Di tengah ketidakpastian global dan reformasi pasar modal yang tengah berjalan, sejumlah perusahaan sektor kesehatan akan melantai bursa. Pada Juli 2026, setidaknya tiga perusahaan kesehatan dari segmen yang berbeda mulai dari layanan rumah sakit mata, alat kesehatan, hingga diagnostik laboratorium, bersiap melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sektor kesehatan yang cenderung defensif memiliki arus bisnis yang relatif stabil di tengah guncangan, sehingga masih prospektif di tengah ketidakpastian.
Ketiganya perusahaan yang akan menjual sahamnya ke publik atau initial public offering/IPO adalah operator jaringan rumah sakit mata PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), produsen dan distributor alat kesehatan PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI), serta produsen alat kesehatan diagnostik PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL). Masing-masing menawarkan prospek pertumbuhan yang berbeda, mulai dari ekspansi layanan kesehatan spesialis hingga peluang peningkatan permintaan alat kesehatan seiring meningkatnya belanja kesehatan nasional.
JECX Bidik Dana hingga Rp683 Miliar
Calon emiten dengan nilai penawaran terbesar berasal dari operator jaringan JEC Eye Hospitals & Clinics, PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX). Perseroan memulai masa penawaran awal (bookbuilding) pada 22–24 Juni 2026 dengan menawarkan maksimal 488 juta saham atau setara 15% dari modal ditempatkan dan disetor penuh.
Melalui IPO ini, JECX menargetkan perolehan dana segar sebesar Rp585,6 miliar hingga Rp683,2 miliar. Saham perseroan ditawarkan pada kisaran harga Rp1.200–Rp1.400 per saham.
Beroperasi sejak 1984, JECX saat ini mengelola lima rumah sakit khusus mata dan 11 klinik mata yang tersebar di Jabodetabek, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, hingga Sulawesi. Setelah IPO, PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME), anak usaha PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK), akan tetap menjadi salah satu pemegang saham utama dengan kepemilikan sekitar 25%.
Perseroan juga tengah mengembangkan rumah sakit baru di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan Sanur, Bali, yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.
Dari sisi operasional, kinerja JECX menunjukkan pertumbuhan yang stabil. Sepanjang 2025, jumlah kunjungan pasien meningkat 5% menjadi 564.526 kunjungan, sementara jumlah tindakan operasi mencapai 51.530 prosedur. Pertumbuhan tersebut mendorong pendapatan naik menjadi Rp926,8 miliar dari Rp887,7 miliar pada tahun sebelumnya.
Segmen bedah masih menjadi kontributor utama dengan porsi 51% terhadap total pendapatan atau senilai Rp627,9 miliar. Sementara itu, segmen poliklinik menyumbang 26% dan layanan Lasik berkontribusi 11%.
Laba bersih perseroan tercatat Rp73,8 miliar pada 2025, meningkat 13% dibandingkan 2024. Sebelumnya, laba sempat tertekan akibat biaya pembukaan tiga unit layanan baru.
Dengan rentang harga penawaran tersebut, kapitalisasi pasar JECX saat pencatatan diperkirakan mencapai Rp3,9 triliun hingga Rp4,6 triliun. Valuasinya tercermin dari rasio price to earnings (P/E) sebesar 52,9–61,7 kali dan price to book value (P/BV) 3,1–3,4 kali.
Perseroan menunjuk PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk sebagai penjamin pelaksana emisi efek. Masa penawaran umum dijadwalkan berlangsung pada 1–3 Juli 2026 dengan target pencatatan saham pada 7 Juli 2026.
EMMI Andalkan Bisnis Alkes untuk Rumah Sakit
Dari segmen alat kesehatan, PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI) turut meramaikan antrean IPO Juli 2026. Perseroan memasuki masa bookbuilding pada 22–24 Juni 2026 dengan menawarkan 522,9 juta saham baru atau setara 30% modal disetor.
Melalui aksi korporasi ini, EMMI membidik dana segar sebesar Rp233 miliar hingga Rp269 miliar dengan kisaran harga Rp446–Rp515 per saham.
