Direksi Baru BEI, Impian Mendunia, dan Reformasi Pasar Modal

Dalam jangka pendek, para nahkoda baru pasar modal ini harus menghadapi tantangan memulihkan kepercayaan investor sehingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa kembali melesat.

Direksi Baru BEI, Impian Mendunia, dan Reformasi Pasar Modal
Pantulan pengunjung yang tengah memotret suasana di gedung Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), nampak di layar mayoritas indeks mengalami pelemahan, Selasa 30 Juni 2026. Foto: Nana/Suar.id
Daftar Isi

Jajaran baru direksi Bursa Efek Indonesia (BEI) punya impian besar untuk membawa pasar modal Indonesia masuk jajaran 10 besar bursa dunia. Dalam jangka pendek, para nahkoda baru pasar modal ini harus menghadapi tantangan memulihkan kepercayaan investor sehingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa kembali melesat. Salah satunya adalah dengan melanjutkan agenda reformasi pasar modal.

Dalam jumpa pers, usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) BEI, Senin (29/6/2026), Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik memaparkan empat pilar strategi untuk membawa BEI masuk jajaran 10 besar bursa dunia berdasarkan kapitalisasi pasar dan nilai transaksi pada 2030.

Empat pilar tersebut meliputi pertumbuhan bisnis transaksi, pengembangan bisnis non-transaksi, peningkatan kuantitas dan kualitas perusahaan tercatat, serta perluasan inklusivitas bagi seluruh segmen investor.

Menurut Jeffrey, strategi tersebut akan ditopang penguatan infrastruktur perdagangan, pengawasan, dan kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan.

Menanggapi hal tersebut, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan, agenda paling mendesak bagi direksi baru BEI bukanlah mengejar penambahan jumlah emiten, melainkan memastikan Indonesia tetap mempertahankan status sebagai emerging market dalam evaluasi MSCI yang dijadwalkan berlangsung pada November mendatang.

‎Menurutnya, ancaman penurunan status menjadi frontier market masih menjadi salah satu faktor yang membayangi pergerakan pasar modal Indonesia, meskipun regulator telah menjalankan berbagai reformasi pasar.

‎"Target jangka pendeknya jelas, Indonesia harus tetap berada di emerging market. Itu menjadi tugas utama direksi baru bursa," ucap Rully dalam Media Day Mirae Asset Sekuritas, Selasa (30/6/2026).

‎Rully berharap jajaran direksi baru BEI melanjutkan komunikasi intensif dengan MSCI sebagaimana dilakukan kepengurusan sebelumnya. 

‎Menurutnya, komunikasi yang berkelanjutan diperlukan untuk menjelaskan berbagai langkah reformasi pasar sehingga dapat meredakan kekhawatiran investor global terhadap pasar modal Indonesia.

‎Meski demikian, ia menilai target menjadikan BEI sebagai salah satu dari 10 bursa terbesar dunia masih realistis dalam jangka panjang. Namun, pencapaian tersebut harus ditopang oleh kualitas perusahaan yang masuk ke pasar modal, bukan semata-mata peningkatan jumlah emiten.

‎"Kalau menurut saya quality over quantity. Tidak harus mengejar 1.000 emiten kalau kualitas emitennya tidak baik. Yang lebih penting adalah kualitas perusahaan yang masuk ke bursa," katanya.

‎Proyeksi IHSG

‎Selain menyoroti agenda direksi baru, Mirae Asset juga masih mengevaluasi proyeksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk 2026 yang sebelumnya diperkirakan dapat mencapai level 10.000.

‎Rully menjelaskan, berbagai sentimen negatif seperti tingginya suku bunga, perlambatan ekonomi, dan melambatnya pertumbuhan laba emiten pada dasarnya telah banyak tercermin dalam harga saham saat ini. Namun, pasar masih menghadapi sejumlah risiko yang belum sepenuhnya diperhitungkan investor.

‎Salah satu risiko tersebut adalah potensi penurunan peringkat utang Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional. Menurutnya, apabila yang terjadi bukan sekadar perubahan prospek (outlook), melainkan penurunan peringkat secara langsung, dampaknya terhadap pasar modal dapat menjadi jauh lebih besar.

‎Di sisi lain, nilai tukar rupiah masih menjadi faktor utama yang memengaruhi keputusan investor asing untuk kembali masuk ke pasar Indonesia.

