Di tengah ketidakpastian, gejolak, dan reformasi pasar modal, sebanyak enam perusahaan siap melantai bursa pada Juli 2026. Enam perusahaan tersebut yakni PT Niramas Utama Tbk (JELI), PT Prodia Diagnostic Line (PRDL), PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI), PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS), dan PT Bach Multi Global Tbk (BACH).
Sebelumnya, sepanjang 2026 baru ada 1 emiten yang melantai bursa. Kehadiran calon enam emiten baru ini memberi angin segar bahwa ada emiten yang tetap meyakini pasar modal Tanah Air dalam kondisi baik.
Saat ini, seluruh calon emiten tersebut tengah menyelesaikan tahap penawaran awal (book building) sebagai bagian dari proses menuju pencatatan saham perdana. Aksi korporasi ini menjadi langkah strategis perusahaan dalam menghimpun dana publik untuk memperkuat permodalan, membayar liabilitas, serta mendanai ekspansi usaha jangka panjang.
Berikut rincian rencana IPO masing-masing emiten:
PT Niramas Utama Tbk (JELI)
Produsen olahan kelapa dan serat alami bermerek Inaco ini menawarkan maksimal 350 juta saham baru atau setara 25,93% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO.
Dengan harga penawaran awal di kisaran Rp900–Rp1.120 per saham, JELI berpotensi menghimpun dana hingga Rp392 miliar melalui penjamin pelaksana emisi efek Sucor Sekuritas. Setelah IPO, kepemilikan PT Niramas Utama International akan terdilusi menjadi 73,92%, sementara publik menguasai 25,93%.
Dana hasil IPO dialokasikan terutama untuk penyertaan modal ke anak usaha PT NPS sebesar 51,04% guna pembelian mesin produksi gummy candy dan produk jelly. Sebesar 18,36% dialokasikan untuk logistik gudang, 10,63% untuk pelunasan sebagian pinjaman jangka pendek di Bank Mandiri sehingga tersisa Rp54 miliar, dan 19,97% untuk modal kerja operasional. Perusahaan juga berkomitmen membagikan dividen tunai hingga 30% dari laba bersih setelah IPO. JELI dijadwalkan melantai pada 7 Juli.
PT Prodia Diagnostic Line (PRDL)
Perusahaan alat kesehatan diagnostik ini melepas maksimal 522,90 juta saham atau 30% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO.
Dengan harga penawaran Rp100–Rp120 per saham, PRDL berpotensi menghimpun dana maksimal Rp62,74 miliar dan dijadwalkan melantai pada 9 Juli. Penjamin emisi yang ditunjuk adalah PT Sucor Sekuritas. PRDL juga menyediakan program ESA sebanyak 36,60 juta saham atau 7%.
Kinerja keuangan tahun buku 2025 menunjukkan pertumbuhan solid. Laba bersih naik 69,9% menjadi Rp16,99 miliar, didorong kenaikan pendapatan 26,8% menjadi Rp74,37 miliar.
Dana IPO akan digunakan untuk pelunasan pinjaman kepada BCA dan Bank Panin sebesar Rp33,66 miliar. Sisanya dialokasikan 28,92% untuk belanja modal dan 8,51% untuk modal kerja operasional.
PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI)
Distributor alat laboratorium, farmasi, dan kedokteran ini menawarkan maksimal 522,86 juta saham atau 30% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO.
Harga penawaran berada di kisaran Rp446–Rp515 per saham dengan potensi dana Rp269,27 miliar. Penjamin emisi adalah BRI Danareksa Sekuritas dan INA Sekuritas Indonesia dengan skema full commitment. Pencatatan saham dijadwalkan pada 8 Juli, disertai program ESA sebesar 10% saham.
Pada 2025, EMMI mencatat penjualan bersih Rp454,63 miliar dengan laba bersih Rp34,13 miliar, meningkat dari Rp11 miliar tahun sebelumnya. Dana IPO akan digunakan untuk ekspansi dan penguatan keuangan. Sebesar Rp50 miliar untuk pelunasan sebagian pinjaman, 11,8% untuk pembangunan pabrik baru di Cikupa, dan hingga 68,7% untuk modal kerja proyek dan pengadaan bahan baku.
PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX)
Pengelola jaringan rumah sakit mata Jakarta Eye Center ini menawarkan 487.983.500 saham atau 15% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Jumlah tersebut terdiri dari 325.322.300 saham baru dan 162.661.200 saham divestasi milik DR. dr. Waldensius Girsang.
Harga penawaran berada di kisaran Rp1.200–Rp1.400 per saham, dengan potensi dana Rp683,17 miliar. Penjamin emisi adalah PT Trimegah Sekuritas Indonesia. JECX juga menyiapkan program ESA sebesar 2,29% atau 11,16 juta saham dan dijadwalkan melantai pada 7 Juli.