Perusahaan yang telah beroperasi lebih dari 25 tahun tersebut dikenal sebagai distributor sekaligus produsen alat kesehatan penunjang ruang kritis rumah sakit, seperti mesin anestesi dan instrumen bedah. Saat ini, EMMI memasok produknya ke lebih dari 200 institusi kesehatan di Indonesia.
Perseroan mengoperasikan fasilitas produksi di Solo untuk merek Esatech sejak 2020 dan telah menyelesaikan pembangunan pabrik baru seluas 3.000 meter persegi di Cikupa secara bertahap hingga 2025.
Kinerja keuangan EMMI menunjukkan pertumbuhan yang cukup agresif. Pendapatan meningkat dari Rp173 miliar pada 2023 menjadi Rp454,6 miliar pada 2025. Sementara itu, laba bersih melonjak dari Rp900 juta pada 2023 menjadi Rp11 miliar pada 2024 dan kembali melesat 210% menjadi Rp34,1 miliar pada 2025.
Mayoritas pendapatan perusahaan berasal dari segmen pemerintah yang menyumbang 96% atau sekitar Rp436,9 miliar pada 2025. Kontribusi tersebut ditopang tingkat kemenangan tender yang disebut berada di atas 80% dalam lima tahun terakhir, termasuk sejumlah proyek pengadaan Kementerian Kesehatan.
Dengan rentang harga IPO yang ditawarkan, kapitalisasi pasar EMMI diperkirakan berada di kisaran Rp777 miliar hingga Rp898 miliar. Valuasi sahamnya tercermin dari rasio P/E 22,8–26,3 kali dan P/BV sekitar 2,1–2,2 kali.
Dana hasil IPO akan digunakan untuk modal kerja sebesar 68,7%, sementara sisanya dialokasikan untuk pelunasan pinjaman bank serta pengembangan fasilitas produksi.
EMMI menunjuk PT BRI Danareksa Sekuritas dan PT INA Sekuritas Indonesia sebagai penjamin emisi. Penawaran umum dijadwalkan berlangsung pada 2–6 Juli 2026 dan pencatatan saham pada 8 Juli 2026.
PRDL Tawarkan Valuasi Paling Murah
Sementara itu, emiten kesehatan ketiga yang bersiap masuk BEI adalah PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), perusahaan afiliasi PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA).
PRDL menawarkan maksimal 522,9 juta saham baru atau setara 30% modal ditempatkan dan disetor penuh dengan harga Rp100–Rp120 per saham. Perseroan membidik dana segar hingga Rp62,7 miliar dan dijadwalkan melantai di bursa pada 9 Juli 2026.
Berdiri sejak 2010, perusahaan ini memproduksi alat kesehatan in vitro diagnostic (IVD) dengan merek Proline dan mengoperasikan fasilitas produksi di Cikarang yang melayani sekitar 7.294 fasilitas kesehatan di Indonesia.
Pada 2025, kapasitas produksi produk hematologi meningkat 148% secara tahunan menjadi 1,84 juta liter. Adapun realisasi produksi melonjak 364% menjadi 61.536 liter.
Dari sisi kinerja keuangan, pendapatan perseroan sempat turun menjadi Rp58,7 miliar pada 2024 akibat tingginya basis proyek Kementerian Kesehatan pada 2023. Namun pada 2025, pendapatan kembali tumbuh 27% menjadi Rp74,4 miliar.
Laba bersih juga menunjukkan pemulihan yang kuat dengan kenaikan 70% menjadi Rp17 miliar pada 2025 dari Rp10 miliar pada tahun sebelumnya.
Berdasarkan proyeksi pasca-IPO, kapitalisasi pasar PRDL diperkirakan mencapai Rp174 miliar hingga Rp209 miliar. Dengan valuasi P/E sekitar 10,3–12,3 kali dan P/BV 1,3–1,4 kali, PRDL menjadi emiten kesehatan dengan valuasi paling rendah dibandingkan dua calon emiten kesehatan lainnya yang akan melantai pada periode yang sama.
