Seri Catatan: Creative Destruction ala Joseph Schumpeter — Bagian 4
Cerita ini bermula dari China. Sebelum berkunjung ke sana awal bulan lalu, saya belum sepenuhnya percaya ketika seorang mantan teman sekelas di University of Illinois—yang kini menjabat Managing Director sekaligus Chief Economist di salah satu bank besar di kawasan ini—bercerita kepada saya. Katanya, ia kini jauh lebih nyaman berlari sebelum tidur saat berkunjung ke Shanghai atau Beijing dibandingkan sepuluh tahun lalu, ketika ia masih tergabung dalam misi IMF.
Langit China, ujarnya, kini lebih bersih dan udaranya lebih senyap—berkat kehadiran mobil listrik yang kian masif dan meningkatnya porsi energi terbarukan dalam pembangkitan listrik.
Saya mengalami hal serupa di Shenzhen. Langit di sana terasa jauh lebih bersih dibandingkan terakhir kali saya mengunjungi China pada 2018. Dan ini bukan sekadar kesan.
Kadar polusi udara halus (PM2.5) di Beijing anjlok sekitar 70 persen—dari di atas 100 mikrogram per meter kubik pada 2013 menjadi hanya sekitar 30 pada 2024–2025, tahun paling bersih yang pernah tercatat.
Salah satu pendorong terbesarnya adalah ledakan mobil listrik: pangsanya di antara mobil baru yang terjual di China melonjak dari sekitar 5 persen pada 2020 menjadi sekitar 50 persen pada 2024, dengan hampir 11 juta unit terjual dalam setahun. Peningkatan ini diiringi dengan perkembangan pesat Pembangunan pembangkit renewable di seluruh China
Perubahan itulah yang membawa saya pada satu pertanyaan lama yang tiba-tiba terasa baru kembali.
Grafis ini ditambahkan Tim SUAR, bukan sebagai materi penulis
Satu Contoh Klasik yang Bertahan Seabad
Selama lebih dari satu abad, mahasiswa ekonomi di seluruh dunia mempelajari satu contoh klasik tentang monopoli alamiah (natural monopoly): industri listrik. Alasannya sederhana. Membangun pembangkit menuntut investasi raksasa; membangun jaringan transmisi dan distribusi menuntut ribuan kilometer kabel. Semakin besar sistemnya, semakin rendah biaya rata-ratanya. Karena itu, lebih efisien bila hanya ada satu perusahaan yang menyediakan listrik daripada banyak perusahaan yang membangun jaringan sendiri-sendiri. Logika inilah yang melahirkan perusahaan listrik besar di hampir seluruh dunia—termasuk PLN di Indonesia.
Natural monopoly & skala ekonomi. Sebuah industri menjadi monopoli alamiah ketika biaya rata-rata terus menurun seiring bertambahnya output—sehingga satu penyedia besar selalu lebih murah daripada banyak penyedia kecil. Listrik lama menjadi contoh buku teks karena pembangkit dan jaringannya “tak terbagi” (lumpy): mahal, besar, dan hanya efisien dalam skala raksasa.
Selama hampir satu abad, teori itu terbukti benar. Namun kini saya mulai bertanya: apakah monopoli alamiah masih benar-benar alamiah?
Ketika Edison Membangun Dunia yang Terpusat
Kisah ini sebenarnya dimulai pada akhir abad ke-19. Thomas Edison membangun pembangkit listrik komersial pertama di New York pada 1882. Pada masa itu, listrik hanya bisa diproduksi secara efisien dalam skala besar, lalu disalurkan ke pelanggan melalui jaringan kabel. Model itu berkembang pesat: pembangkit kian besar, jaringan transmisi kian panjang, teknologi kian efisien.
Muncullah sebuah prinsip yang sangat terkenal: semakin besar pembangkit, semakin murah biaya per satuan listrik. Inilah kekuatan economies of scale. Samuel Insull—salah satu tokoh terpenting dalam sejarah kelistrikan—bahkan membangun seluruh model bisnis listrik modern di atas prinsip tersebut: pembangkit raksasa, tarif yang diatur, dan konsumsi massal. Selama lebih dari seratus tahun, hampir tak ada alasan untuk meragukannya.