Dana dari saham baru akan digunakan untuk operasional dan liabilitas, termasuk Rp40 miliar pembayaran pinjaman ke Bank Central Asia, Rp100 miliar ke HSBC Indonesia, dan sekitar Rp185 miliar untuk entitas anak usaha. Sisanya digunakan sebagai modal kerja hingga Desember 2027. Sementara dana dari saham divestasi menjadi milik pemegang saham penjual.
PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS)
Perusahaan media dan hiburan milik Raffi Ahmad dan Nagita Slavina ini menawarkan maksimal 2,52 miliar saham baru atau 20,02% dari modal ditempatkan dan disetor penuh.
Dengan harga Rp135–Rp170 per saham, RANS berpotensi menghimpun dana hingga Rp429,25 miliar. Penjamin emisi adalah PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk dengan jadwal pencatatan pada 10 Juli.
Pada 2025, pendapatan RANS turun 13,91% menjadi Rp353,38 miliar dan laba bersih terkoreksi 41,60% menjadi Rp56,69 miliar akibat hilangnya pendapatan non-berulang dari pelepasan anak usaha.
Dana IPO akan digunakan untuk pelunasan utang Bank Negara Indonesia (BNI) sebesar 6,98%, pembangunan wahana edukatif “Cipungland” sebesar 18,64%, konser 37,61%, pembentukan entitas AI bersama PT Global Teknologi 8,15%, akuisisi PT Rans Kosmetika Indonesia 19,80%, serta sisanya untuk anak usaha, RNS.
PT Bach Multi Global Tbk (BACH)
Perusahaan penyedia genset dan jasa konstruksi telekomunikasi ini menawarkan 615 juta saham baru atau 15,06% dari modal ditempatkan dan disetor penuh.
Dengan harga Rp400–Rp500 per saham, BACH menargetkan dana Rp307,5 miliar melalui PT Erdikha Elit Sekuritas. Dana IPO akan digunakan Rp213,48 miliar untuk modal kerja dan Rp91,02 miliar untuk pelunasan pinjaman Bank Permata. Pencatatan saham dijadwalkan pada 7 Juli.
Setelah IPO, struktur kepemilikan akan mengalami perubahan. Sebelum IPO, PT Bach Multi Sukses Investama memegang 61,55% dan PT Global Telekomunikasi Prima 30%. Namun setelah transaksi opsi pembelian 1,04 miliar saham rampung, Global Telekomunikasi Prima yang terafiliasi Grup Djarum melalui PT Sarana Menara Nusantara Tbk akan menjadi pengendali baru dengan porsi 51%.
IPO Baru jadi harapan
Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus menilai maraknya pipeline IPO pada 2026 menjadi sinyal positif bagi pasar modal Indonesia di tengah tekanan indeks harga saham gabungan (IHSG) sejak awal tahun. Sebelumnya, sepanjang 2026 baru hanya ada 1 emiten yang melantai bursa yakni PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) pada 10 April 2026.
Ia menyebut gelombang IPO kali ini terjadi setelah periode penundaan yang dipengaruhi perdebatan kualitas dan kuantitas emiten.
Menurut Nico, sapaannya, kehadiran perusahaan yang akan melantai di bursa di tengah kondisi pasar yang berfluktuasi mencerminkan adanya proses seleksi yang lebih ketat dari regulator maupun pelaku pasar. Ia menilai emiten yang melantai di bursa diharapkan telah melewati uji fundamental dan memiliki prospek valuasi yang kuat.
“Sesuatu yang sangat baik, karena sudah lama kita menantikan kehadiran perusahaan yang akan melakukan IPO. Satu dan lain hal, IPO sempat tertahan dimana waktu itu kuantitas vs kualitas yang selalu menjadi perhatian pelaku pasar dan investor hingga akhirnya berujung pada regulator,” kata Nico kepada SUAR.
Ia menambahkan, kondisi IHSG yang masih tertekan tidak mengurangi minat terhadap IPO, justru menjadi momentum seleksi emiten yang lebih berkualitas. Menurutnya, semua sektor memiliki peluang, namun katalis positif akan lebih terlihat pada sektor yang sejalan dengan kebijakan pemerintah.
“Semua sektor terlihat selektif. Tapi memang, katalis yang paling positif akan datang sektor yang memiliki kinerja inline dengan business plan dari pemerintah,” ujar Nico.
Ia juga mengingatkan investor untuk disiplin dalam menentukan strategi jual serta menyesuaikan dengan profil risiko masing-masing. Menurutnya, fundamental perusahaan tetap menjadi faktor utama dalam pengambilan keputusan investasi IPO.
“Pastikan fundamental perusahaan baik adanya, dan disiplin dalam menentukan target jual,” ujarnya.
