Sejak awal beroperasinya Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga kini hampir berusia setengah abad, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah berulang kali jatuh bangun dalam terpaan krisis baik akibat tekanan global maupun persoalan dalam negeri. Namun, BEI terus berbenah dan terus berkembang menjadi pasar modal terbesar di kawasan.
Momentum 49 tahun diaktifkannya kembali pasar modal Indonesia pada 10 Agustus 2026 seolah menjadi pengingat bahwa ketahanan pasar tidak semata-mata tercermin dari kemampuan indeks untuk kembali naik setelah jatuh. Lebih dari itu, resiliensi terlihat dari kemampuan seluruh ekosistem pasar untuk belajar, beradaptasi, dan memperbaiki diri setiap kali menghadapi guncangan.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hasan Fawzi mengatakan, pasar modal Indonesia tetap menunjukkan ketahanan meskipun menghadapi tekanan eksternal dan domestik sepanjang 2026.
Tekanan eksternal antara lain berasal dari ketidakpastian arah kebijakan tarif, ketegangan perdagangan antarnegara, eskalasi risiko geopolitik, khususnya di Timur Tengah, serta kenaikan harga minyak dunia yang meningkatkan ancaman inflasi global.
Dari dalam negeri, tekanan tercermin dari nilai tukar rupiah, tren kenaikan suku bunga, serta isu transparansi yang memengaruhi keputusan rebalancing investor. Per 7 Agustus 2026, IHSG memang terkoreksi 2,87% dan kapitalisasi pasar saham juga turun 29,22%. Namun, sejumlah indikator lain tetap mencatat pertumbuhan.
“Namun demikian seperti yang juga kita pahami dan kita ketahui bersama di balik berbagai tekanan tersebut pasar modal kita secara faktual tetap menunjukkan tingkat resiliensi yang kuat dan tentu ini patut kita syukuri,” kata Hasan dalam konferensi pers peringatan 49 Tahun Diaktifkannya Kembali Pasar Modal Indonesia di Gedung BEI, Senin (10/8/2026).
Perkembangan itu menjadi bagian dari pencapaian target pengembangan pasar modal dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 dan Road Map Pengembangan dan Penguatan Pasar Modal 2023–2027.
Perubahan skala pasar juga terlihat dari perkembangan instrumen yang diperdagangkan. BEI tidak lagi hanya menjadi tempat perdagangan saham. Bursa memperdagangkan surat utang dan sukuk, right issue, waran, waran terstruktur, single stock futures, reksa dana, derivatif, hingga transaksi karbon.
Peluncuran ETF Emas pada momentum peringatan 49 tahun pasar modal Indonesia pada 2026 ini juga digadang-gadang menjadi salah satu bagian dari pengembangan tersebut.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan kapitalisasi pasar BEI saat itu mencapai Rp11.200 triliun dengan rata-rata nilai transaksi harian Rp22,3 triliun. Berdasarkan kapitalisasi pasar, Indonesia berada di peringkat ke-20 dunia, sedangkan berdasarkan nilai transaksi harian berada di peringkat ke-18.
Perkembangan tersebut menunjukkan perubahan yang sangat besar dibandingkan kondisi pada awal 1990-an ketika pergerakan IHSG masih dapat dipengaruhi transaksi dalam jumlah sangat kecil.
Dari sisi pencatatan saham, BEI membukukan tujuh IPO baru pada 2026, termasuk satu Lighthouse Company. Jumlah tersebut relatif rendah dibandingkan rata-rata tahun sebelumnya, tetapi masih menempatkan BEI di posisi kedua di kawasan ASEAN.
“7 pencatatan saham baru mungkin relatif rendah dibanding dengan rata-rata tahun sebelumnya, tetapi kalau kita mencermati kondisi pasar global pada saat ini kondisi yang sama juga dialami oleh bursa-bursa lain,” kata Jeffrey.
Di sisi lain, basis investor berkembang pesat. BEI mencatat jumlah investor pasar modal mencapai 30,2 juta, bertambah 9,9 juta investor hanya dalam 7,5 bulan. Pertumbuhan tersebut disebut sebagai yang tertinggi dalam sejarah pasar modal Indonesia.
Skala tersebut memperlihatkan bahwa pasar modal Indonesia telah mengalami transformasi besar. Pasar yang dahulu relatif kecil dan didominasi investor tertentu kini memiliki basis investor yang jauh lebih luas dengan produk dan infrastruktur yang semakin kompleks.

Tarik titik nadir tumbuh melewati guncangan
Titik awal pasar modal tercatat pada 10 Agustus 1977 ketika pemerintah meresmikan kembali pasar modal dengan PT Semen Cibinong sebagai emiten pertama. Hingga saat ini saham emiten tersebut masih aktif diperjualbelikan di pasar modal. Hanya saja kini perusahaan itu berganti nama menjadi PT Solusi Bangun Indonesia Tbk dengan kode saham SMCB.
