Peluang Kebangkitan Pasar Modal di Semester Kedua 2026

Valuasi saham yang telah berada di level murah dan tetap bertahannya Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets diperkirakan menjadi faktor pendorong masuknya arus modal asing yang bisa membawa kenaikan IHSG di semester 2-2026.

Peluang Kebangkitan Pasar Modal di Semester Kedua 2026
Suasana penutupan perdagangan harian di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto: Nana/Suar.id
Daftar Isi

Di tengah derasnya arus keluar dana asing, perlambatan ekonomi domestik, dan masih tingginya ketidakpastian global, pasar saham Indonesia justru mulai memperlihatkan peluang untuk bangkit pada semester II tahun 2026. Kondisi tersebut didorong oleh valuasi saham yang telah berada di level murah, tetap bertahannya Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets, serta mulai munculnya minat investor asing terhadap sejumlah saham berkapitalisasi besar.

Kombinasi faktor tersebut dinilai menjadi modal penting bagi pasar modal Indonesia untuk menarik kembali aliran dana asing setelah mengalami tekanan dalam beberapa tahun terakhir. Meski tantangan dari sisi ekonomi global maupun domestik belum sepenuhnya mereda, sejumlah analis melihat risiko penurunan pasar mulai semakin terbatas dibandingkan potensi pemulihannya.

Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Wilbert Arifin mengatakan keputusan MSCI mempertahankan Indonesia sebagai bagian dari kelompok Emerging Market menjadi salah satu sentimen positif yang mampu meredakan kekhawatiran pelaku pasar. 

Menurutnya, keputusan tersebut menghindarkan pasar saham Indonesia dari potensi arus keluar dana asing dalam jumlah besar apabila Indonesia direklasifikasi menjadi Frontier Market.

"Status Indonesia sebagai Emerging Market tetap terjaga, meski bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets turun menjadi sekitar 0,4% pada Juni 2026 dari 1,2% pada akhir 2025, seiring berkurangnya kepemilikan investor asing dan arus keluar dana dari pasar saham Indonesia," ucap Wilbert dalam Media Day Mirae Asset Sekuritas Indonesia di Jakarta, Selasa (21/7/2026).

Bagi pasar modal Indonesia, jelas Wilbert, keputusan tersebut memiliki arti strategis. Pasalnya, selama ini banyak dana investasi global yang dikelola secara pasif atau index linked funds menjadikan indeks MSCI sebagai acuan utama dalam menentukan alokasi investasi. Perubahan status suatu negara dalam indeks tersebut dapat memengaruhi besarnya dana yang mengalir ke pasar saham.

Wilbert menjelaskan bobot Indonesia dalam indeks MSCI memang terus mengalami penurunan dalam satu dekade terakhir. Jika sekitar sepuluh tahun lalu porsinya masih berada di kisaran 2,5%, kini tinggal sekitar 0,4%. Penurunan tersebut berjalan seiring dengan menyusutnya kepemilikan investor asing di Bursa Efek Indonesia dari sekitar 55% menjadi hanya sekitar 41%.

Menurutnya, hubungan antara bobot suatu negara dalam indeks MSCI dan kepemilikan investor asing sangat erat. Ketika bobot Indonesia turun, dana investasi pasif yang mengikuti komposisi indeks juga otomatis berkurang sehingga menekan aliran modal ke pasar saham domestik.

Karena itu, pasar sempat mencermati dengan serius kemungkinan Indonesia turun kelas menjadi Frontier Market menjelang pengumuman hasil evaluasi MSCI. Kekhawatiran tersebut muncul karena perpindahan kategori berpotensi memicu perpindahan dana investasi global dalam skala besar.

Wilbert memperkirakan apabila Indonesia benar-benar keluar dari kelompok Emerging Market, potensi dana asing yang meninggalkan pasar saham domestik dapat mencapai sekitar Rp80 triliun. 

Nilai tersebut mencerminkan besarnya perbedaan dana kelolaan antara indeks Emerging Market, yang mencapai sekitar USD1,8 triliun, dengan Frontier Market yang hanya sekitar USD15 miliar.

Meski demikian, keputusan MSCI mempertahankan status Indonesia membuat skenario terburuk tersebut tidak terjadi. Wilbert menyebut bahwa tekanan yang selama ini terjadi lebih banyak berasal dari dana investasi pasif yang mengikuti indeks, sementara investor strategis justru masih mempertahankan eksposurnya pada saham-saham unggulan, khususnya sektor perbankan.

"Net outflow asing masih didominasi dana yang mengacu pada indeks (index linked funds), sementara investor strategis tetap mempertahankan eksposurnya pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar. Dengan valuasi pasar yang berada pada level terendah dalam satu dekade dan potensi unfreeze inklusi indeks MSCI ke depannya, peluang kembalinya aliran dana asing ke pasar saham domestik tetap terbuka," kata Wilbert.

