IHSG Pasca Reshuffle Menteri: Investor Perlu Wait and See atau Mulai Akumulasi?
Pelemahan pasar saham domestik berlanjut di tengah reshuffle kabinet yang dilakukan pemerintah, meski perubahan susunan menteri bukan menjadi satu-satunya faktor yang menekan pergerakan indeks.
•
5 Menit Baca
Oleh:
Tautan telah disalin! Tempelkan ke stiker tautan di Bio atau Story Anda.
Suasana penutupan perdagangan di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto: Nana/Suar.id
Dalam Artikel Ini
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memasuki Oktober 2026 dalam tekanan setelah mengalami koreksi tajam sepanjang September. Pelemahan pasar saham domestik berlanjut di tengah reshuffle kabinet yang dilakukan pemerintah, meski perubahan susunan menteri bukan menjadi satu-satunya faktor yang menekan pergerakan indeks.
Pada perdagangan awal Oktober, IHSG sempat terperosok ke bawah level psikologis 6.000 sebelum akhirnya berbalik menguat. Kondisi tersebut membuat investor perlu mencermati dua hal sekaligus, yakni arah kebijakan pemerintah pasca reshuffle dan kondisi eksternal yang masih memberikan tekanan terhadap pasar keuangan domestik.
Kinerja September menjadi gambaran kuatnya tekanan yang dihadapi pasar. Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG mengawali September 2026 di level 6.599,94 dan kemudian merosot 8,01% sepanjang bulan hingga ditutup pada level 6.071,14 pada Rabu (30/9/2026).
Koreksi tersebut sekaligus berbanding terbalik dengan kondisi pada September 2025. Saat itu, IHSG justru menguat 4,2% dari level pembukaan 7.736,07 dan sempat mencapai rekor tertinggi 8.126,56 pada 24 September 2025. Indeks kemudian menutup perdagangan bulan tersebut di level 8.061,06.
Reshuffle justru menambah ketidakpastian
Analis pasar modal, Elandry Pratama, menilai pelemahan IHSG ke area 6.000 tidak dapat dilepaskan dari reshuffle karena justru menambah ketidakpastian baru. Tapi perubahan susunan kabinet juga bukan faktor tunggal yang menjelaskan tekanan pasar.
“Menurut saya pelemahan IHSG ke area 6.000 ini bukan semata-mata karena reshuffle. Reshuffle memang menambah uncertainty dan membuat investor wait and see, tapi tekanan global seperti penguatan USD, yield US Treasury, dan risk appetite global juga cukup dominan. Jadi lebih ke kombinasi faktor domestik dan eksternal,” ujar Elandry kepada SUAR, Jumat (2/10/2026).
Setelah reshuffle, imbuhnya, perhatian pasar akan tertuju pada arah kebijakan kabinet baru. Investor tidak hanya melihat siapa yang menempati posisi menteri, tetapi juga bagaimana konsistensi kebijakan, kepastian regulasi, serta pelaksanaan kebijakan pemerintah ke depan.
“Yang paling penting bukan hanya siapa menterinya, tapi bagaimana konsistensi kebijakan, kepastian regulasi, dan eksekusinya ke depan. Kalau policy clarity cepat terbentuk, market sentiment juga bisa lebih stabil,” katanya.
Dari sisi pasar, level 6.000 menjadi perhatian penting. Elandry mencatat IHSG sempat turun hingga 5.973 sebelum kembali ditutup di level 6.009,50.
“Untuk IHSG, area 6.000 menurut saya menjadi support psikologis yang sangat penting. Kemarin IHSG sempat turun ke 5.973 sebelum kembali ditutup di 6.009,5. Kalau level 6.000 mampu dipertahankan, peluang technical rebound masih terbuka,” ujarnya.
Namun, apabila IHSG kembali menembus level tersebut secara konsisten, indeks berpotensi menguji area dukungan berikutnya di kisaran 5.900–5.950.
Selain indeks, investor juga perlu memperhatikan pergerakan rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS. Kondisi tersebut dapat menjaga volatilitas pasar saham, terutama pada saham yang sensitif terhadap nilai tukar, suku bunga, dan arus modal asing.
“Di sisi lain, pergerakan Rupiah menuju Rp18.000/USD tetap perlu dicermati karena bisa menjaga volatility di pasar saham. Rupiah sendiri sudah sempat menembus Rp18.000 pada akhir September akibat tekanan global,” kata Elandry.