Berbagai perusahaan pun didorong untuk melantai bursa di Indonesia. Salah satu perusahaan swasta terbesar di Tanah Air yakni Astra resmi melepas sahamnya ke publik pada 4 April 1990. Sedangkan salah satu perusahaan nasional melantai bursa adalah Unilever yang resmi melepas sahamnya ke publik pasar modal Indonesia pada 11 Januari 1982.
Perlahan tapi pasti pasar modal Indonesia terus bertumbuh. Berbagai inovasi dan pembenahan terus dilakukan. IHSG terus melesat bahkan mencatat rekor tertinggi ketika menembus 740,833 pada 8 Juli 1997.
Akan tetapi, dilansir dari Bali Post Selasa, 30 Desember 1997, hanya beberapa bulan kemudian, krisis moneter Asia mengubah situasi secara drastis. Pada 15 Desember 1997, IHSG telah merosot menjadi 339,956.
Tahun yang semula ditandai prestasi berubah menjadi tahun keprihatinan. Depresiasi rupiah, melemahnya bursa regional, dan memburuknya kondisi ekonomi membuat kepercayaan investor merosot. Sepanjang 1997, IHSG terkoreksi sekitar 37,66%.
Pembenahan kemudian berlangsung secara bertahap. Sistem perdagangan berkembang dari mekanisme konvensional menuju perdagangan elektronik. Konsolidasi juga terjadi ketika BEJ dan Bursa Efek Surabaya (BES) bergabung pada 2007 dan membentuk BEI.
Kendati demikian, proses tersebut belum sepenuhnya mengakhiri tekanan terhadap pasar. Gejolak politik 1998 turut mewarnai dinamika IHSG.
Pada 8 Januari di awal tahun tersebut, IHSG terperosok 12% dalam sehari ke level 347. Kejatuhan tersebut ditengarai oleh krisis keuangan Asia yang juga berimbas pada kelumpuhan ekonomi Indonesia di tangan rezim besi Orde Baru. Kala itu, mata uang rupiah turut anjlok terhadap mata uang dolar AS, sektor perbankan kolaps, dan banyak perusahaan besar bangkrut akibat tingginya utang dalam valuta asing.
Jatuh Lagi pada 2008, 2011, dan 2020
Memasuki periode berikutnya, pasar modal Indonesia kembali menunjukkan bahwa krisis dapat datang dalam bentuk yang berbeda. Setelah melewati krisis Asia, pasar kembali diuji oleh krisis finansial global pada 2008.
Kala itu, penurunan IHSG disusul oleh bursa global regional yang diakibatkan oleh krisis keuangan AS, ketika The Fed selaku bank sentral AS tidak bisa meyakinkan para investor sehingga bursa AS ikut tergelincir. Perdagangan kala itu tentu saja disuspensi.
Data historis menunjukkan betapa tajam tekanan yang terjadi. Pada 8 Oktober 2008, IHSG jatuh dari level 1.451 menjadi 1.301 dalam satu hari perdagangan, atau terkoreksi sekitar 10,38%.
Guncangan serupa kembali terjadi tiga tahun kemudian. Pada 22 September 2011, IHSG anjlok dari 3.697 menjadi 3.369 atau turun sekitar 8,88% dalam satu hari. Kali ini, tekanan pasar antara lain berkaitan dengan kekhawatiran terhadap krisis utang Eropa yang merambat ke pasar keuangan global.
Belum selesai menghadapi berbagai episode tersebut, pasar kembali diuji pada 2020 ketika pandemi Covid-19 menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia yang tidak luput dari ganasnya pagebluk tersebut.
Pada 9 Maret 2020, IHSG merosot dari 5.499 menjadi 5.137 atau turun sekitar 6,21% dalam satu hari perdagangan.
Perdagangan saham bahkan sempat dihentikan sementara sebanyak tujuh kali. Pada 24 Maret 2020, IHSG juga oyo di level 3.937. Hal ini akhirnya memaksa otoritas mengubah beberapa aturan, yakni batas bawah penurunan harga saham dari yang semula 25-35%, kini menjadi 10% dan diturunkan lagi menjadi 7%.
Sentimen MSCI
Guncangan pasar modal masih terus terjadi hingga kini. Beralih ke tahun 2026, BEI melakukan trading halt pada Rabu, 28 Januari 2026 setelah IHSG melorot 8%. Penghentian berlangsung selama 30 menit, dari pukul 13:43 hingga 14:13 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS), menyusul tekanan jual yang muncul sehari setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) membekukan sejumlah perubahan terkait indeks pasar Indonesia.
Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, mengatakan perdagangan akan kembali dilanjutkan sesuai jadwal tanpa perubahan waktu perdagangan. Langkah tersebut dilakukan setelah IHSG mencapai batas penurunan yang ditetapkan dalam mekanisme trading halt.