Baca juga:

Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas, Fath Aliansyah Budiman, menilai prospek PRDL mendapat dukungan dari peningkatan anggaran kesehatan pemerintah. Kenaikan anggaran kesehatan dalam APBN 2026 menjadi Rp244 triliun, dari Rp218,5 triliun pada 2025, serta perluasan Program Cek Kesehatan Gratis hingga 140 juta peserta dinilai berpotensi menciptakan pasar baru senilai Rp2,2 triliun bagi perseroan.
Menurut Fath, kondisi fundamental PRDL juga tergolong solid. Pada 2025, perusahaan membukukan pendapatan Rp74,37 miliar dengan gross margin mencapai 61%. Laba bersih tumbuh hampir 70% secara tahunan menjadi Rp17 miliar, didukung net profit margin sebesar 22,8% dan return on equity (ROE) mencapai 20,5%.
"Kondisi tersebut membuat valuasi PRDL pada kisaran P/E 10–12 kali terlihat cukup menarik dibandingkan emiten kesehatan lain yang akan IPO,” ungkap Fath kepada SUAR, Minggu (28/6/2026).
Miliki karakter defensif
Ramainya penawaran umum perdana saham (IPO) pada awal Juli 2026, termasuk dari sektor kesehatan, dinilai mencerminkan masih tingginya minat perusahaan untuk menghimpun dana melalui pasar modal. Di tengah kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih, sektor kesehatan menjadi salah satu sektor yang paling banyak mendapat perhatian investor karena karakter bisnisnya yang relatif defensif.
Sektor defensif secara sederhana berarti kelompok industri atau perusahaan yang memproduksi barang dan jasa yang permintaannya tetap stabil, terlepas dari kondisi ekonomi atau siklus bisnis. Kelompok ini cenderung aman dari gejolak krisis, memberikan keuntungan yang konsisten, dan sering kali membagikan dividen.
Meski demikian, sejumlah analis mengingatkan bahwa status defensif sebuah sektor tidak otomatis menjadikan seluruh saham IPO layak dikoleksi. Investor tetap perlu mencermati fundamental, valuasi, kualitas laba, serta penggunaan dana hasil penawaran sebelum mengambil keputusan investasi.
Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menilai sektor kesehatan menarik karena didukung oleh besarnya belanja kesehatan pemerintah dan permintaan yang cenderung stabil.
"Saham kesehatan baru menarik karena sektornya defensif dan didukung belanja kesehatan pemerintah yang besar. Namun 'safe haven' tetap bergantung pada fundamental dan valuasi masing-masing emiten, bukan semata label sektornya. Beberapa dibanderol premium, jadi daya tahannya tetap perlu diuji terhadap kualitas laba," kata Abida kepada SUAR, Minggu (28/6/2026).
Menurut dia, maraknya pipeline IPO pada awal Juli merupakan sinyal positif karena menunjukkan kepercayaan emiten terhadap pasar modal Indonesia. Selain memanfaatkan momentum sebelum memasuki paruh kedua 2026, kondisi tersebut juga memperluas pilihan diversifikasi bagi investor.
Abida menekankan bahwa penggunaan dana hasil IPO menjadi salah satu indikator utama yang perlu diperhatikan. Dana yang dialokasikan untuk ekspansi usaha, seperti belanja modal (capital expenditure/capex) dan modal kerja produktif, dinilai lebih menjanjikan dibandingkan penggunaan yang tidak mendorong pertumbuhan bisnis.
Selain itu, investor perlu mengevaluasi konsistensi pertumbuhan laba, membandingkan valuasi dengan perusahaan sejenis, serta menilai kualitas laba perusahaan, termasuk memastikan laba tidak terlalu bergantung pada pos non-berulang (non-recurring item).
Bukan safe haven
Pandangan serupa disampaikan Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su. Ia menilai sektor healthcare dan consumer non-cyclicals memiliki prospek jangka panjang yang menarik karena permintaannya relatif tahan terhadap siklus ekonomi. Namun, menurutnya, sektor yang baik belum tentu menghasilkan investasi yang baik jika sahamnya ditawarkan pada valuasi yang terlalu mahal.