Teknologi Mulai Mengubah Persamaan
Namun revolusi teknologi jarang datang dari satu penemuan tunggal. Ia datang sebagai kombinasi berbagai inovasi yang saling memperkuat. Panel surya menjadi jauh lebih murah. Baterai berkembang pesat. Smart meter memungkinkan komunikasi dua arah. Kecerdasan buatan (AI) mampu mengatur konsumsi secara real time. Internet of Things menghubungkan jutaan perangkat. Kendaraan listrik pun berfungsi bukan hanya sebagai konsumen listrik, tetapi juga sebagai penyimpan energi.
Masing-masing inovasi mungkin tampak kecil. Tetapi digabungkan, semuanya mengubah struktur biaya industri listrik. Dan perubahan biayanya bukan sekadar besar—ia dramatis. Dalam waktu satu dekade lebih, dua teknologi kunci runtuh harganya:
Biaya listrik surya turun sekitar 90 persen sejak 2010—kini rata-rata global hanya sekitar $0,04 per kWh, sehingga lebih murah daripada hampir semua pembangkit fosil. Harga baterai litium-ion juga jatuh hampir 90 persen, menyentuh rekor terendah $115 per kWh pada 2024. Ketika dua kurva biaya ini menukik bersamaan, listrik yang bersih sekaligus tersimpan tidak lagi menjadi kemewahan—ia menjadi pilihan yang paling ekonomis.
Kurva pembelajaran (Wright's Law). Berbeda dari pembangkit raksasa yang “tak terbagi”, panel surya dan baterai adalah produk manufaktur modular: setiap kali produksi kumulatifnya berlipat, biayanya turun dengan persentase yang konsisten. Inilah mesin di balik keruntuhan harga itu—dan alasan mengapa skala ekonomi lama (satu pembangkit besar) mulai kalah oleh skala manufaktur (miliaran unit kecil).
Dari Konsumen Menjadi Produsen
Pada masa lalu, rumah tangga hanya mengonsumsi listrik. Kini rumah tangga dapat menghasilkannya lewat panel surya di atap, menyimpannya dalam baterai, dan—suatu saat nanti—memasok kembali listrik dari baterai mobil ke jaringan. Rumah tangga berubah menjadi prosumer—sekaligus produsen (producer) dan konsumen (consumer).
Prosumer (Alvin Toffler, 1980). Istilah ini diperkenalkan futuris Alvin Toffler dalam The Third Wave: kaburnya garis antara produsen dan konsumen. Yang dulu sebatas ramalan kini menjadi kenyataan teknis di sektor listrik—dan mengubah arah aliran nilai, bukan sekadar arah aliran elektron.
Bayangkan satu rumah menghasilkan 5 kilowatt—angka yang tampak tak berarti. Namun satu juta rumah menghasilkan sekitar 5 gigawatt, setara beberapa pembangkit listrik besar. Yang berubah bukan sekadar teknologinya. Yang berubah adalah siapa yang menghasilkan listrik.

Apakah Pembangkit Besar Akan Hilang?
Jawabannya hampir pasti tidak—sama seperti toko buku yang tidak lenyap ketika Amazon muncul, dan bioskop yang tetap bertahan setelah Netflix berkembang. Pembangkit besar masih memegang peran penting: menyediakan pasokan dasar (baseload), menjaga kestabilan sistem, dan menjadi cadangan saat surya atau angin tidak tersedia.
Yang berubah bukan keberadaan pembangkit besar, melainkan fungsinya. Jika dahulu ia satu-satunya produsen listrik, di masa depan ia hanya akan menjadi salah satu simpul dari ekosistem energi yang jauh lebih kompleks.
Monopoli Berpindah Tempat
Di sinilah letak perubahan yang paling menarik. Jika jutaan rumah bisa menghasilkan listriknya sendiri, maka pembangkitan listrik justru menjadi semakin kompetitif. Lalu di mana letak monopoli alamiahnya?