Baca juga:

Ambisi BEI Pasang Target Masuk 10 Bursa Kelas Dunia, Reformasi Pasar jadi Kunci
Posisi BEI saat ini masih berada di peringkat ke-19 dunia berdasarkan kapitalisasi pasar dan peringkat ke-17 berdasarkan nilai transaksi. Karena itu, berbagai langkah transformasi akan dilakukan sepanjang masa jabatan direksi periode 2026–2030.

‎Menurut Rully, pelemahan rupiah membuat saham-saham Indonesia yang secara valuasi sudah relatif murah tetap belum menarik bagi investor global karena keuntungan investasi masih dapat tergerus oleh depresiasi nilai tukar.

‎"Kalau saham Indonesia sudah murah tetapi rupiahnya masih terus melemah, investor asing tetap bisa rugi dari sisi kurs. Karena itu mereka masih memilih memastikan rupiah benar-benar stabil dulu sebelum kembali masuk," jelasnya.

‎Kondisi tersebut, lanjutnya, turut menjelaskan mengapa arus keluar dana asing (foreign outflow) masih terkonsentrasi pada saham-saham berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan.

‎Menurut Rully, tekanan terhadap saham-saham bank besar tidak mencerminkan pelemahan fundamental perusahaan. Aksi jual lebih dipengaruhi oleh tingginya kepemilikan investor asing pada saham-saham berkapitalisasi besar seperti perbankan, telekomunikasi, dan otomotif.

‎"Kalau asing menjual, tentu yang paling banyak dilepas adalah saham-saham dengan kapitalisasi besar seperti bank-bank besar. Jadi ujung-ujungnya kembali lagi ke stabilitas rupiah," katanya.

‎Ia menambahkan, selama tekanan terhadap rupiah masih berlangsung, investor domestik akan tetap menjadi penopang utama pergerakan IHSG.

IHSG boleh merah, integritas pasar jangan

‎Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan perubahan lanskap global membuat investor kini lebih mengutamakan kepastian regulasi, tata kelola, transparansi, dan kredibilitas institusi dibanding sekadar mengejar imbal hasil.

‎"Investor akan semakin mencermati kualitas tata kelola, tingkat transparansi yang baik, integritas dari suatu pasar, kepastian atau certainty dari regulasi, serta kredibilitas institusi yang akan dapat menopang seluruh ekosistem investasi," kata Hasan di Gedung BEI, Selasa (30/6/2026).

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi dalam pemaparannya soal dinamika pasar modal di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa 30 Juni 2026. Foto: Nana/Suar.id

Menurut Hasan, dinamika IHSG belakangan menunjukkan bahwa kepercayaan menjadi penentu utama arah pergerakan pasar. Ia mencontohkan kondisi saat IHSG sempat mengalami tekanan, tetapi mampu kembali stabil dalam waktu singkat.

‎"Kalau merah terus-terusan, there must be something wrong, dan itu yang harus kita jawab. Kami memahami ada sesuatu yang tidak biasa di balik ekonomi pasar bursa kita yang berkelanjutan. Itulah yang kami bersama Pak Jeffrey serta otoritas lain dan seluruh pemangku kepentingan akan terus mendorong perbaikan pasar bursa kita," ujarnya.

‎Hasan mengungkapkan, pada awal Agustus 2024 IHSG sempat melemah hampir 1%, namun pada akhir pekan hanya terkoreksi sekitar 0,2%. Pada saat yang sama, investor asing masih membukukan net buy sebesar Rp71,5 miliar.

‎Menurutnya, kondisi tersebut menegaskan bahwa daya tahan pasar sangat bergantung pada tingkat kepercayaan investor. Karena itu, OJK terus menjalankan reformasi melalui Kebijakan Integritas yang mencakup delapan agenda penguatan pasar modal dalam lima klaster, yakni integrasi, granularitas, integritas, transparansi, dan akuntabilitas.

‎Melalui kebijakan tersebut, OJK memperkuat koordinasi antarlembaga, meningkatkan kualitas data investor, memperdalam pasar melalui pengembangan produk, memperluas keterbukaan informasi termasuk beneficial ownership, serta meningkatkan akuntabilitas melalui publikasi struktur kepemilikan emiten dan daftar pemantauan saham. OJK juga memperketat pengawasan terhadap praktik manipulasi pasar, termasuk penyebaran misinformasi dan praktik pump and dump, disertai penguatan edukasi bagi pelaku pasar dan influencer.

‎Hasan menegaskan reformasi pasar modal merupakan proses jangka panjang yang harus terus dilakukan untuk menjawab dinamika ekonomi global, perkembangan teknologi, dan ekspektasi investor yang terus berubah.

