian 6.500–6.600,” ungkapnya.
Sebaliknya, apabila IHSG mengalami koreksi dan gagal mempertahankan level 6.377, indeks berpotensi kembali menguji EMA10 di level 6.324. Support berikutnya berada di kisaran 6.275–6.266, yang bertepatan dengan EMA50 dan EMA20.
Dari sisi aliran dana, investor asing masih mencatatkan aksi jual. Pada perdagangan 14 Agustus 2026, investor asing mencatat net sell sebesar Rp396,50 miliar di pasar reguler dan Rp1,03 triliun di seluruh pasar.
Meski demikian, pihaknya masih melihat peluang penguatan IHSG selama level 6.377 mampu dipertahankan. Liza pun merekomendasikan investor untuk mempertahankan posisi atau melakukan akumulasi saat terjadi pelemahan, dengan tetap memperhatikan konfirmasi penembusan resistance berikutnya.
IHSG sendiri berhasil menguat pada perdagangan Selasa (18/8/2026). IHSG ditutup di level 6.449,83, naik 47,94 poin atau 0,75% dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di 6.401,89.
Berdasarkan data perdagangan, IHSG bergerak dalam rentang 6.448,26 hingga 6.490,65 sepanjang sesi. Indeks sempat menyentuh level tertinggi 6.490,65, namun penguatan mulai terbatas menjelang penutupan perdagangan akibat aksi ambil untung investor.
Aktivitas perdagangan saham hari ini mencatatkan nilai transaksi sebesar Rp14,83 triliun dengan frekuensi perdagangan mencapai 2,18 juta kali transaksi.
Dari sisi transaksi investor asing, tekanan jual masih terlihat. Investor asing mencatatkan nilai jual sebesar Rp4,67 triliun, lebih tinggi dibandingkan nilai beli yang mencapai Rp4,31 triliun. Dengan demikian, investor asing membukukan net sell sebesar Rp355,17 miliar.
Risiko terhadap pasar saham tersebut juga tidak terlepas dari kondisi makroekonomi domestik. Rully melihat ruang fiskal pemerintah semakin terbatas, sementara kebijakan moneter masih perlu menjaga stabilitas nilai tukar, inflasi, dan likuiditas.
Menurutnya, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) memang mengarah pada kebijakan yang lebih pro-growth. Namun, ruang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi tetap terbatas karena stabilitas fiskal dan moneter harus dijaga.
“Dari fiskal kita lihat sebenarnya ruang fiskalnya juga semakin sempit. Jadi overall sebenarnya situasi di sepanjang semester II ini sama-sama ketat, baik dari BI-nya ketat, suku bunganya masih tinggi, fiskalnya juga ketat karena defisitnya harus dijaga di bawah 3%,” ucap Rully.
Kondisi tersebut menjadi penting karena pemerintah tetap membutuhkan ruang fiskal untuk membiayai berbagai program pertumbuhan. Namun, peningkatan belanja tidak dapat dilakukan secara leluasa ketika defisit APBN harus dipertahankan di bawah 3% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Dalam RAPBN 2027, pemerintah menargetkan defisit sebesar 2,4% PDB atau sekitar Rp671,2 triliun. Belanja negara direncanakan mencapai Rp4.097,2 triliun, sedangkan pendapatan negara ditargetkan sebesar Rp3.426 triliun.
Menurut Rully, pemerintah perlu meningkatkan penerimaan, terutama dari perpajakan, agar tetap memiliki ruang fiskal untuk menjalankan program pertumbuhan tanpa menambah tekanan terhadap APBN.
Keterbatasan ruang fiskal juga berlangsung bersamaan dengan risiko dari pasar obligasi global dan nilai tukar. Rully mengatakan kenaikan imbal hasil atau yield US Treasury perlu dicermati karena dapat mempersempit selisih imbal hasil dengan Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia.
Jika spread tersebut semakin menyempit, tekanan terhadap Rupiah berpotensi meningkat. Penyesuaian kemudian dapat terjadi melalui kenaikan yield SBN domestik.
“Jadi kalau misalkan apa namanya kalau terus mengecil ya mungkin ini akan juga kemungkinan yang menurut kita akan adjust ini adalah dari sisi bond yield dari Indonesia,” kata Rully.
Pihaknya memperkirakan yield SBN tenor 10 tahun berada di sekitar 7,5%. Proyeksi tersebut lebih tinggi dibandingkan level yield yang sempat bergerak di kisaran 7%–7,1%.
Sementara itu, Rully menilai penguatan Rupiah dalam beberapa waktu terakhir belum sepenuhnya mencerminkan perbaikan fundamental ekonomi domestik. Penguatan tersebut lebih banyak dipengaruhi sentimen global, terutama pelemahan dolar AS.
Pihaknya pun masih memperkirakan Rupiah berpotensi kembali bergerak menuju Rp18.000 per dolar AS. Risiko tersebut antara lain berasal dari potensi pelemahan external balance Indonesia.
“Untuk external balance kita akan melemah. Impor minyaknya mungkin akan tinggi, impor bahan bakunya juga mungkin akan tinggi karena program-program hilirisasi ini juga mungkin akan banyak bahan baku yang diimpor,” ujar Rully.
Sementara itu, resiko terhadap Rupiah tersebut membuat ruang BI untuk memangkas suku bunga secara agresif dinilai masih terbatas. Rully memperkirakan BI Rate berada di sekitar 6% hingga akhir 2026 dan berpotensi bertahan hingga 2027.
Dengan kondisi tersebut, dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi dinilai lebih memungkinkan melalui kebijakan non-suku bunga, termasuk kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran.
Pilihan tersebut menjadi penting karena pertumbuhan kredit perbankan sudah berada pada level tinggi. Rully mencatat pertumbuhan kredit sejumlah bank BUMN telah mencapai sekitar 23%–25%.
Menurut dia, apabila ekspansi kredit didorong terlalu agresif, risiko terhadap likuiditas, inflasi, dan nilai tukar dapat meningkat.
Risiko likuiditas juga tercermin dari kondisi pasar uang. Penempatan dana pemerintah melalui Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebelumnya membantu melonggarkan likuiditas perbankan. Namun, apabila dana tersebut kembali ditarik, kondisi likuiditas dapat mengetat dengan cepat.
Kondisi tersebut, imbuhnya, kemudian menjadi perhatian khusus bagi sektor perbankan, terutama karena pertumbuhan kredit saat ini lebih cepat dibandingkan pertumbuhan dana pihak ketiga.