Saya menduga monopoli tidak hilang—ia hanya berpindah. Yang menjadi semakin penting bukan lagi siapa yang menghasilkan listrik, melainkan siapa yang mengoordinasikan jutaan produsen kecil tersebut. Dalam bahasa sederhana: masa depan listrik bukan lagi soal membangun pembangkit terbesar, melainkan membangun otak sistem.
AI-lah yang akan menentukan kapan baterai diisi, kapan kendaraan listrik menyuplai ke jaringan, kapan panel surya mengekspor listrik, dan kapan industri mengurangi konsumsi. Nilai tambah perlahan berpindah dari aset fisik ke kemampuan mengoordinasikan sistem.
Distributed energy resources & virtual power plant. Ketika ribuan panel, baterai, dan mobil listrik dijalin menjadi satu sumber daya yang dapat dikendalikan bersama, terbentuklah “pembangkit maya” (virtual power plant). Kelangkaan—dan karenanya kekuatan pasar—berpindah dari mesin pembangkit ke perangkat lunak yang mengorkestrasi jutaan simpul. Monopoli baru bukan pada beton, melainkan pada platform koordinasi.
Dari Perusahaan Listrik Menjadi Platform Energi
Transformasi ini mengingatkan kita pada Uber, yang nyaris tak memiliki mobil tetapi mengelola jutaan kendaraan; atau Airbnb, yang nyaris tak memiliki hotel tetapi menghubungkan jutaan kamar. Begitu pula perusahaan listrik masa depan: mungkin mereka memiliki lebih sedikit pembangkit dibanding sekarang, tetapi mengelola jutaan panel surya, baterai rumah tangga, kendaraan listrik, dan perangkat pintar yang saling terhubung. Perusahaan listrik akan berevolusi menjadi energy platform.
Ekonomi platform (asset-light). Nilai platform tumbuh dari orkestrasi banyak sisi dan menguat lewat efek jaringan—bukan dari kepemilikan aset. Perusahaan listrik yang paling berharga di masa depan mungkin justru yang paling sedikit memiliki pembangkit, tetapi paling pandai menautkan jutaan sumber energi kecil menjadi satu sistem yang andal.

Pelajaran bagi Indonesia
Perubahan ini berimplikasi besar bagi Indonesia. Selama puluhan tahun, pertanyaan utama kita adalah: “Berapa banyak pembangkit yang harus dibangun?” Dalam satu-dua dekade mendatang, pertanyaannya mungkin berubah menjadi: “Bagaimana membangun sistem yang mampu mengoordinasikan jutaan sumber energi yang tersebar di seluruh Nusantara?”
Bagi negeri tropis dengan sinar matahari melimpah sepanjang tahun dan belasan ribu pulau yang tersebar, pergeseran ini bukan ancaman, melainkan peluang. Justru di wilayah yang sulit dijangkau kabel, model terdistribusi bisa lebih murah daripada menarik jaringan konvensional. Yang dibutuhkan adalah jenis investasi yang berbeda: lebih banyak kecerdasan digital, perangkat lunak, data, dan AI—dan mungkin lebih sedikit beton.
Lebih dari itu, bagi Indonesia ini bukan lagi sekadar peluang jangka panjang—ia bisa menjadi jalan keluar jangka pendek. Ada kekhawatiran nyata bahwa Indonesia menghadapi risiko krisis pasokan listrik dalam 1 hingga 2 tahun ke depan, sementara nyaris tidak ada pembangkit besar baru yang siap beroperasi dalam waktu dekat. Membangun pembangkit konvensional—batu bara, gas, apalagi PLTA besar—memakan waktu bertahun-tahun, dari perencanaan hingga benar-benar beroperasi. Waktu itu tidak kita miliki.
Di sinilah keunggulan model terdistribusi menjadi sangat terasa, yaitu sangat praktis. Panel surya di atap rumah dan gedung dapat dipasang dalam hitungan pekan hingga bulan—bukan tahun—dan justru menambah pasokan pada siang hari, ketika permintaan sekaligus risiko pemadaman memuncak. Dengan mengizinkan dan mempermudah jaringan listrik terdesentralisasi di rumah tangga dan gedung, Indonesia dapat menambal defisit pasokan dan menghindari brownout (pemadaman bergilir) di tahun-tahun mendatang—sembari membeli waktu untuk membangun sistem yang lebih besar dan lebih cerdas.