Terkait penggunaan dana IPO, Nico menilai ekspansi bisnis lebih menarik, namun penggunaan untuk restrukturisasi utang tetap dapat dipertimbangkan selama bersifat produktif.
Ramainya pipeline penawaran umum perdana saham (IPO) pada 2026 mendorong pelaku pasar untuk lebih selektif dalam menilai emiten yang akan melantai di BEI. Momentum ini terjadi di tengah kondisi pasar yang masih bergejolak, sehingga analisis fundamental, struktur penawaran, hingga likuiditas menjadi faktor krusial bagi investor.
Senior Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai investor tidak cukup hanya melihat sektor usaha dalam menentukan pilihan saham IPO. Ia menekankan pentingnya membedah prospektus secara menyeluruh, termasuk valuasi, penggunaan dana, hingga porsi saham yang dilepas ke publik.
Menurut Nafan, penentuan harga penawaran awal emiten seperti PT Bach Multi Global Tbk (BACH) di kisaran Rp400–Rp500 per saham dan PT JEC Orbita Medika Tbk (JECX) di Rp1.200–Rp1.400 per saham harus diuji menggunakan rasio valuasi seperti price to earnings (P/E) dan price to book value (PBV) dibandingkan emiten sejenis.
“Rentang harga penawaran awal BACH (Rp400–Rp500) dan JECX (Rp1.200–Rp1.400) perlu diukur menggunakan rasio valuasi seperti P/E dan PBV relatif terhadap rata-rata industri sejenis. Pastikan harga yang ditawarkan mencerminkan nilai wajar atau menawarkan discount yang menarik bagi investor publik,” kata Nafan kepada SUAR, Selasa (23/6/2026).
Ia menambahkan, alokasi penggunaan dana IPO juga menjadi faktor penentu daya tarik emiten. Perusahaan yang mengarahkan dana untuk belanja modal dan ekspansi dinilai lebih menarik dibandingkan yang digunakan untuk pembayaran utang atau kebutuhan operasional.
“Investor harus melihat seberapa besar porsi dana IPO yang dialokasikan untuk belanja modal demi ekspansi bisnis dibandingkan dengan porsi untuk membayar utang atau modal kerja operasional harian,” ujarnya.
Baca juga:

Selain itu, Nafan juga menyoroti struktur penawaran saham, termasuk adanya porsi divestasi dari pemegang saham lama. Dalam skema seperti JECX, sebagian dana tidak masuk ke perusahaan, melainkan kepada pemegang saham penjual.
Ia juga mengingatkan porsi saham yang dilepas ke publik atau free float relatif terbatas, yakni sekitar 15,06% untuk BACH dan 10% untuk JECX, yang dapat memengaruhi likuiditas perdagangan setelah pencatatan.
“Porsi free float yang relatif kecil berpotensi membuat pergerakan saham menjadi kurang likuid pasca-melantai di bursa, meskipun dapat memicu volatilitas harga yang tinggi di awal perdagangan,” kata Nafan.
Dari sisi sektoral, ia menilai prospek emiten tetap bergantung pada fundamental industri, termasuk faktor eksternal seperti belanja modal sektor terkait dan daya beli masyarakat, khususnya pada emiten kesehatan yang juga dipengaruhi regulasi nasional.
Risiko di balik euforia
Dari sisi risiko, Ekonom PT Bank Central Asia Tbk David Sumual menilai realisasi IPO 2026 masih lebih kecil dibandingkan tahun sebelumnya, meski aktivitas meningkat pada pertengahan tahun. Ia mencatat hanya sekitar tujuh emiten tercatat pada 2026, jauh di bawah 26 emiten pada 2025.
“Meski ramai di bulan Juli, realisasi IPO di 2026 sebenarnya masih kecil dibandingkan dengan kondisi 2025,” kata David.
Ia menyoroti risiko likuiditas di tengah pasar yang masih mengalami tekanan dan arus keluar dana asing. Kondisi tersebut dapat mempersempit perdagangan saham IPO dan meningkatkan risiko ditinggalkan investor setelah euforia awal.
David juga menegaskan bahwa saham IPO tidak dapat langsung dianggap sebagai safe haven, termasuk sektor kesehatan yang saat ini banyak diminati. Menurutnya, saham IPO masih rentan terhadap tekanan jual, terutama jika free float terbatas.
Di satu sisi, dia juga menekankan pentingnya mencermati penggunaan dana hasil IPO. Menurutnya, alokasi untuk ekspansi kapasitas produktif dapat menjadi indikasi potensi pertumbuhan jangka panjang.
"Selain itu, struktur kepemilikan dan porsi free float juga perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi volatilitas harga saham setelah melantai di bursa," tutur David.