Setelah sepekan terakhir terus turun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya mencatat rebound kenaikan pada perdagangan (9/6/2026), dengan ditutup menguat 404,51 poins atau 7,57% pada level 5.746,65.
Penguatan tajam ini terjadi setelah pasar merespons positif keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen. Di saat yang sama, muncul pula sentimen dari rencana pembahasan pembelian kembali atau buyback saham-saham BUMN yang dinilai mampu memperkuat kepercayaan pelaku pasar.
Penguatan tersebut sejalan dengan pergerakan mayoritas indeks saham Asia seperti KOSPI, Nikkei 225, Topix, Straits Times, dan Shanghai Composite yang juga berada di zona positif.
Optimisme pasar sebenarnya sudah terlihat sejak pembukaan perdagangan. Pada pukul 09.01 WIB, IHSG dibuka menguat ke level 5.344 dan kemudian terus bergerak naik hingga menembus level 5.428 pada awal perdagangan.
Berdasarkan data perdagangan hingga penutupan sesi I pada Selasa, IHSG bergerak dalam rentang 5.318 hingga 5.627. Nilai transaksi mencapai Rp13,79 triliun dengan volume perdagangan 24,71 miliar saham dan frekuensi transaksi sebanyak 1,47 juta kali.
Pada penutupan perdagangan sore ini, IHSG menghijau ke level 5.746, menguat 7,57% atau 404,51 poin dari perdagangan sebelumnya. Kenaikan tersebut menjadi salah satu reli harian terbesar dalam beberapa waktu terakhir setelah pasar sempat berdarah.
Penguatan indeks juga didukung oleh aktivitas transaksi yang cukup ramai. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp27,99 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 42,03 miliar saham dan frekuensi transaksi mencapai 2,65 juta kali.
Secara keseluruhan, mayoritas saham bergerak di zona hijau. Sebanyak 708 saham menguat, 99 saham melemah, dan 152 saham ditutup stagnan.
Terpantau, gerak saham-saham bank Himbara meninggalkan zona merah. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) naik 10,24%% ke level 4.090. Disusul, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) naik 8,64% ke level 3.270, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) naik 7,72% ke level 2.790 dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) naik 11,90% ke level 1.175.
BI Rate Naik, IHSG Ikut Terdongkrak
Kebijakan BI menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poins menjadi menjadi 5,50 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar di luar jadwal rutin mendapat respons positif dari pelaku pasar. Naiknya BI Rate tersebut dinilai menjadi salah satu faktor pendongkrak IHSG sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal.
Baca juga:

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, mengatakan kenaikan BI Rate secara insidentil diapresiasi oleh investor karena menunjukkan komitmen bank sentral dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
"Ya, di sini untuk kenaikan BI rate secara insidentil ya, itu sebenarnya diapresiasi ya oleh para pelaku pasar. Hal tersebut merupakan salah satu sentimen positif yang mendorong penguatan IHSG ya," kata Nafan kepada SUAR, Selasa (9/6/2026).
Menurut dia, dampak kebijakan tersebut tidak hanya tercermin pada penguatan pasar saham, tetapi juga membantu menjaga nilai tukar rupiah agar tidak mengalami pelemahan yang lebih dalam.
"Aside from penguatan IHSG, tentunya hal ini juga mendorong stabilitas nilai tukar rupiah agar tidak mengalami pelemahan secara signifikan," ujarnya.
Nafan menjelaskan keputusan BI menggelar RDG di luar agenda resmi tidak terlepas dari tekanan yang terus membayangi rupiah dalam beberapa waktu terakhir. Pelemahan mata uang domestik tersebut dipengaruhi oleh keluarnya dana investasi portofolio asing dari pasar keuangan Indonesia.
"Kenapa BI menerapkan atau menjalankan kebijakan insidentil yang dengan mengagendakan RDG BI secara di luar agenda resmi di kalender? Kita melihat nilai tukar rupiah terus mengalami tren pelemahan. Bahkan pelemahannya nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh aliran keluar investasi portofolio asing dari Indonesia," ungkap Nafan.
Karena itu, lanjutnya, BI perlu menempuh langkah lanjutan guna memperkuat daya tarik aset keuangan domestik dan menjaga ketahanan eksternal ekonomi Indonesia. Salah satunya melalui peningkatan imbal hasil instrumen moneter yang diharapkan dapat menarik kembali aliran modal asing.
"Sehingga BI itu harus menempuh langkah-langkah lanjutan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, yaitu dengan meningkatkan kembali imbal hasil dan sejumlah insentif lainnya seperti operasi moneter yang BI lakukan untuk mendorong masuknya aliran investasi asing," ujarnya.