Waktu-bangun (lead time) sebagai kunci kebijakan. Pembangkit besar butuh bertahun-tahun dari perencanaan hingga beroperasi; surya atap bisa daring dalam hitungan bulan. Karena beban puncak siang hari kerap bertepatan dengan puncak produksi surya, ribuan instalasi kecil yang tersebar dapat meredam krisis jauh lebih cepat daripada satu proyek raksasa yang baru rampung bertahun-tahun kemudian. Desentralisasi bukan hanya soal efisiensi jangka panjang—melainkan asuransi terhadap pemadaman jangka pendek.

Creative Destruction yang Sesungguhnya
Kita sering memahami creative destruction sekadar sebagai teknologi baru yang menggantikan teknologi lama. Padahal hakikatnya jauh lebih dalam: creative destruction mengubah apa yang menciptakan nilai ekonomi. Dahulu nilai berada pada pembangkit yang besar; kini nilai bergeser ke kemampuan menjalin jutaan pembangkit kecil menjadi satu sistem yang andal.
Karena itu saya makin yakin istilah natural monopoly perlu dibaca ulang. Monopoli bukanlah sesuatu yang ditentukan oleh alam. Ia merupakan hasil dari teknologi yang tersedia pada suatu masa. Ketika teknologi berubah, struktur industri pun ikut berubah. Dan sejarah industri listrik mungkin sedang memasuki babak terbesarnya sejak Thomas Edison pertama kali menyalakan lampu di New York, lebih dari 140 tahun lalu.
Pola yang Sama, Sekali Lagi
Pembaca setia seri ini akan mengenali polanya. Ini adalah kisah yang sama yang kita temui pada toko buku, Netflix, dan wartel—hanya dengan wujud yang baru. Setiap kali teknologi meruntuhkan biaya, nilai tidak lenyap; ia berpindah ke lapisan yang lebih tinggi.
Toko Buku. Informasi menjadi gratis; perhatian menjadi berharga.
Netflix. Kepemilikan menjadi tak perlu; akses menjadi berharga.
Wartel. Monopoli alamiah runtuh; kemampuan beradaptasi menjadi keunggulan.
Listrik. Pembangkitan menjadi berlimpah; koordinasi menjadi berharga.
Dan perhatikan wajah yang muncul di babak keempat ini: yang menjadi langka, dan karenanya berharga, adalah kemampuan mengoordinasikan—otak sistem, yaitu AI. Benang merah yang sejak awal kita ikuti akhirnya menjadi kasat mata. Di era ini, keunggulan bukan lagi milik yang paling besar aset fisiknya, melainkan milik yang paling cerdas menautkan yang kecil-kecil menjadi satu.
“Masa depan listrik bukan soal membangun pembangkit terbesar, melainkan membangun otak sistemnya.”
Sumber data
— Biaya listrik surya (LCOE) turun ~90% sejak 2010, rata-rata global ~$0,044/kWh (2023) & ~$0,043/kWh (2024) — IRENA, Renewable Power Generation Costs (via PV-Tech & pv magazine).
— Harga paket baterai litium-ion ~$115/kWh (2024), rekor terendah, turun ~90% dari ±$1.400/kWh (2010) — BloombergNEF, Lithium-Ion Battery Price Survey.
— Mobil listrik (NEV) China: pangsa ~50% mobil baru (2024), ~11 juta unit; naik dari ~5% (2020) — CarNewsChina/Climate Scorecard.
— Kualitas udara Beijing: PM2.5 turun ~70% dari >100 µg/m³ (2013) ke ~27–32 µg/m³ (2024–2025), didorong sebagian oleh EV — Electrek; Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA).
— Prosumer — Alvin Toffler (1980), The Third Wave. Creative destruction — Joseph A. Schumpeter (1942), Capitalism, Socialism and Democracy.
Opini ini sepenuhnya merupakan pandangan penulis. Bila Anda tertarik untuk menjadi kontributor opini, silakan mendaftarkan diri Anda dengan kirim email ke [email protected]