Selain faktor MSCI, Mirae Asset menilai daya tarik utama pasar saham Indonesia saat ini terletak pada valuasinya yang relatif murah. Berdasarkan kajian perusahaan, valuasi pasar saham domestik telah turun ke level terendah dalam hampir sepuluh tahun terakhir, bahkan lebih rendah dibandingkan periode pandemi Covid-19.

Kondisi tersebut dinilai menciptakan peluang investasi yang menarik. Berbeda dengan masa pandemi ketika aktivitas ekonomi berhenti di hampir seluruh sektor, perlambatan ekonomi saat ini masih berlangsung dalam kondisi yang jauh lebih terkendali. Dengan kata lain, pelemahan harga saham tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental perekonomian nasional.

Wilbert menilai kualitas emiten Indonesia juga masih kompetitif dibandingkan negara-negara lain di kawasan. Di sisi lain, valuasi saham domestik justru lebih murah dibandingkan beberapa pasar berkembang lain seperti Malaysia maupun Thailand. Kondisi tersebut membuka ruang bagi investor global untuk kembali meningkatkan eksposurnya apabila ketidakpastian global mulai mereda.

Menurutnya, anggapan bahwa investor asing sepenuhnya meninggalkan Indonesia juga tidak sepenuhnya tepat. Berdasarkan pemantauan Mirae Asset terhadap saham-saham perbankan berkapitalisasi besar, investor aktif justru masih menunjukkan minat terhadap pasar domestik meski arus dana asing secara keseluruhan masih mencatatkan keluar bersih.

"Bahkan kalau kita lihat pada saat Februari dan Maret ketika terjadi penurunan yang cukup dalam, justru ada beberapa investor yang menambah posisi di pasar Indonesia. Artinya mereka masih melihat Indonesia sebagai negara yang menarik," ujarnya.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa persepsi investor asing terhadap Indonesia tidak sepenuhnya negatif. Di tengah keluarnya dana investasi pasif akibat penyesuaian indeks, investor aktif masih melihat peluang jangka panjang pada sejumlah emiten dengan fundamental kuat. Kondisi ini menjadi salah satu alasan mengapa peluang pemulihan pasar saham Indonesia pada paruh kedua tahun ini masih dinilai terbuka.

Meski demikian, jelas dia, prospek tersebut tidak hanya bergantung pada faktor teknikal maupun valuasi. Kemampuan Indonesia menjaga stabilitas ekonomi, arah kebijakan fiskal dan moneter, serta perkembangan ekonomi global akan menjadi penentu berikutnya dalam menarik kembali kepercayaan investor. 

“Faktor-faktor inilah yang diperkirakan akan menjadi fokus utama pelaku pasar dalam beberapa bulan mendatang dan menentukan arah pergerakan pasar saham hingga akhir 2026,” pungkasnya.

Kekuatan fundamental ekonomi nasional

Selain didorong oleh valuasi yang menarik dan tetap bertahannya Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets, prospek pasar saham pada semester II nanti  juga akan sangat dipengaruhi oleh kekuatan fundamental ekonomi nasional. Stabilitas fiskal, arah kebijakan moneter, hingga kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan investor menjadi faktor yang dinilai akan menentukan keberlanjutan pemulihan pasar.

Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan fase technical rebound yang sempat terjadi di pasar saham hanya menjadi langkah awal.

Selanjutnya, perhatian investor akan beralih pada kemampuan ekonomi Indonesia menjaga stabilitas di tengah perlambatan global serta ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

"Perhatian investor kini tidak lagi hanya tertuju pada momentum rebound, tetapi juga pada kekuatan fundamental ekonomi dan prospek kinerja emiten di tengah tantangan makro yang masih berlangsung," ungkap Rully.

Pihaknya juga telah merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 menjadi 4,8% dari sebelumnya 5%. Revisi tersebut mempertimbangkan melemahnya permintaan domestik, kondisi eksternal yang belum sepenuhnya pulih, serta masih ketatnya kebijakan moneter global.

Dari sisi eksternal, tantangan terbesar masih berasal dari Amerika Serikat. Rully memperkirakan Federal Reserve masih berpotensi menaikkan suku bunga acuan masing-masing sebesar 25 basis poin pada September dan Desember. Kondisi tersebut memperpanjang era higher for longer, yaitu periode suku bunga tinggi yang membuat likuiditas dolar AS tetap ketat.

Situasi tersebut tidak hanya meningkatkan biaya pendanaan global, tetapi juga memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Di tengah perlambatan ekonomi domestik dan potensi munculnya twin deficit, ruang gerak Bank Indonesia untuk kembali menaikkan suku bunga dinilai semakin terbatas.

"Kondisi higher for longer membuat likuiditas dolar AS semakin ketat sehingga memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Di tengah perlambatan ekonomi dan potensi twin deficit, ruang Bank Indonesia untuk kembali menaikkan suku bunga juga semakin terbatas," kata Rully.

