Kesengsem Lasem

Lasem adalah tempat di mana rindu tak pernah selesai. Seperti ombaknya yang tak henti menyentuh pantai, ia memanggil untuk kembali, membiarkan diri hanyut dalam pesona yang tak lekang oleh waktu. 

Kesengsem Lasem

Saudaraku, dari Universitas Jember, perjalananku berlanjut menuju Rembang, memenuhi undangan Peresmian dan Pembukaan Liem Heritage Museum, milik kamrad Udaya Halim. Kesempatan baik untuk menjelajahi Lasem, "Tiongkok Kecil" yang lama kuidamkan.

Kawasan Pecinan seluas sekitar 26 hektar ini memiliki keluasan dan kekayaan sedimentasi lapisan budaya melampaui Malaka. Tambang emas warisan peradaban yang terabaikan.

Lasem adalah kisah yang diukir angin di antara jendela-jendela kayu tua, aroma laut bertaut bau tembakau, dan warna merah bata yang tak lekang oleh waktu.

Ia bukan sekadar kota, tapi puisi yang ditulis ulang setiap fajar oleh mentari yang menyentuh dinding pecinan, oleh gemericik sungai yang mengalir pelan membawa kenangan.

Di setiap sudutnya, aku menemukan bisikan sejarah. Pada kelenteng tertua di Jawa, Cu An Kiong, berdiri sejak abad 16, bisa kucium aroma dupa yang berhembus melintasi rangkaian abad.

Ilustrasi Lasem (AI/ Tim SUAR)

Pada rumah-rumah kayu jati tua, terukir rahasia karakter perantau pemberani dari negeri seberang. Pada kerajinan batik tulis, terlukis penyerbukan silang budaya yang memancarkan perjumpaan damai saling memperkaya dalam perbedaan.

Di jalan-jalan sempit terbentang kisah dengan genggaman luas, lebih panjang dari garis pantai, lebih dalam dari sumur tua yang menyimpan bayangan masa lalu.

Lasem bukan sekadar kota, ia adalah kanvas yang disapu warna-warni keberanian dan kelembutan. Warna bukan sekadar cat yang melekat di dinding, tapi nyawa yang menghidupkan kota. Merah Lasem bukan hanya tentang kain batik yang dicelup dengan tangan penuh cinta, tapi juga tentang jejak keberanian, tentang darah yang mengalir dalam perjuangan.

Di sudut-sudut gang, senyuman penduduknya adalah puisi yang tak terucap. Mereka yang melukis malam dengan canting, membiarkan tangan mereka menyerap cerita leluhur. Di setiap helai kain batik yang terbentang, ada jejak tangan-tangan penuh kasih, mencelupkan harapan di atas kanvas sang waktu.

Lasem adalah tempat di mana rindu tak pernah selesai. Seperti ombaknya yang tak henti menyentuh pantai, ia memanggil untuk kembali, membiarkan diri hanyut dalam pesona yang tak lekang oleh waktu. 

Tulisan ini merupakan catatan pribadi karya Cendekiawan Yudi Latif. Tim SUAR sudah mendapatkan izin untuk dimuat di website kami. Bila Anda tertarik untuk menjadi kontributor opini, silakan mendaftarkan diri anda dengan kirim email ke [email protected]

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)

Lainnya Dalam Hari Batik Nasional