Selain menaikkan BI Rate, bank sentral juga menjalankan sejumlah instrumen pendukung. Nafan menilai kebijakan tersebut menunjukkan pendekatan yang komprehensif dalam menjaga stabilitas pasar keuangan.
Ia menyoroti langkah BI menaikkan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk tenor enam bulan, sembilan bulan, dan 12 bulan. Di samping itu, BI juga memberikan insentif berupa penurunan biaya swap lindung nilai (hedging swap) bagi investor asing.
Tidak hanya itu, BI kembali membuka jendela lelang repurchase agreement (repo) untuk tenor tiga bulan, enam bulan, sembilan bulan, dan 12 bulan bagi perbankan. Bank sentral juga meningkatkan intensitas operasi moneter baik dalam rupiah maupun valuta asing.
Menurut Nafan, seluruh kebijakan tersebut sejalan dengan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah tanpa mengabaikan sasaran inflasi yang masih berada dalam rentang target BI sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen untuk periode 2026 hingga 2027.
"BI juga berkomitmen untuk memperkuat kebijakan moneter dan kebijakan fiskal pemerintah. Tujuannya apa? Ya tujuannya untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah," jelasnya.
Dorongan buyback saham BUMN
Sentimen positif lainnya datang dari pertemuan yang dipimpin Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad bersama perwakilan bank-bank Himbara, BPJS, dan perusahaan asuransi BUMN pada pagi ini. Pertemuan tersebut membahas kondisi pasar saham yang terdampak gejolak global serta kemungkinan pembelian kembali saham BUMN.
Pertemuan itu juga dihadiri Ketua BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer Danantara Dony Oskaria dan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi. Wacana buyback saham BUMN dipersepsikan pasar sebagai langkah yang dapat membantu menjaga stabilitas harga saham emiten pelat merah di tengah volatilitas global.
Head of Equity Research KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana, mengatakan momentum tersebut muncul sejak pagi hari ketika sejumlah institusi besar dikumpulkan oleh DPR untuk membahas perkembangan pasar serta kinerja saham-saham BUMN.
Menurutnya, pertemuan itu menjadi salah satu faktor yang mengubah sentimen pasar menjadi lebih positif.
“Jadi saya pikir mungkin itu jadi salah satu momentum yang mendorong baiknya IHSG. Mungkin dari beberapa saham BUMN,” kata Fikri kepada SUAR.
Selain pembahasan buyback, pasar juga menangkap adanya aktivitas pembelian dalam jumlah besar oleh sejumlah institusi yang turut menopang pergerakan indeks pada perdagangan hari itu.
“Selain dari buyback mungkin ada pembelian yang cukup masif dari beberapa institusi,” ucap Fikri.
Baca juga:

Fikri menilai sentimen buyback BUMN menjadi penting karena muncul di tengah tekanan yang dialami sejumlah emiten berkapitalisasi besar dalam dua bulan terakhir. Kondisi tersebut membuat valuasi sejumlah saham dinilai lebih menarik sehingga membuka peluang bagi investor untuk kembali melakukan akumulasi.
“Tekanan terhadap beberapa emiten besar di Indonesia memang cukup besar dalam dua bulan terakhir. Jadi mungkin ini momentum untuk ya mumpung rupiah, mumpung yield dan juga hal-hal lainnya cukup positif, mungkin ini dilihat bahwa ini time to buy buat (pasar modal) Indonesia setidaknya dalam jangka pendek,” katanya.
Di luar sentimen buyback, penguatan pasar juga ditopang keputusan Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen. Menurut Fikri, kebijakan tersebut menunjukkan komitmen bank sentral menjaga stabilitas rupiah sekaligus menormalkan kembali struktur imbal hasil (yield curve) yang menjadi perhatian investor.
“Di saat yang sama tentunya dengan kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate akan menjaga yield curve Indonesia kembali normal. Kalau itu normal biasanya juga kekhawatiran terkait resesi dan segala macam juga akan lebih rendah,” ujarnya.
Meski optimisme mulai kembali muncul, Fikri menilai pasar masih membutuhkan waktu untuk memastikan keberlanjutan reli. Ia mengatakan indikator penting yang perlu dicermati adalah kembalinya aliran dana asing ke pasar saham melalui aksi beli bersih (net buy).
“Kalau ada net buy asing saya pikir itu akan jadi momentum yang cukup positif di samping juga momentum-momentum dorongan kepercayaan dari dalam negeri khususnya terkait dengan kebijakan di sektor ekonomi,” tutur Fikri.