Elandry mengungkapkan saham-saham yang sensitif terhadap pergerakan rupiah, suku bunga, dan arus modal asing masih menghadapi tekanan relatif besar. Sementara itu, sektor defensif dan sektor yang bertumpu pada kebutuhan domestik cenderung memiliki karakter yang berbeda dalam menghadapi gejolak pasar.
Memasuki kuartal IV-2026, dia menyebut bahwa peluang window dressing (strategi untuk mempercantik laporan keuangan/portofolio) tetap terbuka. Namun, ruang tersebut sangat bergantung pada stabilitas rupiah, arus dana asing, dan sentimen pasar secara keseluruhan.
“Untuk window dressing Q4 masih ada peluang, tapi sangat tergantung apakah Rupiah, foreign flow, dan market sentiment mulai stabil,” jelas Elan
Faktor global dan makro masih jadi penentu
Di luar faktor reshuffle, perkembangan global juga akan menentukan ruang gerak IHSG pada awal kuartal IV.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta mencatat sentimen eksternal relatif memberikan ruang bagi pasar saham untuk melakukan technical rebound. Salah satunya berasal dari penurunan yield US Treasury 10 tahun sebesar 1,22% menjadi 5,246%.
Pernyataan Federal Reserve Vice Chair Philip Jefferson yang mengindikasikan pendekatan lebih hati-hati terhadap kebijakan suku bunga turut meredakan tekanan di pasar obligasi Amerika Serikat.
Di sisi lain, risiko dari pasar energi masih perlu diperhatikan. Harga Brent naik 1,28% menjadi USD103,55 per barel, sedangkan WTI menguat 2,75% menjadi USD92,91 per barel. Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan volatilitas melalui risiko inflasi berbasis energi.
Dari domestik, inflasi September 2026 tercatat 3,28% secara tahunan, naik dari 3,19% pada Agustus. Kenaikan tersebut masih berada dalam sasaran inflasi Bank Indonesia (BI), tetapi perlu dicermati jika tekanan harga energi berlanjut.
Kondisi tersebut, kata dia, berpotensi membatasi ruang pelonggaran moneter dan pada akhirnya memengaruhi valuasi saham.
“Sementara itu, investor memasuki periode publikasi laporan keuangan kuartal III-2026. Kinerja emiten akan menjadi salah satu faktor penting untuk melihat apakah pelemahan harga saham telah menciptakan peluang akumulasi atau justru mencerminkan memburuknya fundamental perusahaan” tuturnya.
Pertumbuhan investor tetap berlanjut
Di tengah tekanan IHSG, perkembangan struktural pasar modal Indonesia tetap menunjukkan pertumbuhan.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyebut rata-rata nilai transaksi harian meningkat dari Rp18 triliun pada 2025 menjadi Rp21 triliun sepanjang 2026, atau tumbuh sekitar 16%.
Jumlah investor juga meningkat signifikan. Dari sekitar 20 juta investor pada akhir 2025, jumlahnya telah menembus lebih dari 31,9 juta investor.
Jeffrey menilai perkembangan tersebut perlu ditopang kepercayaan pasar melalui transparansi, tata kelola, dan kredibilitas. “Terkait dengan pasar modal, tentu ada tiga kata yang hari ini perlu kita angkat bersama, yaitu Trust, Growth, dan Future,” ujar Jeffrey di Gedung BEI, Jumat (2/10/2026).
Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hasan Fawzi, mencatat jumlah investor telah mencapai 32,17 juta Single Investor Identification (SID) hingga akhir September 2026.
Jumlah tersebut meningkat lebih dari 12 juta investor dibandingkan akhir tahun sebelumnya atau tumbuh 57,96%.
Dari sisi penghimpunan dana, hingga akhir September terdapat 148 emisi dengan nilai fundraising Rp169,5 triliun. Selain itu, masih terdapat pipeline penghimpunan dana sebesar Rp27,61 triliun.
Namun, Hasan menekankan bahwa pertumbuhan pasar modal tidak cukup hanya dilihat dari jumlah investor dan perusahaan tercatat. Kualitas emiten, fundamental, tata kelola, serta literasi investor juga menjadi bagian penting.
“Tantangan ke depan, kita tidak bicara sekadar menambah kuantitas dari perusahaan tercatat dan investor. Tetapi kita dituntut harus mampu menghadirkan perusahaan yang berkualitas, memiliki fundamental dan tata kelola yang kuat, sekaligus membangun basis investor yang terliterasi dengan baik,” katanya.