Tekanan terhadap IHSG bermula setelah MSCI pada Selasa, 27 Januari 2026, mengumumkan hasil konsultasi pasar terkait sekuritas Indonesia. Dalam pengumuman tersebut, MSCI memberlakukan pembekuan sementara terhadap seluruh perubahan indeks untuk pasar Indonesia.
Keputusan itu berkaitan dengan kekhawatiran mengenai investability pasar Indonesia. MSCI menyoroti persoalan transparansi struktur kepemilikan saham serta indikasi coordinated trading behavior pada sejumlah saham.
Pembekuan tersebut berdampak pada proses perubahan indeks Indonesia. MSCI tidak melakukan penambahan emiten baru ke dalam indeks dan membekukan kenaikan bobot saham Indonesia dalam indeksnya.
Sentimen tersebut kemudian terbawa ke perdagangan saham pada Rabu pagi. IHSG langsung bergerak melemah sejak pembukaan perdagangan karena investor merespons keputusan MSCI.
Pada akhir sesi I, IHSG tercatat turun 659,01 poin atau 7,34% ke level 8.321. Posisi tersebut membuat indeks semakin mendekati ambang trading halt. Tekanan berlanjut setelah perdagangan sesi berikutnya berlangsung. IHSG akhirnya mengalami penurunan total 8% ke level 8.261 atau berkurang 718 poin.
Tekanan pasar tidak berhenti pada pelaksanaan trading halt. Pada Jumat, 30 Januari 2026, perkembangan di sektor pasar modal berlanjut dengan pengunduran diri sejumlah pejabat di otoritas pasar modal.
Direktur Utama BEI Iman Rachman menyatakan mundur dari jabatannya. Disusul oleh Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Inarno Djajadi yang undur diri. Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar kemudian menyatakan meletakkan jabatannya, disusul Wakil Ketua OJK Mirza Adityaswara pada Jumat malam.
Baca juga:

Rangkaian tersebut kembali memperlihatkan bagaimana gejolak pasar dapat berkembang menjadi momentum evaluasi dan pembenahan di dalam ekosistem pasar modal.
Menatap masa depan pasar modal Indonesia
Kembali ke hari Setiap krisis membawa pelajaran yang berbeda, tetapi ada hal yang berulang, yakni kepercayaan investor menjadi faktor yang sangat menentukan.
Karena itu, BEI dalam beberapa tahun terakhir menjalankan agenda percepatan reformasi pasar modal. Kebijakan tersebut mencakup free float, transparansi proses IPO, penguatan data kepemilikan saham, demutualisasi, penegakan aturan dan sanksi, peningkatan tata kelola emiten, pendalaman pasar, serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.
BEI juga memperluas informasi mengenai pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1%. Selain nama pemegang saham, informasi mengenai tipe investor turut diperluas dan BEI menyiapkan pencantuman status afiliasi atau nonafiliasi.
Bagi OJK, penguatan transparansi tersebut bukan sekadar persoalan administratif, melainkan bagian dari fondasi struktural pasar.
“Fondasi kepercayaan publik masyarakat investor terhadap pasar modal melalui peningkatan transparansi kredibilitas dan integritas di pasar merupakan satu fondasi dasar struktural harus kita pertahankan ke depan dan di tahun-tahun mendatang,” kata Hasan.
Penguatan transparansi menjadi semakin penting ketika pasar modal Indonesia semakin terhubung dengan investor global. Arus dana asing dapat bergerak cepat merespons perubahan informasi, persepsi risiko, kondisi geopolitik, maupun perubahan kebijakan ekonomi.
Dengan demikian, semakin besar skala pasar, semakin penting pula kualitas informasi dan integritas pelaku pasar. Pembenahan yang berlangsung selama bertahun-tahun kini diarahkan pada target yang lebih besar.
BEI menargetkan kapitalisasi pasar mencapai Rp30.000 triliun pada 2030 dengan rata-rata nilai transaksi harian Rp31 triliun. Jumlah perusahaan tercatat ditargetkan menembus lebih dari 1.100 perusahaan, sedangkan jumlah investor diharapkan melampaui 35 juta. Dengan kapitalisasi pasar Rp30.000 triliun, BEI memperkirakan nilainya dapat setara lebih dari 83% produk domestik bruto (PDB) nasional.
Baca juga:

Sementara itu, KPEI mengarahkan pengembangan hingga 2030 pada perluasan layanan, penguatan manajemen risiko dan kolateral, konektivitas pasar domestik, regional, dan global, serta peningkatan ketahanan teknologi.
Target tersebut memperlihatkan bahwa agenda pasar modal Indonesia ke depan bukan sekadar mengejar kenaikan IHSG atau memperbesar nilai transaksi. Tantangannya adalah memastikan pertumbuhan ekosistem pasar modal berlangsung dengan fondasi yang semakin kuat.