‎Ia menambahkan, berbagai langkah reformasi tersebut telah memperoleh pengakuan dari lembaga indeks global seperti MSCI dan FTSE Russell. Indonesia juga berhasil mempertahankan status sebagai pasar berkembang dengan penilaian positif atas peningkatan transparansi dan integritas pasar.

‎"Bukan sekadar menciptakan tren indeks IHSG semata, tapi lebih dari itu yang sesungguhnya kita bangun adalah sebuah ekosistem yang berbasis kepercayaan yang mampu menghubungkan aset masyarakat dengan ketersediaan pembiayaan ekonomi Indonesia," kata Hasan.

‎Senada dengan OJK, Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menilai pelemahan IHSG lebih dipicu sentimen pasar dan arus keluar modal asing (capital outflow) daripada memburuknya fundamental ekonomi nasional.

‎Menurut Misbakhun, indikator makroekonomi Indonesia masih relatif kuat, tercermin dari pertumbuhan ekonomi kuartal I sebesar 5,61%, inflasi yang terkendali, surplus neraca perdagangan selama 71 bulan berturut-turut, serta cadangan devisa yang memadai.

‎"Situasi makroekonomi yang bagus ini, fundamental yang bagus ini, belum memberikan respons yang memadai oleh pasar," ujarnya.

Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun memaparkan soal katalis koreksi IHSG yang disebabkan oleh tekanan makroekonomi global dan domestik di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Selasa 30 Juni 2026. Foto: Nana/Suar.id

‎Ia menilai pasar saat ini lebih dipengaruhi persepsi negatif dibanding kondisi ekonomi yang sebenarnya.

‎"Kita bertemu dengan fundamental yang kuat, dilawan oleh persepsi. Ada realitas bahwa ekonomi kita secara fundamental kuat, kemudian diberikan persepsi yang negatif," katanya.

‎Misbakhun juga menyoroti berlanjutnya capital outflow yang membuat IHSG belum menemukan momentum rebound. Menurutnya, kondisi tersebut turut menekan minat perusahaan untuk melaksanakan penawaran umum perdana saham (IPO).

‎Karena itu, ia mendukung reformasi pasar modal melalui peningkatan transparansi, pengaturan free float, perbaikan tata kelola, hingga percepatan demutualisasi bursa sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK). Ia juga menilai investor institusi domestik, seperti dana pensiun, BPJS Ketenagakerjaan, dan BPKH, dapat berperan sebagai penyangga likuiditas ketika investor asing melakukan aksi jual.

‎"Kami di Komisi XI ingin mengawal semua regulasi yang disusun saat ini menjadi regulasi yang transparan dalam proses, kemudian berpihak kepada kepentingan nasional dalam rangka menjaga ekosistem bursa mengikuti standar pasar modal kelas dunia," kata Misbakhun.

IHSG sendiri ditutup anjlok 3,05% atau 177,60 poin ke level 5.643,19 pada perdagangan Selasa (30/6/2026), seiring aksi jual yang meluas di hampir seluruh saham serta berlanjutnya arus keluar dana asing. 

Berdasarkan data perdagangan, IHSG dibuka di level 5.801,45, sempat menyentuh level tertinggi 5.811,67, namun terus tertekan hingga menyentuh level terendah 5.638,57 sebelum ditutup di 5.643,19.

Pelemahan indeks diikuti oleh mayoritas saham yang berada di zona merah. Sebanyak 599 saham melemah, 141 saham menguat, dan 219 saham stagnan, mencerminkan tekanan jual yang terjadi secara luas di pasar.

Nilai transaksi mencapai Rp15,30 triliun dengan volume perdagangan 19,94 miliar saham dalam 1,6 juta kali transaksi. Sementara itu, kapitalisasi pasar turun menjadi sekitar Rp9.897 triliun.

Dari sisi aliran dana, investor asing masih membukukan net sell sekitar Rp882 miliar. Investor asing mencatat pembelian senilai sekitar Rp3,55 triliun dan penjualan Rp4,43 triliun. Sebaliknya, investor domestik menjadi penopang pasar dengan net buy dalam jumlah yang relatif sama.

Tekanan juga terjadi pada sejumlah saham berkapitalisasi besar yang menjadi penopang indeks. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) turun 3,87%, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) melemah 3,44%, sedangkan PT Bayan Resources Tbk (BYAN) terkoreksi 2,77%, sehingga memperberat pelemahan IHSG.

Penulis

Baca selengkapnya