Di dalam negeri, ia menilai kondisi fiskal Indonesia masih relatif solid. Hal itu tercermin dari realisasi defisit APBN semester I 2026 yang mencapai Rp176,5 triliun atau sekitar 0,76% terhadap PDB, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp205,3 triliun atau 0,8% terhadap PDB.

Stabilitas fiskal tersebut menjadi salah satu alasan S&P Global Ratings mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level BBB dengan prospek stabil. Bagi investor global, keputusan tersebut menjadi sinyal bahwa kemampuan pemerintah menjaga kesehatan fiskal masih terjaga meski ekonomi sedang melambat.

Meski demikian, Rully mengingatkan kualitas penerimaan negara juga perlu menjadi perhatian. Menurutnya, perbaikan defisit APBN saat ini lebih banyak ditopang oleh penerimaan negara bukan pajak (PNBP), sementara penerimaan perpajakan belum menunjukkan penguatan yang sebanding.

Padahal, penerimaan pajak dinilai jauh lebih berkelanjutan untuk menopang fiskal dalam jangka panjang.

"Kalau misalkan pendorong utama penerimaan itu adalah PNBP, realisasinya hampir 60% dari APBN. Sementara dari pajak itu masih di bawah 40%. Jadi konsekuensinya kalau dari PNBP ini sendiri kita lihat tidak terlalu sustain. Sementara kalau yang lebih sustain adalah dari penerimaan pajak," tuturnya.

Namun, ia mengingatkan peningkatan penerimaan pajak juga perlu dilakukan secara hati-hati. Kebijakan yang terlalu agresif berpotensi mengurangi daya beli masyarakat, menekan investasi swasta, hingga memperlambat laju pertumbuhan ekonomi.

Rully juga menilai Bank Indonesia menghadapi tantangan besar dalam menentukan arah kebijakan moneter. Menurutnya, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah perlu menjadi prioritas utama dibandingkan mengejar pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek.

"Seharusnya di kondisi saat ini dari sisi kebijakan moneter lebih tegas pro-stability. Karena kalau misalnya mengejar dua-duanya, takutnya kredibilitasnya akan lebih banyak dipertanyakan," katanya.

Perekonomian masih baik

Sementara itu, Praktisi Pasar Modal, Hans Kwee menjelaskan bahwa kombinasi valuasi yang murah, membaiknya fundamental ekonomi domestik, serta mulai kembali masuknya dana asing menjadi modal penting bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk melanjutkan tren penguatan pada paruh kedua tahun ini.

Ia menjelaskan bahwa ketika investor asing kembali meningkatkan eksposurnya di Indonesia, saham-saham perbankan berkapitalisasi besar hampir selalu menjadi tujuan utama investasi. Hal tersebut lantaran sektor perbankan memiliki likuiditas tinggi, fundamental kuat, dan kapitalisasi pasar terbesar di BEI.

"Kalau dana asing mulai masuk ke Indonesia, maka yang pasti dibeli adalah empat saham besar perbankan kita, ada BCA, Bank BRI, Mandiri, BNI," ucap Hans.

Menurut Hans, kondisi tersebut sekaligus menjelaskan mengapa saham perbankan selama ini menjadi indikator utama arah arus modal asing di pasar saham Indonesia. Ketika investor global kembali optimistis terhadap prospek ekonomi nasional, sektor inilah yang umumnya pertama kali menerima aliran dana.

Optimisme tersebut juga dirasakan investor ritel. Idham (36), seorang karyawan swasta yang bekerja di Surabaya, mengaku tetap menjadikan saham perbankan sebagai pilihan utama investasinya.

Ia memilih berinvestasi di saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) karena menilai kedua emiten tersebut memiliki fundamental kuat dan relatif aman untuk investasi jangka panjang.

Baginya, kedekatan dengan layanan BRI sejak lama menjadi alasan awal membeli saham perusahaan tersebut. Seiring waktu, keyakinannya semakin kuat karena BRI dinilai konsisten mencetak laba dan membagikan dividen.

"Dulu awal-awal investasi, aku beli BBRI karena relatif aman selain BBCA. Di tempat asalku di Gresik juga BRI sangat dekat dengan masyarakat, jadi yang pertama terpikir memang BRI," kata dia.

Ia menambahkan status BRI sebagai bank milik negara turut memberikan rasa aman ketika berinvestasi. Meski harga saham bergerak naik turun mengikuti kondisi pasar, konsistensi kinerja perusahaan menjadi pertimbangan utama.

"Statusnya kan bank BUMN, ngerasa aman aja. Profitnya juga lumayan. Buat pemburu dividen, BRI itu konsisten. Keamanan itu yang aku cari kalau investasi di perbankan. Aku juga saat ini enggak ambil pusing kalau pasar merah, atau hijau. Sekarang cuma hold saja buat investasi jangka panjang," jelas dia.

Penulis

Baca selengkapnya