“Healthcare bisa bersifat defensif, tetapi tidak semua saham IPO healthcare otomatis menjadi safe haven. Saham baru tetap memiliki risiko volatilitas, likuiditas rendah, dan valuasi yang mungkin sudah premium. Healthcare hanya menarik jika emitennya punya cash flow kuat, pelanggan terdiversifikasi, utang terkendali, dan harga IPO masih wajar,” jelas Harry.
Harry menilai ramainya antrean IPO menunjukkan minat perusahaan untuk mencari pendanaan di pasar modal masih terjaga meski pasar saham sedang menghadapi tekanan. Di sisi lain, regulator juga dinilai semakin selektif dalam menyaring calon emiten.
“Fokus OJK dan BEI saat ini bukan semata-mata memperbanyak jumlah emiten baru, tetapi lebih kepada meningkatkan kualitas perusahaan yang IPO,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa risiko terbesar bagi investor ritel adalah membeli saham karena fenomena fear of missing out (FOMO), bukan berdasarkan analisis yang memadai. Setelah euforia pencatatan saham mereda, menurut Harry, harga saham pada akhirnya akan kembali bergerak mengikuti fundamental perusahaan.
Karena itu, investor perlu mencermati penggunaan dana IPO, valuasi dibandingkan perusahaan sejenis, kualitas laba, arus kas, tingkat utang, konsentrasi pelanggan, serta rekam jejak pemegang saham dan penjamin emisi sebelum mengambil keputusan investasi.
Sementara itu, Ekonom Bank Permata Josua Pardede melihat sektor kesehatan sebagai salah satu sektor paling prospektif dalam gelombang IPO saat ini. Permintaan layanan kesehatan yang relatif stabil membuat sektor tersebut lebih tahan terhadap perlambatan ekonomi dibandingkan sejumlah sektor lainnya.
Meski demikian, Josua menegaskan bahwa dominasi emiten kesehatan dalam antrean IPO tidak berarti seluruh saham yang ditawarkan otomatis menjadi instrumen investasi yang aman.
“Dominasi emiten kesehatan memang bisa menjadi daya tarik, tetapi saya tidak akan menyebut saham kesehatan baru sebagai tempat berlindung yang pasti aman,” kata Josua.
Menurut dia, saham kesehatan tetap memiliki risiko apabila harga penawaran terlalu mahal, likuiditas terbatas, kepemilikan publik kecil, rekam jejak laba yang pendek, atau ekspansi perusahaan terlalu agresif. Selain itu, sektor kesehatan juga tidak sepenuhnya kebal terhadap tekanan pasar.
Josua mencatat bahwa ramainya pipeline IPO menunjukkan kebutuhan pendanaan jangka panjang perusahaan masih tinggi meskipun kondisi pasar modal belum sepenuhnya pulih. OJK sendiri mencatat terdapat 75 rencana penawaran umum dengan nilai indikatif Rp64,26 triliun. Sementara itu, BEI mencatat ada 12 perusahaan dalam antrean IPO per awal Juni 2026, termasuk tiga perusahaan dari sektor kesehatan.
Ia kembali mengingatkan investor ritel agar tidak terjebak euforia pasar tanpa mempelajari prospektus secara menyeluruh. Dalam kondisi pasar yang masih bergejolak, saham baru berpotensi mengalami pergerakan harga yang ekstrem pada masa awal pencatatan.
Menurut Josua, investor sebaiknya fokus pada penggunaan dana hasil IPO, konsistensi laba dan arus kas, tingkat utang, valuasi dibandingkan emiten sejenis, serta aksi pemegang saham lama dalam penawaran saham.
“Dana yang digunakan untuk ekspansi usaha dan peningkatan kapasitas bisnis dinilai lebih menarik dibandingkan dana yang hanya digunakan untuk memperbaiki struktur neraca,” tutur Josua.